NovelToon NovelToon
Mahar Nyawa Untuk Putri Elf

Mahar Nyawa Untuk Putri Elf

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Perperangan / Elf / Action / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibuang ke neraka Red Line dengan martabat yang hancur, Kaelan—seorang budak manusia—berjuang melawan radiasi maut demi sebuah janji. Di atas awan, Putri Lyra menangis darah saat tulang-tulangnya retak akibat resonansi penderitaan sang kekasih. Dengan sumsum tulang yang bermutasi menjadi baja dan sapu tangan Azure yang mengeras jadi senjata, Kaelan menantang takdir. Akankah ia kembali sebagai pahlawan, atau sebagai monster yang akan meruntuhkan langit demi menagih mahar nyawanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Deklarasi Terra

Sisa-sisa energi Sovereign masih berdenyut di bawah kulit Kaelan, memberikan sensasi pendar putih pucat yang kontras dengan remang-remangnya barak militer tua di pinggiran Sektor 3 Bastion. Udara di sini terasa berat, bukan hanya karena debu kristal Terra yang mulai merayap masuk melalui celah dinding baja, tetapi juga karena aroma gandum fermentasi yang pahit dari bir jatah militer yang tumpah di lantai. Kaelan duduk di tepi dipan kayu yang kasar, menatap tangannya yang masih sedikit gemetar pasca manifestasi domain yang ia lepaskan untuk meredam amukan massa sebelumnya.

"Minumlah sedikit, Lyra. Ini hanya air gandum hangat, bisa membantu menstabilkan suhu tubuhmu," ucap Kaelan sambil menyodorkan cangkir logam yang sudah penyok di beberapa sisinya.

Lyra duduk di atas dipan, jemarinya yang dingin meraba-raba pinggiran cangkir tersebut. Ia masih enggan melepas kain linen yang menutupi matanya, seolah-olah kegelapan itu adalah satu-satunya benteng yang tersisa dari dunia yang mendadak menjadi sangat asing dan menakutkan baginya.

"Kaelan... tanganmu masih terasa sangat panas," bisik Lyra saat jemari mereka bersentuhan. "Aura itu... apakah itu harga yang harus kau bayar untuk menundukkan mereka semua tadi? Aku merasa kau menjadi sangat jauh, seolah kau bukan lagi manusia yang pernah memelukku di gubuk penambang Ash-Valley."

Kaelan menarik tangannya, mengepalkannya hingga kuku-kukunya memutih untuk meredam getaran energi yang belum sepenuhnya jinak. "Dunia ini tidak mengenal kata damai tanpa kekuatan, Lyra. Martabat kita di tanah manusia ini hanya sekuat otoritas yang bisa aku tunjukkan. Jika aku terlihat lemah sedetik saja, dewan lokal akan merobek kita seperti serigala lapar."

"Tapi kau menakuti mereka. Kau menakuti rakyatmu sendiri," Lyra terisak kecil, suaranya nyaris tenggelam oleh siulan angin yang masuk melalui celah dinding baja. "Aku bisa merasakan ketakutan mereka melalui resonansi jiwamu. Itu terasa sangat menyakitkan, Kaelan. Aku merasa menjadi beban yang membuatmu harus berubah menjadi monster."

"Ketakutan adalah fondasi yang lebih stabil daripada rasa kasihan yang palsu," sahut Kaelan datar. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela kecil yang menghadap ke arah dapur umum barak.

Dari sana, ia bisa melihat ketegangan yang nyata. Sekelompok prajurit manusia sedang bersitegang dengan beberapa pengungsi Elf kelas bawah soal pembagian jatah roti gandum. Rasisme yang sudah mendarah daging di Terra kini beradu dengan kesombongan sisa-sisa kaum langit yang belum sadar bahwa mereka kini hanyalah pelarian yang tak punya rumah.

