NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Dinosaurus

...SELAMAT MEMBACA!...

...🦕...

Tidak lama Dara menunggu, deru motor terdengar mendekat dan berhenti di halte bus tempat Dara. Gadis itu tersadar akan lamunannya, mendapati seorang lelaki tengah membuka helm. "Ra, tumben mau dijemput di sini?" tanya Dino, berdiri di depan istrinya.

Dara mendongak, menatap suaminya tanpa mengeluarkan suara. Lalu, dia berdiri dari duduknya. "Abis dari makam Kak Agun," jawab Dara. Helaan napas berat keluar dari bibirnya. "Ayo, pulang!" Gadis itu melenggang meninggalkan Dino, menuju tempat motor terparkir.

Dino hanya diam, memandang istrinya yang aneh. Dia mencoba untuk tidak menganggu saat ini dan menyusul Dara.

Angin berhembus menerpa wajah Dara di boncengan motor Dino. Langit mendung mendukung perasaan sedihnya. Ia sungguh lelah bila harus berurusan dengan masa lalu, yang selalu berhasil membuatnya menangis.

Motor Dino mendadak berhenti, mereka sontak terkejut. "Kenapa, No?" tanya Dara, mendekatkan wajahnya.

"Mogok, deh," jawab Dino.

Motor itu benar-benar berhenti. Lalu, Dara turun dari sana, sedangkan Dino berusaha menyalakan mesin motornya. Namun, ia tidak mau menyala. "Bentar, Ra. Gue cek dulu," ujar Dino, sambil melepaskan helm dari kepalanya.

Dara menganggukkan kepala. Ia hanya melihat Dino yang mengotak-atik mesin motornya. Dara ingin membantu, tetapi sama sekali tidak mengerti otomotif, jadi dia hanya menonton.

"Ini gak bisa dibenerin di sini, Ra. Gue gak bawa alatnya," ungkap Dino, berdiri dari sana.

"Didorong aja, No."

"Gak apa-apa?" Dara mengangguk. "Lo naik aja, Ra! Gue yang dorong," seloroh Dino, sontak membuat Dara membulatkan mata.

"Nggak!"

Mendorong motor, membela jalanan beraspal yang saat ini sepi kendaraan. Di bawah langit sore itu, perasaan Dara berkecamuk akan masa lampau. Gadis tersebut melangkah dengan tatapan kosong, berjalan di belakang suaminya. Dino sesekali menoleh ke arah Dara, mengkhawatirkan keadaan sang istri.

Melewati sebuah gang, agar lebih cepat sampai. Dara yang sedang melamun, tidak membelokkan langkahnya karena tak menatap ke depan. Dino yang melihat, sontak menarik lengan gadis itu untuk menyadarkannya. "Belok sini, Ra," ujar Dino.

Dara mengedipkan mata. "Maaf," katanya, kemudian kembali melangkah. Namun, Dara berjalan di depan Dino. Langkah kakinya seperti orang yang sedang putus asa, diseret hingga membuatnya terlihat lemas.

Gang yang tidak terlalu sempit, tetapi minim pencahayaan. Dara melewati sebuah mesin capit di kanan jalan, dia hanya melirik sekilas. Namun, benda itu menarik perhatian Dino.

Dino menghentikan langkahnya, kemudian menurunkan standar motornya. Dia lihat, Dara masih terus berjalan tanpa memperdulikan hal lain. "RA!" panggil Dino dengan berteriak. Dara menolah, wajahnya terlihat lelah. "Main ini bentar." Lalu, Dino mendekati permainan tersebut.

Dengan langkah kaki lunglai, Dara kembali menghampiri suaminya yang mengamati mesin capit di depannya. Dara berdiri di samping Dino, menghela napas berat. "Buat apa sih, No?"

Dino menoleh, menatap manik istrinya dengan dalam. Lalu, dia menepuk pucuk kepala Dara. "Buat lo," kata Dino.

Lelaki itu merogoh saku celananya, kemudian beralih pada saku jaket jeans kebanggaannya. Dino mengerutkan dahi, dia panik sambil kembali mengecek saku. Dia menoleh ke arah Dara yang sedang berbinar menatap boneka di mesin capit tersebut. "Ra," panggil Dino.

Dara mendongak. "Apa?"

"Ada uang receh?" tanya Dino.

