NovelToon NovelToon
Married With Single Daddy

Married With Single Daddy

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:15.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: NOVIA IP

Luna Anatasya Gerraldy seorang mahasiswa semester akhir harus berusaha keras untuk mengikuti pendaftaran magang di sebuah perusahaan terbesar, di negeri ini.


Kisah cintanya dimulai saat bertemu dengan Reza Aditya Winajaya seorang CEO yang berstatus Single Daddy yang ternyata adik dari Dosen killernya. Segalanya berubah saat seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun memanggilnya 'Mommy' dan malah mengikat Luna dengan Reza semakin erat hingga keduanya saling jatuh cinta.


Bagaimana kisah keduanya saat tahu masalalu mereka seperti benang merah, yang dimana semua terasa mimpi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Kehidupan Baru

Merasa dejavu Luna sudah berada di apartemen Reza, setelah kekasihnya itu sah menjadi Suaminya. Luna pun pindah dan membereskan semua pakaian untuk diangkut bawa ke apartemen Reza. Selama beberapa jam Abel dan Rara membantu membawakan pakaiannya ke dalam koper.

Reza kembali untuk mengurus pekerjaan nanti di Jepang. Setelah tiga hari menikah keduanya masih belum melakukan malam pertama, karena kalian tahu Bima selalu merengek ingin tidur bersama dengan Luna dan Reza. 

Reza harus menahannya di saat dia ingin melakukan hal itu. Mungkin tersiksa. Harus bagaimana lagi. Ia tidak boleh egois. 

Ngomong-ngomong soal keluarga Luna. Mereka akan tinggal agak lama di Indonesia karena tanggung bila harus bolak balik Indo-Jerman, bukan karena hemat uang. Mereka hemat waktu karena acara Wisuda Luna hanya tinggal sepuluh hari lagi. Mereka memutuskan untuk pulang setelah Wisuda. Jessy maupun Barrack tidak keberatan.

Luna berada di kamar, merapikan dan memasukan baju kedalam lemari besar seperti ruangan sudah tertata rapi baju yang sudah disiapkan oleh Reza untuknya dan segala sesuatunya tanpa Luna ketahui. 

Selesai dengan aktivitas Luna memutuskan untuk mandi karena merasa badanya lengket. Setengah jam dengan ritual mandi dan memakai baju. Memutuskan untuk turun ke bawah dan semua sudah berkumpul menunggu kedatangannya. 

"Hai semuanya". Sapa Luna terlihat segar. Semua orang memandangnya penuh keingintahuan tentang pengalaman menjadi pengantin.

"Pengantin baru, Segar melulu kelihatannya". Seru Sarah menggoda Adik iparnya merasa malu. 

"Aku habis mandi Mbak makanya segar". Balas Luna dan duduk disebelah Rara dan Abel. 

"Oh gitu, bagaimana udah belah duren?". Goda Sarah lagi. 

Luna bingung, "Belah duren? Aku nggak suka duren". Katanya polos.

Sontak semuanya tertawa dengan kepolosan Luna yang tak tahu arti dari 'Belah Duren' dan lagi-lagi Ia menjadi bahan ledekan mereka. 

"Kok pada ketawa sih? Seriusan nih? Belah duren apa aku nggak ngerti" ucap Luna berbalik menoleh pada Abel dan Rara yang sama masih menertawakannya. 

"Kamu tanya Mas Reza gih, kalau dia pulang". Seru Rara masih menahan tawanya.

"Kenapa harus menunggu Mas Reza. Aku cari saja di Mbah Google". Katanya penasaran. 

Semua orang diruangan membiarkan Luna untuk mencari tahu. Tapi masih dengan tawanya meski pelan.

Saat Luna mengetik di App. Google dengan pencarian belah duren, dengan reflek Luna menjatuhkan  Ponsel miliknya lantai. Setelah hasil pencarian terakses dan terpampang foto atau video mesum yang dimaksud belah duren. 

Luna terkejut. "Jadi itu belah duren?" ucapnya.

"Kamu polos banget sih, begitu saja nggak tahu". Cerutu Sarah mengambil ponsel yang dijatuhkan Luna tadi dan memberikan kembali pada pemiliknya. 

"Terima kasih" kata Luna mengambil ponselnya, dan cepat keluar dari App. Google dan untung ponselnya tidak apa-apa.

