Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir malah kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad, Elle bersumpah akan melawan kejahatan dan zombie.
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya, sebab Elle tidak sendirian. Disamping orang kepercayaannya, ia bertemu seseorang yang membuat hatinya berdebar. Tapi fakta yang disembunyikan oleh laki-laki ini, mampu membuat Elle kehilangan kendali atas dirinya. Sebab dialah yang bertanggungjawab atas situasi dan kondisi di dunia tersebut.
Bagaimana Elle mengatasi tantangan atas rasa sakit, dan perjuangan secara bersamaan? Mampukah ia pada akhirnya sampai ke garis akhir atas perjuangannya, atau justru mati digerus kejinya akhir dunia?
Yuk ikuti terus ceritanya ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darrion Yang Penasaran
**
Setelah pertarungan hebat yang melelahkan, semua orang pada malam itu tidak banyak mengobrol, hanya tidur dengan Dudu dan belahan dirinya yang mengawasi sekitar. Yang dilewati dengan aman.
Ketika pagi hari tiba, semua bangun dengan keadaan yang jauh lebih segar. Langsung mengerubungi kelinci-kelinci mati yang mati, yang sudah disortir antara yang luka parah, tanpa luka, dan yang terbakar. Mereka mengawali pagi dengan membersihkan kelinci-kelinci tersebut menguliti kelinci menyimpan bulunya untuk membuat sarung tangan atau sarung kaki, intinya sebagai penghangat. Sementara dagingnya langsung digarami, dibuat menjadi bacon yang bisa bertahan lebih lama.
Sementara yang lain mengeksekusi kelinci, Elle dan Shirley ditambah Sasa mulai memasak untuk sarapan semua orang. Elle banyak diam, membuat Shirley dam Sasa saling menatap, bahkan Shirley menggeleng pada Sasa agar tidak mengganggu Elle seperti sebelumnya.
Tapi, bukan hanya Shirley yang merasakan keanehan tersebut. Meski ia biasanya diam, tapi sesekali akan bercanda dengan Sasa dan Lio, singkatnya Elle lebih ceria meski diam. Tapi saat ini berbeda, matanya terlihat masih sembab dan jauh lebih diam, tidak ada kesan ceria sama sekali. Khususnya Darrion yang berani pada sang kakak, merasa aneh dan langsung bertanya.
Elle hanya menggeleng seraya tersenyum kecil, berkata ia hanya sedang merasa lelah akibat pertarungan semalam. Mengungkap bahwa ia ceroboh karena sudah meremehkan lawan. Ia hanya sedang menyusun beberapa rencana untuk meningkatkan kekuatan dan kewaspadaan. Ia juga mengungkap bahwa selama beberapa hari ini semua orang terlalu bersantai meski setiap istirahat dan malam tiba semuanya berlatih.
"Itu semua belum cukup. Intensitas latihannya harus ditingkatkan. Melihat kekuatan sekelompok kelinci kemarin yang bertipe petir, jelas diluar sana sudah lebih banyak mutan dan zombie yang naik ke level diatas kalian." Jelas Elle dengan serius.
"Selain itu, jangan bergantung padaku atau Luca. Hari kiamat ini kecelakaan bisa terjadi kapanpun dan dimanapun tanpa melihat situasi. Kalian harus bisa melawan, jangan bergantung pada yang lain. Kalian harus benar-benar meningkatkan kekuatan dan ketangkasan kalian." Lanjut Elle tegas.
"Meski berkelompok dan kerjasama memang bagus dan meningkatkan peluang kemenangan, kalian tetap harus bisa bergantung pada dirimu sendiri. Ada beberapa kejadian yang mungkin terjadi di masa depan, yang membuat kalian tidak bisa bekerja sama dengan yang lain. Kemungkinannya kecil, tapi hal ini bisa saja terjadi menimpa masing-masing dari kita." Timpal Luca, menambahkan.
Semua orang terdiam. Menunduk memikirkan dirinya masing-masing. Membuat Elle mengangguk, mereka tahu kapan berhenti dan menilai diri mereka sendiri. Meski harus diingatkan, setidaknya ini berhasil.
Lagipula mereka memang hidup terlalu nyaman beberapa hari ini. Apalagi dengan jalan pinggiran kota yang tidak banyak bahaya, sepertinya masing-masing dari mereka mulai meremehkan hari kiamat ini. Sampai sekelompok kelinci hebat datang malam kemarin. Membuat otak Elle, dan menyampaikannya pada semua orang.
Luca menatap Elle lekat, ia juga termasuk salah satu orang yang sadar akan perbedaan sikapnya. Ia tahu, ialah penyebab utamanya bukan karena sekelompok kelinci itu. Tapi Elle hebat, bisa menyembunyikan masalah itu dari semua orang. Ia memang sangat berprinsip. Luca tersenyum kecil, kemudian ketika Elle menoleh padanya senyumnya menjadi lebar.
