Bagaimana jadinya jika hidup sudah tak memberimu pilihan?
Semua yang terjadi di dalam hidupmu seolah menyudutkan mu dan memberikan tekanan padamu sehingga membuatmu terpaksa harus menyetujui sebuah perjanjian untuk mengikat hubungan dengan seseorang yang sangat kamu benci dalam sebuah pernikahan.
Pernikahan kontrak, dengan alasan yang saling menguntungkan.
Morgan Wiratmadja.
Sang lelaki yang menciptakan permainannya. Namun siapa sangka, permainan pernikahan kontrak yang ia ciptakan justru menyeretnya ke dalam sebuah perasaan yang ia hindari selama ini.
Selamat membaca 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdebar - debar
Eylina datang membawa sepasang pakaian untuk Morgan.
Ia berjalan mendekati lelaki yang dengan tidak tahu malu duduk di atas tempat tidurnya dengan tubuh polos yang tertutup selimut.
"Tuan, ini pakaiannya." Eylina menyerahkan sebuah kaos berwarna putih dan celana panjang berwarna cokelat.
"Letakkan disitu!" Morgan menunjuk dengan ekor matanya.
Jika kau masuk angin jangan salahkan aku dan jangan merepotkanku. Batin Eylina.
Hening.
Suasana nampak terasa canggung diantara keduanya. Baik Morgan maupun Eylina tak ada yang membuka suara.
Morgan terlihat fokus pada layar ponselnya sementara pikirannya sudah entah kemana saja. Ia terlihat menggeser layar keatas dan kebawah. Tak tahu apa yang sebenarnya ia cari.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara ketukan pintu itu memecahkan keheningan di ruangan tersebut.
Morgan semakin menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut sementara Eylina bergegas membuka pintu.
"Sekertaris Rey? Ada apa?" Eylina mengernyitkan dahinya.
Ah ... laki - laki ini kan masih punya hutang denganku. Perlahan namun pasti mata Eylina berubah menatap lelaki itu dengan tajam.
Hhh ... ada apa dengan anda Nona?
"Selamat siang Nona, saya ingin berbicara dengan Tuan Muda." Sekertaris Rey kembali fokus.
Ah iya ... ini kan kamar tuan Morgan. Apa saja yang kupikirkan, sehingga otakku menjadi telat bekerja seperti ini. Eylina menepuk dahinya.
"Ah ya ... tuan Morgan ada di dalam."
"Saya sudah tau Nona." Sekertaris Rey kemudian masuk.
Hey ... sekertaris sialan. Dasar tidak sopan! Kau memanggilku nona muda tapi kau bahkan tak menghormati ku. Eylina melirik penuh kekesalan pada sekertaris Rey.
Pantas saja tuan muda suka sekali menggoda anda. Ternyata melihat wajah kesal anda begitu menghibur. Sebuah senyum tipis muncul dibibir sekertaris Rey.
"Tuan muda." Sekertaris Rey berdiri di sisi tempat tidur.
"Hemm ... berbalik lah! Aku akan pakai pakaianku dulu." Dengan tanpa beban Morgan menurunkan selimutnya bahkan sebelum sekertaris membalikkan badannya.
Jika anda tak menungguku membalikkan badan, untuk apa anda menyuruh saya berbalik Tuan. Sementara anda bahkan tidak bermasalah walau harus menunjukkan tubuh polos anda di depanku dan istri anda.
Oh? Apa Tuan Muda sudah melakukannya bersama nona Eylina?
jika memang sudah, maka tugasku akan menjadi lebih mudah. Entah bagaimana aku akan menghadapi tuan besar jika beliau mengetahui sandiwara ini. Aku mungkin harus menggali makam ku sendiri dan menenggelamkan diriku disana.
Rey meraba tengkuknya, bulu kuduknya bahkan berdiri walau hanya membayangkan kemarahan tuan Wira.
"Berbalik lah Rey."
Pemuda itupun berbalik sesuai instruksi dari tuannya. Sementara Eylina memilih untuk duduk di sofa.
"Ada apa?" Morgan melanjutkan kalimatnya setelah beberapa saat ia memperhatikan Eylina yang sedang berjalan ke sofa.
"Tuan besar tadi menelepon, Tuan. Beliau sudah sampai disana dan berpesan agar Tuan Muda tidak lupa untuk menghadiri acara peresmian gedung apartemen yang baru besok pagi."
"Yah, tentu. Bukankah tugasku sekarang adalah mengurus perusahaan dengan baik. Dan memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Kau tahu aku sangat lelah Rey." Morgan berjalan keluar dari kamar. Kakinya melangkah menuju ruang kerjanya.
Aku merasa terzolimi Tuan. Bukankah aku yang bekerja keras. Sedangkan Tuan Muda hanya terima beres dan cukup menyumbangkan tanda tangan saja?
Batin Rey meronta.
Morgan menjatuhkan tubuhnya di sofa yang berada di ruangan tersebut.
"Kau tau, beberapa hari ini bayangan Alice selalu muncul di dalam mimpiku. Berkali - kali, bergantian dengan bayangan gadis itu." Morgan menyandarkan tubuhnya.
"Maaf Tuan, bolehkah saya bertanya?" Sekertaris Rey berkata dengan hati - hati.
"Hemm ...."
"Apakah Tuan Muda mulai tertarik dengan nona muda?"
