NovelToon NovelToon
CELINA: OFFICE GIRL MILIK CEO

CELINA: OFFICE GIRL MILIK CEO

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Office Romance / Tamat
Popularitas:93.2k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!


Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.

Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.

Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.

Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.

Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. KHAWATIR

Langkah Theo terhenti sesaat begitu pintu rumah sakit otomatis terbuka di hadapannya. Bau antiseptik yang khas langsung menyergap inderanya, bau yang sama yang masih menempel di pakaiannya sejak beberapa jam lalu, seolah ia tak pernah benar-benar meninggalkan tempat ini.

Dadanya naik turun tidak teratur.

Begitu menerima telepon dari Cedric yang mengatakan Celina sudah siuman, Theo langsung meninggalkan semua yang sedang ia lakukan. Tidak peduli jam, tidak peduli rasa lelah yang sudah merayap sampai ke tulang. Kakinya bergerak lebih cepat dari pikirannya.

Matanya menyapu lorong IGD dan ruang rawat, mencari satu wajah yang sejak tadi terus terbayang di kepalanya.

Cedric.

Ia melihat pria itu di dekat meja perawat, tubuhnya bersandar ke bangku tunggu panjang, laptop sudah tidak ada di tangan ,hanya tas selempang yang tergantung di bahunya.

Theo menghampirinya dengan langkah panjang.

"Cedric," panggil Theo tanpa basa-basi. "Celina di mana?”

Cedric menoleh. Ada kelegaan singkat di wajahnya saat melihat Theo, lalu kembali ke ekspresi datarnya yang khas.

"Masih di rontgen," jawab Cedric. "Dokter ingin memastikan tidak ada cedera serius yang terlewat.

Theo mengangguk, rahangnya mengeras. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, seperti mencoba menghapus bayangan buruk yang terus menempel.

"Bagaimana keadaan perusahaan?" tanya Cedric kemudian, memecah hening.

Theo menarik napas panjang sebelum menjawab. "Semua sudah ditangani. Sistem kembali berjalan, server cadangan aktif. Tidak ada korban jiwa."

"Lalu masalah penyusup itu bagaimana?" tanya Cedric.

"Soal penyusup itu ... aku dan Aiden sepakat untuk merahasiakannya. Tidak ingin ada desas-desus di internal perusahaan. Tapi tetap akan diselidiki lebih serius," jawab Theo seraya mengusap wajah lelahnya.

Cedric mengangguk pelan.

"Tapi jujur," lanjut Theo, alisnya berkerut, "aku tidak tahu bagaimana divisi IT bisa sekacau itu. Seperti habis kena gempa."

Cedric mendesah, tangannya menyelip ke saku celana. "Sebelum alarm berbunyi, memang sepertinya ada keributan di divisi IT."

Theo menoleh cepat. "Keributan?"

Cedric mengangguk. "Aku sendiri belum tahu detailnya tentang apa. Bisa saja semua jadi acak-acakan karena panik."

"Bagaimana bisa?" tanya Theo.

Cedric menghela napas kecil. "Aku terakhir keluar ruangan bahkan tidak mendengar apa-apa. Aku pakai headphone. Sampai Fredy menepuk bahuku dan bilang ada sesuatu yang terjadi."

Theo terdiam, mencerna.

Sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, suara roda ranjang menyentuh lantai memecah percakapan mereka.

Theo menoleh refleks.

Dokter dan dua perawat muncul dari lorong rontgen, mendorong sebuah ranjang.

Di atasnya ... Celina.

Theo merasa dadanya seperti diremas.

Celina terbaring dengan mata terpejam. Wajahnya terlihat pucat, jauh lebih pucat dari biasanya. Rambutnya terurai di atas bantal putih, tanpa ikatan, tanpa usaha untuk terlihat rapi. Ada plester kecil di pelipisnya. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur namun dangkal. Tak ada lagi make up dan freckles yang menutupi wajah Celina sekarang.

Theo melangkah mendekat tanpa sadar.

"Dia tertidur," kata dokter saat melihat ekspresi Theo. "Efek obat pereda nyeri. Tidak perlu khawatir."

Theo mengangguk, tapi matanya tidak lepas dari Celina.

Mereka mengikuti ranjang itu kembali ke kamar rawat. Saat pintu ditutup dan tirai ditarik, dokter berbalik menghadap Theo dan Cedric.

"Baik," ujar dokter dengan nada profesional. "Kami sudah melihat hasil rontgen."

Theo menegakkan tubuhnya.

"Ada retak di tulang bahu kiri," lanjut dokter. "Dan juga retakan ringan di kepala. Tidak sampai pendarahan internal, tapi cukup serius."

Theo mengepalkan tangannya.

"Selain itu," sambung dokter, "banyak memar dan luka benturan. Tubuhnya menerima tekanan cukup besar."

Napas Theo seperti tercekat ketika mendengar itu.

