NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30_KETIKA SAHABAT DENGAN JIWA KEPONYA

Bel istirahat berdentang nyaring, memecah suasana kelas yang sejak tadi terasa tegang. Seperti pelepas penat, murid-murid langsung berhamburan keluar. Koridor mendadak penuh langkah kaki, suara kursi diseret, dan tawa yang kembali pecah seolah tak ada kejadian apa pun sebelumnya.

Kantin sekolah siang itu riuh luar biasa. Bau gorengan bercampur kuah bakso, suara sendok beradu dengan mangkuk, dan bisik-bisik yang entah disengaja atau tidak, masih menyelip di antara obrolan para siswa.

Nayla memilih meja paling pojok, meja yang agak tersembunyi di balik tiang besar kantin. Meja favoritnya sejak dulu. Ia duduk bersama Sena dan Dani. Mangkuk mie ayam sudah ada di depannya, tapi nafsu makannya terasa setengah-setengah.

"Eh, Nay"Sena memulai, mencondongkan tubuhnya sedikit. "Gue masih penasaran ya. Kenapa bisa?"

Dani langsung menyahut, ikut maju ke depan dengan mata menyipit penuh selidik. "Iya. Kok bisa, si anak OSIS itu sama Azka sampai tarik-tarikan tangan lo gitu?"

Nayla menghela napas panjang. Ia menatap mie ayamnya sejenak, lalu menjawab singkat, "Aku nggak tau."

Sena langsung mengernyit. "Lah, gimana ceritanya masa lo nggak tau?"

"Iya aneh," Dani mengangguk setuju, dagunya bertumpu di atas kedua tangan. "Masa lo nggak tau."

Nayla mendengus pelan. "Adalah pokoknya."

Dua kata kalimat sakti itu sukses membuat Sena dan Dani saling pandang.

"Ihh… gue serius ya, Nayla!" Sena berseru kesal.

Dani ikut mengangguk, wajahnya jelas tak puas dengan jawaban menggantung itu.

Nayla akhirnya mengaduk mie ayamnya pelan, lalu berkata dengan nada lebih rendah, "Aku juga bingung. Tadi aku cuma ngobrol bentar sama Arvin. Terus… tiba-tiba Azka datang dan narik tangan aku."

"OH, YA?" Sena refleks meninggikan suara.

Nayla langsung melotot panik. "Ssst! Jangan kenceng-kenceng!"

Sena terkekeh kecil. "Hehe… refleks. Terus? Terus?"

Dani sudah siap pasang telinga sejak tadi. Jiwa kepo-nya benar-benar on mode. "Iya, terus gimana?"

"Cuma itu aja. Abis itu guru datang, ribut dikit, terus berakhir di ruang BK."

Sena menyandarkan punggungnya ke kursi. "Fix. Ini drama."

Dani menyeringai. "Drama segitiga."

Nayla langsung menyela, "Bukan!"

"Terus kenapa Azka bisa segitu reaksinya?" Sena menatap Nayla penuh selidik. "Itu nggak normal tau."

Nayla terdiam. Sendoknya berhenti di udara. Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya juga sejak tadi.

"Iya, Nay," Dani menambahkan. "Azka itu tipikal orang yang nggak peduli. Tapi ke lo… beda."

Nayla menelan ludah. “Aku… nggak tau,” ucapnya lebih pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri.

Di meja lain, beberapa siswa masih melirik ke arah Nayla. Ada yang berbisik, ada yang terang-terangan menatap. Nayla pura-pura tidak peduli, meski dadanya terasa sedikit sesak.

Di sisi lain kantin, Azka duduk bersama Raka, Dion, dan Devan. Tangannya memegang gelas minum, tapi matanya sama sekali tak lepas dari meja pojok itu.

"Lo liatin siapa sih dari tadi?" Dion mengikuti arah pandang Azka. "Oh… Nayla."

Raka menaikkan alis. "Pantes."

Azka tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Adegan pagi tadi kembali terlintas di kepalanya, tangan Arvin yang menahan Nayla, suara Nayla yang memanggil mereka berdua untuk berhenti.

Devan melirik Azka. "Ka… lo yakin lo baik-baik aja?"

Azka meneguk minumannya sampai habis. Gue fine."

Padahal di dadanya, jelas ada sesuatu yang terus mengusik.

***

Di sisi meja pojok itu, urusan belum selesai. Jiwa kepo Sena dan Dani justru makin menggila.

"Ini jelas aneh," Sena bersandar santai di kursinya sambil melipat kedua tangan di dada. Tatapannya lurus menembus wajah Nayla. "Lo serius nggak ada hubungan apa-apa sama Azka?"

Belum sempat Nayla menjawab, Dani sudah menjentikkan jarinya pelan. "Nah, iya. Kok gue tiba-tiba curiga ya?" katanya dengan mata menyipit, penuh selidik.

Nayla refleks gelagapan. Cara mereka menatapnya benar-benar bikin salah tingkah. "Cu—curiga apasih? Nggak ada ya!" ucapnya cepat, nyaris terbata.

Sena mendadak memasang tampang dramatis. Kedua tangannya terangkat, mengibas-ngibas udara di sekitarnya seolah sedang menarik aroma yang tidak kasatmata. "Humm…" gumamnya panjang. "Sepertinya aku mencium bau-bau yang… hem, apa ya…"

"Bau apa?" Dani ikut mendekat, sok serius. "Bau rahasia?"

Nayla mendengus kesal. "Kalian berdua lebay!"

"Bukan lebay,” Sena terkekeh kecil. “Ini namanya insting."

