Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR BAHWA RISA SAKIT
Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan hampir pukul setengah sepuluh malam, saat terlihat bapakku pulang bersama Mas Padi menaiki sepeda motor.
"Eh, Mbak Nisa, itu Bapaknya udah pulang." ucap Risa sambil menatap ke arah bapakku yang sudah tiba di halaman rumah.
"Assalamu'alaikum..." ucap bapak berbarengan dengan Mas Padi.
"Wa'alaikumsalam..." jawabku juga yang berbarengan dengan Risa.
"Wah... Ada tamu toh..." kata bapakku sambil turun dari motor, dan melepas helm.
"Iya Pak... Oh ya Mas Padi, gak mampir dulu?" tanyaku saat melihatnya yang hendak langsung pulang saja.
"Terima kasih Nis. Tapi udah malem ah, langsung pulang aja saya ya..."
"Oh gitu... Terima kasih ya Mas udah bareng sama Bapak." ucapku.
"Terima kasih Mas Padi..." tambah bapakku.
"Iya, sama-sama. Saya pamit ya... Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam..." sahut kami bertiga.
"Mari Mbak... Saya duluan..." ucap Mas Padi sambil mengangguk kepada Risa.
"Iya Pak..." jawab Risa sambil tersenyum dan mengagguk juga.
Breeemmm...
Suara motor Mas Padi di gas menuju rumahnya yang tak terlalu jauh dari rumahku.
"Oh iya, ini siapa Nis?" tanya bapak.
"Kenalin Pak, ini Risa. Dia yang jadi langganan aku belanja sayur di pasar." jawabku.
"Salam kenal ya Pak, saya Risa." ucapnya sambil bersalaman dan mencium tangan bapakku.
"Oh Risa ya..."
"Iya Pak..."
"Kapan sampe ke sini? Kok malem-malem?" tanya bapak.
"Udah dari tadi sih Pak. Hehehe... Main malem soalnya kalo siang kan saya jaga lapak sayur di pasar." jelas Risa. Disusul anggukan bapakku.
"Ya sudah, saya mau masuk dulu ya. Mau ganti baju juga. Dilanjut aja ngobrolnya..."
"Iya Pak, silahkan..."
Bapakku langsung masuk ke dalam rumah. Aku pun segera minta izin ke Risa untuk membuatkan minum dulu buat bapakku.
"Sebentar ya Ris, Mbak ke dalem dulu."
"Iya Mbak."
Aku berjalan menuju depan pintu kamar bapak.
"Pak, gerah gak? Apa mau mandi air anget?"
"Gak usah Nis. Gak gerah sama sekali kok. Bapak paling cuma cuci muka sama ambil wudhu aja. Terus mau langsung tidur."
"Oh, ya udah. Nisa bikinin teh manis anget aja ya kalo gitu."
"Boleh..."
Aku segera ke dapur dan membuatkan teh manis hangat buat bapak. Ketika selesai langsung ku antarkan dan kutaruh di atas meja kamar bapak.
"Ini Pak, diminum... Mumpung masih anget."
"He-em Nis. Makasih..."
"Nisa ke teras lagi ya Pak."
"Glek, glek, glek, Alhamdulillah... Iya, sana ditemenin dulu tamunya."
"Iya Pak."
Aku segera kembali ke teras untuk menemani Risa lagi. Tapi, baru saja aku sampai di teras,
"Mbak, aku pamit dulu deh. Udah malem juga."
"Loh, beneran mau pulang sekarang?"
"Iya Mbak, udah jam setengah sepuluh malem juga ini. Gak enak aku kalo terlalu malem pulangnya."
"Oh gitu... Ya udah..."
"Iya Mbak, pasti kan kamu juga mau istirahat Mbak."
"Ah, aku sih belom mau tidur Ris. Paling nanti aja jam sebelas malem."
"Waduh, malem banget Mbak? Ngapain? Ngobrol sama Dayang Putri ya?"
"Ah, ada deh... Pengen tau aja kamu, hehehe..."
"Hehehe... Ya udah Mbak, aku pamit dulu ya..."
"Iya, hati-hati loh di jalan."
"Iya Mbak, tenang aja..."
Risa segera bersalaman denganku, dan memeluk tubuhku. Dia langsung berjalan menuju ke motornya. Mengenakan helm.
Tapi... Ia tampak mencari-cari sesuatu...
"Nyari apa Ris?"
"Kunci motorku kemana ya?" sambil meraba-raba kantong baju dan celananya.
"Eh, ini loh, ketinggalan..." jawabku saat melihat kunci motornya masih ada di atas meja teras.
Aku ambil dan aku antarkan ke Risa.
"Hehehe... Makasih Mbak..."
"Iya, sama-sama...".
Dia langsung menyalakan motornya. Tapi sebelum ia gas motornya, aku menepuk pundaknya sekali.
