Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPM 6
Keributan itu membuat Mia keluar dari dapur. Ia menatap mereka bergantian, wajahnya penuh kebingungan.
“Ada apa, Ma?” tanyanya pelan.
Tak ada yang menjawab. Pandangannya lalu jatuh pada tong sampah yang terguling. Mia melangkah mendekat untuk membetulkannya, hingga matanya menangkap sebuah botol ramuan di dalamnya. Ia terdiam sejenak, lalu mengambil botol itu.
“In–ini?” gumamnya lirih.
“Biarkan di situ,” ujar Johan cepat.
Mia menoleh, semakin bingung. Johan sudah mendekat, emosinya tak lagi terkendali. Ia merebut botol itu dari tangan Mia dan menghempaskannya ke lantai. Botol tersebut pecah, cairannya menggenang, serpihannya berserakan ke segala arah.
“Siaaal! Semua orang bikin pusing!” pekik Johan. Ia menepiskan tangannya ke udara, lalu berbalik masuk ke kamar. Pintu dibanting keras.
Blummmm!
Ruangan mendadak sunyi.
Ibunya Johan berdiri kaku beberapa detik, ia terlihat menyela ujung matanya.lalu meraih tasnya yang tergeletak di meja.
“Mama pulang Mia,” katanya dingin tanpa menatap Mia.
Ia melangkah keluar tanpa menunggu jawaban.
Mia berdiri mematung, menatap pecahan botol di lantai. Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin takut.
-Masih dengan perasaan bingung atas apa yang baru saja terjadi, Mia membereskan sisa kekacauan di ruang makan. Ia menyapu pecahan botol dan mengelap cairan yang tumpah di lantai. Tangannya bergerak otomatis, sementara pikirannya tertinggal pada suara pintu yang dibanting tadi.
Setelah selesai, Mia melangkah menuju kamar. Saat pintu terbuka, Johan sudah terlihat bersiap pergi.
“Mau ke mana, Jo?” tanya Mia.
“Keluar sebentar,” jawab Johan singkat.
“Aku ikut,” kata Mia spontan, membuat Johan menoleh.
“Kamu di rumah saja, ya. Aku cuma sebentar. Aku butuh angin segar.” Ia mendekat lalu mengecup kening Mia sekilas. Kali ini, Mia tidak berkata apa-apa; ia hanya mengangguk pelan.
Mia berdiri di tempatnya, memandangi punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu. Suara pintu tertutup terdengar pelan, tapi cukup untuk membuat rumah terasa kembali sunyi.
Johan pulang larut malam itu. Wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya. Tidak banyak bicara, tapi sikapnya tidak lagi tegang.
Keesokan harinya, rumah mereka benar-benar terasa damai. Johan bersikap biasa. Mia pun demikian. Mereka menjalani hari seperti tidak ada apa-apa yang perlu dibicarakan.
Hari-hari berikutnya berjalan tanpa gangguan. Tidak ada kunjungan. Tidak ada telepon. Ibunya Johan seolah menghilang.
Di satu sisi, Mia merasa lega. Ketidakhadiran ibu mertuanya memberi ruang bernapas yang selama ini ia butuhkan. Ia bisa bergerak tanpa rasa diawasi. Tidak ada tekanan yang menempel di setiap langkahnya.
Keesokan harinya, rumah benar-benar terasa damai. Tidak ada suara ketukan pintu mendadak. Tidak ada botol ramuan yang diletakkan di meja dapur. Tidak ada pertanyaan yang harus dijawab dengan hati-hati. Johan berangkat kerja seperti biasa, berpamitan singkat, dan Mia kembali pada rutinitasnya.
Minggu pertama berlalu tanpa kehadiran ibu mertuanya. Mia sempat merasa lega, meski perasaan itu bercampur dengan kebingungan. Biasanya, ibunya Johan tidak pernah absen lebih dari beberapa hari. Kali ini, tidak ada kabar sama sekali.
“Mama kok tidak ke sini?” tanya Mia suatu malam, seolah hanya memastikan.
Johan menggeleng seolah tidak ingin membahas hal itu.
"Entahlah."
Tidak ada penjelasan lanjutan. Mia memilih diam. Ia tidak ingin membuka kembali percakapan yang bisa membuat Johan kembali tegang.
