NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 : Janji terakhir yang menyesatkan

Alena tampak terdiam setelah mendengar ucapan Arinta di telepon. Andini melirik dengan cemas, sementara Yani hanya menatap dalam diam tanpa komentar sambil menemani Alea yang sibuk dengan mainannya.

"Gimana, kamu mau ikut aku ke Bandung?? Kita bisa memulai semua dari awal lagi, Len," ucap pria di seberang sana dengan nada setengah memohon.

Alena meremas ponsel dalam genggamannya begitu kuat. Setelah keyakinan nya begitu kuat tadi untuk pulang ke Bandung, kini harus kembali goyah karena penawaran Arinta. Lelaki itu terdengar bersungguh-sungguh.

"Aku... gak bisa menjawab itu sekarang...," balas Alena yang terlihat jadi bimbang.

"Gak apa-apa, aku tunggu jawaban kamu sebelum Sabtu ya, karena weekend aku sudah harus berangkat...," ucap Arinta dengan penuh harap Alena bisa memberikan jawaban secepatnya.

"Lihat saja nanti...," jawab Alena dengan ketidakpastian.

"Arinta ngomong soal apa, Len?" Tanya Andini penasaran setelah melihat perubahan wajah sang kawan.

"Gue bingung jadinya..., dia ngajak untuk tinggal di Bandung...." Alena menoleh, menatap ke arah Andini.

"Hah, kok bisa sih?" Balas Andini yang terkejut. Bisa-bisanya Arinta ngide buat tinggal di Bandung disaat Alena sudah memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya di Bandung. Ada ilmu sakti darimana pria itu?

"Lucu ya...." Alena menggelengkan kepala. Ia mendengus kecil, lalu tertawa. Pandangannya kini tertuju ke arah jalan di depan. "Dia baru saja diturunkan jabatan, dan dipindah divisi ke kota Bandung," ungkap Alena memberi penjelasan.

"Ah, gila! Masa begitu? Kebetulan banget, kayak takdir seperti sengaja mau bikin lu tetep sama dia!" Celetuk Andini secara spontan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Alena. "Ah, maaf Len, gue keceplosan...." Wanita itu tertawa garing. "Lagian aneh aja, kok bisa kebetulan nya pas banget," imbuhnya masih gak habis pikir.

"Hah, entahlah..., gue juga gak ngerti." Alena mengangkat bahu, lalu melihat ke arah jendela samping di mana pertokoan dan kendaraan begitu rapat berjajar di pinggir jalan.

"Ya udah, yang penting sampai rumah dulu, baru rileks," ucap Andini memutus pembahasan soal rumah-tangga. Dia gak mau semakin membebani Alena dengan banyak pikiran.

.

.

Sementara di kantor Arinta yang hendak berjalan keluar tiba-tiba ditarik oleh Melinda yang bersembunyi di lorong jalan.

"Apaan sih kamu, Mel? Bikin kaget saja!" Pria itu terkejut saat tangannya ditarik ke arah sebuah lorong yang sepi. Dia sempat waspada dan melihat sekitar untuk memastikan keadaan aman.

"Ada apa kamu bawa aku kemari??" Tanyanya sedikit cemas.

"Jangan keras-keras," balas Melinda meminta Arinta untuk memelankan nada suaranya sedikit.

"Ya udah, cepetan ngomong. Aku sedang buru-buru," sambar Arinta yang sudah tak sabar.

"Ih kamu, mentang-mentang mau pergi ke Bandung kamu mau melupakan hubungan kita begitu saja, ha?" Melinda mendelik kesal.

"Kamu lupa soal kesepakatan kita sejak awal melakukan ini tanpa rasa?" Arinta melontarkan pertanyaan tajam.

"Iya, iya aku tau! Aku janji gak bakal ganggu kamu, ini yang terakhir asal kamu mau melakukan sesuatu untukku," ujar Melinda yang tampaknya langsung menarik perhatian Arinta.

"Janji?" Tanya pria itu dengan sedikit curiga. Apakah Melinda bersungguh-sungguh atas ucapannya.

"Ya, satu syarat...." Melinda mengangguk lalu tiba-tiba saja dia mendekatkan diri ke Arinta, lalu berbisik, "malam ini aku ingin kamu menemani aku...."

Wanita itu berbicara di telinga Arinta dengan suara serak menggoda.

Arinta menatap serius Melinda sambil mempertimbangkan semuanya. Kali ini untuk terakhir dan setelah itu dia akan bebas dari Melinda. Wanita itu akan benar-benar pergi menjauh. Akhirnya Arinta mengangguk setuju.

