Dinikahi kemudian disiksa, begitulah takdir Seruni. Ia harus menerima perjodohan yang memiliki tujuan tersembunyi. Dinikahi hanya dijadikan ibu pengganti. Terkurung dalam sangkar emas penuh derita, apa ia akan bertahan atau malah melawan?
Sebuah kisah yang menguras emosi dan jiwa, bagaimana cara Seruni bisa lepas dari suaminya yang keji seperti iblis tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsession
The Devil Husband Bagian 32
Oleh Sept
"Tenang Seruni, kamu sekarang bukan lagi seperti yang dulu. Jangan perlihatkan rasa sakitmu. Sembunyikan ketakutan yang pernah kamu rasakan di depan pria sepertinya agar kamu tidak ditindas," batinku mencoba menasehati diri sendiri.
Setelah terkejut sesaat, aku kembali pura-pura bermain ponsel lagi. Aku berakting agar mas Erwin tidak mencurigai keberadaanku. Anggap saja kami orang asing yang tidak saling kenal, meskipun aku tadi sempat terkenal karena dia berbalik menatapku.
"Baru pulang, Dok?"
Pertanyaan itu langsung membuatku bergidik. Hanya pertanyaan biasa, tapi ketika mas Erwin yang mengucapkan, hatiku cukup terkejut. Apalagi sorot matanya, aku yang sudah bergelut dengan orang-orang seperti ini, sangat yakin bahwa mas Erwin masih sama seperti dulu.
"Ya!" jawabku kemudian tapi suaraku aku buat berat, agar dia tidak curiga.
Beruntung bagiku, karena pintu sudah terbuka. Tanpa berkata apapun, aku langsung saja keluar dari kotak yang terasa menyesakkan itu. Satu udara dengan mas Erwin membuatku merasa sesak, sulit bernapas.
Saat aku berjalan cukup cepat, aku merasakan langkah kaki yang juga mengikuti dari belakang. Sudah pasti itu mas Erwin yang menyusul. Tidak boleh panik, tapi aku juga harus cepat.
SETTTT ....
"Nadin sudah mati! Siapa kau?"
Spontan aku terkesiap, kemudian menatap lenganku yang pegangan erat oleh mas Erwin. Dari mana dia tahu Nadin sudah mati? Bagaimana dia tahu? Astaga! Apa aku lupa mas Erwin siapa? Lari ke lubang semut pun dia bisa mencariku.
'Tetap tenang, Seruni!' batinku kemudian menepis keras tangan mas Erwin.
"Siapa anda? Jangan macan-macam!"
Buru-buru aku mengambil ponsel untuk menghubungi security, dan dengan cepat mas Erwin merebutnya lalu melempar ke arah tembok sampai pecah berkeping-keping.
PYARRR
"Apa yang anda lakukan?" sentakku emosi. Dari dulu mas Erwin tidak pernah berubah. Sakit jiwa, emosional!
Kulihat dia tersenyum tipis, "Kau Seruni!"
Aku kaget, dia pasti sudah mengenal suaraku. Aku cukup terkejut sesaat, akan tetapi kembali mulai berakting lagi.
"Jangan mengikuti saya! Saya akan laporin ke polisi!" ancamku.
Ya, lagi-lagi aku lupa. Mana pernah mas Erwin takut dengan sebuah ancaman. Pria dominant ini selalu mengancam hidup orang lain, selau jadi pelakunya.
"Kamu tidak bisa menipuku!"
Aku jelas kaget, mas Erwin sepertinya tahu aku siapa. Tapi bagaimana dia tahu dengan cepat? Tapi untuk mas Erwin, tidak ada yang tidak mungkin.
Tidak mau lama-lama rahasiaku terbongkar, aku lantas mencari kesempatan, saat mas Erwin sibuk mengamatiku dari atas sampai bawah, aku langsung saja berbalik dan kembali menuju lift. Sebab itu yang paling dekat untuk kabur.
"RUNI!" teriak mas Erwin kencang.
'Ayo cepat menutuplah!' pintaku dalam hati ketika menunggu pintu lift tertutup.
Pintu hampir menutup secara sempurna, tapi mendadak tangan mas Erwin membuat pintu itu kembali terbuka.
"Kau Seruni! Jangan membodohiiku lagi!" ujarnya sambil berdiri di ambang pintu lift, jelas aku seperti itik yang dikepung serigala lapar. Aku dapat melihat seringai jahat itu, sampai kemudian aku mulai marah karena sudah terpojok.
"Seruni siapa yang anda maksud? Tolong jangan mendekat! Saya benar-benar bisa memenjarakan anda!" ancamku marah.
"Hentikan sandiwara ini! Semakin kamu bicara, semakin kamu ketahuan. Kau lupa? Aku siapa?"
Aku menelan ludah, pria ini benar-benar membuatku setress.