Dara memutar malas bola matanya, kemudian merogoh saku celananya. "Ngajakin main, tapi nggak ada uang," seru Dara. Lalu, gadis itu memberikan beberapa koin kepada Dino.

Tiga kali percobaan, Dino gagal memasukkan boneka itu ke tempat keluarnya. Lelaki itu malah melepaskan capitnya sebelum sampai hingga Dara kesal. "No, mainnya yang bener, dong!" tegur Dara.

Empat kali percobaan, Dino meneguhkan niatnya. Tangan kekarnya menggenggam erat benda panjang yang menjadi penggerak capit di dalam sana. Dino menatapnya dengan saksama, menjalankannya sebisa mungkin. Lalu, boneka dinosaurus jatuh membuat Dara berteriak kencang. "YAY!"

Sambil berteriak kencang, Dara memukul-mukul lengan Dino. Lalu, lelaki itu memberikan boneka dinosaurus lucu hasil keringatnya kepada sang istri. "Lucu!" kata Dara, seraya mencengkram boneka tersebut dengan gemas. "Baby Dino!"

Dino sontak membulatkan mata, menatap tajam gadis di depannya. "Anak kita?" celetuk Dino.

Dara melototi Dino, memukul dengan keras lengan suaminya. Lalu, gadis itu melenggang pergi mendahului.

Dino buru-buru kembali menaikkan standar motornya. "Kekerasan lo, Ra!" teriak Dino, sambil mengejar istrinya yang mulai berani itu.

Boneka lucu tersebut digendong erat oleh Dara, seperti sudah mendapatkan harta karun. Dino senang melihat istrinya tidak lagi murung, ia merasa berhasil untuk memberi kebahagiaan kepada Dara.

Begitu juga Dara, ia sudah lupa akan apa yang menjadi beban pikirannya tadi. Ia asik sendiri bermain dengan boneka dinosaurus itu sambil berjalan. Bahkan, gadis itu tidak mengizinkan Dino menyentuh boneka miliknya.

Sesampainya di depan rumah, setelah perjalanan panjang dan melelahkan, kaki Dara mendadak berhenti. "No," panggil Dara, kepada Dino sedang memarkirkan motornya. "NO!" Dara memanggil lebih keras karena Dino malah mengecek mesin motornya.

Dino mendongak. "Apaan, sih?" tanyanya, dengan kesal.

"Anjing," ucap Dara. Lelaki itu sontak melebarkan mata, dia kira Dara berbicara kasar. "ANJING!"

"RA! Gak boleh bicara kasar!" tegur Dino.

Dara masih tidak berkedip, tubuhnya mati kutu. Seekor anjing sedang rebahan di teras rumahnya, dengan santai. Anjing berukuran besar berwarna hitam dan sedikit corak coklat. "Anjing, No," ucap Dara, lagi.

Dino menyadari, istrinya sedang melihat ke arah lain. Dia pun memutuskan untuk berdiri dan mengikuti arah pandang Dara.

Anjing itu bergerak merubah posisi, kemudian bangun dan menyorot ke arah Dino dan Dara. Gadis yang takut anjing tersebut, tersentak kaget dengan hal itu. Dara melangkah mundur, bersembunyi di belakang tubuh Dino, kemudian memeluk lengan suaminya. "No," rengek Dara.

Dara tidak pernah bisa bila harus berurusan dengan hewan berpenampilan seperti itu. Tiba-tiba, anjing tersebut menggonggong seolah akan menyerang, membuat Dara memekik keras dan mencengkram lengan baju Dino. "Tenang, Ra!" tutur Dino.

"BLACKLAT!" Teriakan seseorang yang begitu keras dari belakang, membuat Dara dan Dino menoleh bersamaan. Pria itu menatap Dara yang ketakutan. "Maaf, ya, sudah buat kalian takut," ujarnya.

Anjing itu melangkah mendekat, membuat Dara memekik keras. "AWAS, NO!" Dara memeluk suaminya dengan refleks.

Hewan itu ternyata sudah jinak. Ia menghampiri sang pemilik, yang kemudian mengelus tubuh kekarnya. "Maaf, ya," ujar pemilik.

"Iya, gak apa-apa," jawab Dino.

Dara melirik ke arah anjing yang ternyata sedang menatapnya tajam, kemudian ia menggonggong membuat Dara menjerit lagi. Padahal, jaraknya masih lumayan jauh. "Ayo, No!" ajak Dara, menarik-narik lengan baju Dino.

