'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak terduga
"Aku menyukai mu, Zafirah. Aku mengagumimu. Maukah kamu memberiku kesempatan untuk mengenal kamu lebih dekat. Aku bersungguh-sungguh," kata Tomi ketika akhirnya bisa mengajak Zafirah pergi berdua.
Zafirah menatap Tomi yang duduk disampingnya. Laki-laki itu tampan dengan kacamata yang membingkai wajahnya. Senyumnya manis dan sejauh yang Zafirah tau dia juga sopan dalam bertutur kata.
"Apa yang kamu sukai dari perempuan seperti ku, Tom ?" tanya Zafirah ingin tau.
"Kamu cantik. Dan misterius. Aku tiba-tiba saja tertarik saat melihat kamu untuk pertama kalinya. Apa sebenarnya kamu sudah punya pacar ?" tanya Tomi. Ia benar-benar melupakan hal ini.
Zafirah menggeleng dengan senyum kecil. Punya pacar bagaimana, menyembuhkan lukanya saja ia begitu kesulitan.
"Maaf, Tom. Untuk saat ini aku benar-benar tidak mau menjalin hubungan dengan siapapun. Dan mungkin untuk selamanya," kata Zafirah dengan pandangannya yang menerawang jauh.
"Kata-kata kamu seperti orang patah hati," timpal Tomi dengan tawa nya.
Zafirah menatap Tomi. Apa benar jika ia terlihat seperti perempuan yang patah hati ? meskipun kenyataannya memang iya, ia sedang berusaha menyembuhkan luka di hatinya.
"Aku memang sedang patah hati. Dan kamu akan sia-sia kalau menghabiskan waktu kamu hanya untuk menunggu ku," kata Zafirah kali ini dengan suara yang lebih rendah.
"Kalau kamu mau kita bisa menjadi teman saja," kata Zafirah lagi mencoba tersenyum. Sejujurnya ia tidak mau menyakiti hati laki-laki dengan sebuah penolakan. Tapi mau bagaimana lagi. Ia sendiri juga tidak siap menjalin hubungan baru.
Tomi terdiam dengan nafas beratnya yang terdengar di telinga Zafirah. Bohong jika tidak ada kekecewaan di wajah teduh itu. Tapi sungguh, Zafirah tidak mau membohongi siapapun.
"Baiklah, aku setuju menjadi teman kamu asalkan ada syaratnya..." ujar Tomi kemudian setelah berhasil menetralkan kepedihan di hatinya.
"Syarat ? syarat apa ?" tanya Zafirah dengan nada tidak suka.
Tomi tertawa kecil melihat perubahan Zafirah yang begitu cepat. "Aku dengar dari Zahra katanya kamu suka naik gunung atau bersepeda. Maukah kamu meluangkan waktu bersama ku untuk melakukan itu ?" tanya Tomi penuh harap.
"Kamu juga suka naik gunung ?" tanya Zafirah penuh minat.
"Iya suka. Tapi sudah jarang melakukannya karena semua teman-temanku banyak yang sibuk. Kami hanya bertemu untuk membicarakan bisnis dan jarang ada waktu menikmati alam," jelas Tomi.
Zafirah mengangguk paham. Ia mengerti, semakin dewasanya usia yang di kejar memang kenikmatan dunia. Bukannya keindahan dunia.
"Baiklah, ayo kapan-kapan bersepeda bersama. Kamu yang tentukan rutenya," kata Zafirah yang kemudian menerbitkan senyuman di bibir Tomi.
"Benarkah ? Kamu setuju ?" tanya Tomi tidak percaya.
"Tentu saja. Kamu mau kita bersepeda berdua atau dengan teman-temanku ? karena minggu depan ada rencana untuk bersepeda rute Jakarta - Bandung. Kalau kamu mau ikut aku bisa kenalkan kamu sama mereka," kata Zafirah penuh semangat.
Tomi tersenyum kecil. "Apa aku tidak terlalu tua bergabung dengan teman-teman kamu," kata Tomi merasa tidak percaya diri.
"Kenapa tidak ? meskipun aku menyebut mereka teman-temanku, tapi usia mereka bervariasi. Bukan sebayaku. Memangnya kamu umur berapa ?" tanya Zafirah.
"Bulan lalu aku baru berulang tahun yang ke tiga puluh," jawab Tomi.
"Itu masih muda. Baiklah kita bertukar nomor ponsel ya. Nanti aku kabari lagi," kata Zafirah. Setidaknya dengan bersikap seperti ini, ia tidak terlalu merasa bersalah pada Tomi.
..
Nadia menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya setelah mendapatkan tamparan untuk pertama kalinya dari Aditya.
