Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dave Tersinggung
Tak cukup sampai disitu, Erik kembali melanjutkan ceritanya. Masih dengan tema perselingkuhan. James dan Albert yang sudah muak mendengar suara Erik, memutuskan untuk tidur. Keduanya menyadarkan punggung ke badan kursi. Meski telinga nya tetap menangkap suara Erik.
"Payah" ucap Erik sambil melirik ke dua teman nya yang sudah memejamkan mata.
"Aku ingin cerita lagi, kau masih sanggup untuk mendengarkan?" tanya Erik pada Elia.
Elia mengangguk cepat, ia sama sekali tidak terganggu dengan ocehan Erik, malah membuatnya merasa terhibur. Kapan lagi ia mendapat lawan bicara. Dave saja jarang mengajaknya mengobrol.
"Saat aku pergi ke mall untuk membeli sesuatu. Aku melihat pertengkaran seorang suami istri. Saat aku bertanya pada orang di sekitar, ternyata si pria itu ketangkap basah sedang berjalan dengan selingkuhannya".
CIITT!!!
Dave tidak menginjak rem mendadak saat mendengar cerita Erik, hingga membuat James dan Albert sedikit tersungkur ke depan.
"Dave ada apa?" tanya Albert.
Dave seperti baru saja melihat bayangan nya sendiri di tengah jalan. Ia jadi teringat kejadian saat sedang bersama Bianca di mall. Hampir saja ketahuan jika tidak Nick memberitahu adanya Elia
Elia melirik ke arah Dave, dengan tatapan heran. "Astaga, Ka Dave. Ada apa?" tanya nya.
Dave melirik sekilas dengan sedikit sini. "Tadi ada, tadi ada seekor anjing yang melintas"
Erik membuka kaca mobil untuk membuktikan ucapan Dave, tapi ia tidak menemukan apapun di sekitar jalan tersebut.
"Kau mungkin kecapean, mau gantian menyetir?" Elia menawarkan bantuan..
"Tidak perlu" kata Dave singkat. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan nya.
Erik tidak menyerah begitu saja. Ia kembali melanjutkan ceritanya, kali ini tentang pengalaman horor yang sukses membuat bulu kuduk Elia meremang.
“Aku pikir vampir itu cuma ada di film,” ucap Erik dengan nada serius, “tapi aku melihatnya sendiri, tepat di depan kedua mataku.” Ia berhenti sejenak, seolah memberi ruang bagi imajinasi pendengarnya.
“Waktu itu aku sedang berjaga di ruang ICU. Mataku setengah terpejam ketika samar-samar menangkap sebuah bayangan. Dan saat aku membuka mata lebar-lebar,makhluk itu sudah melompat ke arahku.”
Erik refleks memegangi lehernya, sengaja melebih-lebihkan gestur agar ceritanya terdengar semakin mencekam.
Elia refleks menutup mulutnya sambil sedikit memiringkan tubuh. “Lalu? Apa yang kau lakukan saat vampir itu mendekat?” tanyanya, matanya membulat penuh antusias.
Dave hanya melirik sekilas, ekspresinya datar dan nyaris bosan. Ia jelas tidak tertarik menanggapi kisah Erik, apalagi ikut larut di dalamnya.
“Saat itu juga aku tersadar,” kata Erik sambil tertawa, “ternyata aku cuma sedang bermimpi". Tawa Erik langsung disambut tawa Elia yang terbahak-bahak. Namun, di sela riangnya, Elia sadar akan keberadaan Dave di sampingnya. Tawanya perlahan mereda, digantikan rasa kikuk yang sulit ia jelaskan. Seolah ada jarak tak kasatmata yang membentang di antara mereka.
"Oh iya, Elia. Kegiatan mu sehari-hari apa?" tanya Erik . Ia penasaran, ingin tahu lebih lanjut mengenai perempuan yang baru dikenalnya.
"Aku bekerja remote, di perusahaan asing" tegas Elia.
Erik mengerutkan kening. "Maksud mu? Kerja remote? Seperti apa?" lanjutnya.
"Aku bekerja di beberapa perusahaan asing untuk membuat sebuah campaign".
