Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benturan Dua Tangam Kanan
14 hari sebelum duel
Vino berjalan sendirian di sepanjang perbatasan antara Wilayah Utara dan area selatan , sebuah jalanan sepi yang biasanya digunakan sebagai jalan pintas oleh siswa-siswa yang ingin pulang cepat. Hari ini ia ditugaskan Misca untuk melakukan patrol rutin, mengecek apakah ada aktivitas mencurigakan atau orang-orang asing yang berkeliaran di wilayah mereka.
Tapi kalau jujur, pikiran Vino sama sekali tidak fokus pada tugas patrol. Pikirannya masih terjebak pada insiden di festival —terus berputar seperti rekaman yang di-loop tanpa henti.
Bayangan Jeka yang tersungkur di aspal dengan bibir berdarah. Tatapan mata Jeka yang shock dan kesakitan. Kacamata yang retak tergeletak di tanah. Dan yang paling menyakitkan—ketidakmampuan dirinya sendiri untuk melindungi sahabatnya.
Vino meremas tinjunya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia masih sangat kesal—bukan pada Gus atau Pria A yang menyerang, tapi pada dirinya sendiri. Ia merasa telah gagal menjalankan tugasnya sebagai tangan kanan Misca. Ia merasa telah mengecewakan Jeka yang paling tidak suka kekerasan di antara mereka semua.
"Aku harusnya lebih kuat," gumamnya pelan sambil menendang kerikil kecil di jalan. "Aku harusnya bisa melindungi Jek tanpa harus nunggu Misca datang nyelametin kita semua."
Ia tahu Misca sedang fokus pada persiapan menghadapi duel dan menganalisis ancaman The Phantom—beban yang sudah sangat berat. Dan ia, sebagai sahabat terdekat dan tangan kanan, seharusnya bisa mengurangi beban itu dengan handle masalah-masalah kecil sendiri. Tapi nyatanya? Ia malah jadi beban tambahan yang harus diselamatkan.
"Menyedihkan," rutuknya pada dirinya sendiri.
"Aku kira orang Utara itu lebih pintar dari yang aku bayangkan."
Suara serak dan sinis itu datang tiba-tiba dari arah belakang, membuat Vino refleks berbalik dengan sangat cepat sambil langsung memasang posisi siaga. Jantungnya langsung berdegup lebih kencang—tidak karena takut, tapi karena adrenalin yang langsung memompa saat menyadari ia tidak sendirian.
Di sana, hanya beberapa meter di belakangnya—entah sejak kapan—berdiri Dian dengan postur yang sangat santai namun mengancam. Ia hanya mengenakan kaus tanpa lengan hitam yang memperlihatkan otot lengannya yang berotot—tidak sebesar Nanda, tapi jelas terlatih dengan baik. Celana cargo hitam dan sepatu boots tempur melengkapi penampilannya yang terlihat seperti siap untuk bertarung kapan saja.
Mata tajam Dian menatap Vino dengan pandangan yang penuh kebencian yang terpendam—kebencian yang sudah lama ia simpan sejak insiden di gudang waktu itu.
"Ngapain kamu di sini, Dian?" tanya Vino dengan suara yang penuh curiga, matanya menyipit waspada. Ia tidak menurunkan posisi siaganya sedikitpun. "Ini wilayah Utara. Tidak ada urusanmu di sini. Kamu sudah jauh dari Selatan."
Dian berjalan mendekat dengan langkah yang sangat pelan dan perhitungan—seperti predator yang sedang mengitari mangsanya, mencari angle terbaik untuk menyerang. Senyum sinis yang mengerikan tersungging di wajahnya yang penuh dengan luka-luka bekas latihan brutal.
"Aku cuma mau melihat 'anjing penjaga' si jenius Misca yang terkenal itu," ejek Dian dengan nada yang sangat meremehkan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh dengan sarcasm yang menyakitkan. "Dengar-dengar dari berbagai sumber, kamu dan teman-temanmu hampir mati di festival kemarin malam? Kamu diserang dua orang asing dan tidak bisa berbuat apa-apa? Harus tunggu tuanmu datang nyelametin? Kamu lemah, Vino. Sangat lemah. Memalukan."
Kata-kata itu menusuk tepat di luka yang paling sakit—luka di harga diri dan ego Vino yang memang sudah terluka sejak insiden festival Wajah Vino langsung memerah, bukan karena malu, tapi karena kemarahan yang langsung memuncak.
