Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 14_Kamu Hidup
Sementara itu, di reruntuhan mansion yang membara, suasana berubah menjadi neraka dunia.
Marco Valerius berdiri di tengah koridor yang sudah hancur, wajahnya yang tampan kini tercoreng oleh darah sebagian darahnya sendiri, sebagian besar darah musuhnya, kemeja putihnya sudah berubah warna menjadi merah tua.
Ia memegang dua pucuk pistol dengan tangan yang stabil, meskipun napasnya memburu.
Di depannya, tiga orang anak buah Antonio tergeletak tak bernyawa.
Marco tidak menunjukkan emosi sedikit pun, di matanya hanya ada kegelapan yang murni.
"Tuan! Area timur sudah bersih!" teriak Bram yang muncul dari balik asap dengan luka sayatan di lengannya.
Marco menoleh. "Antonio?"
"Dia tidak ada di sini, Tuan. Ini hanya tim penyerbu. Sepertinya dia mengirim mereka sebagai tes untuk mengukur pertahanan kita," lapor Bram.
Marco mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dia berani menguji pertahananku dengan menggunakan Anya sebagai taruhannya. Dia membuat gadis itu ketakutan."
Suara Marco terdengar begitu tenang, namun Bram tahu bahwa ketenangan itu adalah pertanda badai yang jauh lebih besar.
Saat Marco mencintai sesuatu, dia akan menjaganya dengan posesif, namun saat sesuatu yang dia cintai itu diusik, dia akan berubah menjadi iblis yang tidak mengenal kata ampun.
"Bram siapkan unit pembersihan aku ingin setiap orang yang terlibat dalam serangan malam ini ditemukan dalam waktu dua puluh empat jam, jangan ada yang dibiarkan hidup aku ingin pesan ini sampai ke telinga Antonio yaitu dia baru saja membangunkan naga yang seharusnya dia biarkan tidur," perintah Marco.
"Baik tuan, lalu bagaimana dengan Nona Anya?" tanya Bram.
Mata Marco sedikit melembut saat mendengar nama itu, namun segera kembali mengeras.
"Dia sudah di apartemen aman. Aku akan menyusul setelah aku memastikan tidak ada ekor yang mengikuti. Pastikan penjagaan di sana tiga kali lipat lebih ketat dari mansion ini. Jangan biarkan dia keluar dari kamar, bahkan jika dia memohon."
Marco kemudian berjalan menuju salah satu mobil yang masih utuh di garasi bawah tanah.
Ia masuk ke dalam, menyalakan mesin, dan melesat pergi meninggalkan mansion-nya yang hancur.
Di dalam hatinya, sebuah obsesi baru mulai mengkristal, kejadian malam ini membuktikan satu hal padanya yaitu Anya tidak bisa dibiarkan sendirian sedikit pun.
Gadis itu harus selalu berada di bawah matanya, di dalam jangkauannya, dan jika perlu, di dalam sangkarnya yang paling dalam.
Hampir dua jam kemudian, Anya sampai di apartemen mewah di pusat kota.
Apartemen itu berada di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit, begitu masuk ia disambut oleh kemewahan yang berbeda dari mansion.
Jika mansion terasa klasik dan megah, apartemen ini terasa modern, dingin, dan sangat minimalis.
Dinding-dindingnya terbuat dari kaca besar yang menampilkan pemandangan lampu kota Jakarta dari ketinggian.
Anya dibawa masuk ke sebuah kamar tidur utama yang sangat luas, Rio dan pengawal lainnya berdiri di depan pintu setelah memastikan ruangan itu aman.
"Nona, silakan bersihkan diri. Ada pakaian bersih di lemari. Jika Anda butuh sesuatu, tekan tombol di samping tempat tidur," ujar Rio sebelum menutup pintu.
Anya berdiri sendirian di tengah ruangan yang sunyi itu, ia menatap pemandangan kota di bawah sana.
Ribuan lampu mobil terlihat seperti semut-semut kecil, ia merasa sangat terisolasi, di sini di lantai paling atas ia merasa seperti dipisahkan dari bumi.
