NovelToon NovelToon
Affair With My Bos

Affair With My Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Satu

"Ke mana semua uang tabunganku, mas?."

Dahlia masih bisa mengontrol emosinya padahal rasanya sudah sangat ingin meledak. Bisa-bisanya uang yang selama ini dia tabung untuk pergi haji orang tuanya menghilang dari rekening.

"Mas bisa menjelaskannya, sayang."

"Jelaskan lah, mas, aku siap mendengarkan."

Sambil menarik napas dia menatap wajah suaminya yang terlihat pucat pasi.

"Uang itu ada, sayang, mas pasti menggantinya. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Uangnya mas pakai untuk biaya pernikahan Ratna."

Reaksi Dahlia hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan rasa sesak di dada. Tidak ada teriakan histeris atau marah-marah yang berlebihan.

Pesta pernikahan mewah Ratna yang digelar tiga hari dua malam di sebuah di gedung mewah nyatanya menguras semua tabungannya.

"Uang dari Ricky masih banyak kurangnya dan mama minta sama aku terus menerus. Jadi terpaksa aku menggunakan uang itu, sayang, tapi tenang aja uangnya akan mas ganti."

"Kapan, mas?."

"Ya, paling akhir tahun."

"Tapi mamaku sudah harus melunasi sisanya, mas. Mama sudah dapat panggilan haji."

"Kamu pinjam aja dulu ke kantor."

Kembali Dahlia menggelengkan kepala, dia yang nabung, suaminya yang pakai itu uang dan sekarang dia yang harus repot cari pinjaman.

Kemudian Dahlia membuka lemari pakaiannya, mengingat masih ada simpanan lain yang bisa diuangkan dengan cepat. Lalu Dahlia menarik sebuah laci kecil dan seketika mata dan hatinya memanas. Tubuhnya lemah lunglai seperti tidak memiliki tulang untuk menopang.

Baru juga dia tahu uang tabungannya dipakai suaminya dan sekarang semua perhiasannya ikut hilang. Amarah yang terus menerus berusaha ditahannya kini meledak sudah.

"Apa di rumah ini ada pencuri?."

"Hati-hati bicara kamu, sayang!."

"Lalu ke mana semua perhiasanku, mas?. Nggak mungkin 'kan mereka jalan sendiri?. Pasti ada yang mengambilnya."

Ryan terdiam.

"Apa ada yang berani membuka lemari ini selain kita, mas?. Kalau masuk ke kamar ini, ibu dan Ratna sangat sering tapi masa iya...."

"Cukup, sayang!."

Ryan melangkah mendekati Dahlia tapi perempuan itu segera menjauh.

"Sejak kapan aku mulai banyak kehilangan?. Kenapa aku tidak menyadarinya?. Aku terlalu sangat percaya sama kamu dan keluarga kamu, mas, jadinya aku kecewa banget."

Walau bernada biasa tapi setiap kalimat yang dikeluarkan dari mulut Dahlia sudah menujukkan rasa sakit yang luar biasa.

"Perhiasanmu ada di pegadaian, sayang, mama meminjamnya untuk membayar arisan. Tapi nanti mama langsung ambil di pegadaian karena bulan besok jatah mama keluar."

"Mama lagi, mama lagi. Nggak bisa ya mama kamu itu nggak membuat masalah?."

"Tolong jangan bicara begitu tentang mama, sayang, aku nggak bisa begini kalau tanpa mama."

Dahlia diam, walau sekecewa itu dia terhadap mama mertuanya tapi tidak tega juga melihat Ryan. Suaminya itu selalu pasang badan untuk semua yang dilakukan mamanya.

Dahlia duduk di tepi ranjang, kekecewaannya sudah tidak bisa digambarkan dengan apa pun.

Malam ini pun mereka tidur dalam keheningan dan kesendirian.

Keesokan harinya.

Dahlia tidak sarapan bersama mama mertua, Ratna dan Dicky. Dia sudah sangat muak dengan mereka semua. Dia langsung pamit dan segera disusul oleh suaminya.

"Aku antar, sayang."

Walau mereka diam-diaman tapi Dahlia masih mendengar apa kata suaminya. Dia pun berangkat kerja di antar suaminya.

Ryan sudah kembali ke rumah dan mereka masih setia di meja makan.

"Kalian berantem? Kok Dahlia nggak sarapan sama bawa bekal."

"Nggak, ma, Dahlia sarapan dari kantor."

"Terus kenapa wajahmu kusut begitu?."

"Nggak apa-apa, ma. aku ke kamar, ya, Ma?."

"Kamu nggak ngantor?."

"Aku jalan siang, ma."

Ryan meninggalkan mereka yang masih betah di meja makan. Dia pun memutar otak untuk mendapatkan pinjaman.

