Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Retakan di Balik Keheningan
(POV: Noah)
Aku terbangun sebelum fajar.
Bukan karena mimpi buruk, tapi karena sunyi yang terlalu sunyi. Tidak ada suara angin menghantam dinding. Tidak ada lolongan badai. Hanya keheningan tebal yang menekan telinga.
Aku membuka mata dan menatap langit-langit ruang tamu Villa Blackwood. Retakan halus menjalar di sana, seperti peta jalan yang menuju ke mana-mana dan ke mana pun. Selimut tipis menutupi tubuhku, bau sabun murah bercampur dengan aroma kayu tua.
Salju.
Aku tahu tanpa melihat keluar jendela. Badai itu pasti telah mengubur dunia semalaman.
Aku bangkit perlahan dari sofa agar tidak menimbulkan suara. Tubuhku terasa pegal. Bukan hal baru. Aku mengambil jaketku dan berjalan ke arah jendela besar di ruang tamu.
Dunia di luar telah berubah.
Putih. Sepenuhnya putih.
Halaman villa, pepohonan pinus, jalan setapak menuju gerbang—semuanya terkubur di bawah lapisan salju tebal. Tidak ada jejak roda trukku. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Seolah kami adalah dua makhluk terakhir yang tersisa di dunia.
“Brengsek,” gumamku pelan.
Kami benar-benar terjebak.
Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Aku menoleh.
Alice turun perlahan, mengenakan sweater yang sama seperti semalam, rambutnya tergerai acak. Matanya masih setengah mengantuk, tapi langsung membesar saat melihat pemandangan di luar jendela.
“Salju…” bisiknya.
“Setinggi betisku,” jawabku. “Dan terus turun semalaman. Kita tidak akan bisa keluar hari ini.”
Dia terdiam. Tangannya mencengkeram pagar tangga. Aku bisa melihat sesuatu bergerak di balik wajahnya—kecemasan, mungkin ketakutan, tapi juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih sulit kubaca.
“Berapa lama biasanya?” tanyanya akhirnya.
“Bisa satu hari. Bisa tiga.” Aku melirik ke arah dapur. “Tergantung seberapa cepat kota membersihkan jalan. Dan seberapa parah badai susulannya.”
Alice menelan ludah.
“Kita kehabisan makanan?” tanyanya.
“Kita punya cukup untuk hari ini. Mungkin besok kalau kita berhemat.”
Dia mengangguk pelan. Tidak panik. Tidak histeris. Itu mengejutkanku. Gadis kota biasanya tidak setenang ini saat dihadapkan pada ketidaknyamanan.
“Kau bisa menyalakan perapian?” tanyanya.
Aku mendengus kecil. “Perapian ini lebih tua dariku. Tapi aku bisa coba.”
Aku mengambil beberapa kayu bakar yang tersimpan di dekat dinding dan mulai menyalakan api. Butuh beberapa kali percobaan sebelum api akhirnya menyala, menjilat kayu dengan rakus.
Kehangatan perlahan menyebar, mengusir dingin yang menggigit.
Alice duduk di karpet, cukup dekat dengan api, memeluk lututnya. Cahaya oranye membuat wajahnya terlihat lebih hidup. Lebih manusiawi.
“Kau tidak terlihat seperti orang yang sering mengalami hal seperti ini,” kataku.
“Hidup tanpa sinyal ponsel dan pemanas?” Dia tersenyum tipis. “Tidak.”
“Kenapa kau tidak terlihat marah?”
Dia terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Karena… untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tidak ada yang bisa mencariku.”
Kalimat itu sederhana, tapi berat.
Aku tidak bertanya lebih jauh. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan muncul dengan sendirinya.
(POV: Alice)
Siang datang tanpa matahari.
Cahaya putih pucat memantul dari salju, masuk melalui jendela, membuat rumah terasa seperti berada di dalam bola kaca raksasa. Waktu berjalan lambat. Terlalu lambat.
Noah sibuk memeriksa jendela dan pintu, memastikan semuanya terkunci rapat.
Gerakannya praktis, efisien. Tidak ada yang berlebihan. Alice memperhatikannya dari kejauhan, mencatat bagaimana pria itu seolah selalu tahu harus berbuat apa, bahkan dalam situasi terburuk.
Dia iri.
