NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:791
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Nyata

Kehidupan di rumah mulai terasa seperti mimpi yang nyata bagi Ria. Arya benar-benar membuktikan ucapannya; ia membatalkan banyak rapat penting, bekerja dari ruang kerja di rumah, dan hampir setiap jam mengecek kondisi Ria. Namun, di tengah kehangatan itu, sebuah percikan lama kembali menyala, mengingatkan mereka bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati.

Sore itu, saat Ria sedang mencoba berjalan perlahan di ruang tengah, ia mendengar suara perdebatan dari arah ruang tamu. Suara Arya terdengar meninggi, penuh dengan nada defensif yang tajam.

"Aku sudah bilang jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" bentak Arya.

Ria melangkah mendekat, bersandar pada pilar untuk menjaga keseimbangannya. Di ruang tamu, ia melihat seorang wanita cantik dengan pakaian kantor yang sangat rapi. Itu adalah Clara, mantan sekretaris sekaligus wanita yang dulu sering digosipkan memiliki hubungan spesial dengan Arya saat hubungan Arya dan Ria sedang di titik terdingin.

Clara berdiri dengan tenang, namun matanya menatap tajam ke arah Arya. "Aku hanya mengantarkan dokumen yang sangat mendesak, Arya. Kau tidak bisa mengabaikan perusahaan hanya karena... ini," Clara melirik ke arah Ria yang berdiri di kejauhan dengan kepala terbungkus turban sutra.

Tatapan Clara tidak mengandung simpati; itu adalah tatapan menilai, seolah ia sedang melihat barang rusak yang tidak lagi berharga.

"Dia sudah sadar, syukurlah," ucap Clara dengan nada yang dibuat-buat. "Tapi Arya, kau adalah seorang pemimpin. Jangan sampai rasa bersalah mu berubah menjadi obsesi yang menghancurkan kariermu. Kau tahu benar, dulu kau sering mengatakan padaku bahwa pernikahan ini hanya—"

"TUTUP MULUTMU, CLARA!" raung Arya.

Ria merasakan jantungnya mencelos. Kalimat Clara yang menggantung itu seperti belati yang kembali menusuk ulu hatinya. Pernikahan ini hanya apa? Hanya pajangan? Hanya beban?

Arya menyadari keberadaan Ria. Wajahnya seketika memucat. Ia segera menghampiri Ria, mencoba merangkul bahunya. "Sayang, jangan dengarkan dia. Dia hanya bicara omong kosong."

Ria menepis tangan Arya dengan halus namun tegas. Matanya menatap Clara, lalu kembali ke Arya. "Dia benar, Mas. Kau tidak bisa terus di rumah. Dan dia juga benar... dulu kau sering membicarakan tentang 'pernikahan kita' padanya, kan?"

"Ria, itu dulu! Aku yang dulu adalah orang bodoh!" seru Arya frustrasi.

Clara memberikan senyum miring yang tipis. "Aku pergi sekarang. Dokumennya ada di meja. Pikirkanlah, Arya. Perusahaan membutuhkanmu, dan kau butuh seseorang yang bisa mengimbangi mu, bukan seseorang yang hanya bisa membuatmu merasa kasihan setiap kali melihatnya."

Setelah Clara pergi, suasana rumah yang tadi hangat mendadak berubah menjadi mencekam. Arya mencoba memegang tangan Ria, namun Ria mundur satu langkah.

"Ria, kumohon... dia hanya mencoba memancing emosimu. Aku sudah memecatnya secara tidak resmi sejak kau masuk rumah sakit, dia hanya datang untuk memprovokasi," jelas Arya dengan nada memohon.

Ria menatap Arya dengan mata yang berkaca-kaca. "Mas... melihatnya tadi membuatku sadar. Selama aku sakit, kau mungkin memang merasa bersalah. Tapi apakah rasa bersalah itu cukup untuk menghapus fakta bahwa kau pernah menganggap ku beban di depan orang lain?"

Ria menarik napas panjang, mencoba menahan tangisnya. "Panggilan 'Sayang' itu... apakah itu karena kau benar-benar mencintaiku, atau karena kau merasa kasihan melihatku yang telah botak dan tidak berdaya seperti ini?"

"Ria!" Arya berteriak kecil, merasa hancur karena istrinya meragukan ketulusannya. "Demi Tuhan, ini bukan karena kasihan! Aku mencintaimu sampai rasanya jantungku mau berhenti setiap kali kau kesakitan!"