Pikiran Dahlia pun sama, dia terus memikirkan uang yang harus segera disetornya supaya mamanya bisa berangkat haji.

"Pagi-pagi udah bengong, ada apa?."

Suara berat itu sanggup membuyarkan pikiran Dahlia.

"Pak, selamat pagi, Pak."

Walau gugup tapi Dahlia bisa menyapa bos tertingginya dengan baik dan lancar.

"Selamat pagi juga, Dahlia. Kalau butuh teman cerita saya siap mendengarkan."

Laki-laki yang masih berdiri di depan Dahlia itu tersenyum manis, memperlihatkan lesung pada kedua pipinya.

"Nggak ada, Pak, terima kasih banyak."

Pegawai yang mulai berdatangan memandang interaksi kedua orang tersebut lalu Pak Adnan memasuki ruang kerjanya.

"Nggak diragukan lagi, Lia, Pak Adnan suka sama kamu."

Lusi langsung duduk di hadapan Dahlia yang meja kerjanya bersebelahan.

"Mulai deh gosip, di gosok makin sip."

Dahlia tidak terlalu ambil pusing, tidak juga termakan ucapan Lusi. Dia tahu bosnya itu seorang suami setia dan ayah yang baik.

"Eh, nggak percaya, lihat aja nanti."

Dahlia hanya mengangkat bahunya, tidak peduli pada apa yang dikatakan teman kerjanya itu.

Saat jam makan siang selesai, Dahlia memberanikan diri menemui HRD. Di mana dia akan mengajukan pinjaman setelah pinjam sana sini tapi nihil.

"Aku kira kamu mau pinjam sampai ratusan juta, Lia."

"Mana nyampe limit, bu, pinjaman sesuai gaji 'kan?."

"Iya, sih. Ya, udah, sekarang kamu bawa formulir ini untuk ditandatangani Pak Adnan."

"Oh, saya kira ibu yang ke sana."

"Kamu lah, Lia."

"Oke, bu."

Memang tidak banyak yang dipinjam Dahlia, hanya setengah dari uang yang harus disetor ke bank dan sisanya dia bisa menjual motor kesayangannya.

Dahlia sudah duduk di hadapan bos tertingginya, ruangan yang baru dimasukinya setelah beberapa jam menunggu karena ada banyak yang keluar masuk ruangan itu.

"Untuk apa uang ini, Dahlia?."

"Keperluan saya, Pak."

"Tahu, untuk keperluan kamu. Tapi lebih spesifiknya kamu gunakan untuk apa?."

"Nggak apa-apa 'kan, Pak, kalau saya tidak mau mengatakannya untuk apa?."

Lalu kemudian Pak Adnan tersenyum sambil menandatangani formulir yang ada di hadapannya.

"Saya nggak akan memaksa, Dahlia."

"Terima kasih, Pak."

Dahlia segera keluar dan kembali membawa formulir itu ke bagian HRD untuk diurus supaya pinjamannya cepat cair.

Sambil menunggu waktu pulang kantor, Dahlia mengiklankan motor kesayangannya. Siapa tahu ada yang minta membelinya, dia tidak mematok harga tinggi supaya cepat laku terjual.

Tak berselang lama ponselnya bunyi, ada sebuah pesan masuk dan ada orang yang berminat membelinya saat itu juga padahal motornya ada di rumah.

Saat waktu pulang kantor ponsel Dahlia berdering, telepon dari orang yang akan membeli motornya.

"Halo."

"Aku kasih uangnya sekarang aja sebagai tanda jadi, nggak apa-apa motornya besok."

"Tapi, masnya, bapak percaya sama aku. Bagaimana kalau aku seorang penipu?."

"Nggak mungkin, aku percaya kamu orang yang baik dan jujur."

"Baik, aku akan menemuimu."

Dahlia segera berjalan ke arah di mana dia dan orang itu janji ketemuan.

Dahlia diam mematung saat di tempat itu menemukan bosnya tersenyum ke arahnya. Pak Adnan datang menghampiri.

"Ini uangnya, Dahlia."

"Pak, saya..."

"Nggak apa-apa kalau nggak mau mengatakan apa pun. Semoga uang ini bisa membantumu."

Belum juga Dahlia sempat mengucapkan terima kasih, Pak Adnan sudah angkat kaki dari hadapannya.

1
Yanti Gunawan
gak adil banget buat dahlia😫😭😭
Siti Sarifah
keren
Siti Sarifah
ceritanya selalu bagus, gk pernah gagal untuk membuat pembaca ikut larut dlm emosi dr cerita
Linda Yohana
Bagus novelnya
Yanti Gunawan
mbok yo d banyakin thor thor jangan pelit" up😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!