Dokter menatap Theo dan Cedric bergantian. "Pasien harus mendapatkan istirahat yang cukup. Jangan biarkan dia mengangkat barang berat untuk sementara waktu. Dan pastikan dia tidak memaksakan diri."

Theo mengangguk. "Saya mengerti."

Dokter memberi beberapa instruksi tambahan, lalu pamit.

Ruangan kembali hening.

Theo berdiri di sisi ranjang, menatap Celina lama sekali. Ada rasa bersalah yang berat menekan dadanya, rasa yang tidak bisa ia singkirkan meski ia tahu, kejadian itu bukan sepenuhnya kesalahannya.

"Cedric," ucap Theo akhirnya, tanpa menoleh. "Pulanglah."

Cedric mengangkat alis. "Apa?"

"Kau terlihat sangat lelah," lanjut Theo. "Aku yang akan menjaga Celina setelah ini"”

Cedric terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Jujur saja, iya. Aku memang sangat lelah."

"Kalau begitu pulanglah," ucap Theo.

Cedric mengambil tasnya, lalu berhenti sebelum melangkah pergi. "Theo ... kalau bisa, hubungi Aiden atau si kembar. Untuk berjaga. Kau juga kelihatan kelelahan."

Theo mengangguk. "Akan kulakukan."

Sebelum benar-benar pergi, Theo menoleh. "Cedric?"

Cedric berhenti dan menoleh ke temannya itu.

"Kau tidak terkejut," ujar Theo perlahan, "dengan wajah Celina yang sekarang?"

Cedric menoleh kembali, lalu tersenyum kecil, senyum yang sulit diartikan.

"Tidak," jawabnya singkat. "Aku sudah melihat hal yang jauh lebih mengejutkan dari gadis itu."

Theo mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

Namun Cedric sudah melangkah menuju pintu. "Nanti," katanya sambil melambaikan tangan kecil. "Aku akan ceritakan tentang Celina saat pikiran kita sudah cukup istirahat."

Pintu tertutup. Cedric pergi.

Theo kembali menatap Celina.

Ia mendekat, duduk di kursi di samping ranjang, lalu bergumam pelan, hampir seperti doa, atau mungkin sumpah.

"Bodoh ...."

Entah ditujukan pada dirinya sendiri, atau pada gadis yang kini terbaring diam karena menolongnya.

Waktu berjalan perlahan.

Setengah jam kemudian, pintu kamar kembali terbuka.

Lucy dan Leo masuk hampir bersamaan, membawa dua kantong besar. Wajah mereka terlihat cemas, tapi lega saat melihat Theo masih di sana.

"Kami bawakan makanan," kata Leo. "Dan pakaian ganti untuk Celina."

Lucy meletakkan kantong di kursi. "Theo, kau harus pulang dan istirahat."

Theo menggeleng tanpa ragu. "Tidak."

Lucy menghela napas. Theo-"

"Aku tidak akan meninggalkannya," potong Theo tegas. "Tidak dalam keadaan seperti ini."

Lucy menatap Celina, lalu kembali ke Theo. "Apa yang sebenarnya terjadi sampai dia seperti ini?"

Theo terdiam sejenak, lalu mulai bercerita.

Tentang Celina yang melihat penyusup di tengah kekacauan. Tentang mereka yang mengejar bersama. Tentang Cedric yang bertarung mempertahankan blueprint proyek. Tentang tangga darurat. Tentang momen singkat di mana dunia seolah berhenti, dan Celina menariknya kembali, menahan tubuhnya saat mereka jatuh bersama.

Lucy menutup mulutnya.

Leo mengumpat pelan.

"Kami tidak menyangka," ucap Lucy lirih. "Ternyata seburuk itu keadaan."

Theo mengangguk. "Aku sudah banyak berhutang budi pada Celina." Ia menatap gadis yang tertidur itu. "Entah sudah berapa banyak dia menyelamatkan perusahaan ini. Bahkan aku."

Ponsel Lucy bergetar.

Ia melirik layar, lalu wajahnya berubah.

"Theo?" panggil Lucy pelan.

Theo menoleh.

"Mama menelepon," beritahu Lucu.

Theo menutup mata sesaat. Ia sudah menduga ini akan terjadi.

Namun Lucy menelan ludah sebelum melanjutkan, suaranya bergetar, "Bukan hanya menelepon. Mama mengirim pesan."

Lucy menatap Theo dan Leo bergantian.

"Mama sedang jalan ke rumah sakit," beritahu Lucy.

Hening.

Dan Theo tahu ... orang tuanya sudah mendengar tentang Celina.

Entah dari siapa.

Apa yang harus Theo katakan jika orangtuanya bertanya, bukan tentang kekacauan yang terjadi di perusahaan ... tapi tentang Celina?

