Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.
Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.
Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.
Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Rion?" Keyvandi yang merasa namanya dipanggil menoleh kearah suara. Seorang lelaki tinggi berjalan mendekat kearahnya sambil tersenyum.
Keyvandi yang tadi sedang fokus memberi makan ikan-ikan di akuarium ruangannya itu langsung menghentikan aktifitasnya. Lelaki yang merupakan seorang penyanyi sekaligus selebritis terkenal saat ini itu membalas senyuman lelaki tinggi tadi.
"Justine? Ada apa kau kemari? Tidak biasanya?" Heran Keyvandi, lelaki itu meletakkan bungkus makanan ikat ditempatnya, lalu kemudian ia berjalan kearah sofa didalam ruangannya.
Justine menghembuskan napasnya pelan, lelaki tinggi itu mendudukkan dirinya diatas sofa. "Kau ini to the point sekali."
Keyvandi terkekeh pelan, "Hei, seperti baru mengenalku saja. Aku tidak suka basa-basi Bro."
"Ahh baiklah, aku kemari ingin menawarkan kontrak denganmu, apa kau mau?" Ujar Justine sambil menyerahkan sebuah map berwarna biru kearah Keyvandi.
Keyvandi tersenyum, lelaki itu mengambil map dari Justine dan membukanya. Ia membaca dengan teliti setiap kata yang tertulis didalam map itu. Setelahnya lelaki itu beralih menatap Justine. "Mari kita bicarakan ini. Disini tertulis jika nantinya aku akan kolaborasi dengan salah satu musisi Indonesia bernama Leo Pradana. Apa kau juga sudah menghubunginya?"
"Ya, aku sudah menghubunginya. Ngomong-ngomong mungkin kita akan melaksanakan meeting dengannya, nanti aku akan menghubungimu jika waktunya bsudah ditentukan. Aku sangat tidak sabar menyatukan dua musisi yang sedang naik daun sekarang didalam satu proyek. Pasti benar-benar menakjubkan." Justine tersenyum menerawang.
Keyvandi hanya diam, lelaki itu tampak berpikir sesuatu sampai akhirnya ia kembali berbicara. "Aku harap juga begitu." Gumamnya pelan, namun masih dapat didengar oleh Justine.
"Hei Bro, kenapa kau seperti tidak bersemangat? Bukankah ini akan bagus bagi karirmu kedepannya? Aku yakin jika kau berkolaborasi dengan Leo Pradana, karir kalian akan semakin naik, dan tentu saja penggemarmu akan semakin banyak."
Keyvandi menatap Justine, "Entahlah, aku merasa jika ini tidak akan berhasil." Keyvandi juga tidak mengerti apa yang terjadi dengannya, tapi ia merasa jika hal ini tidak akan berjalan baik, tapi ia mneciba untuk menyingkirkan perasaan buruknya itu.
"Tenanglah Rion, jangan pesimis seperti itu. Kau adalah musisi yang sangat berbakat, begitupun dengan Leo Pradana. Aku yakin kalian akan berhasil." Justine menepuk pundak Keyvandi menenangkan lelaki itu agar tidak khawatir.
Ceklek
"Selamat pagi Rion." Seorang gadis dengan rambut pendeknya datang memasuki ruangan milik Keyvandi. Senyuman yang tadi menghias diwajahnya tiba-tiba saja hilang ketika melihat lelaki tinggi yang tak lain adalah Justine berada didalam ruangan milik Keyvandi.
"Kenapa ada dia disini?" Jutek gadis itu, sambil menutup pintu ruangan. Lalu ia berjalan kearah sofa disamping Keyvandi duduk.
Justine, lelaki itu memandang datar gadis tadi. Sedangkan Keyvandi hanya menggelengkan kepalanya heran dengan dua orang itu.
"Ini bukan ruanganmu, jadi siapa saja bisa datang kemari!" Galak Justine saat melihat gadis itu.