Minggu kedua, keadaan masih sama. Rumah mereka berjalan normal. Johan lebih sering makan malam di rumah. Mereka menonton televisi bersama, berbincang ringan tentang pekerjaan, bahkan tertawa pada hal-hal kecil yang dulu terasa sulit dilakukan.
Namun, di sela ketenangan itu, Mia menyadari sesuatu. Johan menjadi lebih pendiam dari biasanya. Bukan murung, tapi seperti menyimpan sesuatu.
Mia melihat semua itu, tapi tidak bertanya. Ia tahu, tidak semua hal harus dibicarakan saat itu juga.
Suatu malam, saat Johan sudah tertidur, Mia menatap langit-langit kamar dalam gelap. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa bernapas tanpa rasa tertekan. Tapi di saat yang sama, ia sadar, ketenangan ini terasa seperti jeda bukan akhir.
Dan Mia tidak tahu, jeda itu akan bertahan berapa lama.
Hari-hari berikutnya berjalan nyaris sama. Mia kembali pada rutinitasnya. Bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan, memastikan pakaian Johan rapi sebelum ia berangkat kerja. Johan tetap pulang tepat waktu, makan malam bersama, lalu menghabiskan sisa malam dengan ponsel atau laptopnya.
Kadang mereka berbincang ringan. Tentang pekerjaan, tentang rencana akhir pekan, atau sekadar membahas hal-hal kecil yang tidak penting. Tidak ada pertengkaran, tidak ada suara tinggi. Semuanya terasa normal.
Namun Mia merasakan ada jarak yang sulit ia jelaskan. Bukan jarak yang tampak jelas, hanya seperti ruang kosong yang perlahan terbentuk di antara mereka. Johan masih ada di rumah, masih duduk di sebelahnya, tapi pikirannya sering terasa tidak benar-benar hadir.
Suatu malam, saat mereka sudah berbaring, Mia mematikan lampu lebih dulu. Ia menoleh ke arah Johan yang masih menatap langit-langit kamar.
"Kamu belum tidur?, " tanya Mia pelan
"Belum, sebentar lagi. " sahut Johan pendek
Mia tidak melanjutkan percakapan. Ia membalikkan badan, memejamkan mata, dan membiarkan keheningan kembali mengambil alih kamar mereka.
Ia memilih percaya. Untuk saat ini, percaya adalah satu-satunya cara agar semuanya tetap terlihat baik-baik saja.
Hari itu setelah johan pergi ke kantornya Mia memutuskan untuk merawat bung bung koleksinya di taman kecil rumah mereka.
Baru saja ia mulai memangkas ranting ranting yang menguning samar samar ia lengkap suara sering ponselnya dari dalam rumah. Tanpa membuang waktu ia setengah berlari masuk kedalam rumah.
Benar saja saat ia tiba di ruang makan, ponselnya masih berdering, senyum terbit di bibirnya begitu lihat nama yang tertera di layar.
“Assalamu’alaikum, Mia,” suara ibunya terdengar lembut dari seberang.
“Wa’alaikum salam, Mi. tumben Umi nelpon,” jawab Mia sambil tersenyum kecil.
“Iya, Umi kangen sama anak Umi. Gimana mertuamu? Masih sering menekan kamu?,” tanya ibunya hati-hati.
“Tidak, Mi. Sudah lama Mama tidak ke rumah,” jawab Mia. Ia lalu menceritakan apa yang terjadi, tentang pertengkaran Johan dengan ibunya hingga akhirnya sang mertua memilih menjauh.
“Alhamdulillah kalau begitu,” ucap ibunya. Ada lega, tapi juga sisa kesal yang tidak sepenuhnya tersembunyi dalam nadanya.
“Miii,” sela Mia cepat. Ibunya terdiam sejenak.
“Umi cuma masih sakit hati dengar kamu disakiti, Nak.”
“Aku tahu, Mi. Tapi sekarang semuanya baik-baik saja,” jawab Mia pelan. Ibunya menghela napas.
“Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri. Umi dan Abah selalu ada.”
“Iya, Mi,” jawab Mia singkat.
Setelah sambungan terputus, Mia meletakkan ponselnya di atas meja makan. Ia lalu ke halaman depan untuk meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.