Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. tolong bahagiakan Alyssa.
Flashback
"Siapa kamu??" Tanya Manda pada sosok laki laki tampan yang kini sudah berada disamping ranjangnya.
Ia heran pasalnya laki laki itulah yang datang menjenguknya saat ia baru saja membuka mata.
"Saya menantu ibu."
Alis Manda terangkat, keningnya berkerut.
Seingatnya ia sudah tidak memiliki menantu sejak sang anak berpisah dengan Arya.
"Saya tau ibu bingung, mungkin ini terlalu mendadak untuk ibu. Namun yang jelas saya memang sudah menikah dengan Alyssa, anak ibu."
Mata Manda melebar, ia menatap laki laki dihadapannya dengan pandangan tidak percaya.
"Bagaimana bisa, Alyssa bahkan tidak mengatakan apapun padaku. Sebenarnya apa yang terjadi, dimana Alyssa. Aku ingin dia datang kesini dan menjelaskan semuanya kepadaku." Putus Manda dengan wajah dingin, terlihat sekali jika Manda sangat kecewa dengan anaknya.
Ia tidak menyangka sang anak menikah tanpa meminta izin darinya.
"Sebaiknya ibu tenang, saya mohon jangan marah karena ibu baru saja sadar dan kondisi ibu belum stabil saat ini."
Nafas Manda memburu, matanya menatap tajam wajah pria yang mengaku sebagai menantunya.
"Bagaimana aku bisa tenang, Alyssa mengambil keputusan sendiri tanpa memberitahuku apa dia masih menganggap ku sebagai ibunya."
"Ibu jangan menyalahkan Alyssa, dia juga terpaksa." Bela Brayen tidak ingin Manda salah paham dan membenci putrinya.
"Apa maksudmu?" Tanya Manda penasaran.
Dia kembali teringat dengan janji putrinya sebelum ia jatuh sakit dan dibawa kerumah sakit.
"Jangan jangan dia telah menjual tubuhnya padamu!" Tebak Manda yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Brayen.
"Saya bukan laki laki seperti itu..."
"Lalu apa..., kenapa kamu bisa menikah dengannya?" Tanya Manda penasaran.
Perasaannya campur aduk sekarang Antara kesal, marah dan khawatir. Ia takut Alyssa mengambil keputusan yang akan disesalinya
.
"Semua Alyssa lakukan demi ibu."
Nafas Manda terhenti, ia terdiam mencoba mencerna apa yang Brayen katakan.
"Saat itu kondisi ibu sangat tidak menguntungkan sedikit saja terlambat maka nyawa ibu tidak akan tertolong dokter menyarakan untuk melakukan operasi sesegera mungkin namun Alyssa tidak memiliki uang untuk itu, jadi dia terpaksa menerima tawaran ibu saya untuk menikah dengan saya."
Tes...
Air mata jatuh membasahi pipi Manda, hatinya hancur ia merasa gagal menjadi seorang ibu.
Seharusnya ia yang melindungi putrinya, menjaganya dan membahagiakannya namun bukannya membahagiakan ia justru malah menyengsarakan anaknya.
Demi dirinya sang anak rela menikah dengan orang yang tidak dikenalnya dan mengorbankan kebahagiaannya.
Ia merasa bersalah, andaikan saja ia tidak sakit dan membutuhkan biaya banyak mungkin anaknya tidak akan semenderita itu...
"Kenapa... Kenapa dia harus melakukan itu. Kenapa dia tidak membiarkan aku mati saja. Aku tidak rela dia menukar kebahagiaannya demi kehidupanku." Lirih Manda merasa hancur.
Hatinya seperti dihujani pisau tajam yang menembus sampai ulu hatinya.
"Karena ibu dunianya dan dia tidak akan bisa hidup tanpa ibu. Dia sangat menyayangi ibu, dia rela melakukan apa saja agar ibu baik baik saja dan bisa tetap terus bersama dengannya."
"Tapi ibu juga tidak ingin dia menderita karena ibu... Ibu ingin dia bahagia, selama ini dia sudah cukup menderita jadi ibu tidak ingin menambah penderitaannya lagi." Ucap Manda teringat bagaimana kehidupan putrinya selama ini.
Dari mulai ayah yang tidak peduli, suami yang menghianatinya dan ibu yang sakit sakitan sepertinya ia tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya Alyssa selama ini, ia berharap wanita itu bisa menemukan kebahagiaannya dan menikah dengan laki laki yang mencintainya.
