Bagaimana jika tiba-tiba Jonathan Anderson bertemu kembali dengan wanita yang dulu pernah dia buat sakit?
Bagaimana jika wanita tersebut datang dengan membawa seorang anak kecil dengan wajah yang sangat mirip dengan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bingung Untuk Memulainya
Jonathan benar-benar merasa kaget kala mendapatkan pesan dari Leo, dia tidak mengira jika feeling ibunya sangatlah tepat.
Dia berkata jika Julian adalah putra kandungnya, Berlin benar-benar tidak salah akan hal itu.
Berlin juga berkata jika Carolina Liandra Sebastian adalah wanita yang pernah dia tiduri, wanita yang dia renggut dengan paksa mahkotanya.
Ternyata pepatah yang mengatakan jika feeling seorang ibu itu sangatlah kuat tidak salah, karena sebelum Leo menyelidiki hal ini justru Berlin sudah sangat yakin dengan feelingnya.
Jonathan terdiam seraya memperhatikan Julian yang begitu asik bermain istana pasir, tanpa sadar senyum di bibirnya tersungging.
Carol yang melihat akan hal itu merasa heran dengan tingkah Jonathan yang tiba-tiba terlihat aneh, bahkan Jonathan terkesan salah tingkah jika berbica dengan dirinya.
Jonathan seakan menghindari tatapan matanya dengan Carol, dia tidak tahu kenapa. Namun, hal itu membuat Carol berprasangka yang tidak-tidak.
"Ehm, maaf, Tuan. Apakah saya membuat kesalahan?" tanya Carol.
Jonathan yang sedang asyik memperhatikan Julian langsung menolehkan wajahnya ke arah Carol, kemudian dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Tentu saja bukan Carol yang sudah berbuat salah terhadap dirinya, tapi justru dirinyalah yang sudah membuat salah terhadap wanita hang ada di sampingnya itu.
"Tidak, tentu saja tidak. Kamu tidak membuat kesalahan apa pun, memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Jonathan.
Jonathan memandang Carol dengan lekat, dia memperhatikan wajah cantik Carol yang nampak sempurna di matanya.
Hidung Carol terlihat mancung, bola matanya terlihat berbentuk bulat. Bibirnya terlihat mungil dan bulu matanya bahkan terlihat lentik.
"Tidak apa-apa, hanya saja anda jadi aneh. Anda seperti tidak mau melihat saya, saya takut jika saya sudah membuat kesalahan," ucap Carol lagi.
Padahal, Carol dan juga Julian tidak mempunyai hubungan yang dekat, tapi Carol seakan takut jika Jonathan akan menjauhinya dan juga Julian.
"Ah, tentu saja tidak. Aku hanya, aku, hanya banyak pikiran saja," kata Jonathan beralasan.
Jonathan terlihat memalingkan wajahnya, sungguh semakin lama menatap wajah Carol membuat dirinya merasa tidak waras.
Jantungnya seakan berpacu dengan cepat, bahkan napasnya terasa tersendat-sendat. Jonathan tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya itu.
"Oh, begitu ya. Pasti karena anda terlalu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, makanya anda sepertinya sangat lelah dan juga cape," kata Carol.
Kembali Carol menatap wajah Jonathan dengan lekat, wajah pria tampan itu memang terlihat kusut dengan pandangan mata yang tidak terlepas dari Julian
"Ya, itu benar," kata Jonathan.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bersantai saja di Resto seraya melepas penat. Sekalian kita mengisi perut," ajak Carol.
Carol berkata seperti itu dengan sengaja, dia berharap jika senyum di bibir Jonathan tidak akan menghilang.
"Tunggu sebentar, sebentar lagi matahari akan terbenam. Aku ingin melihatnya terlebih dahulu," kata Jonathan.
Carol tersenyum kecut mendengar akan hal itu, keinginan Julian dan juga Jonathan begitu sama. Ingin melihat matahari terbenam.
Setelah mengatakan hal itu, Jonathan nampak meninggalkan Carol. Lalu, dia menghampiri Julian.
Dia mengangkat tubuh Julian dan mendudukannya di atas pangkuannya, dia usao puncak kepalanya lalu dia kecup keningnya dengan penuh kasih.
