"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
"Kita sudah sampai, turunlah," ucap Jimmy menoleh ke arah Leana yang rambutnya acak-acakan dan wajahnya sembab karena terlalu banyak berteriak.
Tanpa sepatah kata pun, Jimmy menarik ujung sabuk pengaman, melepaskan lilitan yang mengikat tangan Leana. Namun, sebelum Leana sempat menarik napas lega atau melayangkan tamparan, Jimmy sudah bergerak lebih cepat.
Ia melepas sabuk kulit hitam yang melingkar di pinggangnya sendiri dengan sekali sentakan.
"Apa lagi sekarang?!" pekik Leana.
Dalam hitungan detik, kedua pergelangan tangan Leana kembali terikat, kali ini dengan sabuk kulit milik pria itu.
Jimmy keluar dari mobil, memutari kap dan membuka pintu penumpang dengan kasar. Tanpa aba-aba, ia menyambar tubuh Leana, menyampirkannya di bahu kokohnya seperti membopong karung beras.
"Turunkan aku Jimmy! Kau kasar sekali!" Leana berulang kali memukul punggung Jimmy dengan tangan yang terikat dan kakinya menendang udara tanpa henti.
Jimmy terus berjalan menuju lift, mengabaikan protes keras gadis itu.
"Kau yang meminta aku berhenti menganggapmu anak kecil, bukan? Jadi, berhentilah merengek seperti bocah yang kehilangan mainannya," ucap Jimmy.
Di depan pintu apartemen, Jimmy harus sedikit menurunkan posisi Leana untuk menekan kode akses. Saat itulah, pertahanan Leana runtuh. Amarahnya berubah menjadi kesedihan yang kekanak-kanakan.
"Aku tidak mau masuk kalau kau meninggalkanku sendirian di kamar!" rengek Leana tiba-tiba dengan suara serak.
Jimmy berhenti sejenak, sementara tangannya masih di atas panel angka.
"Ini sudah jam dua pagi, Leana. Kau harus tidur."
"Aku tidak bisa tidur sendirian! Kau tahu itu!" Leana mulai terisak di bahu Jimmy. "Biasanya ada Kak Malika. Dia yang selalu menemaniku kalau aku mimpi buruk atau tidak bisa tidur. Sekarang dia jauh, kak Alex membawanya pergi, semua orang meninggalkanku!"
Jimmy menghela napas panjang seraya membuka pintu dan melangkah masuk. Lalu menurunkan Leana di sofa ruang tamu dan melepaskan ikatan sabuk di tangan Leana.
"Kau punya pengawal di depan pintu, kau punya pelayan yang bisa dipanggil kapan saja. Kau tidak sendirian," ucap Jimmy dingin, meski matanya menatap lebam kemerahan di pergelangan tangan Leana akibat sabuk tadi. Ada sekelibat rasa bersalah yang ia sembunyikan dengan baik.
"Mereka bukan kau! Dan mereka bukan Malika yang lucu dan menggemaskan itu!" Leana menarik ujung kemeja Jimmy, matanya yang besar dan basah menatap pria itu dengan tatapan memohon yang bisa meruntuhkan gunung es mana pun.
"Jangan pergi, Jim. Kepalaku sakit kalau aku dipaksa tidur sendirian. Aku takut," ucap Leana lagi.
Jimmy terdiam. Inilah sisi Leana yang paling sulit ia lawan. Gadis ini tahu persis bahwa di balik sikap dinginnya sebagai asisten kepercayaan keluarga Diego, Jimmy memiliki titik lemah untuk segala hal yang berhubungan dengan kenyamanan Leana.
"Kau hanya ingin mencari perhatian lagi, kan?" tuduh Jimmy.
"Aku serius, tubuhku dingin semua." Leana meraih tangan besar Jimmy dan menempelkannya ke pipinya yang hangat. "Tolong, satu malam saja. Temani aku sampai aku tidur."