"Apa kau sudah tidak waras hah? Mana mungkin aku tertarik dengannya. Kau bahkan tau apa tujuanku menikahinya, aku ingin memberinya pelajaran agar dia tidak sembarangan berbicara." Morgan menaikkan volume suaranya.
"Maafkan saya Tuan." Sekertaris Rey menundukkan kepalanya.
Bukan saya yang tidak waras Tuan, tapi anda yang mulai terlihat aneh beberapa hari ini. Bagaimana mungkin seorang kepala pelayan yang sangat disegani itu berganti tugas menjadi seorang fotografer dan harus mengirimkan gambar Nona Muda setiap hari dengan segala aktivitasnya. Bahkan harus memberikan laporan setiap lima menit sekali.
Dan parahnya anda selalu tersenyum, tertawa setiap kali menerima pesan gambar tersebut, bahkan anda menyerahkan semua pekerjaan pada saya.
Batin Rey.
"Rey, aku minta kau awasi pergerakan mama dan juga Bella. Aku tidak ingin kejadian hari ini kembali terjadi di kemudian hari."
"Baik tuan."
Bertambah lagi tugasku. Semua ini karena Nona Muda.
"Bagaimana perkembangan ibu gadis itu? apa dia masih merasakan kesakitan."
"Saya rasa tidak Tuan, kemarin saya melintasi jalan tersebut dan mereka terlihat sedang sibuk melayani beberapa pelanggan. Bu Santi terlihat jauh lebih baik kondisinya."
Tiba - tiba sebuah senyum simpul muncul di wajah Morgan. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berbagi dengan orang - orang seperti Bu Santi.
Dulu saat Alice masih hidup, mereka sering mengadakan acara amal di panti asuhan dan juga di jalanan.
Alice sangat terkenal di kalangan orang - orang dengan kelas ekonomi bawah. Bukan hanya karena kecantikannya, namun juga kelembutan hatinya yang membuat gadis itu dikagumi banyak orang.
Banyak sekali anak - anak yang mengidolakannya. Kehadirannya memberikan kehangatan tersendiri bagi mereka. Tak ayal, banyak diantara mereka tak percaya jika malaikat tak bersayap itu telah pergi meninggalkan mereka semua dengan cara yang sangat tragis.
"Oh ya ... Suruh Willy dan Anna kemari nanti malam. Suruh mereka bekerja dengan baik."
"Apakah anda akan mengajak nona muda, Tuan?"
"Tentu saja, dan pastikan semua aman."
"Baik Tuan."
"Oh ya ... suruh pak Gun menyiapkan kamar untuk mereka berdua."
"Baik Tuan."
****
Sementara di dalam kamar, seorang gadis sedang melihat acara televisi dengan santainya. Kakinya menopang di atas meja, dengan memegang sebungkus keripik ditangannya.
Ia tak berkutik saat seseorang membuka pintu kamar tersebut. Bahkan di mulutnya masih penuh dengan makanan.
Matanya membulat sempurna mendapati siapa yang sedang berdiri di depan pintu.
"Wah ... wah ... wah ... kau lihat Rey? Dia sudah seperti seorang ratu sekarang."
Morgan berusaha menahan tawanya. Baginya itu adalah pemandangan yang epic.
Seumur hidup ia tidak pernah mendapati seorang gadis yang tingkahnya seperti Eylina.
Ada apa denganmu Tuan Muda?
Bukankah itu terlihat memalukan? batin Rey.
"Maaf Tuan." Eylina segera menurunkan kakinya dan mengusap mulutnya yang terkena remahan keripik .
"Kalau begitu saya permisi Tuan." Sekertaris Rey berpamitan karena merasa urusannya sudah selesai.
" Ya, pastikan semuanya berjalan baik."
"Baik Tuan." Sekertaris Rey membungkukkan badannya. Dan menghilang di balik pintu.
"Apa kau sudah puas dengan makananmu?"
Morgan mendekat dan duduk di samping Eylina.
"Hehehe ... sudah Tuan. Apa ada yang bisa ku kerjakan? memijat anda mungkin?" Eylina memberikan penawaran.
"Apa kau sudah begitu kecanduan menyentuh tubuhku?"
Apa? kesimpulan macam apa itu?
Eylina terkejut.
"Pijat kakiku, tanganku, punggungku dan juga kepalaku." Dengan entengnya Morgan mengatakan hal itu.
"Apa?" Eylina menutup rapat mulutnya dengan telapak tangannya.
"Apa? Apa maksudmu? Jadi kau menolak perintahku? baiklah akan ku suruh Rey menghentikan aktivitas toko kue itu."
"Haa ... tidak ... tidak! Maksudku, baiklah apapun yang Tuan perintahkan aku akan mengerjakannya." Eylina kemudian turun dan berlutut, tangannya memulai memijat kaki lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu.
Shit ... kenapa wajah kusam mu berubah menjadi cantik seperti itu? Dan bibir itu, apa semalam aku benar - benar menciumnya? kurasa aku tidak bersalah, kau yang menggodaku bukan?
Ah ... tidak! dia bahkan tertidur lelap semalam.
Argh ... sial! Jantungku berdegup kencang sekarang. Apa mungkin yang dikatakan Rey itu benar? Kurasa tidak mungkin, aku jelas masih mencintai Alice.
Morgan berusaha meyakinkan dirinya.
Namun semakin ia mengatakan jika ia masih mencintai Alice, perasaan itu terasa seperti sudah memudar.
💗💗💗💗💗💗
jalani dulu eylina semoga akan bahagia