Bacin Haris seseorang mencari ibunya yang hilang di dunia lain yang disebut sebagai Black World. Dunia itu penuh dengan kengerian entitas yang sangat jahat dan berbahaya. Disana Bacin mengetahui bahwa dia adalah seorang Disgrace, orang hina yang memiliki kekuatan keabadian. Bagaimana Perjalanan Bacin didunia mengerikan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GrayDarkness, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
New Division
Bacin keluar dari unit apartemen Suzie dengan perasaan campur aduk.
Bayangan Suzie tetap berada di bawahnya, mengikuti setiap langkahnya.
Bacin tidak berani berkomentar.
Ia tahu, Suzie sedang mengawasinya.
Ia berjalan ke arah parkiran, melihat mobilnya yang terparkir rapi.
Tanpa pikir panjang, Bacin masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.
Ia membuka kertas dengan alamat yang diberikan oleh Simon Berry.
"Happy Cafe…?" gumamnya.
Ia menghela napas.
Tempat ini terdengar jauh dari kata rahasia.
Tapi tidak ada pilihan lain.
Bacin menginjak pedal gas, melaju menuju lokasi yang diberikan.
---
Setengah jam berlalu.
Sekarang jam menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Bacin tidak terlalu khawatir, karena ia baru mulai bekerja pukul 08.00.
Ketika ia sampai di lokasi yang tertulis di alamat, ia mengernyit bingung.
Di hadapannya terdiri sebuah bangunan bertingkat tiga.
“Happy Cafe…?” ulangnya dalam hati.
“Jangan bilang ini markasnya?”
Bangunan itu terlihat normal.
Terlalu biasa untuk sebuah markas organisasi rahasia.
Tidak ada kamera canggih, tidak ada penjagaan ketat.
Hanya sebuah kafe biasa dengan plang bertuliskan ‘Happy Cafe’ di depannya.
Bacin memarkirkan mobilnya.
Ia keluar dan berjalan menuju pintu masuk.
Di pintu kaca, tertulis ‘Tutup’ dengan tulisan besar.
Namun, Bacin tidak peduli.
Ia mendorong pintu kafe dan masuk.
Begitu masuk, lonceng di atas pintu berbunyi.
"Ting!"
Bacin memeriksa keadaan sekitar.
Dari luar, kafe ini terlihat biasa.
Dari dalam?
Sama saja.
Hanya ada beberapa meja dan kursi kayu.
Mesin kopi di belakang konter.
Rak dengan beberapa gelas bersih.
Dan aroma kopi yang masih tersisa di udara.
“Apa benar ini tempatnya?” pikir Bacin.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki dari lantai atas.
Seseorang sedang turun.
Bacin menoleh ke arah tangga.
Seorang pria muncul.
Penampilannya tampan dengan rambut coklat pendek dan pakaian yang terlihat kasual, tetapi rapi.
Namun, yang membuat Bacin terkejut bukanlah penampilannya.
Melainkan senjata di tangannya.
Sebuah pistol sudah diarahkan langsung ke kepala Bacin.
“Kau sudah datang, anak baru,” kata pria itu dengan suara santai.
Jari pria itu sudah siap di pelatuk.
Bacin diam sejenak.
Ia tidak tahu apakah pria ini benar-benar akan menembaknya atau hanya menggertak.
Namun, yang jelas…
Selamat datang di divisi baru.
Dor!
Suara tembakan menggema di dalam kafe.
Namun, Bacin bereaksi cepat.
Ia miringkan kepalanya, dan peluru meleset hanya beberapa senti dari wajahnya.
Peluru itu menembus rak kayu di belakangnya, membuat debu beterbangan.
Bacin mengerutkan alisnya, menatap pria di depannya dengan tatapan tajam.
“Kau ingin membunuhku, ya?” tanyanya dengan nada kesal.
Pria itu hanya tersenyum santai, seolah-olah menembak seseorang adalah hal biasa baginya.
“Refleks yang lumayan.”
Ia memutar pistolnya dengan jari, lalu memasukkannya kembali ke sarung senjata di pinggangnya.
“Aku hanya mengetesmu, anak baru.”
Bacin mendengus kesal, tetapi ia tahu tidak ada gunanya marah sekarang.
Pria itu lalu mengulurkan tangannya, dengan senyum percaya diri.
“Perkenalkan, namaku Roger.”
Bacin melihatnya sejenak, sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Roger.
“Bacin.”
Roger tertawa kecil.
“Tentu saja aku tahu. Aku sudah mendengar tentangmu. Kau anak baru yang akan bergabung dengan kami di Divisi Supranatural.”
Roger menatap sekeliling kafe, lalu kembali menatap Bacin.
“Biar aku tunjukkan tempat ini padamu.”
Roger lalu melangkah turun dari tangga, menuju area utama kafe.
Di lantai satu, kafe ini memang terlihat biasa saja.
Meja dan kursi kayu tersusun rapi.
Di belakang konter, ada mesin kopi, rak berisi gelas, dan papan menu bertuliskan harga minuman.
Tidak ada yang aneh.
Bacin masih berusaha mencerna semuanya.
“Jadi, tempat ini… benar-benar markas kita?” tanyanya.
Roger mengangguk.
“Ya, tempat ini memang markas kita, tapi juga berfungsi sebagai kafe sungguhan.”
