Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anjing yang Bisa Membelah Diri
**
"Hati-Hati!" Pekik Luca, maju menghadang sisi kanan Elle, yang hanya terlihat udara kosong. Tapi setelah Luca menebaskan belati ke udara kosong, muncullah hewan lain yang berdiri menatap keduanya dengan mata merah.
Darrion, dan Sam sudah maju melawan sapi mutan hitam sebelumnya. Kini, datang lagi sapi mutan putih yang kontras dengan matanya yang merah. Seolah-olah dua sapi ini adalah pasangan hewan mutan yang masih bersama.
Tapi hal ini mungkin saja, sebab hewan mutan bisa lebih awal membangunkan kecerdasannya sendiri dibanding zombie yang lebih lambat.
"Sial! Hampir saja." Desis Elle dengan jantung berdegup. "Terimakasih." Bisik Elle pada Luca yang membelakanginya.
"Buat Shirley dan Avin melawan sapi ini. Ada satu hewan mutan yang belum muncul." Ucap Luca.
"Shirley, Avin, maju!" Titah Elle. Sedangkan ia dan Luca mundur mengamati situasi sekitar. Terlebih Luca yang memindai radarnya dengan saksama. Sebab hewan-hewan mutan ini agak sulit terlihat.
Setelah Shirley dan Avin menangani sapi lainnya, Elle kembali mundur untuk menyerahkan medan pertempuran pada keduanya.
" Ada satu lagi, yang satu ini terlihat diradarku, tapi ia tidak bergerak sama sekali. Meski diam, aku rasa ia yang paling kuat. Energi kehidupannya lebih pekat dari dua hewan mutan ini." Ucap Luca memberitahu.
"Dimana itu?" Tanya Elle serius.
"Didalam." Balas Luca seraya menunjuk sebuah kandang hewan yang terlihat seperti rumah sederhana dengan cat oranye.
"Aku akan masuk. Dengan terlihatnya ia diradarmu, mungkin ia tidak invisible seperti dua sapi ini." Ucap Elle menimbang. Akan lebih mudah baginya jika hewan mutan ini tidak bisa menghilang.
"Kalau begitu aku akan mengikutimu." Balas Luca.
Elle menggeleng cepat. "Tidak, kau harus mengawasi mereka. Jika kedua hewan ini menggunakan kekuatan invisible nya lagi maka mereka akan terdesak dan kemungkinan kalah sangat besar. Jadi, kau sangat dibutuhkan disini." Ucap Elle menolak dengan tegas.
Ia punya ruang, jadi ia percaya diri bisa melarikan diri jika ia terdesak. Ia juga tidak akan seceroboh sebelumnya ketika menghadapi zombi tingkat tinggi. Lagipula, waktu itu ada banyak orang yang tidak nyaman baginya untuk masuk ke ruangan, akan sangat beresiko juga pada yang lain jika ia tiba-tiba menghilang.
Jadi Elle menepuk lengan Luca pelan. Menatapnya dengan mata serius. "Aku cukup percaya diri. Aku yakin bisa melarikan diri tepat waktu." Ucap Elle tegas.
Luca balas menatapnya datar. Keduanya saling menatap beberapa saat sebelum akhirnya Luca membuang muka dengan hela nafas yang terdengar. "Pergilah." Ucapnya pelan, hampir tidak terdengar. Jika didengarkan saksama pasti terdengar keengganan disana.
Elle mengangguk, kemudian berjalan cepat memasuki peternakan sapi di belakang medan pertempuran. Disisi lain, Luca menatap punggungnya lekat. Baru setelah punggungnya benar-benar menghilang dibalik peternakan, Luca kembali fokus pada area sekitar.
**
Pintu terbuka perlahan, suasana hening, tapi Elle menjadi semakin waspada. Semakin hening tempat, semakin ia yakin ada bahaya ditempat itu. Sebab di hari kiamat tidak ada tempat yang benar-benar hening.
Gelap. Satu-satunya cahaya yang ada berasal dari pintu yang dibuka oleh Elle. Tapi cahaya hanya menyinari sebagian pintu masuk. Jadi ketika ia maju, baru dua langkah hendak masuk. Terlihat jejeran mata merah menatapnya dengan tatapan permusuhan.