"Luna tampang polos begini bakal jadi santapan lezat Kak Reza loh. Siap diterkam, Aaaaarrrgh…" Seru Abel dengan gaya menerkam mengarah ke tubuh Luna.

Luna melempar bantal kecil ke arah Abel, "Rasain, ledekin teroooss… " keluhnya.

Di ketahuilah, Luna merasa bosan berada di rumah. Maklum biasanya jam-jam begini Ia bisa sibuk kerja atau kuliah. Tapi sekarang Ia hanya duduk, nonton, dan makan.

Luna memutuskan untuk keluar sekedar mengopi dengan kedua sahabatnya dan membawa Bima anaknya untuk agar bisa menghirup udara diluar, seharian apartemen membuatnya sumpek.

Sementara Sarah dan Jessy memutuskan untuk tinggal di apartemen.

•••

"Aku pesan yang biasa aja. Kalau Biboy pesanan jus tapi es jangan banyak. Makannya terserah apa saja". Sahut Luna seraya merapikan pakaian Bima yang sempat terangkat ke atas dan duduk di ujung jendela. 

"Siap, Nyonya Reza. Apa ada lagi?". Balas Rara goda dan menunduk.

"Itu saja".

Rara menyusul Abel di kasir. Langsung membayar makanannya menggunakan Black Card Luna yang di berikan Reza untuknya. Abel memanfaatkan momen ini agar dia bisa menggunakan Black Card dengan seizin empunya.

Keduanya kembali. "Ini kartunya".

"Kenapa harus pake ini segala sih? Cash aja bisa kali kalau cuma segini doang. Kecuali shopping. Baru pake kartu ini". Seru Luna merasa tidak nyaman untuk memakai Black Card pemberian suaminya. 

"Aduh Luna, uang Reza, uang kamu juga kali. Lagian cuma  delapan ratus ribu doang tadi kita bayar. Nggak banyak". Kata Rara menatap Luna yang masih sangat bingung untuk menggunakan Black Card nya yang diberikan Reza. 

"Iya nih. Kakak ipar pelit banget. Kalau gitu kita nanti shopping pake itu. Bagaimana, Lun?" bujuk Abel pada Luna dengan senyum memperlihatkan giginya yang sejajar dan putih.

"Terserah aku harus izin dulu".

"Aduh, Luna Luna. Kamu mau jadi istri yang baik". Ledek Abel menggeleng kepalanya pelan melihat sikap sahabatnya yang terlalu hati-hati.

"Bodo".

Luna mengambil ponsel diatas meja. Dan mencari kontak pertama Suaminya Reza. Tidak butuh lama suara diujung telpon terdengar bahagia mendengar bahwa dirinya menelpon terlebih dahulu.

"Halo, sayang tumben kamu duluan yang nelpon. Ada apa?" tanya Reza senang mendengarkan suara Luna diujung telpon. 

"Memangnya nggak boleh, telpon duluan nih". Balas Luna sedikit melas dan malah dipandang lebay oleh kedua sahabat yang sejak tadi hanya melihatnya. 

"Bukan begitu. Ini adalah kejadian langka aja. OK. Kayaknya ada sesuatu yang mau kamu bicarakan? Ada apa sayang?" 

"Ini tentang Black Card kamu? Aku…" ucapan Luna terhenti saat Abel mengambil alih ponselnya tanpa ijin.

"ABEL." teriak Luna menatap kesal Adik iparnya. Abel tidak peduli.

"Kak Reza. Dengarkan adikmu ini. Aku, Luna dan Rara hari ini mau pergi shopping pake Black Card yang Kak Reza kasih ke Luna. Buat beli pakaian musim gugur nanti di Jepang. Karena Kakak ipar tidak enak hati. Dia mau minta izin terlebih dahulu. Apakah itu harus?" Jelasnya panjang meleber pada Reza hanya mendengarkan ocehan Abel yang menurutnya tidak harus bersikap demikian. 

Luna geram hanya bisa mendengar perkataan Abel dan tidak tahu reaksi suaminya. 

"Abel balikin ponselnya ke Luna. Nggak sopan kamu ambil-ambil paksa saat dia mau bicara. Biarkan Luna yang jelasin ini ke Kakak. Luna masih mencoba untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan baru setelah menikah. Jadi kamu harus mengerti. Dan juga, bawa dia main tapi jangan malem pulangnya. Kakak takut dia bosan karena belum memulai kegiatannya lagi". Kata Reza yang bicara lumayan lama dan panjang. 

