Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SELENDANG PUTIH DAN JANJI SUCI.
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut merasakan kegundahan di hati Adelia Aurellia. Di sebuah ruangan VVIP hotel mewah yang telah disulap menjadi tempat akad nikah sederhana, Aurel berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun pengantin putih gading yang elegan, memperlihatkan leher jenjang dan bahunya yang indah. Rambutnya disanggul modern, dihiasi jepit berlian yang berkilau.
Namun, wajah cantik itu tampak pucat. Ia menatap pantulannya sendiri dengan tatapan kosong. "Apa yang aku lakukan?" batinnya. Menikahi anak magang yang sepuluh tahun lebih muda darinya hanya demi menghindari perjodohan adalah langkah paling nekat yang pernah ia ambil dalam tiga puluh dua tahun di hidupnya.
Pintu terbuka, dan Asnita, ibunya Aurel, masuk dengan mata sembap. "Rel, penghulu sudah siap. Ayahmu sudah menunggu di meja akad. Tapi..." Asnita menjenda perkataannya, seperti ada keraguan dan kecemasan diraut wajanya, "Apakah kamu benar-benar sudah yakin Nak? Adam itu masih sangat muda, loh Nak." tanyanya dengan lembut.
"Aku yakin, Ma. Lebih baik dia daripada Denis Subandi," jawab Aurel ketus, meski hatinya bergetar. Setelah menjawab pertanyaan sang ibu, ia pun keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Saat Aurel melangkah menuju ruang akad, suasana mendadak hening. Di sana, di depan meja kayu jati yang dilapisi taplak putih bersih, Adam Ashraf sudah duduk dengan tegap. Ia mengenakan jas hitam dengan kemeja putih yang dikancingkan rapi hingga ke leher. Tidak ada gairah kekanak-kanakan di wajahnya; yang ada hanyalah ketenangan yang menghanyutkan.
Aurel duduk di samping Adam. Aroma parfum kayu cendana yang lembut dari tubuh Adam merasuki indra penciumannya, entah mengapa memberikan sedikit rasa tenang di tengah badai kecemasannya.
Sebelum penghulu memulai prosesi, Adam tiba-tiba menoleh ke arah Aurel. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan ternyata itu adalah sebuah selendang berbahan sutra putih bersih dengan sulaman perak tipis di pinggirannya.
"Bu Aurel... maaf," bisik Adam lembut, namun suaranya terdengar tegas di ruangan yang sunyi itu. "Ini adalah momen sakral. Di hadapan Allah, kita akan mengikat janji. Jika Anda tidak keberatan, pakailah ini untuk menutup kepala Anda sementara waktu. Saya ingin pernikahan ini dimulai dengan keberkahan, meski kita memulainya dengan cara yang tidak biasa."
Aurel terpaku. Ia menatap selendang putih itu, lalu menatap mata Adam. Ada ketulusan yang luar biasa di sana. Di tengah sifat arogannya, Aurel merasa tersentuh. Selama ini, pria-pria yang mendekatinya hanya memuja kecantikannya atau mengincar hartanya. Tak ada satupun yang peduli pada nilai kesucian sebuah momen pernikahan.
Dengan tangan sedikit gemetar, Aurel menerima selendang itu. Adam membantu menyampirkannya di atas kepala Aurel dengan sangat sopan, tanpa menyentuh kulitnya. Gerakan itu begitu santun, menunjukkan betapa Adam sangat menjaga jarak dan menghormatinya sebagai wanita.
"Terima kasih," bisik Aurel pelan. Untuk pertama kalinya, ia merasa terkesan pada pria yang ia anggap "anak kecil" ini.
Ijab Qobul yang Menggetarkan
Penghulu memulai khutbah nikah singkat. Selama khutbah berlangsung, Adam mendengarkannya dengan khusyuk, sesekali menundukkan kepala. Ia tampak sangat memahami setiap kalimat nasihat pernikahan yang diberikan. Setelah wejangan selesai penghulu pun langsung menatap wajah Adam.
"Nak Adam, apakah anda sudah siap?" tanyanya terdengar tegas.
"Siap Pak,"
"Baiklah sekarang jabat tangan calon mertua Anda," kata penghulu lagi. Dan Adam pun mengulurkan tangannya pada Firman.
Firman, ayah Aurel, menjabat tangan Adam dengan keras. Tatapannya masih penuh keraguan dan amarah yang tertahan. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Adam Ashraf bin Bramasta, dengan anak kandung saya, Adelia Aurellia binti Firman Syaputra, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin berlian dibayar tunai!" ucapnya sambil menyentakkan tangan Adam.
