NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Bus pariwisata akhirnya berhenti dengan guncangan halus di pelataran parkir luas di kaki Gunung Salak. Udara dingin pegunungan langsung menyusup masuk saat pintu bus dibuka.

Gibran segera berdiri, mengambil mikrofon bus, dan mulai memberikan instruksi dengan suara lantang namun tetap berwibawa.

 "Selamat siang semuanya, kita sudah sampai. Tolong cek kembali barang bawaan kalian, jangan ada yang tertinggal. Baris sesuai kelompok di samping bus!"

Satu per satu murid XI-A turun dengan riuh. Namun, mata Gibran tertuju pada satu bangku di barisan tengah. Arkan dan Naura masih terlelap. Posisi mereka masih sama: kepala Naura bersandar di bahu Arkan, sementara kepala Arkan bersandar di atas kepala Naura. Pemandangan itu membuat rahang Gibran mengeras.

Gibran melangkah mendekat, tangannya sudah terangkat hendak menepuk bahu Arkan. "Arkan, bangun. Kita sudah—"

Tiba-tiba, sebuah tangan menahan lengan Gibran. Raisa berdiri di sana, menatap Gibran dengan sorot mata yang seolah mengatakan 'jangan cari mati'.

"Biar gue," ucap Raisa pendek. Ia tahu, jika Gibran yang membangunkan Arkan dalam posisi seperti itu, Arkan bisa saja merespons dengan gerakan refleks bela diri yang berbahaya bagi warga sipil seperti Gibran.

Raisa tidak membangunkan mereka dengan lembut. Ia mengambil botol air mineral dingin dari tasnya, lalu menempelkan botol itu tepat ke pipi Arkan dan Naura secara bergantian.

"Bangun. Kita bukan lagi di hotel bintang lima," suara datar Raisa memecah kesunyian di antara mereka bertiga.

"Hah?!" Naura tersentak, matanya terbuka lebar. Hal pertama yang ia sadari adalah aroma parfum maskulin yang sangat dekat dengan hidungnya. Ia menoleh ke samping dan menyadari wajah Arkan hanya berjarak beberapa senti.

Arkan pun terbangun dengan waspada. Mata elangnya langsung fokus pada sekitar. Selama beberapa detik, keduanya mematung, saling tatap di depan mata Gibran dan Raisa.

Kesadaran menghantam mereka. Naura segera menjauhkan kepalanya dengan gerakan kaku, sementara Arkan berdehem berat sambil memperbaiki posisi duduknya yang terasa pegal.

"Ehem... sudah sampai ya?" tanya Naura, mencoba menetralisir suasana yang sangat canggung itu.

Gibran berdehem keras, wajahnya tampak tidak senang. "Iya, sudah sepuluh menit yang lalu. Semua orang sudah turun, tinggal kalian berdua."

Naura, yang sudah kembali ke mode aslinya, melihat wajah kesal Gibran dan wajah kaku Arkan. Jiwa tengilnya langsung meronta-ronta untuk keluar. Ia melirik Arkan yang sedang pura-pura sibuk mengambil ransel.

"Duh, pantesan mimpi gue berat banget, kayak lagi ketindihan batu besar di Gunung Salak," ujar Naura sambil meregangkan lehernya, melirik Arkan dengan senyum mengejek. "Eh, ternyata bukan batu ya, tapi bahu 'Om' Arkan yang keras banget kayak beton. Lo tidur atau lagi latihan jadi patung, Kan?"

Arkan mendengus, berusaha menutupi rasa malunya. "Bahu gue pegal gara-gara kepala lo yang beratnya kayak beban dosa."

"Halah, bilang aja lo seneng kan gue jadiin bantal?" Naura berdiri, menepuk-nepuk bahu Arkan dengan nada menggoda. "Makasih ya, Kak Arkan. Berkat sandaran 'kokoh' lo, gue jadi seger lagi buat mulai misi... eh, maksud gue mulai kemah. Jangan lupa diurut ya bahunya, inget faktor usia!"

Naura kemudian melenggang pergi meninggalkan bus sambil tertawa kecil, melambaikan tangan pada Gibran yang masih terpaku.

Arkan menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam emosinya yang diaduk-aduk oleh gadis itu. Ia berdiri, menatap Gibran sekilas dengan tatapan dingin yang seolah menegaskan wilayah, lalu menyampirkan tasnya.

"Gue duluan," kata Arkan pada Raisa dan Gibran sebelum menyusul langkah Naura yang sudah mulai sibuk mencari-cari teman kelompoknya di lapangan.

......................

Naura segera bergabung di barisan kelas XI-A, berdiri tepat di samping Nadira yang sudah menunggunya dengan wajah yang sulit dideskripsikan antara menahan tawa atau ingin berteriak histeris. Di belakang mereka, Bimo dan Rio sudah pasang posisi, siap meluncurkan serangan godaan.

"Ciee... yang tadi tidurnya nyenyak banget sampai nggak mau bangun," bisik Nadira sambil menyenggol lengan Naura. "Gimana rasanya bersandar di 'pundak keamanan' sekolah? Empuk atau keras-keras protektif gitu?"