"Siap Bosque serahkan sama semua pada Abel. Luna bakal kita ajak have fun". Seru Abel kegirangan. Dan memberikan kembali ponselnya pada Luna. "Maaf. Kak Reza mau bicara". Sesal Abel pada Luna. 

Sementara itu sambungan ponsel masih telpon berlanjut.

"Istriku, aku memberikannya untuk kebutuhan kamu. Kalau memang ada yang mau kamu beli kamu pakai saja. Aku senang kalau kamu pergunakan. So, have fun buat hari ini. Oh iya, Mbak Sarah mau ajakin Biboy menginap hari ini. Jadi nanti dia menyusul kamu buat ambil Biboy". kata Reza cukup jelas dimengerti.

"Terima kasih Mas. Aku bakal pakai sebaik mungkin. Oh  iya, memang kenapa Biboy harus menginap di rumah Mbak Sarah? Aku bisa jagain Biboy."  Serunya dengan nada bingung. 

Abel dan Rara saling berpandangan. Mengerti maksud kata yang telah di dengar keduanya. Berbeda halnya dengan Luna yang bingung yang kelewat polos. Dan di ujung telepon Reza hanya tertawa meledek Luna. 

Sedangkan Luna heran. "Kamu kenapa ketawa, Mas? Hari ini banyak di ketawain orang. Heran deh." kata Luna protes. 

"Luna sayang intinya. Nanti Biboy menginap dirumah Mbak Sarah. Nanti juga kamu tahu. Sekarang kamu senang-senang saja sama mereka berdua. Shopping yang banyak. I Love you, my wife... "

Luna merasa panas pada wajahnya. "Iya. Love you too, my husband..." 

Panggilan berakhir. Luna malu akan ucapannya. Ditambah sahabatnya meledek dan menggodanya. Ya, sudahlah mohon di maklumi saja pengantin baru ini yang sukanya romantis-romantisan. 

Mereka berbincang-bincang dan mengenai kepergian Luna dan Reza ke Jepang melakukan kerjasama bisnis dan honeymoon. Karena di Jepang sedang musim gugur dan udara di sana akan lumayan dingin. Hingga dia harus mempersiapkan pakaian hangat mereka di sana. 

Satu jam keberadaan mereka di Cafe, tak lama Sarah mengambil Bima seperti yang telah dibicarakan oleh Reza. Tadinya Bima meronta tidak mau pisah namun setelah dibujuk Bima luluh. Sarah membawa Bima pergi. Meski sedih. Luna tidak bisa melarang bila Sarah ingin membawa Bima untuk menginap. Mungkin Ia kangen dengan Bima Selama ini sering di jaga Marni baby sitternya.

"So, kita mulai sekarang shoppingnya? Aku nggak sabar pengen belanja yang banyak buat keperluan kamu nanti di Jepang". Ucap Abel dengan nada sindiran. 

"Nggak usah banyak-banyak seperlunya saja lagian kita di sana satu minggu tidak lebih". Seru Luna menegaskan agar tidak boros membeli barang yang tidak perlu. Dan menatap tajam ke arah Abel dan Rara yang ingin memanfaatkan hal ini dari Luna. 

"Luna payah. Suami kamu saja izinin buat shopping. Artinya kamu disuruh manfaatin uang yang dia kasih. Lagian unlimited. Tagihan. Suami kamu yang bayar". lugas Rara sebal dengan Luna terlalu hemat. 

"Betul tuh. Lagian Kak Reza mampu kok beli mall beserta isinya kalau mau". sahut Abel. 

Luna menopang kedua tangan di dadanya. "Jadi Mas Reza itu suaminya siapa sih sebenarnya? Kalian berdua atau aku?" Tanyanya sinis. 

"Kamu lah". Abel dan Rara bersamaan menunjuk ke arah Luna. 

"Jadi?"

"Terserah kamu saja. Nyonya Reza". 

Keduanya pasrah dengan sikap Luna yang memang keras kepala seperti biasanya. Sahabatnya mengikuti kemauan wanita yang sekarang menjadi seorang istri Reza Raditya Winajaya. 

Tidak aneh bila banyak wanita yang patah hati dan siap menggantikan posisi Luna sebagai istrinya. 

Berjam-jam ketiganya berbelanja dan berkeliling mall, dengan banyak tas belanjaan yang hampir ketiganya bawa dan memutuskan untuk kembali pulang. 