Ia berjalan menuju kamar mandi, menanggalkan gaun merahnya yang sudah hancur.
Saat ia berdiri di bawah pancuran air hangat, ia membiarkan air itu menghapus debu dan noda darah dari kulitnya.
Ia menangis tersedu-sedu, membiarkan suaranya diredam oleh deru air, ia takut, ia takut pada orang-orang yang mengejarnya, tapi ia juga mulai takut pada perasaan yang tumbuh di hatinya untuk Marco.
Setelah mandi, ia mengenakan jubah mandi sutra berwarna putih yang tersedia di sana.
Ia tidak memiliki energi untuk mencari pakaian lain, ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang sangat besar, menatap langit-langit.
Waktu berlalu dengan sangat lambat. Setiap detik terasa seperti satu jam.
Anya tidak bisa memejamkan mata, setiap kali ia mencoba tidur, ia mendengar suara ledakan dan melihat wajah Marco yang penuh darah.
Sekitar pukul lima pagi, ia mendengar suara pintu apartemen terbuka.
Suaranya halus, namun di keheningan malam itu, terdengar sangat jelas bagi telinga Anya yang waspada, ia segera duduk tegak, menarik selimut hingga ke dadanya.
Langkah kaki itu terdengar mendekat. Berat dan berirama dan Anya tahu siapa itu, roma maskulin yang familiar mulai menyusup ke dalam kamar sebelum sosoknya muncul.
Marco berdiri di ambang pintu.
Dia terlihat berantakan, luka di perutnya tampaknya terbuka kembali karena ada noda darah yang merembes di kemeja hitam barunya.
Wajahnya pucat, tapi matanya... mata itu menatap Anya dengan intensitas yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Anya," panggilnya pelan.
Anya tidak tahan lagi, ia melompat dari tempat tidur dan berlari ke arah Marco.
Tanpa pikir panjang, ia menghambur ke pelukan pria itu. "Kamu... kamu hidup," isak Anya sambil membenamkan wajahnya di dada Marco.
Marco sedikit merintih saat tubuh Anya menabrak lukanya, namun ia tidak peduli.
Ia melingkarkan lengannya yang kuat ke pinggang Anya, mendekap gadis itu dengan sangat erat, seolah ingin memastikan bahwa Anya benar-benar ada di sana, bukan sekadar imajinasi.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan mati sebelum memastikan kamu aman," bisik Marco.
Ia mencium puncak kepala Anya, menghirup aroma rambutnya yang masih basah.
Anya mendongak, matanya yang sembab menatap wajah Marco yang penuh luka kecil.
"Kamu terluka parah, Marco. Biarkan aku melihat lukamu." serunya perhatian.
Marco menggeleng pelan, ia menangkup wajah Anya dengan kedua tangannya yang kasar namun hangat.
"Luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa takutku kehilanganmu malam ini, Anya. Saat ledakan itu terjadi, yang ada di pikiranku hanya satu: apakah mobilmu sudah cukup jauh?"
Anya menyentuh tangan Marco yang ada di pipinya. "Kenapa, Marco? Kenapa kamu melakukan semua ini untukku? Aku cuma gadis miskin yang kebetulan lewat di gang itu."
Marco mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan, napas mereka saling bertukar.
"Karena sejak malam itu, kamu bukan lagi sekadar gadis miskin bagiku. Kamu adalah hidupku. Kamu adalah satu-satunya alasan aku masih ingin tetap menjadi manusia."
Anya merasakan ketulusan dalam kata-kata itu, namun ia juga merasakan beban yang sangat besar.
Marco tidak hanya mencintainya tapi Marco telah menjadikan Anya pusat dari seluruh eksistensinya.
Dan itu adalah hal yang paling menakutkan sekaligus paling indah yang pernah Anya alami.
"Sekarang," Marco berbisik, suaranya berubah menjadi lebih gelap dan posesif.
"Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu berada lebih dari satu meter dariku. Kita akan tinggal di sini, dan penjagaanku akan berada di setiap sudut. Kamu tidak akan pernah melihat dunia luar yang berbahaya itu lagi tanpa seizinku."
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