Menahan tawa dengan susah payah, Dino tidak pernah melihat gadis itu ketakutan. Dino tersenyum tipis kepada pemilik anjing, kemudian ia melenggang dengan Dara yang terus menggandeng tangannya.

Guk!

Gonggongan anjing itu berhasil membuat Dara berlari kalap masuk ke rumah. Dino tidak kuasa menahan tawanya. Lalu, setelah sudah di dalam, Dino dengan puas mengatai istrinya. "Cemen banget lo, Ra. Sama anjing jinak aja kayak gitu," celetuk Dino.

Dara tidak menggubrisnya. Lalu, dia pergi ke kamar dengan perasaan jengkel.

Setelah melepas sepatu, Dino pergi meregangkan tubuhnya yang lelah di sofa. Dia mengecek ponsel, kemudian tertuju pada kalender di sana. "Besok Mahen ulang tahun," gumam Dino. Lalu, dia beranjak dari sana dan pergi ke kamar menyusul Dara.

"RA!" panggil Dino, dengan membuka pintu tanpa mengetuknya.

Dara yang tadinya hendak membuka baju untuk ganti, dihentikan oleh Dino. Perut gadis itu terlihat setengah. Dara dan Dino mematung di tempat. Lalu, Dino kembali menutup pintu kamar tersebut.

Dara menggerutu. Lalu, dia segera mengganti bajunya dengan gerakan cepat. Gadis itu mendekati pintu, kemudian membukanya membuat Dino yang masih berdiri di sana terkejut. "Ada apa?" tanya Dara, dengan ketus.

"Sorry ya, Ra," ucap Dino, tetapi Dara hanya menganggukkan kepala. "Besok Mahen ulang tahun. Lo bisa buatin kue?"

Setiap tahunnya, Dino akan memberikan hadiah kepada seluruh anggota Ultimate Phoenix. Bukan ingin memamerkan hartanya, atau berbuat baik karena statusnya sebagai seorang ketua. Namun, ia hanya ingin memberikan kebahagiaan di hari kelahiran orang itu. Karenanya, Dino dikenal peduli, meski sangat cuek.

Setelah diam beberapa saat untuk berpikir, Dara akhirnya mengangguk. "Boleh, aja," ucap Dara.

...🦋...

Deru angin malam berhembus kencang hingga membuat rambut tipis cowok itu terangkat. Dari sorot matanya yang hampa, dia sepertinya sedang terkena masalah besar. Langit gelap tanpa bintang, ia ditemani kesendirian. Lalu, seorang temannya datang menghampiri dengan segelas kopi.

"Kopinya gue taruh sini," ujar Aga, sambil meletakkan gelas di atas kursi kayu. Lalu, dia menghampiri Mahen yang sedang merana dan berdiri di sampingnya.

"Makasih," ucap Mahen, tanpa mengalihkan pandangannya dari bangunan tinggi jauh di depan sana. Aga bingung dengan tingkah laku Mahen, padahal dia biasanya tidak bisa diam, tetapi sekarang menjadi pendiam.

Keheningan mengudara, Mahen memejamkan mata. Tadi, dia datang ke basecamp dan rupanya ada Aga dan anggota lain di sana. Dia hanya memberi sapaan singkat sebelum naik ke rooftop. Tempat yang nyata menjadi singgahan anak-anak Ultimate Phoenix ketika tengah diguncang konflik kehidupan.

"Lo lihat bangunan gelap di sana?" Suara pelan Mahen, membuat Aga melirik sekilas. "Kemarin-kemarin masih ada cahayanya, kan?" katanya.

"Iya, tapi remang-remang," sahut Aga.

"Setelah remang-remang, sekarang malah gelap banget. Gak ada cahaya sedikit pun di sana." Mahen menundukkan kepala, membuat Aga berpikir pasti bahwa lelaki itu tengah mendeskripsikan sesuatu dengan fatamorgana.

"Mungkin, yang punya males bayar listrik karena bangunannya udah tua," ucap Aga.

"Kayak keluarga gue, Ga," seloroh Mahen, lantas Aga mengerutkan dahi. "Mereka ninggalin gue ke luar negeri, cahayanya udah remang-remang."

"Sekarang, mereka cerai dan cahayanya udah hilang."

"Gak ada lagi cahaya di hidup gue."

"Besok gue ulang tahun, katanya mereka bakal pulang tapi dengan keadaan udah pisah."

...🦋...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!