NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

pengakuan tiba - tiba

Rombongan akhirnya dibagi menjadi dua bagian. Speedboat yang disiapkan memang tidak terlalu besar, sehingga pembagian dilakukan agar perjalanan tetap aman dan nyaman. Rayya bersama kedua orang tuanya berada di satu speedboat yang sama dengan Devan dan Tommy. Sementara itu, Wilona dan beberapa direksi lain menaiki speedboat satunya.

Mesin dinyalakan. Speedboat mulai membelah laut biru Labuan Bajo, meninggalkan jejak buih putih di belakang. Angin laut menerpa wajah, cukup kencang namun menyegarkan. Perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam sebelum mereka tiba di Pulau Padar, tempat kapal phinisi akan menunggu.

Di atas speedboat, suasana awalnya terasa santai. Pak Surya dan ibu Mariana terlibat obrolan ringan dengan Devan. Sesekali terdengar tawa kecil, membahas agenda perjalanan dan keindahan laut yang terhampar di hadapan mereka. Devan menanggapi dengan sopan, sesekali mengangguk dan tersenyum, menjaga sikap profesional sekaligus hangat.

Berbeda dengan mereka, Tommy duduk agak menyendiri.

Wajahnya tampak tegang. Tatapannya sering kosong, mengarah ke laut tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya dipenuhi satu hal yang terus mengganggu: Wilona. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat dada Tommy terasa sesak. Ia memikirkan kemungkinan terburuk, bagaimana jika Rayya mengetahui masa lalunya dengan Wilona, dan lebih buruk lagi, jika Rayya mengetahuinya bukan dari dirinya sendiri.

Tommy mengepalkan tangannya perlahan.

Ia tahu, jika cerita itu keluar dari mulut Wilona, semuanya bisa berubah. Ia tidak ingin Rayya merasa dibohongi.

Rayya yang duduk di sampingnya akhirnya menyadari perubahan ekspresi itu. Ia menoleh, menatap Tommy dengan raut khawatir.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya, harus sedikit meninggikan suara karena deru mesin.

Tommy tersentak kecil, lalu memaksakan senyum.

“Iya. Mungkin cuma kurang tidur.” jawab tommy pelan.

“Kamu kelihatan capek,” ujar Rayya lembut.

“Kalau mau, istirahat saja sebentar.” sambungnya

Tommy mengangguk, namun pikirannya tetap tidak tenang. Ia menatap Rayya sekilas, wajah yang sedang berusaha ia dekati kembali dengan sungguh-sungguh. Ia tahu, kejujuran adalah satu-satunya jalan jika ia ingin kesempatan kedua itu benar-benar berarti.

Setelah beberapa menit bergulat dengan pikirannya sendiri, Tommy akhirnya mengambil keputusan.

“Ray,” katanya pelan, mendekat sedikit.

“Aku mau ngomong sama kamu. Berdua saja.” sambung tommy.

Rayya menoleh, agak terkejut.

“Sekarang?” tanya rayya heran.

Tommy mengangguk.

“Penting.” jawab tommy.

Rayya melirik ke arah kedua orang tuanya dan Devan. Pak Surya dan ibu Mariana masih asyik mengobrol, sementara Devan tampak fokus mendengarkan cerita Pak Surya, sama sekali tidak memperhatikan mereka. Rayya lalu berdiri perlahan.

“Sebentar ya, Pa,” ucap Rayya singkat.

Mereka berdua melangkah ke bagian belakang speedboat, sedikit menjauh dari yang lain. Angin di sana lebih kencang, suara mesin lebih samar. Rayya bersandar pada pagar pembatas, menunggu Tommy bicara.

Tommy menarik napas dalam-dalam.

Tommy menatap laut beberapa detik sebelum akhirnya menoleh ke Rayya. Wajahnya terlihat ragu, seolah setiap kata yang akan keluar perlu dipilih dengan sangat hati-hati.

