Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Satu Kamar
“Baiklah,” kata King Cristopher dingin.
Nada suaranya datar, namun cukup untuk membuat seluruh pelayan yang berbaris di Royal Chambers langsung menundukkan kepala dan mundur serempak. Saat pelayan terakhir melangkah keluar, pengawal di luar segera menutup pintu besar itu dengan sigap.
Lily menatap Cristopher tajam, “Di mana Eri dan Laory?” tanyanya penuh selidik.
Cristopher melipat tangannya di belakang punggung. “Apa singa itu begitu penting bagimu?” katanya dingin, seakan ingin menguji batas kesabaran Lily.
“Lebih penting darimu,” jawab Lily tanpa jeda. Matanya tidak berkedip. “Aku lelah, jadi jangan membuang waktuku. Cepat katakan di mana Laory dan Eri.”
Untuk sesaat, Cristopher terdiam. Sorot mata Lily yang keras, dan menolak tunduk mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka. Tatapan seseorang yang tidak perlu meminta izin untuk berdiri sejajar.
Cristopher melangkah tegak, lalu membuka sebuah pintu yang terhubung ke ruangan lain.
“Aummmm…” Suara berat itu menggema memenuhi ruangan.
Lily seketika berbinar, ia mengangkat gaunnya dan langsung berlari menghampiri sumber suara itu.
“Eri…” panggilnya berseri.
Tepat saat itu, Eri keluar dari ruangan dan melompat ke arahnya. Tubuh besar itu mendarat di pelukan Lily, nyaris menjatuhkannya. Lily memeluk leher Eri, mengelus punggungnya dengan lembut. Singa itu mendusel manja, suaranya merendah seolah sedang mengadu.
“Aku baik-baik saja,” kata Lily pelan, seakan Eri bisa memahami setiap katanya. Ia tahu, makhluk itu mengkhawatirkannya.
Lily kemudian menoleh ke Laory yang berdiri tak jauh di belakang. “Apa kau kesulitan?” tanyanya.
Laory menggeleng pelan. “Tidak, Your Majesty.” jawabnya patuh.
Namun kenyataannya, sepanjang hari ia diliputi ketakutan. Eri tidak bisa tenang, mondar-mandir tanpa henti, gelisah mencari tuannya. Setiap gerakan dan geraman singa itu membuat Laory menahan napas.
“Apa dia sudah makan?” tanya Lily lagi sambil mencium kepala Eri.
Laory mengangguk. “Sudah, Your Majesty. Eri menghabiskan dua mangkuk besar daging segar.”
“Bagus,” kata Lily lembut. “Apa dia sudah minum air?”
“Su…” Laory belum sempat menyelesaikan jawabannya.
“Kau memperlakukannya seperti bayi lemah.” potong Cristopher dingin.
Lily langsung menatapnya tajam. “Bukan urusanmu,” katanya tanpa basa-basi. “Apa yang kau tunggu? Sebaiknya kau pergi dari kediamanku.”
“Kau mengusirku?” Cristopher melangkah setengah maju, nada suaranya mengeras dan mengandung ancaman.
“Aku hanya memperjelas batasan yang kau buat sendiri.” balas Lily tenang, namun penuh tekanan.
Cristopher mengalihkan pandangannya ke Laory. Tatapannya tajam dan menekan.
“Tutup mata dan telingamu atas apa yang kau lihat,” katanya mengancam. “Keluar!”
Laory menunduk hormat, jantungnya berdegup keras. Tanpa menunda, ia berbalik dan buru-buru meninggalkan Royal Chambers, meninggalkan Lily dan sang raja dalam ruang megah yang kini terasa jauh lebih sempit oleh ketegangan yang menggantung di udara.
King Cristopher melepas jubah hitamnya dan meletakkannya sembarang di sandaran kursi. Gerakannya tenang, namun aura dominasi langsung memenuhi Royal Chambers. Ia lalu duduk, bersandar seolah ruangan itu memang miliknya sepenuhnya.
Lily melepaskan pelukan Eri, lalu bergegas menghampiri Cristopher.
“Apa yang kau lakukan?” katanya bingung. Ia meminta Cristopher untuk pergi, bukan duduk santai.
Cristopher mengangkat wajahnya perlahan. “Malam ini adalah malam pertama Raja dan Ratu Kingdom Conqueror,” ucapnya datar. “Aku tahu kau mengerti maksudku. Kau tidak sepolos itu.”
Wajah Lily seketika panik, mendengar kata malam pertama membuat jantungnya melompat tak karuan.
“Tapi kau sudah mengatakan tidak ada pernikahan yang sebenarnya.” bantahnya cepat. “Hubungan ini hanyalah konflik kepentingan.”