1
neni espede
thoooor kereeeeen, lanjuuut
Archiemorarty: Silahkan dilanjut bacanya kak 🤭
total 1 replies
vede rumboirusi
karyanya sangat bagus
keren 👍👍
Naya En-lish
/Heart/
Alfia Amira
dari awal bingung "kacamata hitam" ini masak di dalam ruangan pakai kacamata hitam ??? ini bingkai nya warna hitam atau apa ?? 😁😁
Ir
Theo, Zane setelah keluar dari Nevada saran Oma kalian latihan lagi kemampuan kalian, dari segi senjata, bela diri sampai ke strategi, mungkin kedepan nya ga ada black mantis tapi siapa tau kelompok lain, Red velvet mungkin 😁😁
Ir: lahh pantas ko ga update², sesuai prediksi kisah nya kaya Rosetta sama Leonard belum nikah dah tamat 🤣
total 5 replies
Ir
bentar Arthur ini anaknya Dante kan, bukan anak Elias Spencer kan? ko marga nya Spencer agak ngelag dikit aku, ga tau kapan nikah nya tau² udah punya istri aja
Archiemorarty: Hahahaha....tadinya pasti nau ada hubungannya sama Black Mantis lagi ...tapi mikir dulu deh, berat kali itu bakal cerita 🙄
total 3 replies
Ir
kan kan black mantis ini bikin kerjaan aja dah, morelli harus renovasi gedung kan karna plafon nya jebol, nambah²in kerjaan aja
Archiemorarty: Aku juga mikir gitu woyyy....haeus renov 🤣
total 1 replies
Ir
NEVADA lagi muak aku sumpah, sudah ku bilang kan kemarin minjam rudal iran pada kaga percaya ikhhh
Archiemorarty: Hahahaha....sama othor pun dah muak 🤣
total 1 replies
Ir
tapi bener sih anak² pengusaha kaya Theo, Zane apa lagi ortu mereka memiliki kelompok mafia itu harus di latih sejak dini seharusnya, baik dalam bela diri atau memegang senjata, meskipun ga ada kelompok black mantis, tapi dunia bisnis itu selalu ada kecurangan, kalo hukum negara ga bisa adil maka kita bisa menggunakan hukum kita sendiri, intinya untuk melindungi keluarga dan orang² terkasih
Archiemorarty: Nah ini, alasan Phantom dibuat. karena hukum pemerintah banyak cacat, lebih lebih malah yang jadi penjahat berkedok hukum 🙄
total 3 replies
Ir
nah gini lohh maksud nya bikin cerita tuh, meski kisah black mantis udah pernah di tulis di buku sebelum nya ga ada salah nya di cerita kan ulang, selain pembaca lama ga mudah lupa juga membuat pembaca baru itu tau
" owh ini toh kisah black mantis "
kan kadang ada rider baru yg belum nemu buku lama, nemunya langsung buku sekuel buku sebelum nya, mau baca buku lama dulu nanti pasti ketinggalan cerita yg sekarang, jujur aku rider yang begitu, selesai kan cerita baru setelah tamat untuk lebih paham baru cari buku pertama nya, kadang ada penulis yang pembaca baru penasaran kan
" kalo penasaran sama cerita masa lalu baca aja yg judul nya bla bla "
haisss jujur kadang sebel aku 😁😁
Archiemorarty: harus ngulang kan jadinya bacanya lalau gitu 🙄
total 3 replies
Ir
ini Lucas masih masih trauma ga yaa kalo misal ada penyergapan lagi, apa lagi bapak Rion sama Dante udah pada Sepuh, jalan udah pake tongkat pasti, encok, rematik, asam urat, asam lambung, udah pada nemplok semua, megang senjata pun udah pasti geter²
HAHAHAHA 🤣🤣🤣
ketawa dulu sebelum di ajak perang 🥴🥴
Archiemorarty: Masih dia itu..😂
total 1 replies
tuti raniati
Luar biasa
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
Jelita S
yeah udah tamat z thor,,, terimakasih thor atas ceritamu yg seru ini
Archiemorarty: Terima kasih kembali udah baca ceritanya daei awal kak 🥰
total 1 replies
Asyatun 1
keren banget thoor
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya dari awal sampai akhir kak 🥰
total 1 replies
Reni Setia
udah tamat pas sesuai judulnya
makasih author untuk karya novelnya
mimief
yah..selesai
Thor eiden belum ketemu jodohnya
apalagi Cedric
piye toh🤣🤣

but anyway
terimakasih atas cerita indah nya 😍
mimief
ga cocok casing kyk gitu tapi kebucinan🤣🤣😜
shinta
sepertinya masih ada extra part, soalnya masih ada permintaan Up.... (ngarep)😍😍
shinta
haaaaahhhhhhh lega!!!!
shinta
ga pernah setegang ini baca sebuah novel, sumpah ga pernah walau sudah di level ini, aku beneran hanyut.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!