"Lihat itu, Lyra. Mereka sedang memperebutkan sepotong roti yang keras seperti batu, namun tetap saling menghina darah satu sama lain," Kaelan memunggungi jendela, matanya berkilat dalam keremangan. "Jika aku tidak memberikan deklarasi yang tegas, barak ini akan menjadi kuburan massal sebelum musuh dari Celah Void sempat menyentuh gerbangnya."

"Lalu apa yang akan kau lakukan? Memaksa mereka untuk saling menerima dengan tekanan gravitasi lagi?" tanya Lyra dengan nada getir.

Kaelan mendekati Lyra, berlutut di depannya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Aku akan memberi mereka pilihan. Bersatu sebagai rakyat Terra, atau mati sebagai individu yang keras kepala. Kadang, untuk menyelamatkan nyawa, kita harus menghancurkan harga diri yang salah tempat."

Suara gedoran keras di pintu besi barak memutus percakapan mereka. Bara masuk dengan napas tersengal, wajahnya yang penuh bekas luka tampak lebih tegang dari biasanya.

"Komandan, Dewan Lokal Bastion sudah sampai di depan barak," lapor Bara sambil memegang hulu kapaknya dengan erat. "Mereka membawa petisi pengusiran. Mereka menuntut agar semua pengungsi Elf dikeluarkan dari sektor ini dalam waktu satu jam, atau militer lokal akan melakukan pembersihan paksa untuk menjaga keamanan warga."

Kaelan berdiri perlahan, auranya kembali menajam hingga udara di sekitarnya terasa kering dan statis. "Pembersihan paksa? Di wilayah yang baru saja aku tandai sebagai milikku?"

"Mereka pikir kekuatanmu tadi hanyalah trik sihir sesaat, Kaelan," tambah Bara dengan nada khawatir. "Mereka tidak tahu apa itu Sovereign. Bagi mereka, kau hanyalah manusia pemberontak yang kebetulan memiliki bakat militer yang aneh."

"Bagus kalau mereka berpikir begitu," Kaelan meraih jubah hitamnya yang tersampir di kursi kayu. "Biarkan mereka memegang petisi itu. Aku ingin melihat apakah kertas itu cukup kuat untuk menahan panasnya kebenaran yang akan aku sampaikan."

"Kaelan, jangan ada lagi pertumpahan darah, aku mohon," pinta Lyra sambil mencoba meraih ujung jubah Kaelan dengan tangan gemetar.

Kaelan berhenti sejenak, menoleh ke arah Lyra dengan tatapan yang melunak hanya untuk sekejap. "Aku tidak akan menumpahkan darah mereka selama mereka tahu cara untuk berlutut di depan satu-satunya orang yang bisa menjamin mereka tetap bernapas besok pagi, Lyra. Tetaplah di sini bersama Mina."

Kaelan melangkah keluar dari barak, diikuti oleh Bara yang tampak siap untuk pertempuran apa pun. Di luar, udara Bastion terasa dingin dan menusuk, membawa aroma karat dan kebencian yang sudah mendarah daging sejak masa sebelum reinkarnasi dimulai.

Halaman luar barak militer itu telah berubah menjadi lautan manusia yang beringas. Obor-obor minyak menyala di tangan para warga lokal, memantulkan bayangan panjang yang menari-nari di dinding batu hitam Bastion. Di barisan paling depan, berdiri tiga orang pria paruh baya mengenakan jubah beludru kusam—perwakilan Dewan Lokal Bastion—yang didampingi oleh satu peleton tentara penjaga kota dengan tombak terhunus.

"Kaelan! Sang Pemberontak!" teriak salah satu anggota dewan yang perutnya buncit, suaranya bergetar antara kemarahan dan rasa gentar yang disembunyikan. "Kau membawa wabah ke rumah kami! Kami tahu siapa yang kau sembunyikan di dalam barak itu. Putri terkutuk dari langit yang membawa petaka Void!"