Cristopher berdiri, lalu melangkah perlahan membuat Lily tanpa sadar mundur selangkah. Jarak di antara mereka semakin dekat hingga Lily bisa merasakan napasnya.
“Kau pikir aku ingin menghabiskan waktu bersamamu?” lanjutnya dingin. “Jangan bermimpi terlalu tinggi. Malam ini hanyalah simbolis.”
“Aummm…!”
Tubuh besar Eri melompat, menghantam Cristopher hingga terdorong ke belakang.
Amarah Cristopher meledak. Ia menarik pedangnya dengan cepat. “Beraninya kau menyakiti Raja!” geramnya. “Kubunuh kau!”
Ia mengayunkan pedangnya di udara, namun belum sempat mencapai sasaran.
Shuuttt! Sebuah belati kecil melesat cepat, menggores lengannya dengan gerakan nyaris tak terlihat.
Pedang Cristopher terlepas dari genggamannya, lalu jatuh beradu dengan lantai. Ia menatap Lily dengan mata membesar.
“Kau…” suaranya tertahan. Ia menatap luka di lengannya, lalu belati yang kini tertancap di dinding. Kecepatannya mustahil untuk seorang wanita biasa.
“Jangan menyakiti singaku!” ucap Lily tenang, lalu duduk santai di kursi yang tadi diduduki Cristopher seolah tidak terjadi apa-apa. Eri menyusul dan berbaring di dekat kakinya, ekornya bergerak pelan namun tetap waspada.
“Seharusnya kau mengatakan sejak awal bahwa ini hanya pura-pura.” kata Lily sambil menghela napas panjang. “Jadi aku tidak perlu membuang energiku untuk bertengkar.”
Ia menyandarkan tubuhnya, berbaring menyamping di kursi itu, sepenuhnya tidak peduli pada raja yang baru saja ia lukai.
“Selamat beristirahat,” katanya ringan. Matanya terpejam, aktivitas seharian membuat tenaganya terkuras.
Cristopher menatap pedangnya di lantai, lalu luka di lengannya. Gadis ini telah melukai Raja… dan sekarang ia tertidur dengan santai?
“Kurang ajar,” batinnya menggeram.
Ia melangkah mendekat, berniat meluapkan amarahnya. Ia tak peduli Eri menatapnya dengan mulut terbuka. Namun langkahnya terhenti saat melihat mata lily terpejam dengan napas teratur.
Cristopher menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan. Tanpa berkata apa pun ia berbalik, berjalan menuju tempat tidur besar di sisi ruangan dan berbaring membelakangi Lily. Lengannya masih berdarah, sama seperti hatinya yang kian gelisah. Untuk pertama kalinya, seseorang yang tertidur dengan wajah lelah berhasil membuatnya menahan amarah.
Malam pertama Raja dan Ratu Kingdom Conqueror pun berlalu, bukan dengan hasrat melainkan adu mulut dua jiwa yang sama-sama enggan tunduk.
____
Jandice berdiri di depan cermin tinggi berbingkai emas. Cahaya lilin memantulkan bayangan wajahnya yang tegang. Dengan gerakan sengaja, ia menurunkan sedikit penutup bagian dadanya, memastikan lekuk itu terlihat jelas dan memikat. Senjata yang ia tahu, akan bekerja pada seorang pria.
Tangannya meraih gincu merah darah. Ia mengoleskannya perlahan, menekan bibirnya agar warnanya semakin berani. Matanya menyipit menilai pantulan dirinya sendiri.
“Sempurna,” bisiknya.
Ia mengangkat dagu, menonjolkan dadanya dengan percaya diri, lalu melangkah cepat keluar kamar. Gaunnya berdesir mengikuti langkahnya yang penuh abisi terpendam. Malam ini, ia akan memastikan rencananya berhasil.
Royal Palace berdiri megah di hadapannya, sunyi dan dijaga ketat. Begitu Jandice mendekat, dua pengawal segera menghadang.
“Singkirkan tanganmu,” bentaknya emosi. “Aku ingin bertemu kakakku.”
Pengawal itu menunduk hormat, namun tidak bergeser. “Mohon maaf, Lady Jandice. King Cristopher menginap di Royal Chambers malam ini.”
Kalimat tu membakar amarahnya lebih dalam.
“Apa?” Suaranya meninggi, tangannya mengepal di sisi gaunnya. “Royal Chambers…?”
Wajahnya memerah, lagi-lagi ia kalah satu langkah.
“Gadis hutan itu,” batinnya menghentak, nyaris menyumpah. Sepatunya menghantam lantai dengan kasar. “Awas kau!”
Jandice berbalik, meninggalkan Royal Palace dengan kebencian di dadanya yang tumbuh semakin pekat.
knp blm up?
awalnya selalu double up.. lama lama satu up itu pun spti menunggu bulan purnama.. sedih pembaca