Naura memutar bola matanya, mencoba tetap tenang meski wajahnya sedikit menghangat. "Tadi itu murni karena busnya terlalu nyaman, Nad. Gue cuma butuh bantal, dan kebetulan Arkan ada di sana."

"Bantal ya? Bantal bermerek Arkan mah mahal harganya, Ra," sahut Bimo yang tiba-tiba memajukan kepalanya di antara mereka. "Gue tadi mau foto, tapi takut kena kick sama Arkan. Auranya pas bangun tidur tadi serem banget, kayak singa keganggu waktu lagi jagain wilayahnya."

Rio ikut menimpali sambil terkekeh pelan. "Iya, gila sih. Arkan yang biasanya kaku kayak papan cucian, tadi pagi malah jadi sandaran idaman. Kayaknya misi 'temen sebangku' lo berhasil banget nih, Ra. Pak Bos OSIS kita di depan sana langsung ditekuk mukanya kayak kertas gorengan."

"Eh, kalian berisik banget sih!" desis Naura, melirik ke arah Arkan yang berdiri beberapa baris di belakangnya dan Gibran yang sedang memberikan instruksi di depan. "Gue cuma nggak sengaja ketiduran. Habisnya si Arkan diajak ngobrol malah diem mulu kayak patung di museum."

"Diem tapi nyaman kan?" Nadira mengedipkan matanya dengan jahil. "Tadi gue lihat tangan Arkan kayak mau meluk tapi ragu gitu. Aduh, gemes banget! Gue berasa lagi nonton drama Korea secara live."

Naura mendengus, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Udah, berhenti bahas itu. Mending kita fokus ke pembagian tenda. Jangan sampai gue setenda sama orang yang hobi ngorok."

"Tenang, Ra," balas Rio dengan nada tengil.

 "Kalaupun lo nggak bisa tidur karena berisik, lo tinggal cari Arkan lagi aja. Pundaknya selalu terbuka buat lo, katanya."

Naura hanya bisa membalas dengan tatapan tajam yang pura-pura galak, sementara dalam hatinya ia mulai waspada. Godaan teman-temannya ini bisa menjadi gangguan bagi fokus misinya. Ia harus segera mencari waktu untuk menjauh dari kerumunan dan mulai mengecek alat pelacaknya.

Saat godaan Bimo dan Rio sedang berada di puncak, sebuah bayangan tinggi jatuh menutupi mereka. Arkan tiba-tiba muncul di samping barisan Naura dengan wajah sedatar tembok, diikuti oleh Raisa yang berjalan dengan gaya santai namun mengintimidasi.

Suasana langsung senyap. Bimo yang tadi tertawa lebar tiba-tiba pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya, sementara Rio mendadak sangat tertarik melihat awan di langit.

"Kenapa diam? Lanjutin aja, gue juga mau dengar bagian 'bahu idaman' tadi," ucap Arkan dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Bimo merinding.

"Eh, Arkan! Enggak, itu... tadi Rio bilang cuacanya bagus, cocok buat tidur," kilat Bimo mencari alasan sambil menyenggol lengan Rio.

Raisa melirik Naura, lalu menatap Arkan dengan tatapan bosan. "Berhenti nakut-nakutin anak kecil, Kan. Kita punya hal yang lebih penting buat diurus daripada dengerin gosip receh."

Naura, yang tidak mau terlihat terintimidasi, justru tersenyum lebar ke arah Raisa. "Nah, bener tuh kata Raisa. Lagian ya, Raisa, sepupu lo ini sensitif banget kalau dibahas soal umur. Takut beneran kelihatan kayak bapak-bapak yang lagi nemenin anaknya kemah kali ya?"

Arkan mendengus, menatap Naura tepat di matanya. "Naura, satu kali lagi lo bahas umur, gue bakal laporin ke Pak Danu kalau lo bawa alat elektronik terlarang di tas lo."

Naura sedikit tersentak. Dia tahu 'alat elektronik terlarang' yang dimaksud Arkan adalah perangkat pelacak dan pemindai sinyal miliknya. Ia segera mengubah ekspresinya menjadi cemberut yang dibuat-buat.

"Ih, mainnya lapor-laporan! Dasar pengadu!" seru Naura sambil membuang muka, meski dalam hati ia tahu Arkan sedang memberinya peringatan untuk segera kembali ke mode profesional.

Raisa hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian berdua benar-benar definisi bencana. Gue mau cari tempat tenda yang jauh dari kalian kalau bisa."

"Nggak bisa, Raisa," balas Arkan ketus.

 "Sesuai koordinasi, tenda kita harus berdekatan untuk mempermudah... pengawasan."

Gibran, yang dari kejauhan melihat Arkan kembali mendekati Naura, mulai meniup peluitnya dengan keras untuk mengumpulkan perhatian. "Semuanya! Perhatian ke sini! Kita akan mulai pembagian tenda berdasarkan kelompok yang sudah ditentukan!"

Naura melirik Arkan dengan tatapan penuh arti, seolah memberi kode bahwa 'permainan' yang sesungguhnya baru saja dimulai. "Oke, Komandan. Mari kita lihat, siapa yang bakal dapet tenda paling strategis buat memantau 'gunung' ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!