Ia membuang rokok yang sedang ia hisap ke tanah dan menginjak-injaknya dengan keras—penyaluran rasa frustrasinya ke gerakan fisik itu. Kemudian ia bangkit berdiri dengan postur yang jauh lebih agresif, menghadap Dian dengan penuh tantangan.
"Kamu tidak tahu apa-apa, Dian," balas Vino dengan suara yang bergetar karena menahan amarah. "Kamu tidak tahu siapa yang menyerang kami kemarin. Itu bukan preman jalanan biasa seperti kamu atau aku. Itu profesional. Dan fakta bahwa kami semua masih hidup dan masih berdiri di sini adalah bukti bahwa kami bukan selemah yang kamu kira."
Vino melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka—bukan karena ia ingin menyerang, tapi karena ia tidak mau terlihat mundur atau intimidated. "Dan soal Misca—aku lebih baik menjadi 'anjing penjaga' orang yang cerdas dan punya visi jelas, daripada menjadi kuda beban si Nanda yang buta dan bodoh itu!"
"KUDA BEBAN?!" Dian langsung terpancing, wajahnya memerah padam mendengar pemimpinnya dihina seperti itu. "Berani-beraninya kamu—"
"Iya, kuda beban!" potong Vino, sekarang sudah tidak peduli lagi dengan konsekuensinya. Amarahnya yang tertahan sejak kemarin akhirnya meluap. "Nanda itu buta, Dian! Dia tidak melihat ancaman nyata yang ada di depan matanya! Dia cuma mikirin otot , dan ego bodohnya! Sementara di luar sana, ada musuh yang jauh lebih berbahaya ! The Phantom! Mereka bukan main-main! Dan Nanda? Dia masih sibuk ngangkat barbel dan teriak-teriak kayak gorila di gym!"
Dian terdiam sejenak, napasnya memburu karena kemarahan. Tapi kemudian ia tertawa—tawa yang sangat sinis dan pahit, tawa yang tidak ada kegembiraan di dalamnya sama sekali.
"Otot adalah kenyataan, Vino. Otot adalah kekuatan yang real, yang bisa kamu lihat dan rasakan," ujar Dian sambil mengepalkan tinjunya di depan wajahnya sendiri. "Logika Misca itu? Strategy? Planning? Itu semua omong kosong kalau kamu tidak punya kekuatan untuk mendukung !"
"Duel Misca dan Nanda nanti akan membuktikan siapa yang benar," balas Vino dengan nada yang lebih tenang tapi sangat yakin—keyakinan yang lahir dari melihat kemampuan Misca berkali-kali. "Dan kamu akan lihat sendiri, Dian, kalau otak akan selalu mengalahkan otot. Strategy mengalahkan kekuatan kasar. Teknik mengalahkan kekuatan mentah. Itu hukum alam. Dan Nanda akan belajar itu dengan cara yang paling menyakitkan di arena nanti."
"AKU TIDAK PEDULI LAGI SOAL DUEL ITU!" bentak Dian tiba-tiba, suaranya menggelegar hingga membuat beberapa burung di pohon terdekat terbang ketakutan. Emosinya yang sudah lama terpendam akhirnya meledak total. "Aku sudah bosan dengar soal duel dan strategy dan semua omong kosong itu!"
Dian melangkah sangat dekat ke Vino—hanya berjarak beberapa sentimeter—menatap langsung ke mata Vino dengan tatapan yang penuh dengan kebencian murni yang tidak tersamarkan lagi. "Yang aku peduli sekarang cuma satu hal: KAMU! Kamu yang membuat kekacauan di gudang waktu itu! Kamu yang mempermalukan aku di depan semua orang! Kamu yang harusnya aku habisi duluan sebelum semua ini jadi lebih rumit!"
Tanpa peringatan apa pun, Dian tiba-tiba maju menerjang dengan sangat cepat—jauh lebih cepat dari yang diantisipasi Vino. Ia melayangkan pukulan yang sangat cepat dan tepat—bukan mengincar wajah seperti yang biasa dilakukan kebanyakan orang saat emosi, tapi mengincar bahu Vino dengan sangat perhitungan.
BUGH!