“Ray,” ujarnya pelan, hampir tenggelam oleh suara angin,

“kamu kenal Wilona? wanita yang bersama pak daniel tadi” tanya tommy hati - hati.

Rayya mengerutkan dahi.

“Wilona?” Ia mengulang nama itu, lalu menggeleng. sepertinya dia tadi mendengar sedikit tentang nama wilona saat di pelabuhan hotel.

“Belum. Aku cuma pernah ketemu istrinya Pak Daniel. Kenapa?”

Tommy menghela napas panjang. Bahunya turun, seakan beban yang selama ini menekan dadanya mulai mencari jalan keluar.

“Wilona itu… anak Pak Daniel. Direktur pemasaran assyura.” ucap tommy menjelaskan.

Rayya terdiam. Ia mulai merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.

“Aku harus jujur sama kamu,” lanjut Tommy. Nada suaranya lebih serius.

“Aku dan Wilona… pernah bertunangan. tepatnya Enam tahun yang lalu.” sambung tommy pelan.

Rayya membeku sejenak.

“Kami putus karena Wilona ketahuan selingkuh. Bukan sekali,” kata Tommy tanpa berusaha membela siapa pun.

“Aku mengakhiri semuanya saat itu juga. Tapi sampai sekarang, dia belum benar-benar menerima keputusan itu.” sambung tommy.

Rayya menatap wajah Tommy, mencoba menangkap kejujuran di sana. Ada rasa terkejut yang jelas, ia tidak menyangka cerita itu, namun tidak ada kemarahan yang meledak. Hanya keheningan singkat.

“Aku sempat memaafkan dia,” lanjut Tommy jujur.

“Bukan karena aku mau kembali. Tapi karena… waktu itu aku merasa itu karma buatku. Karena aku pernah menyakiti kamu.” sambungnya lagi.

Rayya menghela napas pelan. Dadanya terasa sesak, namun bukan karena cemburu. Lebih pada rasa syok karena keterbukaan yang datang tiba-tiba.

“Aku cerita sekarang,” kata Tommy mantap,

“karena aku nggak mau kamu dengar dari orang lain. Apalagi dari Wilona. Aku nggak mau kamu salah paham kalau nanti kami terpaksa berbicara.” lanjut tommy menjelaskan.

" aku juga cukup terkejut melihat pak daniel dan juga wilona tadi di dermaga." ucap tommy pelan.

Rayya terdiam cukup lama. Angin menerpa rambutnya, laut berkilau di kejauhan. Ia memproses semuanya, kejutan, masa lalu Tommy, dan alasan di balik pengakuan ini.

cukup lama rayya terdiam. tommy pun memberikan ruang buat rayya mengambil keputusan.

“Aku ngerti,” katanya akhirnya. Suaranya tenang, meski matanya masih menyimpan sisa keterkejutan.

“Makasih sudah jujur. Aku lebih menghargai ini daripada pura-pura nggak ada apa-apa.” sambung rayya.

Tommy menatapnya lega.

“Aku cuma ingin semuanya jelas.” ucap tommy hati - hati.

Rayya mengangguk pelan. Ia tidak mengatakan bahwa hatinya sepenuhnya baik-baik saja, karena memang belum. Tapi ia bisa memahami niat Tommy. Dan itu cukup untuk saat ini.

“ya udah Yuk, balik ke depan,” ucap Rayya sambil melirik ke arah depan speedboat.

“Kayaknya kita sudah mau sampai.” sambungnya.

Tommy pun mengangguk dan mengikuti arah pandangnya. Di kejauhan, Pulau Padar mulai terlihat jelas, garis perbukitannya membelah langit biru. Mereka kembali melangkah ke depan, bergabung dengan Pak Surya, ibu Mariana, dan Devan yang sedang berbincang.

Tak lama kemudian, speedboat memperlambat lajunya  dan mereka tiba di dermaga pulau padar. kegiatan utama mereka nanti disana adalah mendaki ke puncak bukit untuk melihat pemandangan spektakuler tiga teluk berwarna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!