"Hei Bro, dengar ya, ini memang bukan ruanganmu, tapi ini ruangan Boss-ku jadi aku tidak mau kau datang kemari." Gadis tadi membalas ucapan dari Justine tak ingin kalah, ia banhkan menekan kata Boss di kalimat yang diucapkannya.
"Sudahlah, kenapa kalian bertengkar diruanganku? Kau juga Lia, lebih baik kau siapkan semua keperluanku hari ini. Jujur, aku pusing melihat perdebatan kalian." Keyvandi menghembuskan napasnya kasar, lalu lelaki itu berjalan kearah kursi kerja miliknya.
Justine dan Lia yang mendengar ucapan Keyvandi kemudian saling melempar tatapan sinis mereka. Tapi tak ada satupun yang berani mengeluarkan suara.
"Sana kalian berdua keluar saja. Aku akan bersiap-siap untuk datang kesekolah Abdi Bangsa sebentar lagi. Lia, siapkan semuanya." Ujar Keyvandi tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Tadi katanya menyuruhku keluar," Gumam Lia sambil berjalan ke arah meja Keyvandi, gadis itu menyusun berkas-berkas yang sudah ia siapkan di sana.
"Jangan membantahku, kau kan asisten sekaligus manajerku, jadi terserah diriku ingin mengatakan apa padamu."
Lia hanya menghembuskan napasnya pelan, Justine yang masih dudu di sofa ruang kerja Keyvandi hanya menahan tawanya melihat kekesalan gadis itu.
"Rasakan," Ejek Justine.
Sedangkan Lia, gadis itu menatap galak kearah Justine seolah berkata, awas kau ya, mati nanti.
***
"Despina kan?" Seorang lelaki dengan seragam basket miliknya menghampiri gadis cantik berambut ikal sepunggung itu.
Despina yang memang sedang berjalan seorang diri itu menjadi bingung. "Ada apa ya?"
Lelaki tadi tersenyum mendengar pertanyaan gadis itu. "Tidak ada, aku hanya ingin memberimu ini." Lelaki berseragam basket tadi mengulurkan sebatang coklat kearah gadis itu.
"Terimakasih. Tapi Despina tidak menyukai coklat. Apalagi dari lelaki sepertimu." Bukan, itu bukan Despina yang berbicara. Tapi seorang lelaki dengan masker dan juga kacamata hitam yang ia kenakan.
Despina dan lelaki berseragam basket tadi menatap lelaki bermasker tadi. "Kau ini siapa? Kembalikan coklat itu, aku memberikannya untuk Despina bukan untukmu."
Lelaki bermasker tadi tersenyum miring dibalik masker yang ia kenakan. "Ambilah. Despina tidak membutuhkannya."
Lelaki bermasker tadi melempar coklat itu pada lelaki berseragam basket tadi. Lalu ia menarik lembut tangan Despina dari hadapan lelaki berseragam basket. Despina pasrah saja mendapat perlakuan itu, ia juga sebenarnya bingung dengan apa yang terjadi padanya.
"Ah ya, jangan sekali-kali mendekati Despina lagi. Ia sudah memiliki kekasih, dan aku kekasihnya. Ingat baik-baik namaku, Keyvandi Orion." Ujar lelaki bermasker tadi, kemudian ia melanjutkan langkahnya dengan tangan Despina yang masih berada didalam genggamannya.
Keyvandi membawa Despina ketaman belakang sekolah. Kedua anak manusia berbeda jenis kelamin itu duduk disalah satu kursi yang berada dibawah pohon. Despina masih diam, gadis itu menundukkan kepalanya takut. Keyvandi yang melihat itu tersenyum kecil. Lelaki itu membuka kacamata hitam dan masker yang ia kenakan.
"Hai Despina. Kita bertemu lagi, apa kau ingat kata-kataku saat pertemuan kedua kita?"
Despina perlahan mengangkat kepalanya, gadis itu menatap mata Keyvandi sebentar kemudian kembali menunduk. Namun akhirnya, Despina menganggukkan kepalanya.