Erik mengerutkan kening. “Maksudmu? Kerja remote? Seperti apa?” lanjutnya, masih tampak penasaran.
“Aku bekerja sama dengan beberapa perusahaan asing untuk membuat campaign,” jawab Elia.
Erik mengangguk paham. Sedikit banyak ia pernah mendengar tentang campaign yang digunakan perusahaan untuk memperkenalkan brand mereka ke khalayak luas. “Kau membuat campaign di bidang apa?”
“Aku menangani tiga perusahaan,” jelas Elia. “Masing-masing bergerak di bidang yang berbeda. Tapi bayaran terbesar datang dari perusahaan kosmetik dan kecantikan.”
Mendengar kata bayaran terbesar, rasa penasaran Erik langsung memuncak. Ia ingin tahu seberapa besar angka yang rutin masuk ke rekening Elia setiap bulan.
“Kalau aku boleh tahu, berapa bayarannya?” tanyanya sambil sedikit mencondongkan kepala, tatapannya serius.
“Kau ini sudah seperti wartawan saja, Rik. Sampai urusan gaji pun kau kepo,” timpal Dave singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
Elia melirik sekilas ke arah Dave. “Bayaran dari satu bidang saja setara dengan harga mobil Mercy keluaran terbaru,” jelasnya tenang.
Erik tercengang. Matanya berbinar, jelas tertarik.
“Wah, Elia… bagaimana caranya bisa seperti kamu? Aku juga mau,” katanya setengah merengek.
“Caranya sederhana. Cari saja di situs pencari kerja. Nanti akan muncul beberapa pilihan bidang,” jawab Elia.
Tanpa ragu, Erik langsung menyodorkan ponselnya. “Kalau begitu, masukkan nomor kamu. Kirimkan aku link-nya.”
Elia kembali melirik Dave, seakan meminta izin. Keraguan tampak jelas di wajahnya. Menyadari hal itu, Erik buru-buru bicara.
“Boleh kan, Dave, aku simpan nomor ponsel istrimu? Cuma urusan pekerjaan, bukan yang lain.”
“Terserah kau saja. Aku tidak mau ikut campur,” jawab Dave ketus.
Meski begitu, Erik tak peduli. Ia tetap menunggu sampai Elia memasukkan nomornya.
“Baiklah,” ucap Elia pelan, meski hatinya sedikit ragu melihat sikap Dave yang terkesan acuh.
Wajah Erik langsung berseri. “Kalau aku punya waktu luang, aku akan minta kamu mengajariku cara dapat penghasilan tanpa harus keluar rumah.”
Elia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit. Mobil Dave sampai di tujuan. Erik segera membangunkan Albert dan James yang tertidur pulas. "Hei, bangun! Kita sudah sampai". Ujar Erik dengan menepuk pelan kedua pipi teman nya itu.
Albert dan James membuka mata dan meregangkan tubuh. Meski duduk di kursi mobil mahal tetap saja tidak enak jika tidur dalam posisi seperti itu.
"Syukurlah, akhirnya kami sampai juga. Dave terimakasih banyak untuk kebaikan mu hari ini". ucap James. Ia merasa sudah merepotkan terlalu banyak sahabatnya.
"Sama-sama. Jika waktu luang kita bertemu lagi". ucap Dave dengan senyuman nya yang ramah.
Ketiga pemuda tersebut pun berpamitan pada Elia serta mengucapkan terimakasih. Erik sempat-sempatnya memberikan tanda love dengan jari nya. Hingga membuat Albert terpaksa menarik tas gendong nya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, mobil Dave akhirnya tiba di tujuan. Erik segera membangunkan Albert dan James yang tertidur pulas.
“Hei, bangun. Kita sudah sampai,” ujarnya sambil menepuk pelan pipi kedua temannya.
Albert dan James membuka mata, lalu meregangkan tubuh. Meski duduk di mobil mewah, tidur dalam posisi duduk tetap saja membuat badan terasa pegal.
“Syukurlah, akhirnya sampai juga. Dave, terima kasih banyak atas kebaikanmu hari ini,” ucap James tulus. Ia merasa sudah terlalu merepotkan sahabatnya.
