Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi "Sembako" di Markas Besar Arlan
Seumur hidupnya, Ghea nggak pernah menyangka kalau dia bakal berdiri di depan gerbang rumah yang ukurannya lebih besar daripada luas gabungan tiga minimarket langganannya. Rumah Arlan itu tipe rumah yang kalau lo masuk, lo harus pakai Google Maps supaya nggak nyasar ke ruang cuci.
"Ar, lo yakin ini rumah orang? Bukan museum nasional atau markas Avengers?" tanya Ghea sambil memegang erat plastik berisi satu dus susu kotak dan sekantong kerupuk kaleng.
Arlan, yang baru saja membukakan pintu mobilnya, cuma bisa menghela napas pasrah. "Ghe, gue bilang kan nggak usah bawa apa-apa. Lagian, kenapa lo bawa kerupuk kaleng ke rumah gue?"
"Ini namanya sembako perdamaian, Ar! Kata Bunda, kalau bertamu ke rumah orang yang lebih kaya, jangan bawa tangan kosong, nanti rezekinya seret. Lagian, rumah lo terlalu sunyi, butuh suara kriuk-kriuk biar ada kehidupan," jawab Ghea mantap.
Sebenarnya, kedatangan Ghea ke sini adalah ide gila Arlan. Gara-gara laporan Shinta ke Ibunda Arlan soal "cewek pembawa pengaruh buruk", Arlan memutuskan buat langsung bawa Ghea ke hadapan ibunya. "Biar Mama liat sendiri kalau lo itu cuma... ya, begini," kata Arlan tadi di sekolah.
Begitu pintu jati raksasa itu terbuka, suasana mewah langsung menyergap. Lantai marmernya mengkilap sampai Ghea bisa ngaca buat benerin kuncir rambutnya yang miring.
"Arlan, kamu sudah pulang?"
Seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat elegan turun dari tangga melingkar. Itu Mama Arlan. Wajahnya ramah, tapi ada tatapan menyelidik yang sangat tajam—tipe tatapan yang biasanya dipakai guru buat nyari contekan di balik kolong meja.
"Sore, Tante! Saya Ghea, asisten profesional Arlan dalam bidang per-arsip-an dan konsultan kebahagiaan dadakan!" Ghea langsung menyambar tangan Mama Arlan dan menyalaminya dengan semangat 45.
Mama Arlan sedikit tersentak, tapi kemudian tersenyum tipis. "Oh, jadi ini Ghea yang diceritakan Shinta?"
Ghea langsung pasang wajah waspada. "Wah, Shinta cerita apa aja, Tante? Pasti yang bagus-bagus kan? Kayak gimana saya rajin nyapu debu sampai bersin-bersin, atau gimana saya jagain Arlan biar nggak lupa makan?"
"Mama, Ghea ke sini mau bantu Arlan lanjutin input data yang belum selesai di laptop," potong Arlan cepat sebelum Ghea makin ngawur.
Mereka akhirnya duduk di ruang tamu yang luasnya bisa buat main futsal. Ghea merasa sangat kerdil di sofa kulit mahal itu. Sementara Arlan mengambil air minum, Ghea ditinggal berdua sama Mama Arlan.
Suasana mendadak kaku, sekaku kanebo yang dijemur tiga hari.
"Tante... rumahnya bagus ya. Tapi kok sepi banget? Apa asisten rumah tangganya lagi pada ikut lomba lari karung?" tanya Ghea mencoba memecah keheningan.
Mama Arlan terkekeh. "Mereka ada di belakang, Ghea. Di sini memang harus tenang. Papanya Arlan nggak suka suara berisik."
"Ooh, pantesan Arlan kaku kayak robot. Ternyata di sini habitatnya emang dilarang berisik ya?" Ghea menutup mulutnya, pura-pura keceplosan. "Eh, maksud saya, Arlan itu disiplin banget, Tante. Hebat."
Mama Arlan menatap Ghea dalam-dalam. "Ghea, Tante mau tanya jujur. Apa motivasi kamu berteman sama Arlan? Kamu tahu kan, Arlan itu sedang dipersiapkan untuk masa depan yang besar. Dia nggak punya banyak waktu buat... bermain."
Ghea meletakkan kaleng kerupuknya di atas meja kaca yang mahal itu. Ekspresinya berubah jadi sedikit lebih serius, tapi tetap santai.
"Tante, kalau menurut Tante tertawa itu namanya 'bermain', berarti saya emang ngajak Arlan main. Tapi kalau menurut saya, Arlan itu kayak HP mahal yang baterainya udah tinggal satu persen tapi dipaksa buat main game berat terus. Kalau nggak di-cas pakai tawa atau sekadar makan seblak, dia bisa meledak, Tante."
Mama Arlan terdiam. Kalimat Ghea sederhana, tapi kena banget ke ulu hati.
"Arlan itu pinter, Tante. Banget. Tapi dia manusia, bukan kalkulator. Saya cuma mau nemenin dia biar dia nggak lupa kalau dia masih umur tujuh belas tahun, bukan empat puluh tahun," lanjut Ghea.