Keyvandi gemas dengan sikap gadis SMA dihadapannya itu. "Maukah kau menjadi kekasihku?" Ucap lelaki itu dengan nada serius, terdengar jelas jika ia sedang tidak bermain-main sekarang.
Keyvandi memegang bahu Despina pelan, "Jika ada seseorang yang berbicara denganmu, tataplah matanya Despina."
Despina yang mendengar ucapan Keyvandi kembali mengangkat wajahnya, gadis itu memberanikan diri menatap mata lelaki yang tak lain adalah seorang musisi itu.
"Bagaimana? Apa kau bersedia menjadi kekasihku?"
Despina masih diam saja, gadis itu mendadak menjadi seperti orang bisu. Bahkan Despina merasa jika tubuhnya benar-benar kaku, untuk bergerak saja rasanya susah, apalagi berbicara. Ditambah lagi, ia sendiri bingung dengan Keyvandi. Lelaki itu baru bertemu sebanyak tiga kali dengannya. Tapi mengapa secepat itu memintanya menjadi kekasih. Padahal Keyvandi belum tau siapa Despina. Hal itu tentu membuat gadis itu takut.
"Baiklah, kau tidak perlu menjawabnya. Kau sekarang menjadi kekasihku, setuju ataupun tidak kau tetap harus menjadi kekasihku."
Despina membelalakkan matanya, "A-apa?" Ucapnya pelan, gadis itu tidak percaya dengan ucapan lelaki dihadapannya itu.
Keyvandi tersenyum, lalu lelaki itu menarik gadis yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu kedalam pelukannya. "Aku mencintaimu. Percayalah."
Lagi-lagi Despina hanya diam, gadis itu tidak tau akan berkata apa. Ia ingin memberontak, tapi berada didalam pelukan seorang Keyvandi benar-benar membuatnya nyaman. Ia merasa Keyvandi seperti seorang pelindung untuknya. Sehingga perlahan sudut bibir gadis itu terangkat. Ia tidak munafik, ia merasa jika Keyvandi lelaki yang tepat untuknya.
***
Setelah drama keyvandi dan Despina menjadi sepasang kekasih tadi, kini seluruh murid Abdi Bangsa diminta untuk berkumpul di Aula sekolah. Kebanyakan dari mereka bingung, namun tak ambil pusing akan hal itu, yang terpenting bebas dari jam pelajaran itu lebih baik.
Despina duduk dibarisan paling depan bersama sahabatnya, Dandelion Asmara. Gadis itu adalah sahabat baik Despina, dan satu-satunya yang Despina percayai.
"Ngomong-ngomong ada apa ya? Mengapa kita dikumpulkan disini?" Delion, panggilan gadis dengan bando pink dikepalanya itu menoleh kearah Despina. Despina sendiri juga tidak tau, yang pasti kepala sekolah mengumpulkan mereka semua pasti karena ada sesuatu penting yang harus dibicarakan.
"Entahlah, aku juga tidak tau."
Delion dan Despina akhirnya saling diam. Kedua gadis itu tenggelam kedalam pikiran mereka masing-masing.
"Bisakah kalian minggir!?" Seorang gadis berambut ombre biru dan kedua temannya datang menghampiri Despina dan Delion. Delion menatap tajam gadis tadi, sedangkan Despina hanya diam saja. Kemudian Despina ingin menarik tangan Delion agar pindah, dan menuruti kata-kata gadis berombre biru tadi. Namun Delion menolak, ia tetap kekeuh berada disana.
Akhirnya, Despina hanya bisa pasrah saja dengan Delion. Gadis itu kembali duduk ditempatnya walau ia tau akan mendapat masalah nantinya.