Pukulan itu mendarat telak di bahu kanan Vino sebelum ia sempat menangkis sepenuhnya. Kekuatan di balik pukulan itu membuat Vino terhuyung beberapa langkah ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan. Bahunya langsung terasa nyeri dan kebas—tanda bahwa pukulan itu dilakukan dengan teknik yang benar, bukan sekadar pukulan emosional yang asal-asalan.
"Sial!" Vino meringis sambil memegang bahunya yang berdenyut sakit.
Ia terkejut dengan kecepatan serangan Dian. Ia tahu Dian adalah petarung yang cepat dan licik—itulah kenapa Nanda mempercayainya sebagai tangan kanan—tapi melihat langsung di depan mata ternyata jauh lebih menakutkan daripada sekadar mendengar cerita.
Vino segera memasang posisi bertarung yang lebih benar—kaki agak ditekuk untuk mobilitas lebih baik, tangan terangkat dalam posisi melindungi, berat badan terdistribusi merata untuk bisa bergerak ke segala arah dengan cepat.
"Kamu mau berkelahi sekarang?!" tantang Vino, meski ada sedikit keraguan di dalam hatinya. Ia tahu kondisinya tidak 100% setelah insiden kemarin. Dan Dian... Dian terlihat sangat fresh dan sangat siap
Tapi kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Dian tidak melanjutkan serangan. Ia mundur selangkah, lalu dua langkah lagi—menciptakan jarak aman di antara mereka. Ekspresi di wajahnya masih penuh kebencian, tapi ada juga... kontrol. Kontrol diri yang luar biasa kuat untuk bisa menahan diri di tengah-tengah kemarahan yang meluap seperti itu.
"Tidak," jawab Dian akhirnya dengan suara yang masih bergetar karena emosi, tapi jauh lebih terkontrol dari sebelumnya. "Aku tidak mau bertarung sekarang. Aku tidak mau membuat fokus Nanda teralihkan atau terganggu sebelum duel utamanya 14 hari lagi. Itu akan merusak semua persiapannya. Dan aku... aku masih cukup loyal untuk tidak melakukan itu."
Dian menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, napasnya masih memburu tapi mulai stabil. "Tapi dengarkan aku baik-baik, Vino," ujarnya dengan nada yang sangat serius—bukan lagi nada mengejek atau sinis, tapi nada yang penuh dengan janji yang mengerikan. "Begitu duel Misca-Nanda selesai—aku tidak peduli siapa yang menang—kita berdua akan menyelesaikan masalah kita. Kita akan duel satu lawan satu. Dan aku akan tunjukkan padamu bagaimana rasanya dipermalukan habis-habisan di depan semua orang. Aku akan buat kamu merasakan persis apa yang aku rasakan waktu itu di gudang."
Tatapan mata Dian saat mengucapkan ancaman itu sangat intens dan menakutkan—ini bukan sekadar gertakan kosong atau intimidasi verbal. Ini adalah janji yang akan dipenuhi, tidak peduli apa konsekuensinya.
"Kamu mengerti?!" bentak Dian sekali lagi untuk memastikan pesannya diterima dengan jelas.
Vino menatap balik Dian tanpa berkedip—meskipun jantungnya berdegup sangat kencang dan ada bagian dari dirinya yang merasa takut dengan intensity dari ancaman itu. Tapi ia tidak bisa—tidak mau—menunjukkan ketakutan itu di depan musuhnya.
"Aku mengerti," jawab Vino dengan nada yang berusaha terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan sebenarnya. "Dan aku terima tantanganmu. Kita selesaikan ini setelah duel utama selesai."
Dian mengangguk sekali—sebuah anggukan yang lebih terlihat seperti segel kesepaktan —lalu ia berbalik dan mulai berjalan menjauh dengan langkah yang cepat , menuju arah Selatan.
Dalam beberapa detik, sosoknya sudah menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan Vino yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
Setelah benar-benar yakin Dian sudah pergi dan tidak akan kembali tiba-tiba untuk menyerang dari belakang, Vino akhirnya merosot duduk di pinggir jalan sambil memegang bahunya yang masih terasa linu dan berdenyut sakit.
"Sial... sial... sial..." gumamnya berkali-kali sambil memukul-mukul tanah di sampingnya dengan frustasi.
Ancaman Dian tadi sangat nyata . Ini bukan lagi soal konflik antara dua wilayah atau dua pemimpin. Ini sudah menjadi perseturuan antara dua individu—dendam pribadi yang akan diselesaikan dengan darah dan keringat.