Rasanya melihat Julian membuat dirinya ingin terus mendekati bocah tampan itu, dia ingin memberikan kasih sayang dan ingin berlama-lama dengannya.
"Sebentar lagi matahari akan terbenam, kita harus mengabadikan momen ini," kata Jonathan seraya mengambil ponsel milikya.
Julian terlihat sangat senang sekali karena bisa menikmati indahnya matahari terbenam dengan Jonathan, mereka berdua terlihat berfoto ria mengabadikan momen indah tersebut.
Carol tersenyum, tapi dalam hatinya menangis. Selama ini dia tidak pernah melihat Julian yang begitu bahagia saat bersama dengan seorang pria dewasa.
Bahkan, saat bersama dengan Andrew pun anak itu tidak seperti itu. Dia bahkan bisa melihat tawa Julian yang begitu lepas saat berada di dalam dekapan hangat Jonathan.
Dalam hati, Carol jadi ingin merasakan yang namanya menikah dan berumah tangga. Karena, mungkin dengan seperti itu Julian akan bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, pikirnya.
Setelah selesai menikmati matahari terbenam, Jonathan terlihat menggendong Julian. Kemudian, dia mengajak Carol untuk mengisi perut mereka yang memang sudah terasa sangat lapar menuju Resto yang tidak jauh dari pantai.
Langit memang nampak gelap, tapi cahaya lampu bertaburan menerangi. Mereka menikmati makan malam ditemani dengan suara riuh deburan ombak.
Pada awalnya Carol tidak ingin berlama-lama berada di sana, tapi kenyataannya dia malah sangat betah berada di sana.
Apalagi dengan adanya Jonathan, Julian benar-benar terlihat bahagia. Melihat akan hal itu Carol merasa sangat senang dan juga bersyukur.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Julian sudah terlihat kelelahan setelah puas bermain dengan Jonathan dan juga menghabiskan waktu untuk menikmati makanan laut yang tersedia di sana.
Bocah tampan itu kini terlihat tertidur di dalam gendongan Jonathan, Julian terlihat begitu nyaman berada di dalam dekapan hangat ayah kandungnya itu.
"Terima kasih untuk hari ini," kata Carol.
"Tidak usah berterima kasih, sekarang kita pulang. Kamu sebutkan alamat kamu di mana, biar aku bisa mengantarkan kamu pulang," kata Jonathan.
Carol tersenyum, kemudian dia pun memberitahukan alamat rumah yang dia tempati sekarang, Jonathan tersenyum karena dengan seperti itu dia akan bisa datang kapan pun ke rumah Carol saat dia mau.
Setelah mengetahui tempat tinggal Carol, akhirnya Jonathan mengajak Carol untuk masuk ke dalam mobilnya. Lalu, dia mengantarkan Carol dan juga Julian ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Carol dan juga Julian terlihat terlelap di dalam tidurnya. Sepertinya mereka berdua benar-benar
kelelahan.
Jonatan tersenyum melihat akan hal itu, dia berharap semoga saja dia bisa secepatnya berkata dengan jujur kepada Carol.
Pukul sebelas malam Jonathan terlihat tiba di depan rumah milik Carol, ingin sekali dia membangunkan Carol yang terlihat terlelap dalam tidurnya seraya memangku putranya.
Namun, dia merasa tidak tega. Dia malah melepaskan sabuk pengaman miliknya, lalu dia mencondongkan tubuhnya dan menatap wajah Carol dengan lekat.
"Cantik, kamu sangat cantik," puji Jonathan.
Dia angkat tangannya, lalu dia elus dengan lembut pipi Carol. Jonathan tersenyum saat merasakan pipi Carol yang begitu lembut, tidak lama kemudian tatapan matanya terpaku kepada bibir mungil yang begitu ranum milik Carol.
Tanpa terasa wajahnya semakin mendekat ke arah wanita yang sudah dia renggut mahkotanya itu, lalu dia menempelkan bibirnya pada bibir Carol.
Hanya sekedar menempelkan, tanpa berniat untuk memagut bibir kecil itu, bibir yabg rasanya terasa sangat manis. Karena dia takut kalau akan bangun dari tidurnya
***
Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat.