Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Malam pertama di kontrakan petak itu terasa seperti berada di dalam liang lahat yang pengap. Nabila bersandar di dinding semen yang lembap, merasakan dinginnya lantai meresap ke dalam tulang-tulangnya.
Di luar, suara knalpot motor yang memekakkan telinga dan teriakan penjual nasi goreng keliling menjadi musik latar yang sangat asing baginya.
Ia baru saja kehilangan segalanya, apartemen mewahnya, reputasi menterengnya di firma hukum, hingga martabatnya di mata publik. Namun, saat ia meraba tas ranselnya dan merasakan kerasnya kotak logam Hendri, ia tahu bahwa perang ini belum berakhir.
Siska mungkin telah menghancurkan istananya, tapi Siska lupa bahwa seorang pengacara paling berbahaya adalah mereka yang sudah tidak lagi memiliki beban untuk kehilangan apa pun.
~~
Nabila terbangun karena suara air yang menetes dari atap bocor tepat di samping bantal daruratnya yang terbuat dari tumpukan pakaian. Ia mengerang, mencoba menggerakkan tubuhnya yang kaku.
Luka di dahinya berdenyut-denyut, dan saat ia berkaca di cermin kecil yang retak di kamar mandi, ia melihat sosok yang hampir tidak ia kenali. Matanya cekung, rambutnya kusut, dan ada kemarahan yang membeku di tatapannya.
Ia tidak punya waktu untuk mengasihani diri sendiri. Pagi itu, ia harus menghadapi kenyataan pahit lainnya. Saat ia mencoba menarik uang di ATM dekat gang, layar menunjukkan - SALDO TIDAK CUKUP.
Siska benar-benar bekerja sangat rapi. Rekening bersama miliknya dan Arga telah dibekukan atas permintaan penyidik kepolisian dengan alasan 'Aset yang diduga berasal dari penggelapan dana perusahaan'.
Nabila kini benar-benar lumpuh secara finansial. Ia berdiri di depan mesin ATM, menahan tangis yang menyesak di dada. Di sekitarnya, orang-orang lalu lalang, beberapa di antaranya menatapnya dengan curiga karena masker dan topi lebarnya.
"Aku harus bergerak cepat," bisiknya pada diri sendiri. "Dante tidak akan berhenti sampai aku menyerah."
Nabila tahu rekaman audio dari Surabaya itu sangat kuat, tapi di era manipulasi AI, suara saja bisa dengan mudah dianggap palsu atau hasil rekayasa. Ia butuh bukti bahwa foto-foto dan video yang disebarkan Dante adalah hasil manipulasi forensik digital.
Ia teringat sebuah nama yang pernah disebut oleh salah satu klien lamanya, seorang peretas legendaris yang dikenal dengan julukan 'The Ghost'. Pria ini konon bisa membedah setiap piksel dalam sebuah file digital dan membuktikan keasliannya.
Masalahnya, The Ghost tidak bekerja untuk uang, ia hanya bekerja untuk kasus yang menurutnya menantang.
Nabila menghabiskan sisa siangnya di sebuah warnet kumuh, karena ia takut menggunakan jaringan publik yang bisa dilacak Dante. Ia mulai menyelusuri forum-forum gelap hukum yang pernah ia kunjungi. Setelah berjam-jam, ia mendapatkan sebuah petunjuk, sebuah alamat di pasar loak elektronik di kawasan Jakarta Pusat.
Pasar itu sangat ramai, berisik, dan penuh dengan aroma kabel terbakar. Nabila berjalan di antara tumpukan televisi tua dan tumpukan motherboard.
Di sudut paling belakang, di sebuah kios tanpa papan nama yang dipenuhi layar monitor yang menyala, ia menemukan seorang pria kurus dengan kacamata tebal sedang asyik menyolder sesuatu.
"Aku mencari The Ghost," ucap Nabila langsung.
Pria itu bahkan tidak mendongak. "Ghost sudah mati. Yang ada di sini cuma tukang servis radio."
Nabila meletakkan sebuah flashdisk di meja kerja pria itu. Di dalamnya terdapat file foto manipulasi Arga di Singapura yang ia unduh dari portal berita Dante. "Aku butuh forensik digital untuk ini. Ini soal hidup dan mati seorang pria yang difitnah oleh Siska Roy."
Mendengar nama Siska Roy, gerakan tangan pria itu berhenti. Ia mendongak, menatap Nabila melalui lensa kacamatanya yang kotor. "Siska Roy? Istri pemilik Airborne itu? Kau Nabila Mandala, kan? Istri predator itu?"
"Suamiku bukan predator!" Nabila menekan suaranya, matanya berkilat tajam. "Dia adalah korban dari pola yang sama yang dilakukan Siska lima tahun lalu di Surabaya. Aku punya rekamannya. Aku butuh kau untuk membuktikan bahwa foto-foto ini adalah sampah digital yang dibuat Dante."
Pria itu mengambil flashdisk itu, memasukkannya ke salah satu komputernya. Jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang luar biasa. Barisan kode hijau mengalir di layar.
"Editannya cukup rapi," gumam The Ghost. "Mereka menggunakan Deepfake generasi terbaru untuk menyesuaikan pencahayaan dan bayangan. Orang awam tidak akan pernah tahu ini palsu. Bahkan ahli forensik polisi biasa mungkin akan terkecoh."
"Bisa kau bedah?" tanya Nabila penuh harap.
"Bisa. Tapi butuh waktu. Dan Siska punya tim cyber yang akan menyerang balik serverku jika mereka tahu aku membantu kalian," The Ghost bersandar di kursinya. "Kenapa aku harus membantumu? Kau tidak punya uang, rumahmu di kontrakan kumuh, dan seluruh Indonesia membencimu."
