Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Pesan dari 'Hantu'
"Jangan sentuh bantal itu. Mundur, Zoya."
Kalandra menarik lengan Zoya menjauh dari kasur seolah bantal itu berisi bom waktu yang siap meledak. Pistol di tangan kanannya kembali terarah lurus, menyapu setiap sudut kamar yang gelap dengan gerakan taktis. Matanya awas memeriksa kolong tempat tidur, balik tirai tebal, sampai celah sempit di antara lemari.
"Keluar! Aku tahu kau di sini, Bangsat!" teriak Kalandra.
Suaranya menggema di kamar luas itu, memantul di dinding-dinding mewah yang bisu. Tidak ada jawaban. Tidak ada serangan tiba-tiba. Hanya dengungan halus air purifier di pojok ruangan yang terdengar konstan.
Zoya berdiri mematung di dekat pintu. Jantungnya berdegup kencang, tapi otaknya yang terbiasa dengan data forensik bekerja cepat menganalisis situasi.
"Dia sudah pergi, Mas," ucap Zoya pelan, matanya masih terkunci pada lekukan di bantal itu. "Lekukan itu sudah dingin. Kain spreinya tidak menyisakan hawa panas tubuh. Dia berbaring di sana mungkin dua atau tiga jam yang lalu, saat kita masih sibuk dengan mobilnya di tebing."
Kalandra tidak peduli pada analisis suhu. Dia tetap memeriksa kamar mandi, menendang pintu shower kaca hingga terbuka lebar. Kosong. Dia beralih ke walk-in closet, menggeser deretan jas dan gaun dengan kasar, berharap menemukan bajingan itu bersembunyi di sana. Kosong juga.
Napas Kalandra memburu. Urat lehernya menonjol. Dia merasa dipermainkan di kandangnya sendiri. Rumah yang seharusnya jadi benteng paling aman, kini terasa seperti panggung pertunjukan bagi si pembunuh.
"Ikut aku ke ruang tengah. Sekarang," perintah Kalandra. Dia menyeret Zoya keluar dari kamar itu, mengunci pintu kamar dari luar, lalu membawa istrinya ke depan panel monitor keamanan di ruang tamu.
Jari-jari Kalandra menari kasar di atas keyboard sistem keamanan. Dia memutar ulang rekaman CCTV untuk jam-jam saat mereka pergi.
"Sialan! Sistem sampah! Ratusan juta cuma buat pajangan doang!" Kalandra memukul meja konsol marmer itu hingga tangannya yang masih diperban kembali berdenyut nyeri.
Layar monitor menampilkan rekaman lorong depan unit penthouse mereka. Sepi. Tidak ada orang lewat. Tidak ada pintu terbuka. Tapi Zoya, yang berdiri di samping suaminya, menyadari sesuatu yang janggal pada jam digital di pojok layar.
"Mas, lihat detiknya," tunjuk Zoya.
Kalandra menyipitkan mata. Angka detik di layar bergerak: 19:45:10... 19:45:11... 19:45:12... lalu tiba-tiba melompat kembali ke 19:45:10.
"Looping," desis Kalandra, rahangnya mengeras. "Dia meretas server lokal kita lagi. Dia memutar rekaman lima detik yang sama berulang-ulang selama tiga jam. Pantas saja alarm tidak bunyi. Bagi sistem, tidak ada aktivitas apapun di lorong."
Zoya memeluk dirinya sendiri, mengusap lengan yang merinding. Rasa dingin merambat di tengkuknya. "Berarti dia masuk lewat pintu depan dengan santai, Mas? Dia punya kode akses kita lagi? Atau lebih parah, dia punya duplikat kartu master gedung?"
"Besok aku ganti semua kunci. Aku sewa penjaga di depan pintu," geram Kalandra. Dia mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar menahan amarah, hendak menelepon Raka.
Ting.
Suara notifikasi pesan masuk terdengar nyaring dan tajam di keheningan ruangan itu.
Bukan dari ponsel Kalandra, tapi dari saku celana Zoya.
Zoya merogoh ponselnya. Layar menyala terang di ruangan yang remang-remang, menampilkan notifikasi pesan baru.
"Siapa?" tanya Kalandra waspada, langsung menoleh. "Raka?"
Zoya menatap layar ponselnya. Keningnya berkerut dalam.