"Maaf Tuan, sepertinya anda salah mengenali orang. Dan tolong menyingkir dariku!"
Saat aku akan menekan tombol, mas Erwin langsung mendesak hingga aku tersudut. Benci, reflek aku dorong saja tubuhnya. Eh mas Erwin yang kuat, Kokoh, gagah saat dulu langsung mundur.
"Kau berani sekali sekarang, apa karena sekarang kau seorang dokter? Membuatmu sangat berani dan percaya diri?" sindir mas Erwin sambil melemparnya tatapan pedas padaku. Siapa dia? Sekarang berani mengataiku. Marah, aku balik kembali sindirannya.
"Lalu apa hubungannya dengan ANDA?"
Kulihat dia malah tersenyum jahat padaku, dan dengan cepat memutar tubuhku. Sampai aku tidak sempat bergerak.
"Siallll!" umpatnya kemudian setelah menyibak kerah jas belakang yang aku kenakan.
"Apa yang kau lakukan?" teriakku kemudian berbalik dan mendorongnya sampai membentur tembok.
Kulihat dia meringis kesakitan, mungkin aku mendorong cukup keras. Tapi itu belum seberapa dengan luka yang selama ini ku terima.
"Seruni! Kau keterlaluan!"
"Aku bukan Seruni!" ujarku marah. Tapi mas Erwin malah terkekeh.
"Kau sudah tertangkap basah! Tidak bisa lagi mengelabui aku. Aku sangat hafal di mana saja tanda lahirmu!" ucap mas Erwin penuh keyakinan. Sontak aku kaget, jadi tadi mas Erwin memeriksa tanda lahir di balik leherku.
Aku berusaha tenang, tanda lahir banyak yang sama. Cukup tetap mengontrol diri agar tidak terjebak dalam perangkap pria psikopat seperti mas Erwin.
Ketika pintu kembali terbuka, aku ingin menerobos keluar. Akan tetapi mas Erwin yang sudah bangun, langsung mencegahku.
"Katakan padaku, kau memang Seruni?" tanya mas Erwin sambil mencengkram kuat kedua bahuku.
"Saya tidak kenal Seruni yang anda maksud!"
Mas Erwin memejam mata menahan kesal, kemudian mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku jelas memalingkan wajah, kakiku berusaha menendang. Tapi mas Erwin jelas lebih kuat dari pada aku.
CUP
Aku merutuk penuh kebencian, menjerit ingin dilepaskan. Apalagi bibir itu menempel, aku langsung merasa mual. Teringat kejadian di masa silam.
Detika berikutnya mas Erwin melepaskan cengkraman tangannya. Kemudian mengusap bibirku dengan jari-jarinya. Jujur, aku merasa jijijkkk. Sampai ku dorong lagi pria ini dan langsung lari saat pintu lift terbuka.
"RUNI!"
Aku berlari kencang sampai menuju lobby. Di sana ada beberapa orang yang langsung menatapku aneh. Aku melihat ke belakang, mas Erwin sudah tidak ada. Aku pun pergi ke security, meminta memeriksa CCTV. Mas Erwin tiba-tiba hilang tanpa jejak.
"Pak, tolong periksa sekali lagi?" pintaku pada pihak keamanan. Aku yakin mas Erwin masih di sekitar sini. Pria itu sangat gigih, tidak mungkin pergi dan menyerah begitu saja. Apalagi tadi dia terlihat sangat yakin kalau aku adalah Seruni.
Hampir putus asa, karena mas Erwin tidak terlihat di manapun saat kamera CCTV diperiksa, sampai aku memaksa lagi agar pihak keamanan lebih jeli. Dan benar saja, sekelibat bayangan pria bertopi itu terlihat keluar. Aku merasa lega, setidaknya mas Erwin sudah terlihat di luar gedung. Malam ini aku bisa masuk dalam apartment dan istirahat dengan tenang.
***
Beberapa jam sudah berlalu, aku terbangun karena mimpi buruk. Tanganku mencari-cari ponsel yang ada di bawah bantal. Aneh, perasaan tadi lampu aku nyalakan. Kenapa lampu dalam kamar menjadi mati dan gelap gulita? Setelah mendapat ponsel di tangan, kulihat masih pukul 1 dini hari. Kuputuskan tidur lagi dan meraih lampu tidur untuk dinyalakan.
Ada sesuatu yang aneh, aku mengerakkan kakiku, ada yang salah. Aku semakin panik ketikan menyadari bahwa kakiku sudah terikat.
BERSAMBUNG
Penjara Hati CEO
Sebuah kisah yang menceritakan seorang pria yang ditinggal istrinya koma. Sang istri melahirkan meskipun masih koma. Bagaimana kisahnya ... cuss
Jangan pula ikuti IG Sept yaa ... mungkin ada postingan Unfaedah hehhehe
IG Sept_September2020
crita uda hampir slesai ko, penderitaannta g habis2