"Kamu beneran berani pulang sendirian jam segini?"
"Iya dong Mbak, berani aku."
"Beneran?"
"Ya kalo aku gak berani, pasti udah pulang dari tadi dong..."
"Oh iya, iya juga ya... Hehe..."
"Hehe... Ya udah, pamit ya Mbak... Assalamu'alaikum..."
"Iya Ris, Wa'alaikumsalam..."
Langsung dia gas motornya, memutar arah, dan hampir dia agak jauh dariku, aku berkata sekali lagi...
"Hati-hati loh Ris...!"
"Dia menjawab agak kencang, "Iya Mbak...!"
Aku tetap berdiri di halaman, menunggu sampai Risa benar-benar tak nampak lagi.
Setelah itu, aku segera membereskan gelas di atas meja teras. Membawanya ke dapur dan kucuci.
Aku kembali ke depan untuk mengunci pintu. Segera berniat untuk tidur. Karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Bapakku juga tampaknya sudah mulai lelap, karena pintu kamarnya pun tertutup dan nampak sudah dimatikan lampu kamarnya.
Sebelum tidur, seperti biasa kupanjatkan do'a-do'a. Kukirimkan juga Al-Fatihah untuk almarhumah Ibuku. Dan tak lupa ku khususkan Al-Fatihah untuk diriku sendiri. Lalu aku khususkan lagi Al-Fatihah untuk perewanganku, Dayang Putri.
Ketika hendak kupejamkan mataku, muncul Dayang Putri duduk di pinggir kasurku. Menatapku dengan senyuman manisnya.
"Istirahatlah Nisa..."
"Iya Dayang Putri... Hehe..."
Lalu... Segera kupejamkan kedua mata, menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.
Terasa nyaman sekali posisi tidurku malam ini. Sehingga tak butuh waktu lama, aku segera menuju alam mimpi.
.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
.
Keesokan harinya, aku jalankan semua aktifitas harianku dengan lancar...
Mengerjakan pekerjaan rumah, melayani semua kebutuhan bapakku yang hendak berangkat kerja lagi di kebun.
Kemudian siangnya aku kembali mengajar ngaji anak-anak, sampai sore harinya pun beraktifitas sosial dengan lingkungan sekitar.
Normal... Lancar... Alhamdulillah...
.
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
.
Kurang lebih dua minggu berikutnya...
Aku seperti biasa berbelanja ke pasar saat stok sayur dan lauk sudah hampir habis, hendak langsung menuju lapak sayur Risa.
Namun dari kejauhan, aku melihat lapaknya tutup. Kosong.
Aku mencoba bertanya kepada penjual di sebelah lapak Risa itu.
"Maaf Bu, Risa gak dagang ya?"
"Iya Mbak..." jawabnya sambil melayani pembeli.
"Kemana dia Bu? Tumben gak dagang..." tanyaku yang akhirnya mulai memilah-milih sayuran di lapak si Ibu tersebut.
"Katanya sih lagi sakit dia Mbak, udah tiga hari juga gak dagang loh..."
"Ah, masa?" aku sedikit kaget mendengar kabar itu, sambil memberikan tiga ikat kangkung ke si Ibu. Hendak kubeli.
"Iya Mbak..." jawabnya singkat sambil mengambil kangkung itu dan segera dimasukkan ke kantong kresek.
"Beli apa lagi Mbak?" tambahnya.
"Em... Sama terong dan kentang deh Bu, satu kilo ya terong sama kentangnya."
Sambil si Ibu menimbang terong dan kentang di atas timbangan, aku bertanya...
"Rumahnya Risa di mana ya Bu?"
"Mbak belum tau ya?"
"Hehe... Belum Bu."
"Kirain udah tau, soalnya kan saya liat si Mbak sama Risa kayak udah akrab gitu kalo lagi belanja."
"Hehehe... Iya Bu. Tapi saya belum tau rumahnya dimana."
"Oh gitu... Rumahnya di Gang Gotong Royong Mbak. Desa Cagrag."
"Oooh... Di sana rumahnya..." jawabku sambil mengangguk.
Aku memang sudah tau dimana letak Gang Gotong Royong itu. Agak jauh memang dari desa rumahku berada.
"Beli apalagi Mbak?"
"Udah, itu aja Bu. Berapa harganya?"
"Semuanya jadi tiga puluh lima ribu."
Aku segera keluarkan dompet, dan memberikan uang yang pas.
"Terima kasih ya Bu..."
"Sama-sama Mbak..."
Segera aku bergegas untuk pulang ke rumah.
Selama di jalan, aku ada niat untuk menjenguk Risa. Jika memang benar dia sedang sakit. Apalagi kabar dari si ibu tadi, Risa sudah sakit dari tiga hari yang lalu.