Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
27. TGD.27
Tiga tahun berlalu, dan "Omah Tandur" kini tidak lagi hanya menjadi simbol inovasi, melainkan taman bermain paling gaduh sekaligus paling inspiratif di seluruh desa. Pagi di keluarga Shelly dan Arkan kini dimulai bukan dengan alarm ponsel, melainkan dengan derap langkah kaki-kaki kecil yang berlarian di atas lantai kayu jati.
**Bumi**, **Aksara**, dan **Padi** telah tumbuh menjadi balita yang memiliki karakter sekuat nama-nama mereka. Bumi si sulung sangat tenang dan observan, Aksara si tengah selalu ingin tahu tentang cara kerja benda, dan Padi si bungsu memiliki empati yang luar biasa tinggi terhadap tanaman.
---
"Ayo, Tunas-Tunas! Siapa yang mau ikut Ibu cek 'kunang-kunang' di sawah?" teriak Shelly sambil mengancingkan rompi kerja kecil untuk ketiga anaknya.
"Bumi mau! Bumi mau bawa tablet Ibu!" sahut Bumi dengan serius. Di usianya yang baru tiga tahun, ia sudah tahu bahwa benda kotak itu bisa menunjukkan mana saluran air yang mampet.
Arkan muncul dari dapur dengan tiga botol susu dan tas berisi perlengkapan darurat—mulai dari plester luka hingga mainan traktor kecil. "Ingat ya, Shel. Jam sembilan mereka harus sudah di rumah untuk makan buah. Dan Mas Padi, jangan coba-coba kasih susu kamu ke bibit padi lagi ya, Nak. Padi butuhnya air, bukan laktosa," gurau Arkan sambil mencium kening Padi yang hanya dibalas dengan cengiran ompong.
---
Pemandangan di sawah kini jauh berbeda. Di tengah hamparan padi yang hijau, terdapat sebuah gubuk modern hasil desain Arkan yang mereka sebut *"Gubuk Digital"*. Di sana, Shelly memasang layar monitor besar yang terhubung dengan sensor di seluruh blok.
"Ibu, itu lampunya merah! Kasihan padinya haus!" teriak Aksara sambil menunjuk salah satu indikator di layar.
Shelly berjongkok di samping anak tengahnya. "Pintar. Kalau merah begitu, Aksara harus tekan tombol yang mana?"
Aksara dengan mantap menekan tombol hijau di layar sentuh. Di kejauhan, terdengar suara mesin pintu air yang terbuka secara otomatis. "Wuuusshhh! Airnya datang, Ibu!" sorak mereka bertiga kegirangan melihat air mengalir di parit-parit kecil.
Sementara itu, Padi si bungsu sedang asyik jongkok di pinggir galengan. Ia tidak sibuk dengan gadget, melainkan sedang berbicara dengan seekor ulat sutra yang hinggap di daun. "Kamu jangan makan banyak-banyak ya, nanti Ibu marah," bisiknya dengan polos.
Arkan yang memperhatikan dari kejauhan sambil memegang kamera, merasa hatinya penuh. Ia mendekat ke arah Shelly. "Kamu lihat itu, Shel? Proyek paling sukses kita bukan cuma koperasi ini, tapi membesarkan mereka di sini."
Shelly menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. "Iya, Mas. Dulu aku takut mereka bakal ketinggalan pelajaran dari anak kota. Tapi lihat mereka... mereka belajar fisika dari aliran air, biologi dari serangga, dan etika dari cara kita menghargai tanah."
---
Tiba-tiba, Pak Kardi datang membawa keranjang berisi jagung bakar. Di belakangnya, beberapa petani muda ikut serta. Kini, tidak ada lagi sekat antara "orang pintar" dan "orang desa". Semua melebur.
"Mbak Shelly, ini si kembar kok sudah makin pinter aja?" puji Pak Kardi. "Tadi saya lihat Bumi kasih tahu Pak RT kalau sensor kelembapannya ketutup lumpur. Hebat bener!"
"Itu karena mereka tiap hari diajak keliling sama Bapaknya, Pak Kardi," jawab Shelly bangga.
"Pak Kardi! Ayo main robot!" teriak Aksara sambil menarik tangan Pak Kardi menuju sebuah drone kecil yang sedang diisi dayanya oleh Arkan.
Arkan tertawa. "Hati-hati, Pak Kardi. Aksara ini 'direktur teknis' cilik. Kalau Bapak salah pegang baling-balingnya, dia bisa ceramah setengah jam tentang aerodinamika."
Sambil menikmati jagung bakar, mereka berdiskusi tentang pengembangan koperasi. Shelly memaparkan rencana ekspor beras organik mereka ke Eropa.