Hampir dua puluh tahun mereka mengenal dan untuk pertama kalinya Aditya berbuat kasar padanya. Semuanya berawal dari perhatian yang Nadia berikan ketika Aditya pulang dalam keadaan mabuk.
Bukannya menerima perhatian tersebut, Aditya malah menumpahkan amarahnya pada Nadia. Menyebut Nadia perempuan sial yang menjadi penyebab perpisahannya dan Zahra lalu kemudian menampar pipi Nadia karena Nadia yang tidak berhenti bicara.
"Aku tidak menyangka Aditya bisa melakukan ini," tangis Nadia seorang diri. Ia memegang pipi kirinya yang terasa kebas. Bahkan telinganya masih terasa berdenging.
"Aku mencintai kamu, Aditya. Sejak remaja aku mencintai kamu. Tapi kenapa sekalipun kamu tidak menyadarinya. Kamu hanya menganggap ku sebagai teman. Dan baru lima tahun kamu mengenal Zahra tapi cintamu padanya sudah sedalam ini. Apa itu adil ?"
"Siang dan malam aku berdoa agar kamu mau membuka hati untuk mencintaiku. Tapi semua itu tidak pernah terwujud. Tuhan, mengapa tidak mendengar doaku" teriak Nadia.
Ia merasa marah. Tuhan sangat tidak adil padanya. Ia yang merasa paling sering menyebut Aditya dalam doanya namun ternyata Aditya tidak menjadi jodohnya.
Nadia berteriak histeris. Melempar bantal dan seluruh perlengkapan riasnya yang berada diatas meja. Ia menjambak rambutnya dengan kuat. Kesendirian merangkul malam-malam terakhirnya. Menjadikan ia merasa paling tidak beruntung di dunia.
..
"Zahra, kalau kamu ada waktu aku juga ingin bicara berdua dengan kamu seperti Tomi dan Zafirah," kata Zafran ketika Zahra mengantar Elio pulang sesudah makan.
Zahra mengangkat pandangannya. Menatap Zafran dengan perasaan tidak terbaca. Apa kiranya yang akan dikatakan oleh Zafran ? apa ia juga akan menyatakan perasaannya ?
"Maaf sebelumnya, Tuan. Kalau anda mau mengatakan apa yang ingin Tomi katakan saya rasa itu tidak perlu. Bukannya saya terlalu percaya diri, tapi saya..."
"Saya mencintai kamu Zahra..." ucap Zafran cepat bahkan sebelum Zahra menyelesaikan ucapannya.
Zahra terkejut. Tadinya ia memang menduga hal seperti ini akan terjadi tapi tidak menyangka akan terjadi sekarang. Apalagi orang itu adalah Zafran. Bos nya sendiri yang baru dikenalnya.
Mulut Zahra terbuka sedikit. Matanya berkedip cepat seakan pikirannya sedang memproses apa yang baru saja di dengarnya.
Zafran tersenyum kecil melihat ekspresi Zahra. Perempuan itu tidak pernah gagal membuatnya terpikat.
"Apa yang anda katakan ?" tanya Zahra pelan.
"Saya mencintai kamu Zahra. Saya mencintai sikap dewasa kamu, mencintai cara kamu berjalan, cara kamu bicara dan saya mencintai semua yang ada sama kamu, Zahra" kata Zafran dengan menatap lekat wajah Zahra.
Bukannya senang, Zahra malah menangis. Masih segar di ingatannya tentang pernikahannya yang gagal. Bukan tentang perselingkuhan Aditya yang membuatnya bersedih. Melainkan tentang dirinya sendiri yang memiliki kekurangan.
Ingin sekali Zafran memegang tangan Zahra dan menciumnya. Tapi ia sadar itu adalah hal yang tidak pantas untuk seorang perempuan seperti Zahra.
Zafran mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam saku jasnya. Membukanya dan memperlihatkan nya pada Zahra.
"Aku sudah mempersiapkan ini sejak dua minggu lalu. Tapi tidak berani memberikannya," katanya diakhiri dengan sedikit tawa.
Zahra masih diam. Merasakan air mata perlahan turun ke pipinya. Membangun hubungan dengan orang lain sama sekali tidak ada dalam bayangannya.
Tapi sekarang, di depannya ada sosok Zafran. Seorang pria dengan sejuta pesona. Pantas saja selama ini ia merasa Zafran begitu baik dan memperhatikannya. Ia kira karena memang itu sifatnya. Melainkan karena pria itu menyukainya.
..
penasaran siapa itu.. smngt up ny Thor
sempet kirain genre BL novelnya gegara cover ternyata bukan hehehe
Semangat thor 💪