Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?
Buktinya nih si Nisa!
Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
...🥀🥀🥀🥀...
Drama di rumah orang tua Nisa masih berlanjut gays.
Dugh dugh dugh.
Aziz menggedor pintu kamar mandi.
“Bisa cepat gak mandi nya! Ini sudah berapa lama, Nis!” seru Aziz gak sabaran, setengah jam lebih menunggu Nisa mandi.
“Sabar! Dikit lagi! Gua masih keramas ini! Bau amis di rambut gua belum mao ilang ini, Ziz!” timpal Nisa dari balik pintu kamar mandi.
“Nisa masih belum ke luar juga, nak?” tanya Naraya, sembari membawa secangkir teh hangat di tangan nya.
Aziz menelan saliva nya sulit, ‘Pertanyaan yang gak perlu di jawab!’
Namun sayang nya Aziz tetap menjawab, “Belum, bu! Ayah gimana, apa udah selesai mandi nya?”
Pria bertubuh tinggi itu menahan dingin yang kini menjalar pada tubuh nya. Gimana gak dingin, Aziz masih berba lut dengan pakaian ba sah di tubuh.
“Ayah juga belum selesai. Sambil nunggu Nisa, kamu bisa minum ini dulu, nak! Selagi hangat!” Naraya memberikan secangkir teh yang ia bawa pada Aziz.
“Makasih, bu!” Aziz menerima minuman nya. Menyeruput nya dengan perlahan.
‘Ini sih nama nya bukan selagi hangat, benar benar keluaga se sat! Menyusah kan, menjengkel kan! Nyesel bangat aku udah setuju berada di rumah ini! Terperangkap di dalam sebuah rumah yang penghuni nya pada gila!’ gerutu Aziz.
“Harus nya ibu yang berterima kasih sama kamu, nak Aziz! Terima kasih kamu sudah dengan sabar menghadapi tingkah putri ibu!” beo Naraya dengan tulus.
Belum sempat Aziz menjawab, Naraya sudah kembali bersuara.
“Biar ibu coba panggil Nisa ya! Siapa tau suara ibu ampuh buat dia ke luar!”
Tok tok tok.
Naraya mengetuk pintu kamar mandi.
“Cepat Nis! Kamu biasa nya mandi gak selama ini loh!” beo Naraya, menatap gak enak Aziz.
“Bentar bu!” beo Nisa dari dalam kamar mandi lagi.
“Bentar kepala mu! Ini hampir satu jam aku menunggu!” gerutu Aziz.
“Iya bawel, bentar lagi ini!” beo Nisa dengan suara berbeda, seakan tengah menahan tawa.
Naraya mengerutkan kening nya, ‘Ini aku gak salah? Nisa ini sengaja membuat nak Aziz menunggu lama?’
Aziz mendengus kesal, ‘Sia lan si Nisa! Sudah berani dia membohongi ku ya! Di dalam sana, dia pasti sudah selesai mandi nya dari tadi!’
“Nisa! Jangan buat nak Aziz semakin kedinginan! Cepet ke luar Nisa!” seru Naraya dengan gak sabaran, ia kembali mengetuk pintu.
Tok tok tok.
“Ya ampun, bu! Bentaran lagi ini!” suara Nisa kembali berbeda, suara nya terdengar lebih jelas mena han tawa.
Naraya menatap Aziz dengan tatapan kasihan, “Yang sabar ya, nak Aziz! Kamu harus ekstra sabar buat ngadepin tingkah konyol Nisa.”
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, dengan Nisa yang muncul dari sana. Wanita muda itu sudah berganti baju dengan pakaian yang kering, namun rambut nya yang sedikit ba sah di biar kan tergerai.
Aziz menatap Nisa tajam, ‘Benar dugaan ku! Sejak tadi Nisa mempermain kan ku! Dia sudah selesai mandi dari beberapa menit yang lalu. Keterlaluan bangat! Da sar licik!’
Grap.
Tanpa permisi, Naraya langsung menje wer salah satu daun telinga Nisa.