Namun kini ia justru menghancurkan semuanya, ia renggut kebahagiaan putrinya hanya demi mempertahankan umurnya yang mungkin tidak tersisa banyak lagi.
Brayen menghela nafasnya, ia tidak tau apa yang Manda rasakan karena ia belum pernah menjadi orang tua, namun melihat wanita dihadapannya itu menangis ia jadi teringat ibunya.
"Apa seperti ini yang dirasakan mama ketika aku terpuruk, aku hanya memikirkan Maudy dan meratapi kepergiannya aku tidak pernah berfikir bagaimana hancurnya perasaan wanita yang telah melahirkan ku ketika melihat aku terbelenggu dalam kesedihan... Aku telah melukai hatinya bahkan aku membentaknya hanya karena dia menginginkan aku kembali seperti dulu."
Brayen merasa tertampar, hatinya sakit mengingat apa yang telah ia lakukan.
Ia menyesal dan memutuskan untuk meminta maaf kepada ibunya nanti.
"Saya tau ibu sedih, merasa hancur itu sudah pasti namun Alyssa tidak akan suka melihat ibu seperti ini dia pasti akan sedih dan ikut menyalahkan dirinya sendiri."
Manda menghapus air matanya.
Menantunya benar, ia tidak boleh terlihat sedih didepan Alyssa ia tidak ingin dang anak merasa bersalah setelah semua pengorbanan yang ia lakukan.
"Terimakasih nak, karena kamu sudah mengadakan ibu. Tapi bisakah ibu meminta sesuatu darimu?"
"Apa itu Bu?"
"Tolong bahagiakan Alyssa jika kamu tidak mampu setidaknya kamu jangan menyakiti hatinya. Dia sudah mengambil keputusan ini untuk ibu jadi ibu ingin dia bahagia." Pinta Manda dengan tatapan memohon.
Sedangkan Brayen... Ia hanya bisa terdiam dikursi rodanya, hatinya bimbang.
Ia tidak tau apakah ia bisa membahagiakan Alyssa sedangkan hatinya masih milik wanita lain, ia juga tidak bisa berjanji untuk tidak menyakitinya karena sampai detik ini ia masih belum bisa mengontrol emosinya...
Ia takut penyakitnya kambuh dan melukai wanita itu.
Namun jika ia tidak mengatakan apapun ibu Alyssa juga tidak akan merasa tenang, ia akan terus menyalahkan dirinya.
"Saya tidak bisa berjanji Bu, tapi saya akan berusaha untuk tidak menyakiti anak ibu." Manda tersenyum, jawaban itu sudah lebih dari cukup untuknya.
Kini ia bisa melepaskan anaknya dan berharap semoga anaknya bisa hidup lebih bahagia dari pada sebelumnya.
..
...
..
"Jangan menyalahkan dirimu karena ibu juga tidak menyalahkan mu apapun keputusan yang kamu ambil ini semua demi kebaikan kita. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu Alyssa dan ibu mohon jangan menanggung semuanya sendiri lagi karena kamu memiliki ibu.... Ibu siap jika kamu mau berbagi bebanmu kepada ibu."
Alyssa menganggukkan kepalanya perlahan ia tersenyum bukan tersenyum karena paksaan melainkan karena senyum tulus yang sebelumnya ia sembunyikan dibalik kesedihan yang ia rasakan.
Brayen ikut tersenyum melihatnya ia senang karena Alyssa telah menemukan kebahagiaannya lagi meskipun kebahagiaan itu bukan darinya.
Getaran ponsel dalam sakunya membuat pandangan Brayen teralihkan, ia meraih ponselnya itu dan mengangkat telepon dari sekretarisnya.
"Halo Ardi... Ada apa?"
"Maaf mengganggumu bos, saya tau bos sedang asik dengan istri bos kan hihihi."
"Tutup mulutmu Ardi." Peringat Brayen yang membuat Ardi menelan ludahnya kasar.
Ia menyesal sudah menggoda bosnya, sudah tau bosnya itu paling susah untuk digoda.
"Maaf bos."
"Cepat katakan ada apa?" Ucap Brayen mulai kesal karena Ardi tidak kunjung berterus terang.
"Bisakah bos datang kekantor, ada sedikit masalah dan hanya bos yang bisa menanganinya."
Brayen melirik Alyssa yang kini masih terlihat asik mengobrol dengan ibunya.
Sejujurnya ia tidak ingin meninggalkan Alyssa sendirian di sana namun pekerjaannya tidak bisa menunggu, jadi ia tidak punya pilihan lain..