Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencairkan Suasana
Setelah selesai makan malam bersama, Maira dan Nadia berpamitan kepada kedua orang tua masing-masing, termasuk orang tua Hazel. Sejak tadi, Hazel memilih menunggu di dalam mobil, enggan kembali ke dalam rumah setelah suasana yang sempat memanas.
Tak lama kemudian, Maira dan Nadia menyusul masuk ke mobil. Tanpa banyak bicara, Hazel langsung melajukan kendaraannya. Mobil bergerak perlahan menyusuri jalanan yang mulai sepi. Hanya suara mesin yang terdengar, menambah kesunyian yang terasa menekan.
Maira duduk di kursi belakang. Matanya menatap lurus ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalan yang berpendar samar. Ia berusaha menghindari tatapan Hazel maupun Nadia. Di kursi depan, Nadia sesekali melirik suaminya yang tampak tegang, tangannya menggenggam kemudi erat.
“Maaf,” ucap Nadia pelan, nyaris tak terdengar. Tatapannya tertuju pada Hazel yang tetap memandang lurus ke depan.
“Hm,” jawab Hazel singkat, suaranya datar tanpa emosi.
Nadia menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak.
“Sayang, aku salah. Seharusnya aku bertanya dulu ke kamu,” katanya lagi, mencoba meruntuhkan dinding dingin di antara mereka.
“Sudahlah. Semua sudah terjadi,” balas Hazel tanpa menoleh.
“Seperti keinginan kamu, minggu depan aku akan menikahi Maira.”
Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. Nada suaranya terdengar terkendali, namun jelas menyimpan amarah.
Air mata mulai menggenang di mata Nadia. Ia menelan ludah, berusaha keras agar tangisnya tak tumpah. Kepalanya tertunduk, hatinya hancur mendengar kalimat Hazel yang terdengar begitu tegas dan dingin.
Di kursi belakang, Maira ikut menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak, rasa bersalah menyelinap pelan. Ia merasa menjadi penyebab retaknya hubungan pasangan di depannya.
Ketegangan yang menyelimuti mobil membuat Maira semakin tak nyaman. Otaknya bekerja keras mencari cara agar suasana ini sedikit mencair. Dengan spontan, ia memutuskan berpura-pura lapar, meski sebenarnya perutnya masih cukup kenyang.
“Maaf, Pak Hazel, Mbak Nadia,” ucap Maira ragu namun berusaha terdengar tulus.
“Bukan maksud saya memecah suasana, tapi jujur saya lapar banget. Dari siang belum sempat makan, dan tadi juga makannya sedikit. Boleh gak kita cari tempat makan dulu?”
Hazel yang sejak tadi memasang wajah muram menoleh ke arah Maira. Ekspresinya sedikit melunak. Nadia pun ikut menoleh, sorot matanya menyiratkan penasaran.
“Oh, kamu lapar, Maira?” tanya Nadia dengan suara yang kini terdengar lebih lembut.
Maira mengangguk cepat. Matanya berkedip, berharap kebohongan kecil itu tidak terbaca. Jantungnya berdegup kencang sambil terus menyengir.
Hazel menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menatap jalan.
“Baiklah, kita cari tempat makan dulu,” ujarnya singkat.
Mobil pun berbelok, meninggalkan rute menuju apartemennya maira. Maira menghela napas lega, berharap makanan bisa menjadi jeda yang menenangkan, meski hanya sementara.
Tak lama kemudian, mereka sudah duduk di sebuah restoran. Maira menatap kosong buku menu di tangannya. Deretan nama makanan terasa asing dan membingungkan. Di seberangnya, Nadia dengan lancar menyebutkan pesanan kepada pelayan. Hazel mengangguk setuju, tampak sudah terbiasa.
Maira merasa canggung. Seakan-akan hanya dirinya yang tersesat di tempat asing ini.
“Saya pesan yang sama saja,” ucapnya tiba-tiba, memilih aman daripada harus bertanya dan mempermalukan diri sendiri.
Ia menutup buku menu, menyunggingkan senyum tipis untuk menutupi kegelisahan. Namun di balik senyum itu, rasa tidak nyaman masih bergelayut.
Tak lama, hidangan mereka datang. Nadia dan Hazel tampak menikmati steak di hadapan mereka. Pisau dan garpu bergerak lincah, memotong daging empuk, sesekali menyantap sayuran di sisi piring.
Berbeda dengan Maira. Ia justru menatap piringnya dengan raut bingung, seolah sedang meneliti benda asing.
“Makanan apa ini, cuma daging sama sayur doang,” gumamnya dalam hati.
Nadia menyadari Maira belum juga menyentuh makanannya.
“Kenapa kamu gak makan, Maira?” tanyanya penuh perhatian.
Maira menoleh. “Ini serius cuma daging dan sayuran? Gak pakai nasi?” tanyanya polos, nada suaranya terdengar kecewa.
Hazel langsung memberi isyarat pada pelayan.
“Permisi, tolong bawakan menu lain,” ucapnya singkat sambil menunjuk buku menu.
