Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecerobohan rea
Saat Rea hendak melangkah menyusul Galen, sifat cerobohnya kembali muncul. Kakinya tersangkut ujung karpet bulu yang tebal, membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Aaaaa!"
Bruk!
Tubuh mungil Rea menubruk dada bidang Galen dengan keras, membuat pria itu terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di sofa mewah dengan Rea yang mendarat tepat di atas tubuhnya. Kejadian itu begitu cepat, dan karena guncangan tersebut, wajah Rea terjatuh tepat di depan wajah Galen.
Cup.
Bibir Rea tanpa sengaja menempel di bibir Galen.
Galen terbelalak. Jantung sang penguasa dunia bawah itu seakan berhenti berdetak sesaat. Ia bisa merasakan tekstur lembut dan napas hangat Rea yang sangat dekat. Ini bukan lagi karena pengaruh obat seperti malam itu, tapi terjadi begitu saja di tengah rumah mereka.
"Aduhhh!" pekik Rea panik setelah tersadar. Ia segera menjauhkan wajahnya dengan gerakan kikuk, namun posisinya masih terduduk di pangkuan Galen.
"Mas... maaf! Maaf, Mas Galen! Rea tidak sengaja, Rea tadi tersandung karpetnya!" Rea menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa sangat malu sampai rasanya ingin menghilang saat itu juga. Wajahnya merah padam sampai ke leher.
Galen masih terdiam, tangannya secara refleks memegang pinggang Rea agar gadis itu tidak jatuh dari pangkuannya. Ekspresinya sulit ditebak, campuran keterkejutan dan sesuatu yang lain.
"Rea," panggil Galen dengan suara rendah.
"I-iya Mas?" jawab Rea dari balik sela-sela jarinya.
Galen menarik napas perlahan. "Lain kali, perhatikan langkahmu." Ia melepaskan pegangan di pinggang Rea.
Rea segera bangkit dengan kikuk, masih merasa sangat canggung. "Iya, Mas. Maaf..."
Galen berdiri, merapikan bajunya seolah tidak terjadi apa-apa, meskipun rona merah samar masih terlihat di telinganya. "Sudah, bangun. Ayo kita berangkat berbelanja."
Kenapa gadis ini bisa membuat jantungku tak karuan hanya dengan satu kecerobohannya? batin Galen sambil berusaha menormalkan detak jantungnya yang berpacu liar. Sebagai pria yang terbiasa menghadapi bahaya, ia merasa aneh karena justru kalah oleh kepolosan Rea.
Galen pun berjalan menuju garasi besarnya dan menaiki mobil SUV hitam kesayangannya. "Ayo, Bunny," panggilnya singkat, berusaha terdengar sedingin biasanya.
Rea segera masuk dan duduk di kursi samping Galen, menarik sabuk pengamannya dengan semangat yang kembali pulih setelah kejadian memalukan tadi. Mobil pun meluncur mulus keluar dari mansion mewah itu di pagi hari Januari 2026 yang cerah ini.
"Masss... Mas Galen mau beliin Rea apa?" tanya Rea sambil menoleh dengan mata berbinar-binar. "Gaji Senior Tukang Kebun bulan ini sudah turun ya?"
Galen melirik Rea sekilas, sudut bibirnya hampir terangkat membentuk senyum tipis. "Belanja saja apa yang kamu butuhkan. Terserah kamu, Bunny."
"Benarkah? Terserah Rea?" Rea menepuk tangannya kegirangan. "Kalau begitu, Rea mau beli daster yang banyak! Terus mau beli detergen yang harum, oh sama sikat gigi baru buat Mas Galen!"
Galen hanya bisa menghela napas panjang mendengar daftar belanjaan Rea yang sangat jauh dari kemewahan. Ia sama sekali tidak memberi tahu Rea bahwa mereka bukan menuju pasar tradisional, melainkan pusat perbelanjaan paling eksklusif di kota ini.
"Kita akan beli baju yang layak untuk istriku, bukan hanya daster," gumam Galen tegas saat mobil mereka berhenti di depan mal mewah yang dijaga ketat.
Rea ternganga melihat gedung di depannya yang berkilau kaca. "Wahhh... Mas, ini bukan tempat orang kaya ya? Mas yakin gaji Paman cukup buat masuk ke sini?" tanya Rea penuh kekhawatiran.
