"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Tersembunyi
Keesokan harinya, dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan, Puri, Rendra, Ayu, dan Dina memulai perjalanan mereka untuk mencari juru kunci makam keluarga Handoko. Mereka berharap, orang itu akan memberikan mereka petunjuk yang mereka butuhkan untuk mengungkap misteri Pulau Tengkorak dan mengakhiri kutukan yang telah menghantui keluarga Handoko selama bertahun-tahun.
Mereka tidak tahu, perjalanan mereka kali ini akan membawa mereka ke tempat-tempat yang lebih gelap dan berbahaya dari yang pernah mereka bayangkan. Mereka akan menghadapi musuh-musuh yang lebih kuat dan lebih licik. Dan mereka akan dipaksa untuk mempertaruhkan segalanya, demi mengungkap kebenaran dan menyelamatkan desa mereka dari kegelapan yang mengancam Keesokan harinya, dengan jantung berdebar, Puri, Rendra, Ayu, dan Dina memulai pencarian mereka untuk menemukan juru kunci makam keluarga Handoko. Mereka sepakat untuk berpencar dan menanyakan informasi kepada orang-orang yang berbeda, agar tidak terlalu mencolok dan menarik perhatian.
Puri dan Rendra pergi ke warung kopi yang terletak di dekat pasar desa. Warung itu adalah tempat berkumpulnya para lelaki tua di desa, dan mereka biasanya tahu segala sesuatu yang terjadi di Sidomukti.
"Permisi, Pak," kata Puri kepada seorang lelaki tua yang sedang asyik menghisap rokok kretek. "Kami mau tanya, apa Bapak kenal dengan juru kunci makam keluarga Handoko?"
Lelaki tua itu menatap Puri dan Rendra dengan tatapan menyelidik. "Juru kunci? Oh, maksud kalian Mbah Karto?"
"Betul, Pak," jawab Rendra dengan sopan. "Apa Bapak tahu di mana kami bisa menemukannya?"
Lelaki tua itu terdiam sejenak, seolah-olah sedang berpikir. "Mbah Karto itu orangnya sudah tua renta. Dulu dia memang juru kunci makam, tapi sekarang dia sudah sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja lagi."
"Lalu, di mana kami bisa menemuinya, Pak?" tanya Puri dengan nada cemas.
"Mbah Karto tinggal di gubuk kecil di ujung desa, dekat dengan hutan," jawab lelaki tua itu. "Tapi, saya sarankan kalian jangan mengganggunya. Dia orangnya sudah pikun dan suka bicara yang aneh-aneh."
Puri dan Rendra saling bertukar pandang. Mereka tidak yakin apakah harus mempercayai lelaki tua itu atau tidak. Tapi, mereka tidak punya pilihan lain. Mereka harus mencoba mencari Mbah Karto.
Sementara itu, Ayu dan Dina pergi ke balai desa untuk menanyakan informasi kepada Pak Kepala Desa. Mereka berharap Pak Kepala Desa akan bersedia membantu mereka.
"Selamat siang, Pak Kepala Desa," kata Ayu dengan sopan. "Kami mau tanya, apa Bapak tahu tentang juru kunci makam keluarga Handoko?"
Pak Kepala Desa tersenyum ramah kepada Ayu dan Dina. "Oh, juru kunci? Tentu saja saya tahu. Dulu, Mbah Karto memang juru kunci makam, tapi sekarang dia sudah digantikan oleh anaknya, Mas Bagas."
"Mas Bagas?" tanya Dina dengan heran. "Kami belum pernah mendengar tentang dia."
Pak Kepala Desa tertawa kecil. "Mas Bagas itu orangnya memang pendiam dan jarang keluar rumah. Dia tinggal di rumah warisan keluarganya, di dekat sungai."
"Apa Bapak bisa memberikan kami alamat rumah Mas Bagas?" tanya Ayu dengan nada berharap.
Pak Kepala Desa mengangguk setuju. Ia menuliskan alamat rumah Mas Bagas di selembar kertas dan memberikannya kepada Ayu.
"Tapi, saya sarankan kalian berhati-hati," kata Pak Kepala Desa dengan nada serius. "Mas Bagas itu orangnya agak aneh. Dia suka menyendiri dan jarang berinteraksi dengan orang lain."
