NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Coba Bicara

Aku sudah terbiasa melihat ribuan jenis manusia yang datang dan pergi di Kopi Aksara, tapi melihat Alisa belakangan ini terasa seperti menonton film yang tiba-tiba kehilangan audionya. Dulu, saat dia sering datang bersama ksatria antenanya itu, Alisa adalah definisi dari energi yang meledak-ledak. Dia bisa bicara berjam-jam tentang bagaimana sinyal radio bisa menjadi metafora kerinduan, atau bagaimana ayahnya yang galak itu sebenarnya punya hati selembut kapas. Tapi sekarang, Alisa yang duduk di depanku hanya bayangan pucat dari dirinya yang dulu. Matanya sering tertuju pada layar laptop yang menampilkan kursor berkedip statis, seolah-olah dia sedang menunggu sinyal yang tidak akan pernah sampai. Awalnya aku mencoba untuk bersikap masa bodoh. Aku pikir setiap penulis memang butuh fase melankolis untuk menghasilkan karya yang dalam, tapi lama-kelamaan sikap diamnya mulai terasa seperti racun yang mematikan proyek kami.

"Lis, bagian bab tujuh ini kok rasanya kayak kamu nulis sambil tidur ya?" tanyaku sore itu sambil menyodorkan draf naskah yang penuh dengan coretan merah dariku. Alisa hanya melirik naskah itu sekilas, lalu mengangguk pelan tanpa ekspresi. "Iya, nanti aku perbaiki," jawabnya singkat. Suaranya datar, tanpa ada nada protes atau keinginan untuk berdebat seperti biasanya. Kejujuran profesional mulai menuntutku untuk bertindak. Pekerjaan Alisa menurun drastis. Diksi-diksinya yang dulu tajam dan penuh warna kini terasa hambar dan berulang-ulang. Dia seperti sedang memaksakan diri untuk bernapas di dalam ruangan yang kedap oksigen. Aku jengah melihatnya terus-menerus menarik diri ke dalam tempurung sunyi itu. Seolah-olah dunia ini sudah tidak punya lagi hal yang layak untuk ia ceritakan hanya karena satu orang perwira perhubungan itu memutuskan untuk pergi.

Aku menutup laptopku dengan suara yang sedikit keras, sengaja untuk memecah lamunannya. "Kita berhenti dulu. Nggak ada gunanya kita lanjut kalau pikiran kamu masih tertinggal di upacara pernikahan orang lain itu," ucapku tegas. Alisa tersentak, tatapannya yang kosong mendadak berubah menjadi sedikit tajam, tapi hanya sebentar sebelum kembali meredup. "Nggak usah bawa-bawa hal pribadi, Sanca. Aku cuma lagi kurang fokus aja," belanya dengan nada yang sangat letih. Aku menghela napas, bersandar di kursi rotan kafe yang biasanya terasa nyaman namun kini terasa kaku. "Kurang fokus? Alisa, kamu itu penulis. Bahan bakarmu itu emosi. Kalau kamu matikan semua emosimu cuma buat menghindari rasa sakit, kamu nggak bakal bisa nulis lagi. Kamu bukan lagi menyendiri buat cari inspirasi, kamu itu lagi pelan-pelan menghilang."

Aku melihat jemari Alisa meremas ujung bajunya. Dia tetap diam, tapi aku tahu kata-kataku mulai masuk ke celah bentengnya. "Aku sering lihat kamu di balkon rumah dinas pas aku antar kopi pesanan Ayahmu. Kamu cuma duduk di sana, mandang kosong ke arah jalan. Kamu pikir dengan menyendiri kayak gitu, bebanmu bakal berkurang? Enggak, Lis. Kamu cuma lagi bikin penjara tanpa jeruji buat dirimu sendiri," lanjutku, kali ini dengan nada yang lebih lembut. Aku ingin dia tahu bahwa aku bicara bukan cuma sebagai rekan kerja yang peduli pada tenggat waktu, tapi sebagai teman yang tidak tega melihat bakat sebesar miliknya terkubur hidup-hidup. "Ayahmu khawatir, aku khawatir, bahkan pembaca setiamu di luar sana pasti bakal sedih kalau tahu penulis favorit mereka sudah menyerah pada hidup."