“Awwhhh uggghhhh sa- sakit bu!” ringis Nisa kesakitan.
“Kamu kenapa mandi nya lama bangat sih! Kamu gak kasihan apa! Itu loh nak Aziz udah kedingingan kaya gitu!” beo Naraya dengan penuh emosi, meminta Nisa menatap wajah pu cat Aziz.
“Saya masuk dulu, bu!” pamit Aziz sebelum menghilang dari pintu kamar mandi. Membiar kan ibu dan anak menyelesaikan masalah kedua nya.
“Apa lihat lihat! Aku tau! Aku ini selalu cantik dalam keadaan apa pun!” seru Nisa dengan tatapan menantang pada Aziz.
“Da sar aneh!” cibir Aziz, sebelum menutup pintu kamar mandi.
“Kamu yang aneh! Da sar pria bodoh!” umpat Nisa dengan tangan terkepal di udara.
“Awwhhhh sa- sakit, bu! Telinga ku bisa pu tus ini bu! Tolong singkir kan tangan ibu dari telinga ku!” rengek Nisa dalam sekejap.
Naraya mena rik tangan nya dari daun telinga Nisa, ia menggaruk kepala nya dengan frustasi.
“Ibu gak mau melihat kamu bertingkah konyol lagi nak! Pusing kepala ibu ngadepin kamu! Kamu itu udah dewasa, Nis! Bersikap lah layak nya wanita dewasa!”
“Ayo lah bu! Nisa ini putri ibu! Jangan salah kan Nisa terus! Harus nya ibu dukung Nisa buat ngerjain Aziz, si asisten koki sia lan itu!” gerutu Nisa dengan bibir mengerucut kesal, melangkah dengan pasti menjauh dari taman belakang.
Naraya menggeleng kan kepala nya gak percaya, dengan mata melotot galak.
“Astaaaaga ibu belum selesai ngomong, Nis!” sentak Naraya dengan nada tinggi.
Nisa mengibaskan rambut ba sah nya ke belakang. Gak menghiraukan sang ibu yang tengah mengekori nya.
“Ngomong tinggal ngomong bu! Nisa cape dengerin ibu ngomel! Lagi juga kan yang anak kandung ibu itu aku! Apa salah nya sih dukung perbuatan ku! Bantuin kek kalo perlu buat ngerjain Aziz!”
Hidung Naraya kembang kempis, dengan nafas gak beraturan, “Apa yang mau ibu dukung dari sikap mu, Nis? Kamu itu salah! Wajar kalo ibu memarahi mu, menegur mu! Ibu malah gatel bangat, pengen menghukum kamu!”
Dengan sengaja Nisa menutup kedua daun telinga nya, “Apa sih bu! Nisa gak melakukan kesalahan kali bu! Nisa cuma membalas perbuatan Aziz, hanya itu!”
Pletak.
Naraya menji tak puncak kepala Nisa, begitu ia berhasil mendahului sang anak.
“Awwwhhhhhh sakit bu! Tangan ibu kaya batu!” Nisa menge lus puncak kepala nya yang di ji tak.
“Hargai nak Aziz, dia itu calon teman hidup kamu yang bisa ibu andalkan untuk menjaga mu, nak!” beo Naraya, sebelum semua nya terlambat.
Nisa memutar bola mata nya malas, ‘Kapan semua nya cuma pura pura ibu! Aku dan Aziz hanya bersandiwara.’
Naraya mengerdik kan dagu nya, “Kenapa diam? Kamu sudah menyadari kesalahan mu, Nis?”
Kruk kruk kruk.
Naraya menatap perut Nisa yang datar, "Kamu lapar lagi, Nis?"
"Seperti nya ini cuma efek kelamaan berendam di kolam, bu!" sangkal Nisa.
Bersambung …
lain kamar aja lah nis bukan muhrim loh ,tadi kata mu ini itu macam tau itu salah kalau masih satu kamar ya pada Bae itu mah 🤣🤣🤣