“Sama-sama. Kalau ada waktu luang, kita bertemu lagi,” balas Dave dengan senyum ramah.
Ketiganya pun berpamitan pada Elia sambil mengucapkan terima kasih. Erik bahkan sempat memberikan tanda hati dengan jarinya ke arah Elia.
Senyum Dave langsung menipis. Alisnya berkerut tipis, sorot matanya berubah dingin sekejap. Tanpa berkata apa pun, ia hanya menarik napas dalam, menahan sesuatu yang jelas tak ingin ia perlihatkan.
Melihat itu, Albert buru-buru menarik tas gendong Erik. “Ayo jalan,” gumamnya, seolah paham situasi, sebelum semuanya menjadi canggung.
Elia dan Dave kembali masuk ke dalam mobil. Sebelum menyalakan mesin mobil, Dave melakukan peregangan terlebih dahulu.
"Kalau kau capek biar aku saja yang menyetir". Tawar Elia. Dave melirik beberapa saat ke arahnya.
"Kau yakin?". tanya Dave
Elia mengangguk sambil tersenyum, kemudian keduanya setuju untuk menukar posisi duduk. Kini Elia yang mengambil alih kemudi. Dengan lihai Elia memutar setir nya untuk berbalik arah. Tanpa kendala apapun ia melakukannya dengan baik.
"Kau ingin mencari simpati dari ku?" ucap Dave setelah kendaraan melaju keluar dari dalam komplek.
Elia melirik sekilas, lalu kembali fokus pada jalan. "Aku hanya melakukan tugas ku sebagai istri. Tidak ada salahnya kan kalau aku bersikap baik?" ucapnya.
Dave terdiam, ia memilih untuk memainkan ponsel nya. "Ya ampun" refleks Dave saat melihat rentetan pesan dari Bianca.
"Kenapa? ada yang mencari mu?"tanya Elia.
"Tidak ada urusan nya dengan mu".
"Aku hanya bertanya".
"Ingat perjanjian kita, Elia. Kau tidak boleh mencampuri urusan ku. Termasuk aku berkomunikasi dengan siapapun". Tegas Dave, Elia menciut. Ia lebih memilih diam. Meski hati nya terasa sakit. Namun tetap mempertahankan kelembutan nya sebagai seorang wanita.
Elia mengangguk sambil tersenyum, lalu keduanya sepakat menukar posisi duduk. Kini Elia mengambil alih kemudi. Dengan cekatan ia memutar setir untuk berbalik arah. Manuver itu ia lakukan dengan mulus, tanpa kendala sedikit pun.
“Kau sedang mencoba mencari simpati dariku ya?” tanya Dave begitu mobil keluar dari area kompleks.
Elia melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali fokus pada jalan. “Aku hanya menjalankan tugasku sebagai istri. Tidak ada salahnya, kan, bersikap baik?” jawabnya tenang.
Dave kembali asyik dengan ponselnya. Jari-jarinya lincah membalas setiap omelan Bianca yang kian lama kian dipenuhi ego.
“Kita langsung pulang ke rumah,” titahnya singkat.
Elia tak menyahut. Ia hanya mengangguk pelan, tanda mengerti.
Seperti biasa, batinnya lirih. "Aku hanya perlu menurut,tidak lebih" Sikap diam itu justru membuat Dave melirik tajam ke arahnya.
“Hei! Kau tuli atau apa?” bentaknya dengan suara cukup keras.
“Iya, aku dengar. Kita langsung pulang ke rumah,” jawab Elia lembut. Wajahnya tetap tenang, tanpa gurat kemarahan sedikit pun."Tenanglah, Elia, katanya pada diri sendiri. Kemarahan tidak akan mengubah apa pun. Kau hanya akan semakin terlihat salah". Batin Elia
Dave enggan ambil pusing. Kesabarannya sudah menipis sejak membaca pesan Bianca yang mengatakan ia akan pergi ke klub bersama teman-temannya. Tangannya mengepal erat, menahan amarah yang bergolak di dada. Namun ia memaksa diri untuk tetap mengendalikan emosi, mengingat ibunya sedang menginap di rumah malam ini.