"Mas Arkan, aku butuh desain gudang baru yang punya sistem pengatur suhu lebih canggih untuk beras premium ini," ujar Shelly serius.
Arkan mengangguk, namun matanya melirik ke arah anak-anak mereka yang sedang asyik bermain tanah. "Boleh. Tapi syaratnya, gudang itu harus punya area bermain buat para 'mandor kecil' kita. Aku nggak mau mereka jauh dari ibunya saat bekerja."
---
Namun, kehidupan tidak selalu mulus. Suatu sore, Shelly pulang dengan wajah lelah karena ada masalah distribusi di kota. Di rumah, ia mendapati rumah berantakan karena Bumi, Aksara, dan Padi baru saja bereksperimen "membuat irigasi" di dalam ruang tamu menggunakan air galon.
"Arkan! Kenapa mereka dibiarkan main air di dalam rumah?!" suara Shelly meninggi.
Arkan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala langsung tertegun. "Maaf, Shel. Tadi mereka bilang mau coba simulasi debit air yang kamu ajarkan tadi pagi..."
Shelly duduk di kursi, memijat keningnya. Bumi, Aksara, dan Padi yang melihat ibunya marah langsung terdiam dan berkumpul di pojok ruangan. Padi, yang paling sensitif, mulai sesenggukan.
"Ibu... maaf. Padi cuma mau bantu Ibu supaya nggak usah ke sawah kalau panas," bisik Padi sambil memberikan setangkai bunga rumput yang ia simpan di saku celananya.
Hati Shelly langsung luluh. Ia memeluk ketiga anaknya erat-erat. "Maafkan Ibu ya. Ibu cuma capek. Terima kasih bunganya, Padi."
Arkan mendekat, duduk di lantai bersama mereka. "Shel, ingat apa yang kita janji dulu? Di rumah ini, kita nggak boleh bawa beban kantor. Di sini, kita cuma Ayah dan Ibu."
Shelly mengangguk, air matanya menetes. "Kamu benar, Mas. Aku terlalu ambisius hari ini."
"Ayo, Tunas-Tunas! Kita bantu Ibu beresin irigasi di ruang tamu ini, terus kita semua makan es krim di teras!" seru Arkan memecah suasana.
---
Malam hari, setelah ketiga bocah itu terlelap—dengan Bumi yang memeluk tablet mainannya, Aksara yang memeluk obeng plastik, dan Padi yang memeluk bantal berbentuk padi—Shelly dan Arkan duduk di balkon luar.
Suasana desa sangat tenang. Cahaya sensor di sawah berkedip seperti detak jantung desa yang sehat.
"Mas," bisik Shelly. "Dulu aku pikir, sukses itu adalah saat aku bisa buktikan ke dunia kalau anak petani bisa jadi direktur hebat."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang aku merasa sukses itu adalah saat aku bisa melihat anak-anak kita mencium tanah sebelum mereka bermain. Saat mereka nggak jijik sama lumpur, tapi juga nggak gagap sama teknologi. Aku merasa kita sudah membangun sesuatu yang abadi di sini."
Arkan menggenggam tangan Shelly. "Kamu tahu, Shel? Tadi sore aku dapat tawaran jadi dosen tamu di Jakarta untuk mata kuliah Arsitektur Desa. Mereka mau aku bawa contoh kasus desa kita."
"Mas mau ambil?"
"Aku mau ambil, asalkan aku bisa bawa kamu dan si kembar. Aku mau tunjukkan pada mahasiswa di kota, bahwa masa depan Indonesia itu bukan di gedung-gedung tinggi mereka, tapi ada di tangan anak-anak desa yang pintar seperti Bumi, Aksara, dan Padi."
Shelly tersenyum bahagia. "Boleh. Tapi jangan lama-lama ya, Mas. Kasihan padinya kalau ditinggal terlalu lama."
Arkan tertawa, menarik Shelly ke dalam pelukannya. "Nggak akan lama, Shel. Karena kemanapun kita pergi, 'Omah Tandur' dan sawah ini adalah pusat gravitasi kita."
Di bawah langit bertabur bintang, kisah Shelly dan Arkan kini telah melampaui batas prestasi pribadi. Mereka telah menanam benih-benih masa depan dalam wujud tiga anak manusia yang akan meneruskan perjuangan menjaga kedaulatan pangan dengan cinta dan ilmu pengetahuan.
Desa itu bukan lagi sekadar tempat tinggal; desa itu adalah laboratorium cinta, sekolah kehidupan, dan bukti nyata bahwa dari lumpur yang sederhana, bisa lahir mimpi yang mendunia.