Jimmy memejamkan mata, merutuki dirinya sendiri yang merasa luluh. Ia melepaskan jas hitamnya dan melemparnya ke sembarang arah, menyisakan kemeja putih yang dua bagian kancing atasnya sudah terbuka.
"Hanya sampai kau tertidur," tegas Jimmy. Ia membungkuk, menyisir rambut Leana yang berantakan dengan jari-jarinya. "Masuk ke kamar. Mandi dan ganti pakaianmu."
Leana tersenyum tipis di balik sisa tangisnya. "Kau akan tetap di sini?"
"Aku akan membuatkanmu susu hangat. Sekarang masuk, atau aku berubah pikiran dan mengikatmu lagi di kursi," ancam Jimmy.
Leana segera berlari menuju kamar dengan penuh kemenangan. Sedangkan di belakangnya, Jimmy berdiri menatap telapak tangannya sendiri yang masih terasa hangat bekas pipi Leana.
"Ayahmu akan membunuhku jika dia tahu aku membiarkanmu melakukan ini padaku," gumamnya lirih sembari menuju dapur.
Setelah selesai di dapur, Jimmy melangkah masuk sambil membawa segelas susu hangat menuju kamar Leana. Ia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu karena kebetulan, Leana sedikit membukanya.
"Lea, minumlah sus hangat ini lalu segera—"
Kalimat Jimmy menggantung di udara. Gelas di tangan Jimmy yaris terlepas saat kedua matanya menangkap pemandangan di tengah kamar.
Leana berdiri membelakanginya, tepat di bawah cahaya lampu yang memperlihatkan punggung yang mulusnya. Gaun yang tadi ia kenakan sudah meluncur jatuh ke lantai, menyisakan gadis itu dalam keadaan tanpa busana.
"Shit!" maki Jimmy dalam hati dan cepat-cepat memalingkan wajah ke arah lain. "Leana! Apa yang kau lakukan? Aku bilang mandi dan ganti pakaian, bukan bertelanjang di depanku!"
Leana tidak berbalik. Ia justru sengaja membiarkan rambut panjangnya tersampir ke satu bahu, mengekspos tengkuk dan garis punggungnya yang menggoda.
"Aku tidak bisa menjangkau ritsleting belakangnya sendiri, Jim. Lagipula, bukankah kau bilang ingin melihatku sebagai wanita?"
"Pakai pakaianmu sekarang!" seru Jimmy.
Di bawah sana, celananya terasa sesak dan menyakitkan. Kejantanannya berdenyut, menuntut pelepasan yang seharusnya tidak boleh ia lakukan.
Leana berbalik perlahan dan tanpa malu sama sekali, ia melangkah mendekat pada Jimmy.
"Kau takut, Mr. Mafia? Kau takut kalau kau melihatku, kau tidak akan bisa berhenti?"
Keringat dingin mengucur di pelipis Jimmy. Saat aroma sabun dan feromon Leana mengepung indranya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik gadis itu. Matanya menangkap lekuk tubuh Leana yang sempurna, jauh dari citra gadis kecil yang selama ini ia tanamkan di kepalanya.
"Kau benar-benar ingin bermain api denganku, Lea?" Jimmy menggeram, suaranya terdengar seperti predator yang sedang dipojokkan. Ia meletakkan gelas susu itu dengan kasar di atas nakas hingga isinya sedikit tumpah.
"Bakar aku kalau begitu," bisik Leana, kini ia sudah berada tepat di depan Jimmy, tangannya yang mungil merambat naik ke dada bidang pria dewasa itu.
Jimmy mencengkeram bahu Leana, niatnya ingin menjauhkan gadis itu, tapi sentuhannya justru membakar sisa kewarasannya.
"Sialan," geram Jimmy sebelum akhirnya ia menunduk dan membiarkan wajahnya tenggelam di leher Leana, menghirup aroma yang akan menjadi candu barunya.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