NovelToon NovelToon
Pesona Gadis Malam

Pesona Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novia_dwi

Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.


Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.


Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.

Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.

Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

makan bersama

Masih lanjut flashback yaaah..

Zee mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ia meremas rok panjang nya dengan erat. Menggigit bibir bawahnya guna mengurangi perasaan sakit hati yang menderanya. Ia berusaha mati-matian menahan air matanya.

"Apa yang salah dari ucapanku? Bukankah benar dia memang pekerja di club malam? ". Tak terima ditegur suami dan anaknya, mama Irfan bertanya dengan lantang.

" Memang disini ibu-ibu semua, ada yang mau kalau anaknya bergaul dengan gadis malam?". Bisik-bisik mulai terdengar disekitar Zee.

"Pekerjaan macam apa yang ada di sebuah club malam memang nya? ". Entah apa sebenarnya tujuan ibunda Irfan berbuat sejauh ini.

Jika hanya tidak ingin Irfan dekat dengan Zee, ia bisa meminta langsung pada Zee. Maka dengan kesadaran penuh Zee akan menjauhi Irfan seperti permintaan ibunya itu, tidak perlu sampai mempermalukan Zee sejauh ini.

" Maaf kalau keberadaan saya disekitar Irfan membuat tante dan om terganggu juga khawatir. Tante tenang ajaa, saya tidak akan mengganggu Irfan lagi kedepannya. Tante juga tolong pastikan saja supaya Irfan tidak lagi menemui saya.. " Tak ada getaran dalam suara Zee, gadis belia itu benar-benar tenang.

"Dan saya mau tegaskan disini tante. Saya bekerja sebagai pelayan disana, bukan sebagai wanita murahan seperti yang tante pikirkan". Setelah mengatakan hal itu, Zee berbalik dan meninggalkan semuanya. Bahkan Irfan yang terus memanggil namanya tak ia hiraukan lagi.

Bukan salah Irfan. Lelaki itu bahkan sangat baik pada Zee. Namun berada disekitar Irfan itu berarti membuka kemungkinan untuk kembali bertemu dan berurusan dengan ibundanya. Dan Zee tidak mau itu terjadi lagi.

flashback off

...☘️☘️☘️☘️...

Ben terus menarik Zee tanpa tujuan yang jelas. Ada sisi dalam dirinya yang tak terima melihat Zee disentuh paksa oleh laki-laki lain.

Suara perut Zee membuat Ben menghentikan Langkahnya. Ia menoleh dan menatap Zee masih dengan tangannya yang menggenggam tangan Zee.

" Kamu lapar? ". Tanya Ben menatap Zee yang tersenyum canggung.

" Iya pak Ben. Saya laper banget.. tenaga saya kekuras semua buat ngadepin Irfan tadi". Teriak Zee namun hanya Hatinya yang mampu berteriak.

Ben menghela nafas panjang, ini sudah pukul 9malam. Pantas saja jika gadis itu merasa lapar.

Ben membawa Zee ke sebuah restoran yang tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi. Sementara Zee tampak menurut saja kemana Ben membawanya.

"Kamu ada alergi makanan? ". Tanya Ben sebelum memesan makanan untuk mereka. Bukan tanpa alasan Ben bertanya, pasalnya tidak semua orang bisa makan hidangan laut.

" Tidak ada pak. Kebetulan saya pemakan segala.. hehe ". Zee nyengir menampakkan deretan giginya yang rapi.

Tanpa sadar Ben tersenyum, gemas melihat Zee membuat tangannya bergerak secara reflek untuk mengusap pucuk kepala Zee.

Untuk sesaat keduanya mematung. Zee yang berdebar, sementara Ben yang merutuki spontanitas tubuhnya untuk menyentuh kepala Zee.

" Maaf.. " Ben menarik tangannya dari kepala Zee.

"I-iya pak. Tidak apa". Jawab Zee dengan wajah bersemu. Gadis itu segera memalingkan wajahnya, takut Ben melihat pipinya yang pasti merona.

Ben kemudian memesan beberapa hidangan laut untuk makan malamnya bersama Zee. Tak butuh waktu lama untuk mereka menunggu saat seorang pelayan mengantarkan pesanan.

"P-pak Ben kenapa banyak sekali? Siapa yang akan makan semua ini.. " Tanya Zee dengan mata membulat melihat banyaknya makanan yang Ben pesan.

Ada cumi, udang juga ikan diatas meja. Belum lagi tumis yang juga Ben pesan. Zee menatap Ben, memang perut siapa yang akan muat menampung makanan sebanyak ini?? ? Mungkin jika disampaikan akan seperti itu pikiran Zee saat ini.

"Kita yang makan. Bukannya tadi kamu lapar? ". Tanya Ben santai. Baginya biasa saja memesan makanan banyak seperti ini.

" Memang perut siapa yang akan muat menampung makanan sebanyak ini pak? ". Akhirnya keluar juga apa yang sejak tadi Zee batin.

Inimah judulnya suara hatinya Zee bocor alus, makanya ampe keluar tuh omongan 😂🤣

" Ya tinggal dimakan saja yang ingin dimakan". Sahut Ben acuh sambil memainkan ponselnya.

Zee menghela nafas panjang. Mungkin jika kedua orang tuanya masih ada, ia akan berpikiran sama seperti Ben. Memesan makanan hanya karena nafsu sesaat, namun tak habis dimakan.

Zee menghela nafas panjang, hampir 8tahun dirinya ditinggal oleh orang tuanya. Ia sudah terbiasa hidup hemat dan sederhana. Bahkan sampai ke makanan pun ia dan emak terbiasa makan alakadarnya.

"Jangan begitu pak. Kan mubadzir jadinya kalau tidak habis kita makan.. " Ben mengangkat wajahnya yang sejak tadi menatap layar ponsel.

