Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Runtuhnya Tabir Reputasi
Jakarta pagi itu tidak terasa ramah bagi Senja Amara. Begitu ia melangkah masuk ke lobi kantornya, atmosfer yang biasanya profesional dan tenang mendadak berubah menjadi bisik-bisik yang tertahan.
Beberapa staf junior yang biasa menyapanya dengan riang, kini justru menunduk atau pura-pura sibuk dengan ponsel mereka saat Senja lewat.
Senja mengerutkan kening. Ia belum membuka media sosial pagi ini karena fokus pada jadwal rapat koordinasi proyek Artha Group.
Tapi, saat ia sampai di mejanya, Mbak Sari menelepon dari Semarang dengan suara panik.
📞"Ja! Kamu sudah lihat berita belum? Foto kamu sama Sinta di parkiran kemarin viral! Tapi narasinya jahat banget, Ja. Mereka bilang kamu menindas bawahan kamu sampai dia sujud-sujud minta gajinya dibayar. Siapa yang tega ambil foto itu, Ja?"
Senja langsung membuka portal berita yang dikirimkan Sari. Jantungnya berdegup kencang. Di sana, terpampang foto dirinya yang berdiri tegak sementara Sinta bersimpuh di depannya. Sudut pengambilan fotonya membuat Senja terlihat sangat angkuh dan Sinta terlihat sangat malang.
"Arsitek Elit Jakarta, Senja Amara, Terlibat Skandal Kemanusiaan: Seorang Mantan Rekannya Bersimpuh Meminta Keadilan di Tengah Hujan Jakarta." Begitu judul salah satu artikel yang dibagikan ribuan kali.
📞"Bajingan..." umpat Senja lirih. Ia tahu persis ini bukan kebetulan. Ini adalah serangan balasan dari keluarga Rangga. Mereka ingin menghancurkan aset paling berharga Senja saat ini: Namanya.
Belum sempat Senja menenangkan diri, asisten sekretarisnya mengetuk pintu.
"Ibu Senja, maaf... Pak Aditya sudah menunggu di ruang rapat utama. Tapi beliau tidak sendiri, ada tim humas dan dewan komisaris Artha Group juga di sana."
Senja menarik napas panjang. Ia merapikan blazernya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia tahu, di dunia bisnis, persepsi publik seringkali lebih penting daripada kebenaran.
Di ruang rapat, suasana terasa sangat dingin. Aditya duduk di ujung meja dengan raut wajah yang sulit ditebak. Di sampingnya, seorang pria paruh baya yang merupakan salah satu komisaris utama menatap Senja dengan pandangan menghakimi.
"Ibu Senja," ucap Komisaris itu tanpa basa-basi.
"Proyek Green Skyscraper adalah proyek bernilai triliunan rupiah. Kami tidak bisa membiarkan arsitek utama kami terlibat dalam skandal moral yang memalukan seperti ini. Foto itu sudah merusak citra eksklusif yang kami bangun."
Senja berdiri tegak. "Pak, foto itu diambil di luar konteks. Wanita itu adalah masa lalu saya yang datang untuk meminta maaf atas masalah pribadi. Saya tidak menindas siapa pun. Justru saya sedang mencoba membantunya."
"Membantu dengan membiarkannya bersimpuh di aspal parkiran?" Aditya akhirnya bersuara, tapi nadanya datar. Senja menatap Aditya, mencari pembelaan, tapi ia justru melihat keraguan di mata pria itu.
"Adit, kamu tahu siapa dia. Kamu tahu masalahku dengan keluarga Rangga," bisik Senja, suaranya sedikit bergetar.
Aditya menghela napas. "Masalahnya, Senja, publik tidak tahu. Dan investor tidak peduli pada drama masa lalu mu. Mereka peduli pada angka dan reputasi. Pihak manajemen meminta agar kamu mengambil cuti sementara sampai masalah ini diklarifikasi. Posisi pemimpin proyek akan ditinjau ulang."
Senja merasa seolah-olah fondasi bangunan yang baru saja ia bangun kembali kini kembali diguncang gempa.
"Cuti sementara? Ini proyekku, Adit! Konsepnya dariku! Kamu mau membuangku karena satu foto fitnah?"
Aditya berdiri, memberi isyarat agar anggota rapat lainnya keluar. Begitu pintu tertutup, Aditya mendekat.