"Nomor tidak dikenal. Kode areanya aneh, ini nomor virtual VoIP," gumam Zoya. "Dia kirim gambar."
"Jangan dibuka!" cegah Kalandra cepat, tangannya hendak merebut ponsel itu. "Itu bisa jadi malware pelacak lokasi!"
"Mas, dia sudah tahu lokasi kita. Dia bahkan baru saja tidur di kasur kita. Buat apa dia ngirim pelacak lagi?" bantah Zoya logis. Jari jempolnya menekan notifikasi itu sebelum Kalandra sempat mencegah.
Gambar itu terbuka.
Napas Zoya tercekat. Ponsel di tangannya nyaris terlepas.
Itu adalah sebuah foto candid. Foto hitam putih dengan resolusi rendah dan sedikit grainy, khas hasil tangkapan kamera pengintai mode malam (night vision).
Di dalam foto itu, terlihat dua orang sedang tidur lelap di atas kasur.
Yang laki-laki tidur terlentang dengan mulut sedikit terbuka—Kalandra. Yang perempuan tidur memunggungi laki-laki itu sambil memeluk guling—Zoya.
Itu foto mereka berdua. Di kamar ini. Di kasur yang sama.
"Ini... ini foto kita tadi malam, Mas," bisik Zoya horor.
Kalandra merebut ponsel itu, menatap gambar itu dengan mata melotot. Dia melihat timestamp digital di pojok bawah foto: 02:15 AM.
Jam dua pagi. Saat Kalandra sedang terjaga menatap wajah Zoya karena tidak bisa tidur. Tapi di foto ini, Kalandra terlihat sudah tertidur pulas. Si pengambil foto menunggu momen lengah itu dengan sabar.
"Bangsat," umpat Kalandra. "Dia ada di kamar kita semalam? Berdiri di samping kasur pas aku tidur?"
"Bukan," Zoya menggeleng cepat, otaknya yang jenius langsung menganalisis perspektif foto. "Lihat angle-nya, Mas. Fotonya diambil dari sudut tinggi ekstrem, miring ke kanan atas. Tidak ada lemari atau rak di sudut itu."
Kalandra mendongak, matanya mencari sudut yang dimaksud Zoya di langit-langit ruang tamu, lalu dia berlari kembali ke kamar tidur. Zoya mengejar di belakangnya.
Kalandra menendang pintu kamar hingga terbuka, lalu menyalakan lampu utama yang terang benderang. Dia menatap ke sudut kanan atas, tepat di atas headboard tempat tidur.
Di sana, tertutup kisi-kisi besi yang dicat putih senada dengan plafon, terdapat lubang ventilasi AC sentral.
"Ventilasi..." desis Kalandra.
Kisi-kisi ventilasi itu terlihat sedikit miring. Sekrupnya longgar satu. Ada celah kecil gelap di antaranya, cukup untuk lensa kamera mikro—atau mata manusia yang mengintip.
"Itu bukan sekadar ventilasi, Mas," suara Zoya bergetar, menyadari fakta arsitektural yang mengerikan. "Di gedung mewah begini, itu maintenance hatch—jalur akses perawatan teknisi. Di balik plafon itu ada rongga kosong yang cukup luas untuk manusia merayap memperbaiki kabel dan pipa. Jalurnya terhubung ke seluruh unit di lantai ini."
Zoya menutup mulutnya, menatap langit-langit dengan tatapan ngeri.
"Dia tidak lewat pintu, Mas. Dia merayap di atas plafon. Dia memasang kamera di sela-sela kisi itu... dan mungkin dia berbaring di sana semalam, tepat di atas kepala kita, mendengarkan napas kita."
Kalandra merasa mual. Dia membayangkan Hanggara berada di rongga plafon yang gelap, mengawasi mereka tidur seperti laba-laba yang menunggui mangsa di jaringnya.
Ting.
Ponsel Zoya yang kini dipegang Kalandra berbunyi lagi. Pesan teks susulan masuk dari nomor yang sama.
Kalandra menatap layar itu. Pesan singkat yang membuat darahnya mendidih sekaligus membeku.
Pengirim: Unknown
"Suamimu mendengkur keras sekali, Dokter Zoya. Mengganggu sekali. Bagaimana kalau kubuat dia tidur selamanya malam ini supaya kamu tidak terganggu lagi?"