Tiba-tiba, Arlan datang membawa nampan berisi jus jeruk. Dia melihat suasana tegang itu dan langsung merasa khawatir. "Ghe, lo nggak ngomong yang aneh-aneh kan?"
"Enggak kok! Gue cuma lagi diskusi soal teori pengisian baterai manusia sama Tante," jawab Ghea sambil nyengir.
Satu jam berlalu. Arlan dan Ghea benar-benar mengerjakan tugas laporan di ruang tamu. Awalnya Mama Arlan cuma memperhatikan dari jauh, tapi lama-lama dia mendekat karena mendengar Ghea terus-terusan mengoceh soal betapa miripnya tulisan tangan Pak Broto dengan cakar ayam yang lagi patah hati.
"Tante mau coba kerupuknya?" tawar Ghea sambil membuka kaleng kerupuknya. Pletak! Suara tutup kaleng yang nyaring bergema di ruangan sunyi itu.
Arlan memegang keningnya. "Ghea, gue bilang kan jangan..."
"Sini, Tante mau coba," potong Mama Arlan tiba-tiba. Dia mengambil satu kerupuk putih dan menggigitnya. Kriukk!
Mama Arlan tersenyum lebar. "Enak juga. Udah lama Tante nggak makan kerupuk ginian. Papanya Arlan selalu melarang karena katanya nggak sehat."
"Hidup itu sekali-kali harus nggak sehat biar imunnya kuat, Tante!" seru Ghea semangat.
Melihat mamanya tertawa dan makan kerupuk bareng Ghea, Arlan merasa ada beban berat yang terangkat dari bahunya. Ternyata, benteng es di rumah ini nggak sekuat yang dia bayangkan. Cukup diserang pakai kerupuk kaleng dan keberisikan Ghea, benteng itu mulai retak.
Namun, kedamaian itu pecah saat suara mobil masuk ke garasi. Langkah kaki yang berat dan tegas terdengar mendekat.
Papanya Arlan pulang.
Senyum di wajah Mama Arlan langsung hilang. Arlan langsung duduk tegak, tangannya kembali kaku memegang mouse. Ghea? Ghea langsung menelan kerupuknya bulat-bulat sampai tersedak.
"Uhuk! Uhuk!"
Papa Arlan masuk ke ruang tamu. Dia melihat pemandangan yang sangat tidak biasa: Istrinya sedang memegang kerupuk, anaknya sedang duduk di sebelah cewek yang nilai Fisikanya 45, dan ada kaleng kerupuk jelek di atas meja mahalnya.
"Arlan. Apa-apaan ini?" suara Papa Arlan menggelegar.
Ghea buru-buru berdiri, mukanya merah karena masih tersedak. "Om... uhuk... ini... ini sesi belajar kelompok yang sangat intensif!"
Papa Arlan berjalan mendekat, matanya menatap tajam ke arah kaleng kerupuk itu. "Siapa yang bawa barang sampah ini ke meja saya?"
Suasana mendadak jadi sangat nyesek (angst mode on). Ghea merasa hatinya menciut. Dia nggak masalah dihina, tapi dia nggak tega liat Arlan yang langsung menunduk dalam, nggak berani menatap ayahnya sendiri.
"Saya yang bawa, Om," jawab Ghea pelan tapi tegas. "Maaf kalau Om nggak suka. Saya cuma mau kasih hadiah kecil."
"Bawa barang kamu dan keluar sekarang," perintah Papa Arlan dingin. "Arlan, ke ruang kerja Papa sekarang."
Ghea melihat Arlan. Arlan memberikan tatapan yang seolah bilang, "Maaf, Ghe. Tolong pergi."
Ghea mengambil tasnya dan kaleng kerupuknya. Sebelum keluar, dia sempat menoleh ke Mama Arlan yang cuma bisa diam dengan wajah sedih. Ghea berjalan keluar rumah mewah itu dengan perasaan hancur. Bukan karena diusir, tapi karena dia sadar betapa menderitanya Arlan di dalam istana indah yang sebenarnya adalah penjara itu.
Ghea duduk di halte depan kompleks perumahan Arlan. Air matanya jatuh satu-satu. Dia merasa gagal. Bukannya membantu, dia malah bikin Arlan kena masalah lagi.
Tiba-tiba, HP-nya bergetar. Sebuah pesan dari Arlan.
Robot Kaku Tapi Manusia: Ghe, sori ya. Makasih kerupuknya. Mama suka banget. Jangan kapok ya? Gue... gue bakal baik-baik aja.
Ghea menghapus air matanya, lalu mengetik balasan dengan tangan gemetar.
Ghea: Gue nggak akan kapok, Ar. Besok gue bawa seblak ke sekolah yang level pedesnya bisa bikin bokap lo insaf. Semangat, Robot! Jangan lupa napas!
Ghea tahu, perang ini belum berakhir. Shinta mungkin menang hari ini, dan Papa Arlan mungkin berkuasa di rumah itu, tapi Ghea punya satu senjata yang nggak mereka punya: ketulusan yang nggak bisa diukur pakai nilai Fisika.