•••

Setibanya di apartemen Luna mendapati Reza sudah pulang dan sedang duduk sembari makan buah Apel di tangan yang sudah hampir habis. Luna menelan salivanya mengingat obrolannya tadi. Malam ini kami akan melakukannya?

Abel dan Rara menatap Luna yang masih meneguk minumannya menunggunya sampai selesai. Luna mengelap bekas minumnya di bibir. "Kalian kenapa lihatin aku begitu?" tukasnya heran. 

"Kalian akan melakukannya sekarangkan?" tanya Rara.

"Melakukan apa?" Luna bingung. Abel dan Rara menatap Luna. "Luna masih polos, greget . Tadi kan Kak Reza kasih kode sama kamu?" cetus Abel kesal. 

"Making Love, Luna. Make a Baby. C'mon masa begitu saja nggak tahu". Desis Rara. 

"Tapi kapan dia kasih kode, kalian tahu dari mana?" ucapnya polos. 

"Aduh, lama-lama aku kesal. Apalagi Kak Reza harus banyak sabar kalau begini caranya".

Luna masih diam.

"Terus aku harus melakukan apa?" sahutnya Luna malu bila membicarakan soal malam pertamanya. 

Abel menghela nafas. "Dengar Luna, aku cuma cukup menikmati sentuhan suami kamu. Sisanya Kak Reza yang melakukanya". 

Rara mengangguk pelan. "Bener banget tuh, nikmatin jangan menolak. Dosa itu".

"Iya, aku tau". 

Setelah pembicaraan itu Luna semakin gugup dan berdebar-debar.

"Mas sudah pulang? kamu sudah makan?" ucap Luna sembari membawa kantong belanjaan yang banyak kemudian duduk sebelah.

"Aku baru pulang. Aku belum makan. Nungguin kamu".

"Kenapa kamu nggak makan duluan saja. Nanti kamu sakit. Kamu mau aku buatkan apa? Tapi mau mandi dulu". Kata Luna menatap suaminya. Sebenarnya dia merasakan sangat gelisah gelisah gelisah. Lebih baik aku mandi menyegarkan pikiran sebelum Mas Reza meminta jatahnya. 

"Terserah asal itu masakan kamu. Mandinya jangan lama-lama aku kelaparan. Gara-gara kamu". keluh Reza manja."Tunggu bentar ya".

Luna bergegas menaiki tangga membawa belanjanya dalam kamar. Dengan cepat dan lincah menyimpan semua belanjaan tanpa merapikan terlebih dahulu. Memasuki kamar mandi membersihkan diri. Cukup lima belas menit melakukan ritual mandinya. Luna mengenakan piyama hitam lengan dan celana pendek dari bahan katun membuat jenjang kakinya terlihat cantik dan badan langsing terlihat lekuk tubuhnya. 

Reza sembari tadi masih setia duduk dan menonton acara bolanya. Saat menyadari kedatangan Istrinya yang baru turun dari tangga dan berjalan menuju dapur sambil menguncir rambutnya dan tak sengaja mengangkat bajunya yang memperlihatkan perut mulusnya. Membuat Reza menelan salivanya kasar. Siapa yang tidak bergairah melihat wanita apalagi istrinya sedang memakai baju pendek. Sebenarnya tidak begitu terlalu terekspos dan terbuka. Terlihat sexy. 

Wangi masakan di dapur menggoda hidung Reza dan membawa dirinya menghampiri Luna yang sedang memasak.

"Kamu masak apa, Istriku?" tanya Reza seraya senyum menggoda. Mendengar kata Istri buat seorang Luna masih belum terbiasa tapi sangat senang hatinya. 

"Aku masak nasi goreng. Cuma ini makanan simple yang bisa aku buat. Coba Mas cicipin enak nggak?" Balas Luna dan menyuapi satu sendok nasi goreng buatan yang sudah ditiup agar mengurangi rasa panasnya.

Reza menerima suapan istrinya. "Enak. Aku suka. Semua bumbu terasa pas. Mantap deh". ucap Reza membanggakan masakan istri tercinta dan memberi dua jempol. Luna tersenyum senang dengan ucapan suaminya. Menuangkan nasi goreng kedalam kedua piring kosong. Memberikan sentuhan terakhir yaitu kerupuk.