Ria menggeleng perlahan, ia berjalan menuju kamar dengan langkah yang masih goyah, meninggalkan Arya yang berdiri terpaku di tengah ruangan yang luas itu. Percikan konflik itu menyadarkan mereka bahwa meski tubuh Ria membaik, kepercayaan yang hancur selama dua tahun tidak bisa diperbaiki hanya dengan beberapa minggu perhatian manis.

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela, menerangi gaun berwarna kuning cerah yang kini melekat di tubuh Ria. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Meski kepalanya masih dibalut turban sutra bermotif bunga yang elegan, ada binar berbeda di matanya. Kejadian dengan Clara kemarin adalah sebuah tamparan keras bagi Ria; ia menyadari bahwa terus meratapi masa lalu hanya akan memberi celah bagi wanita lain untuk masuk.

Jika Arya mencintainya karena rasa kasihan, maka Ria akan memberinya alasan untuk mencintainya karena kekaguman. Dan jika Arya tidak mencintainya, maka setidaknya Ria akan mencintai dirinya sendiri dengan cara yang paling mewah.

Ia mengambil tas kecilnya dan melangkah keluar kamar dengan dagu tegak.

Arya sedang duduk di meja makan, menatap laptopnya dengan kening berkerut. Begitu mendengar langkah kaki Ria, ia segera berdiri. Matanya membelalak melihat penampilan istrinya yang begitu segar dan bersemangat.

"Sayang? Kau mau ke mana? Tubuhmu belum pulih benar," Arya mendekat dengan raut khawatir.

Ria tidak membalas pelukan Arya. Ia hanya tersenyum tipis, jenis senyum sopan namun memiliki jarak yang sangat lebar. "Aku butuh uang, Mas. Banyak uang."

Arya tertegun. Selama dua tahun, Ria hampir tidak pernah meminta apa pun. "Tentu, kau tahu kartu kreditmu tidak ada batasnya, kan? Tapi untuk apa? Jika kau ingin sesuatu, biar aku yang pesankan atau supir yang mengambilnya."

"Tidak," potong Ria tegas. "Aku ingin pergi sendiri. Aku ingin berbelanja, pergi ke salon, dan mungkin makan siang di restoran yang sangat mahal. Aku ingin menikmati hidup yang kau sebut 'kesempatan kedua' ini dengan caraku."

Arya menatap Ria dengan bingung. "Ria, kau masih butuh istirahat—"

"Mas," sela Ria, suaranya tenang namun mengandung otoritas. "Selama ini aku sakit hati karena terlalu peduli padamu, pada siapa kau pergi, dan bagaimana perasaanmu padaku. Sekarang, aku sudah tidak peduli. Kau mau ke kantor, menemui Clara, atau pergi ke ujung dunia sekalipun, itu urusanmu. Aku hanya ingin bersenang-senang dengan uangmu sebagai ganti atas waktu yang kau curi dariku selama dua tahun ini."

Arya merasa jantungnya seolah diremas. Kalimat Ria terdengar sangat santai, namun itulah yang membuatnya menakutkan. Ria tidak lagi marah, ia tidak lagi menangis; ia sedang membangun benteng baja dengan senyuman.

"Ria... kau bicara seolah-olah kita ini orang asing," bisik Arya parau.

"Bukannya selama ini kita memang begitu?" Ria mengangkat bahu. "Aku hanya sedang menyesuaikan diri dengan peran 'pajangan' yang mahal, seperti yang kau inginkan dulu. Bedanya, sekarang aku adalah pajangan yang tahu cara menghabiskan uang.

Arya terdiam, ia merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu hitam khusus (Black Card) yang hanya dimiliki segelintir orang di dunia. Ia menyerahkannya pada Ria dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Gunakan sesukamu. Habiskan semuanya jika perlu. Tapi kumohon, biarkan supir dan dua pengawal mengikuti mu dari belakang. Bukan untuk mengawasi mu, tapi untuk menjagamu agar tidak jatuh," ucap Arya pelan.

Ria mengambil kartu itu, memasukkannya ke dalam tas tanpa melihatnya. "Terima kasih, Mas."

Saat Ria berjalan menuju pintu depan, Arya hanya bisa berdiri terpaku di ruang tengah. Ia menyadari bahwa Ria yang lemah lembut dan penurut telah mati bersama penyakitnya. Kini, yang berdiri di depannya adalah wanita kuat yang siap menghadapi dunia, namun sekaligus wanita yang telah mengunci pintu hatinya rapat-rapat bagi Arya.

Ria masuk ke dalam mobil dengan perasaan lega yang aneh. Ia tidak akan membiarkan sakit hati membunuhnya lagi. Jika hidup ini singkat, maka ia akan memastikan ia menjalaninya dengan kepala tegak, meskipun hatinya masih terasa seperti reruntuhan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!