Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Jalan Berdarah Menuju Puncak
Turnamen berlanjut dengan suasana yang jauh lebih mencekam. Nama Boqin Tianzun kini menjadi momok yang menghantui setiap peserta. Setiap kali namanya dipanggil oleh wasit, tribun penonton akan mendadak sunyi—sebuah keheningan yang lahir dari rasa takut, bukan rasa hormat.
Satu per satu lawan berjatuhan.
Peringkat 70, peringkat 50, hingga peringkat 30 Murid Dalam tumbang di tangan Boqin. Ia tidak lagi sekadar menggunakan teknik pedang; ia mulai menunjukkan kontrol Qi yang tidak masuk akal. Lawan-lawannya sering kali terlempar dari arena bahkan sebelum mereka sempat menghunuskan senjata, seolah-olah udara di sekitar Boqin telah berubah menjadi pisau yang tak terlihat.
"Berikutnya: Boqin Tianzun melawan Fan Ruo!"
Fan Ruo, murid peringkat 15 yang dikenal dengan pertahanan perisai energinya yang tebal, masuk ke arena dengan wajah pucat. Ia telah melihat bagaimana Boqin membunuh Yuan Tao tanpa berkedip.
"Aku... aku menyerah!" teriak Fan Ruo bahkan sebelum pertandingan dimulai.
Boqin Tianzun, yang sudah berdiri di tengah arena, menatap Fan Ruo dengan mata yang hampa. "Arena ini bukan tempat untuk pengecut. Jika kau sudah menginjakkan kaki di sini, hanya ada dua jalan keluar: kemenangan, atau kehancuran."
Tanpa menunggu aba-aba wasit, Boqin melesat. Kecepatannya kini sudah berada di level yang berbeda setelah ia menstabilkan Inti Qi Level 5.
BRAKK!
Hanya dengan satu pukulan telapak tangan terbuka, perisai energi kebanggaan Fan Ruo hancur berkeping-keping seperti kaca. Fan Ruo terlempar hingga menabrak dinding arena, memuntahkan darah segar beserta patahan giginya. Ia pingsan seketika, namun Boqin tidak berhenti. Ia berjalan mendekat, berniat memberikan serangan fatal.
"Boqin! Berhenti! Dia sudah menyerah!" teriak salah satu Tetua.
Boqin berhenti tepat saat ujung kakinya berada di atas leher Fan Ruo. Ia menoleh ke arah tribun para Tetua dengan senyum miring yang mengejek, lalu beralih menatap ayahnya.
Boqin Ming, sang Pemimpin Sekte, justru memberikan isyarat tangan agar Boqin melanjutkan. Ia ingin melihat sejauh mana senjata barunya ini bisa bertindak kejam. Namun, Boqin Tianzun justru menarik kakinya kembali. Ia tidak ingin membunuh Fan Ruo—bukan karena kasihan, tetapi karena ia ingin membiarkan Fan Ruo hidup dalam ketakutan selamanya sebagai saksi kekuatannya.
Setelah serangkaian kemenangan mutlak, pengumuman final akhirnya bergema.
"Babak Final! Boqin Tianzun melawan peringkat 1 Murid Dalam... Boqin Han!"
Seluruh arena bergemuruh. Ini bukan sekadar pertandingan peringkat, ini adalah perang saudara. Boqin Han, kakak tertua Boqin Tianzun, adalah jenius utama sekte yang sudah mencapai puncak ranah Inti Qi Level 9. Selama ini, Han adalah anak emas yang selalu meremehkan dan menyiksa Boqin saat mereka masih kecil.
Boqin Han berdiri di seberang arena dengan jubah sutra birunya yang sempurna. Wajahnya yang tampan kini dipenuhi gumpalan urat kemarahan. Ia merasa terhina karena adiknya yang sampah bisa berdiri di panggung yang sama dengannya.
"Kau sudah melangkah terlalu jauh, Adik kecil," desis Boqin Han, auranya meledak, menekan area sekitarnya hingga debu beterbangan. "Kau pikir dengan sedikit keberuntungan dan perlindungan Ayah, kau bisa melampauiku? Hari ini, aku akan menunjukkan padamu perbedaan antara naga sejati dan cacing yang mencoba terbang."
Boqin Tianzun berdiri dengan tangan di belakang punggung. Ia tidak mengeluarkan aura apa pun. Penampilannya masih tampak seperti pemuda yang sakit-sakitan, namun sorot matanya seperti lubang hitam yang siap menelan apa saja.
"Naga?" Boqin Tianzun tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat menyeramkan. "Han, kau hanyalah kadal yang kebetulan lahir di sarang yang nyaman. Kau tidak pernah tahu rasanya merangkak di lumpur sambil menelan darahmu sendiri. Hari ini, aku tidak hanya akan mengambil peringkatmu... aku akan mengambil semua yang kau banggakan."
Di tribun, Lin Xia memegang dadanya dengan cemas, sementara Boqin Ming condong ke depan di kursinya, matanya berkilat penuh obsesi. Ia ingin melihat siapa di antara kedua putranya yang lebih layak menjadi pion utama di papan caturnya.
Boqin Tianzun melirik sekilas ke arah langit, membayangkan wajah Sua Mei. Hanya satu kemenangan lagi, dan akses ke Taman Terlarang akan menjadi milikku.
"Mulailah." ucap Boqin Tianzun datar.