"Karena jika kau diam saja, orang-orang seperti Siska dan Dante akan terus menganggap dunia ini adalah taman bermain mereka di mana mereka bisa menghancurkan hidup siapa pun hanya dengan satu klik," jawab Nabila mantap. "Kau benci mereka, kan? Orang-orang yang merasa bisa membeli kebenaran?"
The Ghost terdiam, lalu sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang pucat. "Kembalilah besok malam. Dan pastikan kau tidak diikuti. Karena jika mereka menemukanku, kita berdua akan berakhir di karung di dasar kanal."
Nabila pulang ke kontrakannya saat hujan mulai turun lagi. Kondisi fisiknya mulai menurun, demam mulai menyerang karena luka di kepalanya yang belum sempat dirawat dengan benar. Ia hanya membeli sebungkus mie instan dan obat penurun panas di warung depan.
Namun, saat ia sampai di depan pintu kontrakannya, ia membeku. Pintu kayu yang keropos itu sudah terbuka sedikit.
Nabila mencengkeram tas ranselnya, jantungnya berdegup kencang. Ia masuk dengan perlahan. Ruangannya sudah berantakan. Koper-kopernya dibongkar, pakaiannya berserakan di lantai, dan yang paling mengerikan... ada sebuah pisau dapur yang tertancap di bantal tempat ia tidur semalam.
Di dinding semen yang kusam, ada tulisan merah menggunakan cat semprot.
"SERAHKAN REKAMANNYA ATAU KAU AKAN MENYUSUL HENDRI."
Nabila jatuh terduduk. Ia merasa dikepung. Dante tidak hanya menggunakan media sosial, dia sudah mengirim orang-orang untuk melacaknya hingga ke lubang tikus ini.
Rasa takut yang sangat besar sempat melumpuhkannya, namun saat ia melihat ke arah kotak logam Hendri yang ternyata ia bawa di tas, keberaniannya kembali muncul.
Ia tidak bisa tinggal di sini lagi. Ia harus berpindah tempat setiap malam.
~~
Nabila menghabiskan malam itu di sebuah masjid di pinggiran kota, meringkuk di sudut area wanita dengan tas yang ia peluk erat sebagai bantal. Ia terus memikirkan Arga. Bagaimana kondisi suaminya di dalam sel? Apakah Dante juga mengirim orang ke sana?
Ia mengirimkan pesan singkat ke nomor Anton, mantan detektif yang pernah ia sewa. "Anton, aku butuh kau menjaga Arga di tahanan. Siska mulai bermain fisik. Aku punya kartu as, tapi aku butuh waktu. Jangan biarkan mereka menyentuh Arga."
Anton membalas. "Akan kucoba, Nabila. Tapi kau juga dalam bahaya besar. Dante sudah menyewa pembunuh bayaran dari kelompok utara. Jangan kembali ke kontrakanmu."
Nabila mematikan ponselnya. Ia menatap kubah masjid yang remang-remang. Ia teringat janjinya pada Arga. Untuk lebih baik atau lebih buruk. Ia tidak pernah menyangka lebih buruk akan berarti seperti ini.
Namun, di tengah penderitaannya, Nabila merasa lebih hidup dari sebelumnya. Ia bukan lagi sekadar pengacara korporasi yang bermain dengan dokumen, ia adalah satu-satunya benteng pertahanan bagi pria yang ia cintai.
Keesokan paginya, Nabila melakukan sesuatu yang nekat. Ia tidak menunggu The Ghost menyelesaikan pekerjaannya. Ia mendatangi kantor pusat Airborne Group.
Tentu saja, ia tidak masuk lewat pintu depan. Ia menunggu di area parkir bawah tanah, bersembunyi di balik pilar beton yang gelap. Ia menunggu mobil Rolls-Royce milik Pak Roy.
Saat mobil itu masuk ke slot parkir khususnya, Nabila berlari keluar sebelum ajudan Pak Roy sempat bereaksi.
"Pak Roy! Tolong dengarkan saya!" teriak Nabila.
Ajudan Pak Roy segera menahan Nabila, hampir membantingnya ke lantai. Pak Roy, yang terlihat sangat tua dan lelah, keluar dari mobil dengan wajah bingung.
"Nabila? Apa yang kau lakukan di sini? Siska bilang kau..."
"Siska membohongi Anda, Pak! Dia memfitnah Arga! Dia menggunakan pola yang sama seperti yang dia lakukan pada Hendri di Surabaya!" Nabila meronta di genggaman ajudan. "Tolong, Pak. Lihat rekaman ini. Hanya lima menit. Jika setelah mendengar ini Anda masih percaya pada Siska, saya akan menyerah dan membiarkan diri saya dipenjara!"
Pak Roy menatap wajah Nabila yang terluka dan kuyu. Ia melihat ketulusan yang murni, sesuatu yang tidak ia temukan pada istrinya akhir-akhir ini.
"Lepaskan dia," perintah Pak Roy pada ajudannya.
Pak Roy menatap Nabila dengan pandangan tajam. "Ikut ke kantorku lewat lift pribadi. Jika kau berbohong, Nabila... aku sendiri yang akan memastikan kau dan Arga hancur berkeping-keping."
Nabila mengangguk lemah. Ini adalah pertaruhan terakhirnya. Jika Pak Roy tetap membela Siska, maka semua bukti yang ia miliki tidak akan ada gunanya di hadapan kekuatan uang Mandala.
Nabila melangkah masuk ke lift pribadi menuju lantai teratas, sementara di lantai yang sama, Siska sedang tertawa bersama Dante di ruang kerjanya, tidak menyadari bahwa mangsa yang mereka anggap sudah hancur kini berada hanya beberapa meter dari mereka.
...----------------...
**Next Episode**....
Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