Kaelan melangkah maju, langkahnya tenang namun setiap injakannya menimbulkan suara dentum halus pada tanah yang gersang. Ia tidak membawa pedang di tangannya, namun pendar putih Ignition yang stabil di sekujur tubuhnya sudah cukup untuk membuat kuda-kuda militer lokal itu meringkik ketakutan.

"Kematian Valerius adalah sebuah pengorbanan yang tidak akan pernah bisa kalian pahami dengan otak picik kalian," sahut Kaelan, suaranya dingin dan menusuk udara malam. "Dan wanita di dalam sana bukan putri terkutuk. Dia adalah pengantin dari pria yang memegang kunci keselamatan kalian semua."

"Omong kosong!" sersan militer di samping anggota dewan itu meludah ke tanah. "Kami sudah muak melihat Elf-Elf itu menindas kami dari atas awan selama ratusan tahun. Sekarang, saat mereka jatuh seperti sampah, kau ingin kami memberi mereka makan? Usir mereka ke Celah Void, atau kami yang akan membakar barak ini!"

Kaelan berhenti tepat tiga langkah di depan ujung tombak sersan itu. Ia menatap mata pria itu dengan tatapan Sovereign yang tajam, membuat sersan itu tanpa sadar mundur selangkah karena tekanan mental yang tidak kasat mata.

"Bara, apakah cadangan bir gandum kita masih ada?" tanya Kaelan tiba-kira tanpa mengalihkan pandangan dari lawannya.

Bara, yang berdiri kokoh di belakang Kaelan, mengangguk. "Tinggal dua tong besar, Komandan. Cukup untuk membuat satu peleton ini mabuk dan melupakan rasisme mereka jika itu yang kau mau."

"Bawa keluar satu tong," perintah Kaelan. "Dan bawa juga roti gandum paling keras yang kita miliki."

Massa terdiam sesaat, bingung dengan permintaan tersebut. Ketika tong bir itu diletakkan di tengah halaman, Kaelan mengambil sebuah gelas kayu besar, menciduk bir gandum yang berbusa itu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah kerumunan.

"Dengarkan aku, warga Terra!" suara Kaelan menggelegar, diperkuat oleh frekuensi energi yang membuat dada setiap orang di sana bergetar. "Kalian membenci Elf karena mereka mengambil cahaya matahari dari kita. Kalian membenci mereka karena mereka membuat kita menggali tanah seperti tikus selama ribuan tahun. Aku pun membenci sistem itu lebih dari siapa pun di sini!"

Kaelan meminum bir itu dalam sekali teguk, membiarkan rasa pahit yang tajam membakar tenggorokannya sebagai simbol persaudaraan dengan kerasnya hidup di Terra.

"Tapi hari ini, musuh kita bukan lagi telinga lancip atau darah murni," lanjut Kaelan sambil menghancurkan gelas kayu itu dalam genggamannya hingga menjadi serpihan. "Musuh kita adalah kegelapan yang sedang merayap dari Celah Void. Jika hari ini kalian mengusir mereka, kalian hanya akan mempercepat kehancuran kalian sendiri. Elf yang ada di dalam sana memiliki pengetahuan tentang energi yang tidak kalian miliki, dan kalian memiliki ketangguhan fisik yang tidak mereka miliki."

"Kami tidak sudi bekerja sama dengan budak-budak langit itu!" teriak seorang warga dari belakang.

"Maka matilah dengan martabatmu yang konyol itu!" balas Kaelan dengan kilatan mata putih murni yang mendadak meledak. "Tapi jangan harap aku akan berdiri di depan gerbang untuk menahan gerombolan Void saat mereka datang merobek perut anak-istrimu! Malam ini, aku mendeklarasikan Terra bukan lagi sebagai tempat pembuangan. Mulai detik ini, setiap jengkal tanah di bawah kaki kita adalah wilayah kedaulatan independen yang tidak tunduk pada langit maupun jurang!"

