Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 28_Titik Lemah
Adrian melangkah maju satu langkah, menatap Romi dan Siska dengan pandangan yang sangat tenang, ketenangan yang justru membuat Romi sedikit gentar.
"Tuan Romi." suara Adrian terdengar rendah namun jelas.
"Kalau saya benar-benar Adrian Arkadia yang Anda maksud, mengapa saya berdiri di sini dengan tangan yang pecah-pecah karena semen? Mengapa saya tinggal di kamar yang sempit ini?" ucapnya.
Adrian menunjukkan tangannya yang kasar dan terluka ke arah warga.
"Apakah menurut kalian, pria yang punya triliunan rupiah akan membiarkan kulitnya terbakar matahari dan makan nasi bungkus basi hanya untuk sebuah permainan?"
"Itu karena kau gila!" teriak Siska.
"Kau sedang mempermainkan kakakku!" lanjutnya dengan teriak.
Adrian beralih menatap Siska.
"Siska, aku tahu kau sakit hati karena kariermu hancur. Aku tahu kau butuh uang. Tapi menuduh suami kakakmu sendiri atau kakak iparmu sebagai konglomerat hanya agar kau bisa memeras kami, itu adalah tindakan yang memalukan." seru Adrian.
Adrian kemudian menatap para tetangga.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, kalian lihat sendiri saya bekerja dari subuh sampai maghrib di proyek ruko depan. Apakah ada orang kaya yang mau melakukan itu? Pria ini, Romi dia baru saja dipecat dari kantornya karena mencuri, dan sekarang dia membawa Siska untuk mencari kambing hitam." lanjutnya menyerang Romi.
"Bohong! Kau bohong!" Romi mencoba menyerang Adrian secara fisik, namun Adrian dengan cekatan menghindar.
Dengan satu gerakan tangan yang efisien, sisa dari latihan bela diri elitnya ia mengunci lengan Romi dan mendorongnya pelan namun bertenaga hingga pria itu tersungkur ke tumpukan sampah di pinggir gang.
Warga bersorak, di mata mereka Adrian adalah pahlawan kecil yang sedang dizalimi oleh "orang-orang kota" yang sombong.
"Sudah, pergi sana!" teriak Pak RT yang baru datang.
"Jangan ganggu warga kami! Mau dia orang kaya atau kuli, selama dia di sini dia warga kami yang baik. Pergi sebelum kami panggil polisi!"
Siska dan Romi yang merasa malu dan kalah jumlah akhirnya mundur, Siska menatap Arumi dengan tatapan tajam.
"Ini belum berakhir, Kak! Aku akan membuktikan siapa dia sebenarnya!" ucapnya dengan benci.
Mobil mereka melesat pergi, meninggalkan debu dan kebencian di udara.
Setelah warga bubar, Adrian dan Arumi kembali masuk ke dalam kontrakan.
Suasana mendadak menjadi sangat canggung. Arumi duduk di tepi tempat tidur kayu, menatap lantai semen yang dingin.
"Arumi..." panggil Adrian pelan.
"Mas... apa yang mereka katakan tadi... sebagian besar adalah benar, kan?" tanya Arumi tanpa menoleh.
"Kau memang Adrian Arkadia, dan pria bernama Romi itu mengenalmu." seru Arumi.
Adrian duduk di lantai, di depan kaki Arumi.
"Dia mengenalku, iya. Tapi apa yang aku katakan tadi juga benar, Arumi. Saat ini, di sini, aku bukan siapa-siapa, aku hanya pria yang bahunya perih karena semen. Aku tidak menggunakan sepeser pun uang itu untuk menghadapi mereka tadi." ucap Adrian.
Arumi mendongak, matanya berkaca-kaca.
"Kenapa hidup kita harus serumit ini? Kenapa kau tidak bisa menjadi Ian yang sederhana sejak awal? Setiap kali aku mencoba melupakan identitasmu, dunia selalu mengingatkanku bahwa kau adalah matahari yang terlalu silau untukku."
Adrian meraih tangan Arumi, mengecup telapak tangannya yang kasar karena mulai banyak bekerja.