"Baiklah, tapi ini yang terakhir. Setelah itu kita hidup masing-masing," ucapnya menegaskan tanpa memberi harapan lebih. Melinda pun tampaknya setuju.

Saat itu Arinta tidak menyadari keputusan yang dilakukannya adalah suatu kesalahan yang hanya akan membawa pengaruh buruk antara hubungannya dengan Alena.

Apa yang dia lakukan sama saja seperti membuka pintu peluang masalah lain. Dia seperti masih memberikan ruang untuk Melinda.

Tanpa pikir panjang keduanya berjalan keluar gedung kantor bersama-sama. Saat itu ada dua orang karyawan kantor yang memergoki dari belakang dan segera memutuskan untuk mengikuti.

"Eh, itu Pak Arinta berduaan lagi sama Melinda!" Ucap seorang wanita sambil menarik teman prianya. Mereka berdua hendak pulang juga dari kantor.

"Wah, enggak bener nih. Bukannya udah ditegur sama Pak Direktur!" Pria itu menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak.

"Kita ikutin yuk!" Sambar si wanita langsung ngide.

Lelaki di sebelahnya melirik bingung. Dia belum sempat bereaksi atau pun berpendapat tapi tangannya sudah terlanjur ditarik menuju ke arah luar.

.

.

Keduanya berjalan dengan hati-hati di belakang supaya tidak ketahuan.

"Ra, udah yuk gak usah ikut campur!" Fatur nama teman prianya berusaha menarik Amara yang akrab dipanggil Rara di kantor. Dia gak mau mereka sampai kejebak drama.

"Ah, jangan takut lah! Kita harus ungkap kebenaran!" Balas Amara sepertinya tidak terlalu peduli dengan kekhawatiran temannya.

"Buruan ke mobil lu! Mereka udah mau naik itu!" Amara menepuk keras punggung Fatir saat melihat Arinta dan Melinda berjalan mendekati mobil.

"Arghhh, iya iya, ayo deh!" Fatur frustasi dan terpaksa mengikuti kemauan Amara.

Keduanya sambil menunduk berjalan ke arah mobil Fatur yang sedang terparkir tak jauh.

"Tunggu mereka jalan dulu, baru kita susul," Ucap Amara sembari mengamati dari balik mobil.

Tak lama mobil milik Arinta pun melaju meninggalkan area parkir ke luar area perkantoran.

"Ayo, Tur! Kejar!" Amara dengan semangat berapi-api langsung membuka pintu mobil dan naik ke dalam. Fatur sang pemilik mobil hanya bisa pasrah.

.

.

Kini mereka sedang berada di jalanan dan Fatur fokus ke arah mobil Arinta supaya tidak kehilangan jejak, sementara Amara seperti sedang sibuk merekam video sebagai bukti perselingkuhan. Yah, siapa tau nanti video rekamannya itu akan dibutuhkan.

"Kok ini kayaknya jalan mau ke hotel ya?" Ucap Fatur setelah ngeh sama jalan yang mereka lalui setelah mengikuti mobil Arinta.

"Hah, serius lu?" Tanya Amara yang malah semakin bersemangat.

"Iya lah, gua tau jalan sini!" Sembur Fatur.

"Wah, apa jangan-jangan mereka mau check in?" Amara langsung memberi tebakan liar.

"Gak mungkin!" Fatur segera menepis prasangka Amara. "Enggak mungkin mereka senekat itu setelah kemarin kepergok!" Sambungnya memikirkan kemungkinan hal seperti itu.

"Bisa aja 'kan," balas Amara acuh. "Lagian orang selingkuh mana peduli sama keadaan sih, Tur? Kalau peduli enggak mungkin mereka melakukan perselingkuhan sejak awal, iya 'kan."

Perkataan Amara ada benarnya juga. Kalau memang peduli Arinta tidak akan mungkin bermain api dengan Melinda karena dia sudah beristri.

Ternyata dugaan Fatur benar, mobil Arinta memasuki sebuah hotel besar di pusat ibukota. Hatinya jadi was-was kalau dugaan Amara menjadi kenyataan.

"Kita gak usah ikutin sampe dalem deh, ini seriusan terlalu ikut campur gak sih?" Fatur ragu.

"Harus lah, udah terlanjur sampai sini! Buruan, mobil belakang juga mau lewat, Tur!" Amara agak memaksa dan lagi, Fatur tak punya pilihan. Memang sudah terlanjur juga ya udah.

Mereka pun akhirnya ikut berbelok ke arah jalan masuk hotel tersebut.

Apakah Arinta bakal tertangkap basah sama Melinda kali ini?

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!