"Insting kepo," koreksi Nayla sambil menyendok mie ayamnya dengan wajah datar.

Dani mengangguk-angguk seolah menemukan sesuatu. "Tapi serius, Nay. Cara Azka ke lo tuh beda. Lo lihat sendiri kan tadi? Dia kayak… posesif."

"Kalian kebanyakan nonton drama," Nayla memutar bola mata. "Azka itu cuma—"

Ia terhenti. Kata-kata di kepalanya mendadak kosong.

Cuma apa?

Cuma teman? Tidak mungkin. Cuma kenal? Terlalu jauh. Cuma peduli? Kenapa peduli sampai segitunya?

Sena menyipitkan mata, menangkap jeda itu. "Tuh kan. Lo sendiri bingung."

Nayla mendecak. "Udah ah. Makan aja, ntar keburu bel masuk."

Sena dan Dani saling pandang, lalu tersenyum penuh arti.

"Oke," Sena mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Untuk sementara."

Dani menyeringai. "Tapi ingat ya… rahasia biasanya nggak tahan lama."

Nayla memilih fokus ke makanannya, meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Tanpa ia sadari, dari kejauhan, sepasang mata masih mengawasinya. Tatapan itu tajam, penuh sesuatu yang bahkan pemiliknya sendiri belum berani mengakui.

***

Sena belum menyerah.

Tatapannya masih menancap ke wajah Nayla dengan penuh selidik, seolah sedang menyusun potongan puzzle yang belum lengkap. Jari telunjuk tangan kirinya menepuk-nepuk bibir, sementara tangan kanannya terlipat di depan dada sebagai tumpuan. Wajahnya terlihat gelisah, jelas tidak tenang.

Nayla yang menyadari itu langsung menaikkan satu alis. "Kamu kenapa?" tanyanya bingung.

Dani yang baru saja hendak menyuap mie ayamnya refleks berhenti. Ia melirik Sena sekilas, lalu kembali menyuap mie ayamnya yang sudah mulai dingin, seolah mencoba bersikap biasa.

"Kayaknya…" Sena membuka suara pelan, "gue merasa gelisah."

Dani langsung berhenti mengunyah. "Hah? Gelisah kenapa?" tanyanya pura-pura bingung.

Nayla memicingkan mata, curiga.

"Gue merasa gelisah," lanjut Sena dengan nada dramatis, "ketika rasa kepo ini belum tuntas."

Refleks Nayla menepuk jidatnya pelan. "Allahuakbar" Jeritnya dalam hati.

“Sama,” sahut Dani santai. “Gue juga.”

Nayla mendengus, tapi sebelum sempat menyela, Dani tiba-tiba berubah serius. Wajahnya tidak lagi penuh canda.

"Oh iya," katanya pelan, seolah baru ingat sesuatu. "Gue lupa."

Sena ikut menoleh.

"Waktu itu…" Dani berpikir sejenak. "Hari apa ya? Sabtu mungkin? Ah, entahlah". Ia menatap Nayla tajam. "Gue masih penasaran kenapa Azka tiba-tiba mukul siswa kelas sebelah, cuma gara-gara dia nggak sengaja jatuhin bola ke kepala lo."

Tubuh Nayla refleks menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berusaha mengontrol ekspresi wajahnya, lalu berdecak pelan.

“Ck,” Nayla menghela napas. “Dengan jawaban yang sama, AKU NGGAK TAU. Lagian kenapa sih, Kalian kepo banget perasaan”

Nada suaranya tegas, tanpa celah.

Sena dan Dani langsung berubah murung seketika, dramatis seperti balon yang kempes. Memang begitulah mereka, dilahirkan dengan jiwa kepo yang penuh teatrikal.

Tubuh Dani melorot ke sandaran kursi. “Haishh…”

Sena juga menghela napas panjang. “Hampa rasanya hidup ini.”

Nayla hanya memandangi keduanya bergantian dengan mata menyipit. Ada rasa waswas yang tersisa di dadanya, tapi juga lega. Karena untuk sementara, pertanyaan-pertanyaan keramat itu akhirnya berhenti.

Untuk sementara.

***

Bel berbunyi nyaring, memecah riuh rendah kantin. Suaranya menjadi penanda bahwa waktu istirahat telah berakhir. Satu per satu siswa bergegas membereskan makanan mereka, beberapa masih sambil mengunyah, lalu berhamburan keluar menuju kelas masing-masing.

Meja pojok itu pun mulai sepi.

Sena tiba-tiba berdiri sambil meringis kecil, satu tangannya menekan perut. "Aduh… gue duluan ya?" katanya terburu-buru.

"Kemana?" tanya Dani dan Nayla hampir bersamaan.

"Toilet! Kebelet pipis!" jawab Sena tanpa basa-basi, lalu langsung melesat pergi dengan langkah cepat.

"Ehh… gue ikut!" seru Dani, refleks berdiri dan menyusul Sena tanpa pikir panjang.

Nayla hanya bisa melongo melihat punggung kedua sahabatnya yang menjauh.

"Ditinggal nih ceritanya?" gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri.

Ia menghela napas, lalu ikut berdiri. Tangannya meraih tas, dan Nayla pun melangkah keluar dari kantin menuju koridor kelas. Suasana di luar jauh lebih lengang dibandingkan tadi. Kebanyakan siswa sudah masuk ke kelas masing-masing.

Langkah Nayla terdengar pelan di lantai koridor yang memantulkan cahaya matahari siang. Ia baru saja melangkah beberapa meter. Tiba-tiba. Tangannya ditarik oleh seseorang.

"Ikut aku."

Nayla tersentak kaget.

“Eh—”

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!