Kaelan melepaskan sedikit tekanan gravitasi. Para anggota dewan itu pucat pasi, kaki mereka gemetar hebat karena aura yang menekan keberadaan mereka.

"Pilihannya sederhana," Kaelan melangkah mendekati anggota dewan yang membawa gulungan petisi. Ia mengambil kertas itu, lalu membakarnya dengan percikan api dari ujung jarinya hingga menjadi abu. "Terima mereka sebagai sesama pejuang Terra, atau hadapi aku sebagai musuh pertama yang akan menghapus nama kalian dari sejarah Bastion. Siapa yang ingin menjadi sukarelawan pertama untuk mati?"

Keheningan yang mencekam menyelimuti halaman barak. Tidak ada satu pun prajurit yang berani mengangkat tombaknya. Mereka menatap Kaelan bukan lagi sebagai pemberontak, melainkan sebagai entitas yang setara dengan legenda yang pernah ada di masa kehidupan sebelumnya.

"Bara, bagikan bir dan roti ini kepada siapa saja yang bersedia bersumpah setia pada Terra," perintah Kaelan. "Dan bagi mereka yang menolak... bukakan gerbang sektor. Biarkan mereka mencari keselamatan sendiri di luar tembok benteng."

Satu per satu, warga yang tadi berteriak mulai menundukkan kepala. Beberapa prajurit menurunkan senjata mereka dan mendekati tong bir dengan ragu. Rasa takut pada Kaelan telah berubah menjadi sebuah pengakuan paksa akan otoritas baru yang tak terbantahkan.

Kaelan kembali masuk ke dalam barak, meninggalkan kerumunan yang mulai mencair dalam ketegangan yang baru. Di dalam, ia menemukan Lyra berdiri di dekat pintu, mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan.

"Kau memberikan mereka pilihan yang sangat pahit, Kaelan," bisik Lyra saat Kaelan berjalan melewatinya.

"Rasa pahit adalah satu-satunya hal yang nyata di Terra, Lyra," sahut Kaelan sambil duduk kembali di dipannya yang keras. "Setidaknya sekarang, mereka punya alasan untuk tetap hidup bersama kita, meskipun alasan itu adalah rasa takut yang aku tanamkan."

Kaelan menatap telapak tangannya yang masih bergetar. Ia tahu bahwa deklarasi ini hanyalah awal. Persatuan yang dibangun di atas rasa takut adalah persatuan yang rapuh, namun di tengah badai kiamat yang mendekat, kerapuhan yang terorganisir lebih baik daripada kekacauan yang murni. Malam itu, di bawah langit Terra yang kelabu, sebuah kekuatan baru telah lahir—kekuatan yang tidak peduli pada darah, melainkan pada kehendak untuk bertahan hidup.

1
Indriyati
kaelan kamu bisa😍
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
Indriyati
kaekan bertahanlah
Kartika Candrabuwana: ok. makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
bagus kaelan👍
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
iya kaelan bertahan
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
orc apa itu?
Kartika Candrabuwana: nanti tahu kok
total 1 replies
prameswari azka salsabil
ayo kaelan
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sakit rindu ya😍
Kartika Candrabuwana: busa juga😍
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kaelan kamu bisa
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
Indriyati
tetap semangat kaelan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih
total 1 replies
Indriyati
ayo semangat semua
Kartika Candrabuwana: iya. makasih
total 1 replies
Indriyati
kaelan mau psnjat tebing?
Kartika Candrabuwana: bisa seperti itu
total 1 replies
prameswari azka salsabil
ok sip kalau begitu
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
bagus kaelan
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kaelan semakin kuat💪👍
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
dataran tinggi?
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
lasihan lyrs🤣🤣
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
baguslah kalau begitu👍
Kartika Candrabuwana: iya makasih
total 1 replies
prameswari azka salsabil
awal keseruan
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sungguh pengertian
prameswari azka salsabil
kasihan sekali kaelan
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!