Beberapa menit kemudian, sepiring nasi goreng dengan telur ceplok tersaji di hadapan Maira. Wajahnya langsung berbinar. Ia akhirnya bisa bernapas lega dan mulai menyantap makanannya dengan lahap.
Setelah makan malam selesai, Hazel dan Nadia mengantar Maira pulang ke apartemennya. Dalam perjalanan, suasana terasa jauh lebih hangat dibandingkan sebelumnya.
“Maira, lusa jangan lupa fitting baju kebaya buat pernikahan kamu ya,” kata Nadia sambil tersenyum manis.
“Baik, Mbak,” jawab Maira patuh.
Sesampainya di depan apartemen, Maira membuka pintu mobil.
“Saya masuk dulu ya, Pak Hazel, Mbak Nadia. Hati-hati di jalan,” ucapnya sopan.
Nadia mengangguk dan tersenyum kecil. Hazel hanya menatap tanpa ekspresi.
Saat melangkah menuju pintu apartemennya, Maira bergumam dalam hati, “Pasangan macam apa mereka. Sama-sama keras kepala.”
Langkahnya melambat. Kepalanya dipenuhi tanda tanya tentang masa depan mereka bertiga yang terasa semakin rumit saja, padahal belum dimulai.
**
Hazel sudah menunggu cukup lama di depan apartemen Maira. Ia berdiri sambil sesekali melirik jam tangannya, lalu memasukkan kembali tangan ke saku jaket karena udara pagi terasa cukup dingin. Napasnya membentuk uap tipis setiap kali ia menghembuskan udara.
Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Maira muncul dengan langkah ringan. Penampilannya sangat sederhana, hoodie menutupi kepalanya, celana panjang dan sepatu datar tanpa riasan mencolok. Jauh berbeda dari kesan glamor dan menggoda yang biasa Hazel lihat saat Maira bekerja sebagai wanita malam.
Hazel mengerutkan kening. “Kamu cuma pakai baju itu?” tanyanya, nada suaranya terdengar heran sekaligus heran.
Maira tersenyum lebar, wajahnya tampak senang.
“Terus Bapak maunya saya pakai baju dinas saya yang biasa?” balasnya santai.
“Nanti Bapak malah tergoda lagi. Bukannya ke butik, malah ke kamar kita oha ohe nanti,” tambahnya sambil mengedipkan sebelah mata.
“Asal bicara kamu,” sahut Hazel cepat, berusaha menahan senyum yang hampir saja muncul. Ada kehangatan kecil yang tiba-tiba tercipta di antara mereka, sesuatu yang terasa canggung namun nyata.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di butik kebaya. Mata Maira langsung tertuju pada kebaya putih yang tergantung rapi di dalam ruang ganti. Bordirnya halus, kainnya jatuh dengan anggun. Dadanya terasa sesak saja fan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Hazel berdiri di dekat pintu, memperhatikan tanpa banyak bicara.
“Pak, bisa tunggu di luar sebentar?” pinta Maira pelan. Suaranya sedikit bergetar.
Hazel mengangguk singkat lalu melangkah menjauh, memberi Maira ruang.
Di depan cermin, Maira menatap pantulan dirinya sendiri. Pikirannya melayang pada Nadia, wanita yang dengan tulus memilihkan kebaya ini, tanpa tahu betapa perih hatinya nanti saat kebaya ini dikenakan dalam pernikahan suaminya dengan perempuan lain.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Maira mulai mengenakan kebaya itu. Setiap kait yang terpasang terasa berat. Ia tampak cantik, bahkan terlalu cantik, namun rasa bersalah menyelip di antara decak kagumnya pada dirinya sendiri.
Setelah selesai, Maira membuka pintu ruang ganti dan melangkah keluar.
Hazel menoleh. Tatapannya sempat terpaku sejenak, ada kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Namun wajahnya kembali datar, sikapnya dingin seperti biasa.
Maira mendekat dengan langkah ragu.
“Pak Hazel, nanti bolehkah saya mampir sebentar ke tempat ayah saya? Saya ingin menjenguk beliau,” pintanya hati-hati.
Hazel mengangguk pelan. “Hmm.”
Senyum kecil muncul di wajah Maira. Ia lalu berpamitan sebentar setelah kembali berpakaian yang tadi dan bergegas keluar untuk mencari taksi. Namun beberapa menit berlalu, tak satu pun taksi berhenti.
Maira berdiri di pinggir jalan, menghela napas panjang, lalu menendang kerikil kecil dengan ujung sepatunya.
Saat rasa kesalnya mulai muncul, sebuah suara terdengar dari belakangnya.
“Mari, saya antar.”
Maira terlonjak kaget dan langsung berbalik.
“Pak Hazel? Anda belum pulang?”
Hazel menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, ada rasa iba di sana.
“Saya mau pulang, tapi lihat kamu berdiri sendirian seperti ini, saya tidak tega. Sepertinya hari ini nasib kurang ramah sama kamu. Penampilan kamu juga sudah kayak gembel.”
Maira mendengus kecil, tapi tak membalas. Justru ada rasa lega di hatinya. Ia senang karena ada yang bersedia mengantarnya menemui sang ayah, meski caranya Hazel tetap saja menyebalkan dan arogan menurutnya.