“Ada sinyal?” tanyanya, meskipun sudah tahu jawabannya.
Noah menggeleng. “Menara terdekat ada di balik bukit. Salju seperti ini memutus semuanya.”
Alice menghela napas, lalu mengeluarkan ponselnya. Layarnya tetap mati sejak semalam.
Dia menekannya, menyalakannya.
Puluhan notifikasi langsung membanjiri layar.
Panggilan tak terjawab. Pesan suara. Email.
Nama-nama itu kembali menghantui.
Tangannya gemetar. Dadanya terasa sesak. Dunia yang berusaha dia tinggalkan seolah mengetuk pintu dengan keras.
Noah memperhatikannya. Dia tidak bertanya, tapi Alice bisa merasakan tatapannya.
“Aku hanya ingin memastikan sesuatu,” kata Alice pelan. “Jika… jika ada orang yang mencariku ke sini—”
“Kau tidak ada di sini,” potong Noah tanpa ragu.
“Villa ini sudah kosong bertahun-tahun. Tidak ada yang akan menyangka kau bersembunyi di sini.”
Alice menatapnya. “Kenapa kau begitu yakin?”
Noah mengangkat bahu. “Karena orang-orang sepertimu tidak pernah memilih tempat seperti ini. Terlalu… tidak nyaman.”
Dia tersenyum kecil. Ada kebenaran pahit di sana.
“Terima kasih,” katanya lagi.
Noah mendengus. “Berhentilah berterima kasih. Kau membuatku terlihat seperti orang baik.”
“Bukankah kau memang begitu?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Noah tidak menjawab. Dia berbalik, kembali ke pekerjaannya.
Alice memandang punggungnya lama sekali.
(POV: Noah)
Sore itu, aku menemukan sesuatu di gudang belakang villa.
Pintu gudang terkunci, tapi kuncinya rapuh. Aku membukanya dengan mudah. Di dalamnya gelap dan dingin, dipenuhi barang-barang lama yang tertutup debu.
Di sudut ruangan, aku menemukan sebuah kotak kayu kecil.
Namanya terukir di tutupnya.
E. Blackwood.
Aku membuka kotak itu.
Di dalamnya ada beberapa surat lama, terikat pita lusuh. Dan sebuah foto.
Seorang pria tua berdiri di depan villa, tersenyum kaku ke kamera. Di sampingnya, seorang gadis kecil dengan rambut gelap dan mata yang… sangat familiar.
Jantungku berdegup lebih cepat.
Aku membawa kotak itu ke ruang tamu. Alice sedang duduk di dekat perapian, membaca buku tua yang dia temukan di rak.
“Alice,” panggilku.
Dia menoleh. “Ada apa?”
Aku menyerahkan foto itu padanya.
Wajah Alice langsung berubah pucat.
“Ini…” suaranya bergetar. “Ini kakekku.”
Aku terdiam.
“Keluarga Blackwood?” tanyaku.
Dia mengangguk pelan. “Villa ini milik keluarga ibuku. Sudah lama dijual… atau setidaknya, aku pikir begitu.”
“Jadi kau tidak memilih tempat ini secara acak,” kataku.
“Tidak,” bisiknya. “Aku memilih satu-satunya tempat yang kupikir sudah dilupakan semua orang.”
Kami saling menatap. Ada pemahaman baru di antara kami. Villa ini bukan sekadar tempat persembunyian. Ini adalah bagian dari masa lalu Alice yang terkubur.
Di luar, angin mulai bertiup lagi. Salju kembali turun, lebih deras dari sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal Alice, aku menyadari satu hal:
Dia tidak hanya kabur dari masa depan yang dipaksakan padanya.
Dia juga bersembunyi dari masa lalu yang belum selesai.
(POV: Alice)
Api di perapian berderak pelan, satu-satunya suara yang berani memecah keheningan malam. Di luar, badai salju kembali menggila. Angin menghantam dinding villa seperti makhluk hidup yang marah karena tidak diundang masuk.
Alice duduk memeluk lututnya, foto lama itu masih berada di tangannya.
Foto seorang pria tua—kakeknya—dan seorang anak kecil yang tersenyum canggung di depan Villa Blackwood. Anak itu adalah dirinya. Versi dirinya yang sudah lama ia kubur dalam-dalam, bersama kenangan yang tidak ingin ia sentuh lagi.