"Karena aku tidak ingin menjadi matahari yang membutakanmu, Arumi. Aku ingin menjadi lampu kecil yang menerangi jalanmu saat kau gelap. Biarkan aku membuktikannya selama tiga bulan ini, hanya tiga bulan. Setelah itu, kau yang berhak memutuskan apakah kita akan terus di gang ini, atau kau bersedia mendampingiku di singgasana Arkadia." ucapnya.
Arumi menghela napas panjang, kepalanya bersandar di bahu Adrian yang masih beraroma debu konstruksi.
"Tidurlah, Mas. Besok kamu harus bekerja lagi." ucap Arumi.
Di dalam mobil yang melaju menjauh, Romi memukul kemudi dengan marah.
"Sialan! Dia benar-benar berkomitmen dengan perannya sebagai gembel." ucapnya dengan marah.
Siska menyeka air matanya, wajahnya kini terlihat sangat menyeramkan karena dendam.
"Dia punya titik lemah, Romi. Kakeknya. Tuan Haris Arkadia."
Romi menoleh. "Maksudmu?"
"Kakeknya sangat peduli pada reputasi keluarga. Jika kita tidak bisa membuat Arumi membenci Adrian, kita akan membuat kakeknya membenci Arumi. Kita akan membuat skandal seolah-olah Arumi adalah wanita yang haus harta dan sedang mencoba menjerat Adrian dalam kontrak pernikahan yang merugikan perusahaan."
Siska tersenyum licik. "Aku punya rekaman suara Arumi yang lama, saat dia sedang membicarakan soal ingin hidup enak. Aku bisa mengeditnya. Kita akan kirimkan itu pada Tuan Haris."
Tanpa mereka sadari, di bayang-bayang gang tadi, seorang pria berpakaian hitam dengan alat perekam canggih telah merekam seluruh kejadian itu. Itu adalah anggota tim keamanan Hendra.
"Tuan Muda tetap tenang, tapi situasinya semakin memanas," lapor pengawal itu kepada Hendra melalui sambungan telepon.
Hendra, yang berada di dalam mobil operasionalnya yang tersembunyi, mengangguk.
"Jangan campuri dulu. Tuan Muda ingin memenangkan hati Nyonya Arumi dengan tangannya sendiri. Tapi awasi Siska dan Romi. Jika mereka mulai menyentuh Tuan Haris, itu adalah zona merah yang tidak boleh dilewati."
Malam itu, di bawah atap seng yang sesekali berbunyi karena tiupan angin, Adrian memeluk Arumi dalam tidurnya.
Ia tahu, setiap hari yang berlalu adalah ujian, bukan hanya ujian bagi otot-ototnya yang mulai terbiasa dengan kerja kasar, tapi ujian bagi cintanya yang sedang dikepung oleh badai kebohongan dari masa lalu.
Ia berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Arumi menangis lagi karena identitasnya.
Pagi buta di gang sempit itu kembali dimulai dengan suara kokok ayam tetangga yang bersahut-sahutan dengan bunyi mesin motor yang dipanaskan.
Adrian terbangun dengan rasa kaku yang luar biasa di sekujur punggungnya. Luka lecet di bahunya sudah mengering, namun sensasi perihnya masih terasa setiap kali ia menggerakkan lengan.
Di sampingnya, Arumi sudah tidak ada.
Adrian bangkit dan melangkah ke arah dapur kecil, ia menemukan Arumi sedang sibuk dengan beberapa lembar kertas sisa dan penggaris kayu tua.
Arumi sedang mencoba membuat sketsa awal untuk ide renovasi yang sempat disinggung Adrian semalam.
"Kau bangun sepagi ini untuk ini?" tanya Adrian sambil mengucek matanya.
Arumi menoleh, ada gurat kelelahan di matanya, namun semangatnya tampak menyala.
"Aku tidak bisa tidur setelah kejadian semalam, Mas. Aku berpikir jika tidak ada kantor besar yang mau menerimaku, maka aku harus membuktikan nilaiku lewat proyek apa pun. Sekecil apa pun itu." ucapnya dengan begitu senang.
Adrian tersenyum bangga, ia mendekat lalu mencium puncak kepala istrinya yang masih beraroma sabun batang murah.
"Aku berangkat sekarang. Aku akan bicara pada Pak Haji, pemilik toko material itu. Dia orangnya praktis. Kalau dia suka idemu, kau akan langsung dapat uang muka hari ini." pamit Adrian.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