Alisa akhirnya mengangkat kepalanya, menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Terus aku harus gimana, San? Berlagak ceria kayak nggak ada apa-apa? Kamu nggak tahu gimana rasanya dibangunkan paksa dari mimpi yang paling indah cuma buat dikasih surat undangan pernikahan. Kamu nggak tahu rasanya jadi orang bodoh yang nunggu kabar dari perbatasan, padahal orangnya lagi fitting baju pengantin sama orang lain," ucapnya, suaranya akhirnya pecah, membawa segala beban yang selama ini ia pendam dalam diam. Aku tidak langsung menjawab. Aku membiarkannya mengeluarkan sesak itu. Selama berminggu-minggu dia hanya diam, dan melihatnya marah atau menangis bagiku adalah kemajuan yang jauh lebih baik daripada melihatnya menjadi mayat hidup.

"Aku emang nggak tahu rasanya jadi kamu, tapi aku tahu rasanya kehilangan arah," jawabku pelan sambil menyodorkan tisu padanya. "Tapi mengunci diri di kamar dan berhenti bicara sama dunia bukan solusinya. Kamu bilang ksatria di bukumu itu hebat karena dia berani menghadapi medan perang. Sekarang medan perangmu itu ada di sini, di hatimu sendiri. Kalau kamu menyerah sekarang, berarti ksatria yang kamu tulis itu cuma bohongan." Alisa mengusap air matanya, menarik napas panjang yang terdengar sangat berat. "Dia ksatria antenanya, San. Sekarang antenanya sudah nggak ada, aku bingung harus cari sinyal dari mana." Aku tersenyum tipis, mencoba memberikan sedikit perspektif baru padanya. "Kalau antena lama sudah patah, kamu bangun menaramu sendiri. Kamu nggak butuh sinyal dari dia buat bisa memancar. Kamu itu pemancarnya, Alisa."

Obrolan kami sore itu berlangsung cukup lama. Meskipun Alisa belum sepenuhnya kembali seperti dulu, setidaknya aku melihat ada sedikit binar di matanya yang mulai kembali hidup. Dia mulai mau menceritakan beberapa bagian dari rasa sakitnya, yang menurutku adalah langkah awal untuk sembuh. Sebagai rekannya, aku merasa beban kerja kami yang sempat macet mulai perlahan mencair. Aku menyadari bahwa Alisa butuh seseorang yang berani menegurnya, bukan cuma orang yang menatapnya dengan rasa kasihan seperti yang dilakukan banyak orang di sekitarnya. "Besok, aku nggak mau lihat kamu pakai baju gelap lagi. Dan tolong, hapus itu judul 'Pangkalan Tanpa Antena'. Terlalu sedih buat dibaca," godaku saat dia bersiap untuk pulang. Alisa hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang bagiku terasa seperti kemenangan besar hari ini.

Aku memperhatikannya berjalan keluar dari Kopi Aksara dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Aku tahu perjalanannya untuk sembuh masih sangat jauh, dan bayang-bayang Satria mungkin akan tetap menghantuinya untuk waktu yang lama. Tapi setidaknya, malam ini Alisa tidak lagi pulang sebagai tawanan kesendiriannya sendiri. Aku kembali ke meja kerjaku, menatap naskah yang tadi kucoret-coret. Ada satu kalimat baru yang ditulis Alisa di pojok kertas, sebuah kalimat yang memberiku harapan bahwa dia akan baik-baik saja: "Ternyata, satu-satunya orang yang bisa memperbaiki frekuensi yang rusak adalah diriku sendiri." Aku tersenyum, menyadari bahwa ksatria yang sebenarnya kini sedang mulai belajar untuk bangun dan kembali bertempur, meski tanpa seragam militer atau tanda pangkat di pundaknya.

1
panjul man09
jangan kelamaan sedihnya thor, munculkan tokoh baru biar lebih berwarna
kaka_21: sabar mass, masih panjang ini (kaka21)
total 1 replies
panjul man09
kasian alisa /Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
semoga alisa dipertemukan dgn orang yg segala galanya jauh diatas satria sampai satria tidak ada apa2nya
panjul man09
alisa pandai meredam cemburu satria 👍
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
kaka_21: aamiin,inshaallah (bims41)
total 1 replies
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
kaka_21: terimakasih kakak (kaka21)
total 1 replies
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
kaka_21: sabarr...
total 1 replies
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
kaka_21: jangan dong kakak,cakra udah cinta mati sama shifa
total 1 replies
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
kaka_21: alhamdulillah,terimakasih kakak (kaka21)
total 1 replies
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
kaka_21: lanjut kakak (bims41)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!