"Diluar sana kan masih banyak orang yang tidak beruntung. Bisa makan saja mereka sudah bersyukur, disini malah bapak buang-buang makanan". Omel Zee tanpa sadar. Kebiasaan hidup hemat membuat dirinya lupa dengan siapa ia bicara.

Sementara Ben hanya menghela nafas berat. Dirumah diomeli ibunya, sekarang bersama Zee pun ia masih kena omel juga.

" Bapak mau makan sama apa? ". Tanya Zee yang sudah memegang piring.

" Nasinya segini atau mau tambah lagi pak? ". Tanya Zee lagi.

Ben mengerjap kan matanya, tak menyangka Zee akan melayani dirinya bahkan mengambilkan makanan untuknya.

"Lauknya mau apa pak? ". Tanya Zee pada Ben, ia tak tahu apa yang disukai lelaki itu.

" Udang saja, saya tidak terlalu suka cumi dan ikan ". Mata Zee melotot.

" Lalu kenapa dipesan kalo bapak nggak suka, ini namanya buang-buang makanan". Zee benar-benar hilang akal, ia lupa siapa yang sejak tadi ia omeli.

" Saya nggak suka sayur. Nggak usah pakai sayur.." Ucap Ben saat melihat Zee akan mengambil tumis kangkung.

Zee menatap Ben, kemudian kembali mengomeli Ben yang akhirnya hanya pasrah saja.

"Harus diimbangi makan sayur pak. Sayur bagus untuk tubuh loh, nggak boleh pilih-pilih makanan". Ben benar-benar merasa sedang makan berdua dengan ibunya.

Ben melihat isi piring Zee, sama seperti yang Zee siapkan di piringnya.

" Kenapa tidak dimakan cumi dan ikannya? ". Tanya Ben di sela makannya.

" Ini sudah cukup pak.. " Sahut Zee melanjutkan makannya. Selanjutnya hanya ada keheningan di antara mereka.

Ben membayar makanan setelah berhasil menandaskan makanan di piringnya. Ia terpaksa menghabiskan tumis yang sudah diambilkan oleh Zee, daripada kena omel lagi. Begitu pikirnya.

"Ayo, Leon pasti nyariin kamu". Ben yang sudah selesai membayar mengajak Zee untuk kembali ke hotel.

" Sebentar pak Ben.. " Ben kembali menatap layar ponsel nya saat ada pesan masuk.

"Sudah pak Ben, ayo kita balik ke hotel.. " Ben menoleh, matanya kini fokus pada kantong plastik yang ada di tangan Zee.

"Apa itu? ". Tanya Ben yang berjalan disamping Zee. Matanya fokus pada benda yang dibawa Zee.

" Makanan.. " Sahut Zee sambil mengangkat plastik yang ada di tangannya.

"Kamu masih lapar? ". Tanya Ben dengan alis berkerut. Kerutan nya semakin nampak saat Zee menggeleng.

" Lalu untuk apa makanan itu? " Tanya Ben lagi. Malam ini ia benar-benar bukan seperti Ben yang biasanya. Ia jauh lebih banyak bicara dibanding biasanya. Entah sadar atau tidak lelaki itu.

Zee berlari kecil meningalkan Ben yang keheranan. Lebih heran lagi saat melihat Zee menghampiri seorang ibu-ibu yang membawa anak kecil.

"Apa yang dia lakukan sebenarnya? ". Ben bertanya pada dirinya sendiri. Ia berjalan mendekati Zee yang tampak tersenyum cerah pada sosok yang bahkan belum genap 5menit ditemuinya itu. Beberapa kali Ia melihat Zee menunjuk dirinya.

" Terimakasih banyak ya.. alhamdulillah malam ini saya dan keluarga bisa makan enak". Sepenggal kalimat yang bisa Ben dengar.

"Terimakasih banyak pak. Semoga Allah membalas kebaikan bapak.. dimurahkan rizkinya, dan dijaga dari segala marabahaya".

" Aamiin.. " Sahut Zee cepat, Ben belum mengerti keadaan. Siapa wanita itu dan mengapa ia mendoakan Ben begitu tulus.

"Saya pamit dulu kalau begitu. Sekali lagi terimakasih.. " Senyum penuh kebahagiaan jelas terlihat dari sosok wanita yang bahkan tak diketahui namanya itu.

"Bu.. " Panggil Zee saat ibu itu menjauh. Ia berlari kecil mengejarnya.

"Ini ada sedikit rezeki lagi untuk ibu dan keluarga. Semoga bermanfaat.. "

"Ya Allah.. terimakasih banyak neng". Zee tersenyum lembut sambil mengelus lengan sang ibu yang matanya sudah berkaca-kaca.

" Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan neng. . " Zee hanya menanggapi dengan senyuman.

"Langsung pulang ya bu.. " Seru Zee saat sang ibu mulai menjauh.

"Siapa dia? ". Tanya Ben akhirnya.

" Tidak tau.. " Jawab Zee jujur.

...¥¥¥°°°¥¥¥...

...Asupan pagi ya ges ya.. semoga kedepannya makin banyak yang baca🤲🤲...

...Happy reading semua. Saranghae readers kuuu💋💋💋🌹🌹🌹 💋🥰😍🥰❤❤❤❤🤩😘😘🥰😍...

1
Astrid Fera
seru kok kak cuma Zee dbuat yg lbih tangguh lgi kak,,kyg pinter bela diri gtu kn tmbh seru nnti,,itu saran aku j SC kak😄😄tetap smngt kak💪💪
amma_iKiss: hihi.. tenang kak, pemeran perempuan di novel aku semua strong kok🤭 Btw makasih dukungannya ka😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!