Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Kembali Menutup Hari
Satu per satu, anak-anak bersiap tidur. Candaan terakhir di lorong. Pintu kamar ditutup perlahan.
Safira berhenti sejenak di depan kamar orang tuanya.
“Hari ini menyenangkan,” katanya tulus.
Elisabet memeluknya.
“Iya. Terima kasih sudah ikut.” ujar nya sembari melepaskan pelukan nya
Clarissa berdiri di belakang, menunggu. Tatapannya tenang—namun tajam.
“Malam,” ucapnya singkat.
Adrian memberi hormat setengah bercanda.
“Siap istirahat.”
Lampu rumah diredupkan.
Di Ambang Sunyi
Di kamar utama, Elisabet berbaring, menatap langit-langit. Armand duduk di tepi ranjang, melepaskan jam tangannya—gerakan kecil yang selalu ia lakukan saat mencoba merasa aman.
“Kau merasakannya?” tanya Elisabet pelan.
Armand mengangguk.
“Hari ini terlalu… mulus.”
Elisabet menarik selimut lebih tinggi.
“Aku ingin besok sama seperti hari ini.” ucapnya penuh harapan
Armand mematikan lampu.
“Kita akan berusaha.”
Namun di luar, malam tidak sepenuhnya gelap. Di kejauhan, di tempat yang tak tersentuh peta, seseorang menandai sebuah hari di kalender tanpa tanggal.
Bukan sebagai kenangan.
Melainkan sebagai awal.
Dan saat rumah keluarga Bastian terlelap,
malam itu—
yang dimulai dengan tawa—
diam-diam membuka pintu ke bab berikutnya.
Malam yang Sama — Saat Sunyi Mulai Bergerak
Rumah keluarga Bastian akhirnya tenggelam dalam keheningan penuh. Lampu-lampu telah dimatikan, tirai tertutup rapat, dan hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan—ritme konstan yang biasanya menenangkan.
Namun malam itu, sunyi terasa… terlalu rapi.
Di kamar utama, Elisabet terjaga. Ia tidak membuka mata, hanya mendengarkan. Napas Armand di sampingnya teratur, namun tidak sedalam orang yang benar-benar tidur. Ia tahu—suaminya terjaga seperti dirinya.
“Mand…” bisiknya hampir tanpa suara.
“Aku di sini,” jawab Armand pelan.
Elisabet menelan ludah.
“Aku merasa hari ini seperti perpisahan yang ditunda.”
Armand tidak langsung menjawab. Ia memandang langit-langit yang gelap, lalu berkata lirih,
“Kalau memang ada yang datang… mereka tidak akan melewati kita dulu.”
Elisabet memejamkan mata, memaksa dirinya percaya.
Sementara itu
Di kamar Clarissa, lampu kecil masih menyala. Laptopnya terbuka, layar gelap—bukan karena mati, tapi karena ia sengaja menutupnya.
Clarissa berdiri di dekat pintu, mendengarkan rumah. Ia mengenali setiap bunyi. Dan justru karena itu, ia sadar ada yang tidak biasa.
Terlalu seimbang.
Terlalu tenang.
Ia mengirim satu pesan singkat. Tanpa nama penerima yang jelas.
“Status?”
Beberapa detik berlalu.
Balasan muncul.
“Belum ada pergerakan. Tapi lingkaran mengencang.”
Clarissa menutup ponsel.
“Jadi bukan perasaanku saja,” gumamnya.
Kamar Safira — Doa Kecil
Safira tidur menyamping, memeluk bantal. Mimpinya ringan—potongan tawa siang tadi, langkah kaki di mall, cahaya sore yang hangat.
Namun di balik mimpi itu, hatinya berbisik pelan.
Ia menggenggam ujung selimut.
“Semoga besok masih sama,” gumamnya dalam tidur.
Adrian — Insting yang Terbangun
Adrian terjaga.
Bukan karena suara, melainkan karena rasa.
Ia duduk di ranjang, menatap jam dinding. 02.17.
Ia mengingat cara Armand memeriksa jendela.a
Nada suaranya saat berkata “tidur lebih awal.”
Tatapan Clarissa yang terlalu tenang.
“Kalau ini latihan,” bisiknya, “aku tidak mau gagal.”
Ia berdiri, membuka pintu kamar perlahan. Mengintip lorong—kosong. Aman. Untuk sekarang.
Di Luar Pagar
Di luar pagar rumah Bastian, jauh di balik pepohonan dan sudut gelap yang tidak terjangkau lampu taman, sebuah kendaraan berhenti tanpa suara.
Mesin dimatikan.
Dari dalam, seseorang menatap rumah itu lama.
“Jadi ini tempat kalian bersembunyi,” ucap suara perempuan, datar namun penuh kepastian.
Di tangannya, sebuah tablet menyala, menampilkan peta sederhana—rumah itu dilingkari merah.
“Biarkan mereka tidur satu malam lagi,” katanya pelan. “Besok… kita uji pertahanannya.”
Seseorang di sampingnya bertanya lirih,
“Bagaimana kalau Armand sadar?”
Perempuan itu tersenyum tipis.
“Dia sudah sadar sejak lama. Itu yang membuatnya menarik.” senyuman tipis terlintas di bibirnya
Lampu tablet mati.
Kendaraan bergerak menjauh, menyatu dengan gelap.
Menjelang Subuh
Di rumah, Elisabet akhirnya tertidur—tidak nyenyak, tapi cukup. Tangannya menggenggam tangan Armand tanpa sadar.
Armand membuka mata sekali lagi, menatap jendela.
Bayangan pepohonan bergoyang pelan.
Ia berbisik, hampir seperti janji:
“Kalau ini malam terakhir yang tenang… maka aku tidak akan kalah.”
Dan saat subuh perlahan mendekat,
rumah itu masih berdiri.
Namun dunia di luar
sudah mulai bergerak menuju mereka.