"Ternyata kalian berdua memang tuli ya!?" Gadis berombre biru tadi melirik kedua temannya. Teman-teman gadis itu tersenyum miring, kemudian dengan paksa menarik Despina dan Delion. Despina dan Delion memberontak karena tidak terima diperlakukan seperti itu. Kelima gadis itu sekarang sudah menjadi pusat perhatian ditengah ramainya Aula. Sampai sebuah langkah kaki memasuki Aula membuat mereka semua terdiam. Seorang lelaki menggunakan masker,topi dan kacamata hitamnya berjalan dengan tenang kearah panggung Aula ditemani oleh asisten, kepala sekolah dan juga bebarapa staf serta guru.
Ketika sudah berada diatas panggung, kepala sekolah berdiri diatas mimbar untuk berbicara kepada seluruh penghuni aula.
"Selamat siang semuanya." Semua murid Abdi Bangsa yang berada didalam aula menjawab sapaan dari kepala sekolah. Termasuk Despina, Delion, dan ketiga gadis yang tadi mengganggu mereka.
"Kalian berlima yang masih berdiri silahkan duduk ditempat masing-masing." Despina dan Delion duduk dikursi mereka tadi. Sedangkan ketiga gadis yang mengganggu mereka tampak bingung mencari tempat duduk.
"Jenita Bara, Angela Merkel, Kelia agreo. Kalian bertiga silahkan duduk dikursi masing-masing. Cari kursi yang masih kosong," Ucap kepala sekolah dari atas panggung. Mendengar hal itu terpaksa Jenita dan kawan-kawannya berjalan kebelakang dan mencari tempat yang kosong. Namun ketiga gadis itu melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Despina dan Delion.
Setalah semuanya tertib, kepala sekolah kembali berbicara. Ia menjelaskan tentang maksud dan tujuan mengapa seluruh murid Abdi Bangsa dikumpulkan di Aula. "Baiklah, saya akan menjelaskan maksud dan tujuan mengapa kalian semua dikumpulkan di Aula ini. Kalian juga pasti penasaran dengan lelaki yang datang bersama kami tadi bukan?"
"Tujuan kalian dikumpulkan di Aula ini karena kami akan memperkenalkan pemilik baru dari yayasan Abdi Bangsa ini."
Kepala sekolah Abdi Bangsa tersenyum, kemudian beliau mempersilahkan Keyvandi untuk maju kedepan dan memperkenalkan dirinya. Lelaki itu menuruti apa yang kepala sekolah minta. Ia maju kedepan, kemudian membuka masker, topi serta kacamata hitam yang ia kenakan.
Tentu saja hal itu sontak membuat penghuni Aula terutama kaum hawa berteriak histeris. Seseorang yang sekarang banyak diidolakan oleh berbagai macam kalangan dari yang muda hingga yang tua tepat dihadapan mereka. Benar-benar tidak terduga. Delion shock melihat itu, sedangkan Despina, gadis itu justru tanpa sengaja bertemu pandang dengan Keyvandi.
"Selamat siang semuanya." Keyvandi tersenyum ramah, lelaki itu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru aula yang tampak ramai dan heboh. Namun fokus lelaki itu berakhir pada seorang gadis manis yang beberapa jam lalu menjadi kekasihnya.
"Kalian tentu sudah mengenalku bukan? Aku yakin setidaknya satu atau dua orang diantara kalian mengetahui siapa aku. Ya, perkenalkan namaku Keyvandi Orion, atau kalian biasa lebih mengenalku dengan nama panggung yaitu Orion Key. Benar bukan?" Lagi-lagi sorakan dari siswi-siswi abdi bangsa membuat suasana menjadi ramai.
"Rion, minta follback Instagram aku ya."
"Rion ganteng banget."
"Nggak kuat lagi kalau udah liat Rion."
Yah kurang lebih seperti itulah jeritan-jeritan dari siswi-siswi yang menjadi penggemar Keyvandi. Despina menghembuskan napasnya pelan. Gadis itu mulai berpikir, bagaimana seorang Orion Key yang sangat sempurna menyukai dirinya yang merupakan gadis biasa. Gadis yang bahkan jauh dari kesempurnaan. Gadis yang tidak layak sama sekali menjadi kekasih bintang ternama seperti Orion Key.