Tanpa jeda, tanpa keraguan, Adam menjawab dengan suara bariton yang mantap dan lantang dalam satu tarikan napas. "Saya terima nikah dan kawinnya Adelia Aurellia binti Firman Syaputra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Saksi? Sah?"
"SAH!"
Saat kata itu terucap, Aurel merasakan desiran aneh di dadanya. Ada beban yang terangkat, namun ada tanggung jawab baru yang menghimpit. Ia melihat Adam memejamkan mata sejenak, bibirnya bergerak membacakan doa setelah akad dengan sangat fasih.
Saat mereka diminta bertukar cincin, Adam melakukan tugasnya dengan penuh wibawa. Ketika Aurel mencium punggung tangan Adam sebagai tanda hormat pertama kali sebagai istri, ia bisa merasakan kehangatan dan kekuatan dari tangan pemuda itu. Adam membalasnya dengan meletakkan telapak tangannya di atas kepala Aurel yang tertutup selendang putih tadi, lalu membisikkan doa keberkahan yang membuat bulu kuduk Aurel meremang.
Dia bukan sekadar anak magang biasa, pikir Aurel. Dia memiliki prinsip yang jauh lebih kuat dari pria manapun yang pernah kukenal.
Tamu yang Tidak Diundang
Suasana khidmat itu seketika pecah ketika pintu aula terbuka dengan kasar. Denis Subandi masuk dengan gaya angkuhnya, diikuti oleh beberapa pengawal. Wajahnya menunjukkan penghinaan yang nyata.
"Bravo! Benar-benar drama yang luar biasa, Aurel," Denis bertepuk tangan dengan nada sinis. "Aku datang untuk memberikan selamat atas pernikahan... ah, pernikahan apa ini namanya? Pernikahan CEO dengan supirnya?"
Firman berdiri, wajahnya memerah. "Denis, jaga bicaramu! Ini acara keluarga."
Denis tertawa mengejek. "Om Firman, Anda membiarkan putri Anda menikahi bocah ini? Lihat dia, hanya bermodal wajah dan sedikit ayat agama untuk merayu Aurel. Berapa dia membayarmu, Nak?" Denis melangkah mendekati Adam, menatapnya dengan pandangan merendahkan.
Adam berdiri. Ia kini sejajar dengan Denis, bahkan ia lebih tinggi dari Denis. Meski usianya lebih muda, aura Adam jauh lebih mengintimidasi. Ia masih memegang tangan Aurel, seolah memberikan perlindungan.
"Pak Denis," suara Adam tetap tenang, namun dingin. "Pernikahan bukan tentang transaksi saham atau aliansi bisnis yang sering Anda banggakan. Hari ini, saya mengambil tanggung jawab yang tidak sanggup Anda pikul—menjaga dan menghormati Adelia sebagai seorang istri, bukan sebagai aset."
"Jangan sok suci!" bentak Denis. "Kamu hanya sampah yang beruntung!"
Adam tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Denis merasa terpojok. "Jika saya sampah, maka Anda lebih rendah dari itu. Karena Anda datang ke sini tanpa undangan hanya untuk menunjukkan betapa buruknya etika Anda di depan orang tua kami. Silakan pergi, sebelum saya meminta keamanan mengeluarkan Anda secara tidak hormat."
Aurel terperangah melihat keberanian Adam. Denis yang merasa dipermalukan hanya bisa mendesis. "Nikmati kemenanganmu sekarang, Adam. Tapi ingat, di dunia ini, identitas tidak bisa disembunyikan selamanya. Aku akan mencari tahu siapa sebenarnya kamu."
Setelah Denis pergi dengan amarah, suasana kembali tegang. Aurel menatap Adam dengan penuh tanda tanya. "Bagaimana kamu bisa begitu berani melawannya?"
Adam hanya merapikan selendang putih yang mulai merosot dari kepala Aurel. "Karena sekarang, menjaga harga diri Anda adalah tugas saya, Bu... maksud saya, Aurel."
Di balik ketenangan Adam, ia tahu bahwa ancaman Denis bukan main-main. Di saku jasnya, ia menyentuh sebuah foto lama yang ia ambil dari gudang arsip kemarin—foto ayahnya dan Firman. Ia sadar, selendang putih ini hanyalah awal dari perjalanan panjang yang akan penuh dengan noda fitnah masa lalu.