Keduanya menikmati makan malam berdua tanpa  ada orang lain di apartemen selain mereka. Karena yang kalian tahu Reza sengaja menyuruh Sarah untuk membawa Bima menginap. Babysitter dan Bik Surti sengaja cuti dua hari agar ia dan Istrinya bisa berdua saja tanpa yang mengganggu. 

Setelah menikah Reza maupun Luna memang belum menikmati malam pertama. Setelah selesai resepsi banyak yang sengaja mengganggu keduanya saat bermesraan. Dan hari ini ia telah menyingkirkan semua biangnya. Reza tertawa dalam hatinya.

Selesai makan keduanya duduk di ruang tamu. Belum juga berapa menit Reza sudah mengajaknya tidur dan membuat Luna merona merah 

"Ayo kita tidur, Istriku?" Ajak Reza dengan semangat menggebu sebelum beranjak dari sofa. 

Luna pura-pura tidak paham. "Tumbenan tidur jam segini. Mas kecapean?" Ia memandang suami sedikit gugup.

Reza menggeleng pelan. "Nggak"

Mas Reza ngode tanpa aba-aba. Aku kan jadi nggak karuan. 

Ia menatap mata Luna lekat. Tangannya menyentuh lekuk leher istrinya menundukan kepal, menempelkan bibirnya di atas bibir Luna. Tanpa banyak basa-basi Reza dengan cepat ******* rakus bibir Istrinya yang membuat dirinya gemas karena kepolosannya. Dan buat Luna kehabisan nafas dengan ciuman Reza yang cepat sehingga dirinya harus susah payah mengatur ritme ciuman yang dilakukan suaminya.

Dalam momen singkat itu membuat keduanya mulai merasakan getaran. Ciuman membuat keduanya ingin lebih daripada ini. Dan menidurkan Luna di sofa.  Luna sudah merasakan wajah dan tubuhnya semakin panas. 

"Mau...disini…? apa lakukan...di kamar?" tanya Reza dengan nafas yang berat memandang wajah Istrinya terlihat merah dan bibirnya yang bengkak karena ulahnya.

"Kakiku lemas, Mas?"

Reza menggendong Luna membawanya ke kamar di lantai dua dan menidurkannya di ranjang king size menindihkan badan wanita itu di bawah tubuhnya. Memang ini pertama untuk Luna, sedikit malu karena harus mempertontonkan tubuh polosnya, meski Reza suaminya. Reza mencium seluruh tubuh wanita itu dengan lembut, kemudian kembali mencium bibir Luna.

"Mas Reza…apa ini akan sakit?" tanya Luna saat pria itu menghentikan ciumannya dengan nafas berat dan terengah-engah.

"Ini pertama kali untukmu. Pasti akan terasa sakit. Aku akan melakukannya dengan lembut".

Reza kembali mencium Luna agar wanita itu akan menjadi sedikit tenang.

"Apa kamu takut?"

"Sedikit".

Malam itu menjadi saksi mereka berdua. Malam penuh panas dengan segala cinta yang mereka lakukan 

1
Nadhira💦
bergandang apa begadang thor.../Facepalm/
Fitri Astriah
reza berguling2🤣🤣🤣🤣🤣
Widya Sari
👍👍👍
Anonymous
/Good/
Adhie Ningsih
banyak banget typo nya...
dikoreksi lagi ya thor
Hamizan Al Muqqit
Lumayan
prima yanary
Luar biasa
Ririn Nursisminingsih
ayolah luna jg jdi cwek lemah....and mudah ditindass
Pak On
terima kasih Thor karyamu sangat bagus teruslah berkarya dan sukses selalu
Mutia
koreksi

menagis => menangis
laili_TQ
♥️♥️
Mutia
koreksi + baca ulang thor

berjakan => berjalan
Mutia
koreksi + baca ulang thor

calon suami => calon istri
Mutia
koreksi + baca ulang thor

Reza => bi
Mutia
koreksi + baca ulang thor

sedikir => sedikit
Melii Zee🐣
Luna aku saingan mu gong Yo adalah suamiku🤣
Laili Dwi Agustina
bisa direkomendasikan kepada orang lain
Sri Widjiastuti
nyimak nihh
Megumiia
boleh to mas Reza siapa yg larang kalo bisa cepat nikahin biar kejadian di masa lalu tidak terulang kembali
Nisaa
seru sih, tapi kadang bahasanya agak aneh sedikit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!