"Senja, aku mencoba melindungi kamu. Komisaris ingin memutus kontrak kamu sekarang juga. Dengan cuti, kita punya waktu untuk mencari siapa pengunggah foto itu. Kamu harus mengerti, ini bisnis."
"Bisnis?" Senja tertawa miris. "Dulu aku kehilangan semuanya karena cinta yang bodoh. Sekarang, saat aku sudah berdiri tegak dengan logikaku, aku harus kehilangan semuanya lagi karena fitnah pria yang aku cintai dulu? Dunia ini benar-benar tidak adil bagi wanita yang mencoba bangkit sendirian."
Senja keluar dari ruang rapat dengan kepala tegak, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak akan membiarkan mereka melihatnya menangis.
...----------------...
Sementara itu, di sebuah hotel kelas melati di pinggiran Jakarta, seseorang sedang tersenyum menatap layar laptopnya. Itu adalah Manda, selingkuhan Rangga di Jakarta yang dulu sempat dibawa ke rumah Sinta. Manda ternyata bekerja sama dengan Doni sebelum Doni tertangkap. Manda-lah yang mengambil foto itu dari kejauhan.
"Bagus... teruslah viral. Biar si arsitek sombong itu tahu rasanya jatuh sepertiku," gumam Manda.
Ia merasa dendam karena gara-gara kasus Senja dan Rangga, ia kehilangan "sumber duitnya" yaitu Rangga yang dipenjara.
Di sisi lain, Sinta yang kini berada di rumah aman yang diberikan Senja, melihat berita itu di televisi kecil di kamarnya. Sinta menjerit histeris. Ia tidak menyangka kehadirannya di Jakarta justru menjadi senjata untuk menghancurkan Senja kembali.
"Mbak Senja... maafin aku... aku bukan maksud buat Mbak malu..." tangis Sinta pecah. Ia merasa sangat berdosa. Ia ingin sekali bicara ke media, menceritakan kebenaran bahwa dialah yang bersalah, dialah yang merusak kepercayaan Senja, dan dia bersimpuh karena rasa malu.
Tapi Sinta sadar, jika dia muncul, rahasianya sebagai "pelarian" Rangga akan terbongkar secara nasional. Sinta takut. ia begitu pengecut.
...----------------...
Malam harinya, Senja duduk sendirian di apartemennya. Lampu-lampu Jakarta di luar sana seolah mengejeknya. Tiba-tiba, bel apartemennya berbunyi.
Ia membukanya dan menemukan Aditya berdiri di sana dengan wajah lelah.
"Senja, maafkan sikapku tadi di kantor. Aku harus bersikap profesional di depan dewan komisaris," ucap Aditya mencoba masuk.
Senja menahan pintu. "Kamu meragukan ku, Adit. Saat semua orang menyerang ku, orang yang aku harapkan berdiri di sampingku justru menyuruhku 'cuti'. Kamu sama saja dengan mereka. Kamu hanya peduli pada bangunanmu, bukan pada arsiteknya."
"Senja, itu tidak benar! Aku sedang melacak siapa yang mengambil foto itu. Aku butuh bukti untuk membersihkan nama kamu!"
"Bukti?" Senja tertawa dingin. "Bukti itu ada di depanku. Kamu tidak cukup percaya padaku untuk melawan mereka semua. Sekarang pergilah, Adit. Aku ingin sendirian. Aku harus belajar lagi bagaimana caranya berdiri tanpa perlu bersandar pada pilar siapa pun."
Senja menutup pintu rapat-rapat. Di balik pintu, ia merosot jatuh. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: Membangun gedung pencakar langit jauh lebih mudah daripada membangun kembali kepercayaan pada seorang pria.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah nomor dari lembaga pemasyarakatan.
📞"Halo, mantan istriku Sayang... sudah lihat beritanya?" Suara Rangga terdengar sangat ceria dari balik telepon penjara. "Itu baru permulaan. Kalau kamu nggak mau reputasi kamu habis total, suruh pacar kaya mu itu bayar jaminan buat aku dan Doni. Kalau nggak, besok ada video 'mesra' kita waktu di Bali yang bakal aku kirim ke klien-klien kamu. Ingat kan, kita dulu sering bikin video dokumenter pribadi?"
Senja merasa mual. Rangga benar-benar iblis. Dia tidak hanya menghancurkan masa lalunya, tapi dia ingin mengubur masa depan Senja hidup-hidup.
awas jangan smpai nyesel iya
rangga udah keterlaluan
bawa semua bukti" nya kalau rangga itu ga baik biar segera diproses