"Despina? Des, Despina!?" Delion mencubit pelan tangan sahabatnya itu. Despina menjerit tertahan, gadis itu mengusap-usap tangannya yang tadi dicubit oleh Delion.
"Apa-apaan kau ini!?" Bisiknya pelan sambil menatap tajam Delion.
Delion menyengir lebar menampilkan giginya yang tertata rapi. "Tidak, aku hanya ingin menggodamu saja."
Despina memutar bola matanya malas, memang harus sabar memiliki sahabat tidak jelas seperti Delion. Ada saja tingkah aneh gadis itu yang membuat Despina ingin mengikat kedua kaki dan tangan Delion, agar gadis yang merupakan sahabatnya itu bisa diam.
"Tapi aku tadi mau mengatakan ini."
Despina kembali menatap Delion yang sedang berpikir sambil menyimpan jari telunjuknya didagu. Gadis itu mengerutkan keningnya. "Ada apa?"
"Kau mengidolakan Orion Key? Atau kau tau tentangnya?"
Despina menghembuskan napasnya pelan, gadis itu kemudian menatap kearah panggung tempat Keyvandi berdiri sambil berbicara. "Entahlah, bahkan aku baru tau sekarang jika ia merupakan seorang bintang."
"WHAT!!!"
Reflek Despina menutup mulut sahabatnya itu dengan tangannya. Sekarang kedua gadis itu menjadi pusat perhatian. Semua orang di Aula itu melihat kearah dua gadis itu.
"Ada apa dengan Nona berdua yang disana?" Tanya Keyvandi dengan menggunakan pengeras suara dihadapannya. Pandangan lelaki itu tertuju kearah Despina dan Delion, tidak, lebih tepatnya hanya kearah Despina. Despina yang menyadari jika ia ditatap oleh Keyvandi langsung menundukkan kepalanya. Tidak lupa gadis itu melepas tangannya dari mulut Delion. Delion bernapas lega, gadis itu tersenyum canggung dan meminta maaf.
"Baiklah, sepertinya semuanya sudah jelas bukan? Jika kurang jelas kalian bisa menanyakan kepada kepala sekolah. Saya rasa cukup sekian, terimakasih atas waktunya. Selamat siang." Ucap Keyvandi kemudian.
Akhirnya semua berakhir, semua murid di Aula dibubarkan dan langsung dipulangkan kerumah masing-masing. Begitu juga dengan Despina dan Delion, kedua gadis itu berjalan beriringan keluar dari Aula. Namun, tiba-tiba saja langkah Despina terhenti. Tangan seseorang menahan tangan gadis itu, Delion yang juga berada disana ikut berhenti. Gadis itu mengerutkan keningnya bingung.
"Ada apa?"
"Kau pulanglah terlebih dahulu Nona. Biar Despina bersamaku."
Delion yang sebenarnya bingung hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelahnya gadis itu keluar aula meninggalkan Despina dan Keyvandi berdua. Lia, asisten Keyvandi itu sudah terlebih dahulu pergi dijemput oleh Justine, itupun karena Keyvandi yang memaksa Justine, karena yang kita tau, kedua makhluk itu adalah musuh bebuyutan, jadi jika bukan karena Keyvandi yang memaksanya pasti Justine menolaknya, begitupun Lia, gadis itu pasti tidak sudi dijemput oleh Justine.
Keyvandi tersenyum menatap Despina, gadis yang kini berstatus menjadi kekasihnya. "Pulanglah bersamaku."
"Tap---"
"Tidak ada tapi-tapian. Kau tenang saja, tidak akan ada yang tau jika kau adalah kekasihku. Aku sudah mengurusnya."
Despina pasrah saja ketika tangan Keyvandi menariknya dengan lembut menuju mobil lelaki itu.
.
.
.
TBC