Elle merasa diperhatikan alhasil ia menoleh, namun ketika ia melihat senyum lebar Luca, ia membuang muka dengan tatapan sinis. Hatinya masih sangat marah, ia pikir ia akan melupakannya begitu saja? Huh, mimpi! Pikirnya. Hal keterlaluan seperti ini, siapa yang akan bersikap rela begitu saja?
"Kak, bantu aku berlatih." Ucap Darrion memecah fokus keduanya. Ia sudah berdiri, dengan gesturnya, ia menyuruh sang kakak untuk pergi dari kemah tim. Agak sedikit jauh dari yang lain.
Elle berdiri dan mengikutinya. Ia tahu, latihan hanya alibi sang adik untuk bertanya beberapa hal padanya. Dengan kepekaan sang adik, Elle tahu dengan jelas ia sudah menebak beberapa hal dengan benar dikepalanya tentang situasi dirinya dan Luca.
Keduanya duduk di dahan pohon yang mati akibat pertarungan kemarin. Saling berhadapan, dengan raut serius.
"Kak, ada apa denganmu dan orang itu?" Tanya Darrion tanpa basa basi.
Elle menghela nafas. Pada akhirnya, hal ini juga pasti akan datang. "Tidak ada apa-apa." Balas Elle, karena memang tidak ada apa-apa antara ia dan Luca.
"Kak, jangan sembunyikan sesuatu dariku. Apakah Luca melukaimu? Mengancammu?" Tanya Darrion khawatir.
"Tidak, tentu saja. Dengan kapasitasnya itu, apakah menurutmu dia mampu mengancamku?" Tanya Elle serius, kemudian menghela nafas. "Baiklah, Luca mengungkapkan perasaannya padaku. Jujur, aku sedikit menyukainya, jadi dia menjadi lebih berani. Tapi aku pikir, hal ini bukan prioritas utama kita sekarang. Aku ingin fokus pada tujuanku sebelumnya. Itulah yang terjadi, tidak ada apa-apa sekarang." Jelas Elle mengungkap fakta.
"Ah ha! Pantas saja beberapa hari belakang dia selalu menghalangi aku berdekatan denganmu! Jadi, dia merasa tersaingi olehku kan?!" Ucap Darrion dengan wajah gosip yang kentara.
"Tidak, aku menghindarinya dan aku menjadikanku tameng. Itulah kenapa ia bersikap begitu beberapa hari belakang." Balas Elle seraya mengibaskan tangannya. "Baiklah karena kau sudah tahu, bantu aku mengawasi dia mulai sekarang, ya?" Lanjutnya seraya tersenyum. Tangannya juga terangkat mengusap kepalanya.
"Oke, oke, aku akan mengawasi kalian. Oh ya, ngomong-ngomong kau masih belum menjelaskan padaku tentang telur tomat itu! Dari mana asalnya? Bukankah kau berkata sebelumnya, tunggu waktu yang tepat untuk memberitahuku? Kak, menurutku waktu yang tepat itu, ya saat ini!" Ucap Darrion tiba-tiba teringat. Wajahnya menjadi jauh lebih serius, wajah bergosipnya juga menghilang diganti rasa penasaran.
Elle tersenyum kecil. "Lihat ini." Ucap Elle seraya menengadahkan tangannya. Darrion menatap tangan kosong kakaknya, yang dalam beberapa saat muncul coklat bar ditangannya, membuatnya kembali terkejut.
"Kak?!" Ucapnya tertahan, setengah berbisik, kemudian menatap sekitar memastikan yang lain tidak memerhatikan keduanya. Setelah merasa aman, ia kembali menatap kakaknya menuntut penjelasan.
"Baiklah, sebenarnya aku punya ruang. Aku orang berkemampuan ganda. Tipe kayu dan tipe ruang. Sebelum Luca, akulah yang pertama kali punya dua kemampuan." Ucap Elle seraya tersenyum lebar. "Ini aku dapatkan dari komunitas itu, perbekalan yang aku temukan dari beberapa rumah disana, banyak sekali. Orang-orang kaya seperti mereka suka menimbun banyak barang." Lanjutnya seraya berbisik.
Darrion melebarkan kedua matanya, mulutnya juga terbuka lebar. "Wow, kak! Kau keren sekali. Aku akan memeluk paha emas ini! Kak, pelihara aku dengan baik di masa depan, oke?!" Ucap Darrion seraya menunjukkan wajah puppy padanya, membuat Elle tertawa.
Adiknya memang paling suka bersikap seperti anjing padanya. Elle sudah lama tidak melihatnya, terakhir kali adalah beberapa tahun lalu sebelum sang kakek meninggal. Ia merayu Elle agar memasuki perusahaan sementara dirinya ingin memasuki dunia entertainment.
"Aku akan, tentu saja." Ucap Elle tersenyum lembut. "Juga, ruangku bisa dimasuki makhluk hidup, dimasa depan aku akan membawamu memasukinya." Ucapnya lagi.
"Kau serius kak?!" Tanya Darrion kembali terkejut, "kalau begitu jangan lupa." Lanjutnya.
"Baik, baik, ayo berlatih dulu." Ucap Elle.
**