Ayu dan Dina mengucapkan terima kasih kepada Pak Kepala Desa dan segera meninggalkan balai desa. Mereka merasa bingung dan curiga. Kenapa Pak Kepala Desa tidak menyebutkan tentang Mbah Karto? Apakah ia menyembunyikan sesuatu dari mereka?
Setelah berpencar dan mendapatkan informasi yang berbeda, Puri, Rendra, Ayu, dan Dina berkumpul kembali di pasanggrahan. Mereka menceritakan semua yang telah mereka dengar dan lihat.
"Jadi, kita punya dua orang yang berbeda," kata Puri dengan nada berpikir. "Mbah Karto yang tinggal di gubuk dekat hutan, dan Mas Bagas yang tinggal di rumah dekat sungai."
"Siapa yang harus kita temui duluan?" tanya Ayu dengan nada ragu.
"Aku rasa kita harus menemui keduanya," jawab Rendra dengan nada mantap. "Kita tidak tahu siapa yang memiliki informasi yang benar."
"Tapi kita harus berhati-hati," kata Dina dengan nada waspada. "Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di desa ini. Aku merasa ada yang mengawasi kita."
Tiba-tiba, terdengar ketukan pintu dari luar. Puri membuka pintu dan terkejut melihat seorang lelaki yang tidak dikenal berdiri di depan pintu. Lelaki itu mengenakan pakaian serba hitam dan wajahnya tertutup oleh topi.
"Selamat malam," kata lelaki itu dengan suara serak. "Saya mencari Puri dan teman-temannya."
Puri merasa jantungnya berdebar kencang. Siapa lelaki ini? Dan bagaimana ia tahu nama mereka?
"Saya Puri," jawab Puri dengan nada hati-hati. "Ada apa?"
Lelaki itu tersenyum misterius. "Saya hanya ingin menyampaikan pesan," katanya. "Pesan dari seseorang yang tidak ingin kalian mencari juru kunci makam keluarga Handoko. Jika kalian tidak ingin celaka, sebaiknya kalian berhenti sekarang juga."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki itu berbalik dan pergi menghilang
Di setiap sudut desa, tersembunyi cerita yang menunggu untuk diungkap."
Puri, Rendra, Ayu, dan Dina berkumpul kembali di pasanggrahan, masih diliputi kecemasan setelah kedatangan orang asing yang misterius itu. Pesan ancaman itu jelas ditujukan untuk menghentikan mereka mencari tahu tentang juru kunci makam keluarga Handoko.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka mengintimidasi kita," kata Puri dengan nada tegas. "Kita harus mencari tahu siapa orang itu dan siapa yang menyuruhnya."
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Ayu dengan nada khawatir. "Kita tidak punya petunjuk apa pun."
"Kita harus memanfaatkan semua sumber daya yang kita miliki," jawab Rendra. "Kita harus bertanya kepada orang-orang di desa. Mungkin ada yang melihat atau mendengar sesuatu tentang orang asing itu."
Mereka sepakat untuk berpencar dan bertanya kepada orang-orang yang berbeda, menghindari kecurigaan dengan tidak menanyakan hal yang sama kepada orang yang sama. Mereka bertekad untuk berhati-hati dan waspada terhadap setiap gerak-gerik orang di sekitar mereka.
Puri pergi ke pasar desa, tempat ia bisa berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Ia mencoba mendekati para pedagang kaki lima, tukang becak, dan ibu-ibu yang sedang berbelanja.
"Permisi, Bu," kata Puri kepada seorang ibu yang sedang memilih sayuran. "Saya mau tanya, apa Ibu pernah melihat orang asing di desa ini? Orangnya tinggi, mengenakan pakaian serba hitam, dan wajahnya tertutup topi."
Ibu itu mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat. "Orang asing? Hmm, sepertinya saya pernah melihatnya beberapa hari yang lalu. Dia berjalan di sekitar pasar, tapi saya tidak tahu apa yang dia lakukan."
"Apa Ibu ingat ciri-ciri lainnya?" tanya Puri dengan nada berharap.
"Dia membawa tas ransel yang besar," jawab ibu itu. "Dan dia terlihat seperti orang yang sedang mencari sesuatu."
Puri segera beralih ke pedagang lain. Ia menanyakan pertanyaan yang sama, mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang orang asing misterius itu.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*