Elle termundur lagi. Terkejut. Satu yang dimaksud Luca itu agak sedikit membuat Elle ragu. Apalagi dengan banyaknya mata merah yang mengawasi didalam. Dalam hal ini, karena ia tidak mau mengambil resiko dikegelapan, Elle mengeluarkan beberapa senter besar yang ia temukan dikomunitas sebelumnya. Dengan 6 sulur miliknya, Elle membiarkan senter dibawa ke sekeliling untuk menerangi sekitar.
Perlahan, sulur bergerak dikegelapan menuju langit-langit peternakan. Baru setelah semuanya berada disudut dan tengah langit-langit peternakan, Elle menyalakan senter bersamaan.
"Apa?!" Pekiknya tertahan. Kedua matanya melebar terkejut. "Apa-apaan?" Tanyanya pada diri sendiri. Tertegun menatap seekor anjing kecil yang duduk diatas jerami dengan mata bulatnya. Itu jenis Dachshund, anjing bertubuh pendek yang dikenal sangat cerdas tapi keras kepala, menjadi tantangan bagi manusia sebab sulit dilatih. Dikenal sensitif, tapi jika sudah setia maka kesenangan dan rasa sayangnya akan terlihat.
"AUNG!"
Suaranya sangat kontras di keheningan peternakan yang besar. Dengan tubuh kecil dan luasnya peternakan, ini benar-benar membuat Elle tertawa dalam hati.
"Hei, mungkinkah kau hewan penjaga peternakan disini?" Tanya Elle basa basi. Yang tidak mendapatkan sambutan baik sama sekali. Anjing kecil itu menyalak menatap Elle dengan mata merahnya. Inilah mata merah yang ia lihat sebelumnya, mengelilinginya di kegelapan, membuat langkahnya sempat ragu dan takut.
Meski begitu, Elle tidak menurunkan kewaspadaannya sama sekali. Tidak ada yang biasa saja di hari kiamat. Hewan sekecil tikus saja bisa memakan habis satu manusia dalam beberapa waktu. Apalagi seekor anjing.
Meski penampilannya memang tidak terlihat garang, tapi dengan dua sapi yang ia kendalikan diluar, ditambah radar Luca, jelas kekuatannya tidak main-main. Bisa saja lebih kuat dari beberapa orang dalam timnya. Hanya saja, ia masih penasaran dengan bagaimana radar Luca bisa menangkap 'banyak' hewan mutan sebelumnya sedangkan setelahnya hanya menangkap 3.
GRRRRH GRRRHH
Anjing kecil yang menyalak Elle, ketika tidak mendapat respon apa-apa darinya, mulai menggeram memamerkan gigi runcing yang tajam. Membuat Elle menyunggingkan senyumnya.
SRANGG!
Elle menebaskan pedang ke kanan, memperlihatkan pada anjing kecil itu bahwa ia juga siap berhadapan dengannya.
Melihat lawannya mengeluarkan senjata, dalam sekejap anjing itu mulai mengeluarkan kekuatannya.
"Wow! Membelah diri seperti amoeba? Jadi ini kemampuanm--SRETT!" Ucapan Elle tidak selesai, tapi pedangnya bergerak cepat menebas belahan diri anjing lain. "Sial! Bukankah ini terlalu banyak? Pantas saja kedua sapi itu tunduk padamu!" Lanjut Elle mengumpat. Lalu tersadar, mungkin inilah yang masuk radar Luca sebelumnya.
Elle tertawa sinis. 'Kok bisa belahan diri saja masuk radar? Begitu kuat kah kekuatan anjing ini?' Pikirnya.
Elle melompat mundur dengan pedang yang lagi-lagi menebas beberapa belahan diri anjing tersebut. Jumlahnya lebih dari 100, entah berapa tepatnya tapi benar-benar membuat Elle kewalahan. Ia berkali-kali melompat menghindar.
Meski terus menghindar dan menebas, Elle mengeluarkan satu sulur tambahan, diam-diam mendekati anjing kecil yang masih ada diatas jerami. Inilah tubuh asli anjing itu.
Hewan mutan memang cerdas, belum ia mendekati anjing aslinya, sukur miliknya sudah digigit oleh belahan diri anjing itu menjadi beberapa bagian, membuat Elle ngeri. Belahan dirinya saja begitu tajam, apa kabar yang asli? Pikirnya.
"Sial, aku bahkan tidak bisa mendekatinya!" Desis Elle, yang sudah sedikit terengah karena melompat terus menerus menghindari kejaran dan gigitan belahan diri anjing tersebut.
**