"Cukup, Rea. Sangat cukup," jawab Galen sambil turun dan membukakan pintu untuk istri kecilnya.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam mal yang megah itu, suasana langsung berubah sunyi sesaat. Galen yang tinggi tegap, sangat dominan dengan aura dinginnya, berjalan berdampingan dengan Rea yang mungil dan berpakaian sederhana.
Beberapa pengunjung yang berpapasan dengan mereka mulai berbisik-bisik sambil menoleh.
"Wah, lihat itu. Bapaknya ganteng banget ya, masih muda tapi sudah punya anak gadis secantik itu," bisik seorang ibu-ibu yang lewat sambil membawa kantong belanja.
"Iya, anak perempuannya lucu banget, mungil. Duh, bapak impian ya, mau temani anaknya belanja," sahut temannya.
Rea yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap tinggi badan Galen yang menjulang jauh di atasnya, lalu menatap dirinya sendiri yang hanya sebatas dada Galen.
"Mas Galen..." panggil Rea sambil menarik ujung jas Galen.
"Kenapa?" tanya Galen sambil menunduk.
"Orang-orang kira Mas Galen itu ayah Rea! Emang Rea sekecil itu ya di mata mereka?" Rea mengerucutkan bibirnya, merasa sedikit kesal karena dianggap anak kecil, padahal ia adalah seorang wanita dewasa.
Seorang pelayan toko bermerek di dekat mereka segera mendekat dengan ramah. "Mari Tuan, silakan masuk. Ada yang bisa kami bantu?" tanya pelayan itu sambil tersenyum ke arah Rea.
Galen tersenyum tipis, matanya menatap Rea dengan geli. "Biarkan saja mereka bicara apa," gumam Galen sambil terus menggandeng tangan Rea masuk ke dalam toko pakaian ternama. "Sepertinya kamu memang perlu banyak baju, supaya tidak ada lagi yang mengira kamu... anak saya."
Di tengah kemewahan mal tersebut, Galen tidak sadar bahwa beberapa orang berpakaian preman terus mengintai dari balik pilar gedung. Salah satu dari mereka segera menghubungi Sonya melalui ponselnya.
"Nona, Tuan Galen membawa gadis itu ke mal. Mereka terlihat sangat dekat," lapor anak buah itu.
"Sialan! Gadis kampung itu berani-beraninya masuk ke kandang singa!" umpat Sonya di seberang telepon dengan suara bergetar karena marah. "Terus awasi mereka! Jangan sampai lepas!"
Sementara itu, di dalam butik kelas atas, Rea tampak sangat kebingungan. Ia berkali-kali melihat label harga dan matanya hampir keluar saat melihat deretan angka nol yang sangat banyak. "Mas... ini harganya salah ya? Masa satu kaos harganya setara gaji Rea dua bulan di kafe?" bisik Rea panik, tangannya gemetar memegang sepotong gaun sutra.
Galen yang melihat istrinya mondar-mandir tanpa mengambil satu pun baju, akhirnya kehilangan kesabaran dengan cara yang elegan. Ia memanggil kepala pelayan butik itu.
"Saya menginginkan pakaian yang bagus untuk istri saya," ucap Galen dengan suara baritonnya yang tegas dan berwibawa.
"Pilihan yang mana, Tuan?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Bungkus semua yang menurut kalian bagus dan cocok untuknya. Jangan biarkan ada yang tertinggal," perintah Galen singkat tanpa melihat label harga sedikit pun.
Rea ternganga. "Hah?! Mas Galen, jangan gila! Gaji tukang kebun senior Mas bisa habis buat tujuh turunan kalau beli semuanya!"
Galen hanya menatap Rea datar, lalu menarik kartu kredit hitam (Black Card) dari dompetnya yang membuat pelayan toko itu langsung membungkuk hormat. "Diamlah, Bunny. Anggap saja ini bonus karena kamu sudah mau menjadi asisten senior yang baik," gumam Galen sambil mengusap kepala Rea.
Rea hanya bisa pasrah saat para pelayan mulai sibuk mengemasi puluhan tas belanjaan bermerek. Ia masih merasa ini seperti mimpi di siang bolong pada hari ini.