Ia lalu menunjuk ke arah konter.
“Kita punya sistem shift di sini. Saat ada yang bertugas di luar, mereka yang tidak bertugas akan menggantikan dan bekerja sebagai pelayan kafe ini.”
Bacin menghela napas.
“Jadi aku juga harus jadi pelayan kafe?”
Roger tertawa kecil.
“Benar, tapi jangan khawatir. Jika semua anggota sedang bertugas, maka kafe ini akan ditutup.”
Bacin menggaruk kepalanya.
“Ini gila. Aku direkrut ke divisi rahasia, tapi ternyata aku juga harus melayani pelanggan?”
Roger menepuk bahunya sambil tertawa.
“Jangan mengeluh. Ini cara terbaik agar kita tidak dicurigai oleh orang luar.”
Bacin menghela napas lagi.
“Baiklah, baiklah… Lalu, apa lagi?”
Roger mengisyaratkan Bacin untuk mengikutinya.
“Ayo, aku akan tunjukkan lantai dua.”
Bacin mengikuti Roger menaiki tangga, menuju ke atas.
Bacin dan Roger tiba di lantai dua.
Bacin melihat sekeliling.
Ruangan ini terlihat seperti kantor pada umumnya.
Ada bilik-bilik kecil dengan meja dan komputer, berjejer rapi di sepanjang ruangan.
Roger menyandarkan diri di salah satu meja, lalu melipat tangan.
“Ini adalah ruang kerja kami,” katanya.
Bacin mengamati lebih dekat.
Layar komputer menyala, ada beberapa dokumen terbuka, tetapi tulisan di layar terlalu teknis untuk ia pahami dalam sekali lihat.
“Jadi, kita benar-benar punya pekerjaan administratif juga?” tanyanya.
Roger tertawa kecil.
“Tentu saja. Apa kau pikir pekerjaan kita hanya berburu makhluk aneh? Tidak, Bacin. Kami tetap harus membuat laporan, menganalisis informasi, dan menyusun strategi.”
Bacin mendesah.
“Aku tidak terlalu suka pekerjaan kantor.”
Roger menepuk bahunya dengan santai.
“Jangan khawatir. Sebagian besar dari kita juga tidak.”
Mereka melanjutkan perjalanan melewati lorong.
Roger menunjuk sebuah ruangan besar dengan meja panjang dan layar proyektor di dinding.
“Di sini ruang rapat,” jelasnya.
Bacin mengintip ke dalam.
Ada kursi-kursi yang tertata rapi di sekitar meja panjang.
Di salah satu sisi ruangan, ada papan tulis penuh coretan strategi dan beberapa foto yang tertempel.
“Kita sering menggunakannya untuk briefing sebelum misi besar,” tambah Roger.
Bacin mengangguk, berusaha mengingat tata letak tempat ini.
Mereka terus berjalan, hingga Roger berhenti di depan pintu lain.
“Di sini toilet,” katanya sambil menunjuk plang kecil di atas pintu.
“Tapi ingat, toilet di lantai satu itu khusus untuk pelanggan, jadi jangan gunakan itu.”
Bacin terkekeh.
“Aku bisa menahan diri.”
Roger mengangguk puas.
Mereka melanjutkan perjalanan ke lantai tiga.
Bacin menaiki tangga mengikuti Roger.
Lantai tiga terasa lebih sepi dan lebih mewah dibanding lantai lainnya.
Roger menunjuk sebuah pintu besar.
“Ini ruang Pak Simon,” katanya.
Pintu itu tertutup rapat.
Dari luar, terlihat lebih elegan dengan ukiran kayu gelap dan pegangan pintu berwarna emas.
“Kalau kau dipanggil ke sini, biasanya ada dua kemungkinan: Kau dipromosikan atau kau dalam masalah besar,” tambah Roger dengan senyum miring.
Bacin menelan ludah.
“Aku harap aku tidak perlu sering ke sini.”
Roger tertawa kecil.
Ia lalu menunjuk dua pintu lain di sebelahnya.
“Masih ada dua ruangan lagi, tapi sekarang kosong. Biasanya ini untuk petinggi lain yang belum kembali atau masih dalam misi di luar.”
Bacin mengangguk, mencatat semuanya di kepalanya.
“Baik, ayo turun.”
Bacin dan Roger kembali ke lantai satu, menunggu anggota lainnya datang.
Roger membeli kopi dari mesin di konter, lalu mengambil sepotong roti dari piring di meja.
“Mau?” tawarnya sambil mengunyah.
Bacin menggelengkan kepala.
“Tidak, aku sudah makan. Pacarku yang membuatkannya.”
Bayangan di bawah Bacin bergoyang halus.
Namun, tidak satu pun menyadarinya.
Roger mendadak berhenti mengunyah, lalu menatap Bacin dengan tajam.
“Jangan pamer, atau aku akan menembakmu lagi.”
Bacin tertawa kecil, tetapi di dalam hatinya, ia merasa ngeri.
‘Sial… Suzie benar-benar bisa mengikutiku kemana pun.’
Ia melirik ke bawah.
Bayangan itu bergerak sedikit, seolah mengisyaratkan sesuatu.
Bacin menelan ludah.
Ia mencoba mengabaikan perasaan tidak enak itu, tetapi satu hal sudah jelas:
Suzie benar-benar tidak akan membiarkannya pergi.