Sementara itu, Elia menatap lurus ke depan.
"Entah sampai kapan aku harus terus seperti ini, batinnya perih. Menjadi istri hanya di atas nama, tanpa pernah benar-benar didengar". Gumam nya dalam hati.
“Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau bekerja remote?” tanya Dave. Rasa penasarannya muncul setelah mengingat obrolan Elia bersama Erik.
“Dua tahun lebih,” jawab Elia singkat.
“Kau bisa membuat campaign?” Dave tertawa kecil, nada suaranya jelas meremehkan. “Ah, aku tidak percaya.”
Elia tersenyum tipis. “Kalau ternyata aku bisa melakukannya, kau mau memberiku apa?” tantangnya ringan, namun matanya menyiratkan keyakinan.
Dave mengernyit. “Apa maksudmu?”
“Kau seakan-akan meragukanku,” ucap Elia tenang. “Nanti malam akan kubuktikan bagaimana aku bekerja. Kalau aku berhasil membuktikannya padamu, apa yang akan kau berikan padaku?”
Dave terdiam. Entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.
“Tidak ada,” jawabnya akhirnya, dingin. “Jangan berharap lebih. Aku hanya ingin memastikan ucapanmu.”
Elia tersenyum kecil, kali ini tanpa kehangatan. “Kalau begitu, aku tidak mau menunjukkannya padamu.”
Dave mengepal tangannya. Ada rasa kesal yang tiba-tiba muncul. Bukan sepenuhnya karena sikap Elia, melainkan karena rasa penasaran yang kini tak terjawab. Ia ingin tahu bagaimana cara Elia membuat campaign, seberapa besar pengaruhnya bagi perusahaan yang mempercayainya.
Terlebih lagi, ia teringat bahwa kinerja tim pemasaran di perusahaannya sendiri sedang goyah. Dan untuk pertama kalinya, Dave merasa… mungkin Elia menyimpan sesuatu yang selama ini luput dari pengamatannya.
Dave terkejut saat Elia tiba-tiba memutar setir ke arah pom bensin. Padahal tangki bahan bakar masih terisi penuh.
“Hei, kau mau apa? Bensinku masih penuh,” protes Dave. Ia yakin betul karena sempat mengisinya sebelum mereka sampai ke restoran.
“Aku mau ke toilet sebentar. Perutku terasa tidak enak,” jawab Elia.
Setelah mobil terparkir rapi, Elia melepas sabuk pengamannya lalu keluar dengan tergesa-gesa. Dave hanya memperhatikannya masuk ke dalam toilet. Sambil menunggu, ia kembali memainkan ponselnya.
Di dalam toilet, Elia meringis menahan rasa sakit di perutnya. “Ya ampun, tidak biasanya begini,” gumamnya pelan.
Usai membuang hajat, ia merasa jauh lebih lega. Elia melangkah ke wastafel untuk mencuci tangannya. Saat hendak keluar, ia tak sengaja menabrak seorang wanita yang juga akan masuk ke toilet.
“Astaga, maaf! Aku tidak sengaja,” ujar Elia panik sambil membantu wanita itu yang jatuh terduduk. Wajahnya mendadak menegang. “Patricia?”
“Elia?”
Keduanya sama-sama histeris kecil dan saling memberikan pelukan hangat. Tak menyangka bisa bertemu di tempat itu, meski dengan cara yang kurang mengenakkan.
“Ya ampun, Patricia. Maafkan aku,” katanya lagi.
“Tidak apa-apa, Elia. Sandalku memang agak licin,” terang Patricia sambil tersenyum.
Mereka pun melanjutkan obrolan singkat, saling menanyakan kabar dan kegiatan masing-masing. Patricia juga meminta maaf karena tidak bisa hadir di pernikahan Elia, mengingat saat itu ia masih berada di luar negeri.
“Kapan-kapan kita adakan kumpul bersama,” usul Patricia.
“Aku setuju. Ajak juga yang lain,” sahut Elia.
Namun, obrolan itu terpaksa diakhiri. Elia tak enak jika terlalu lama meninggalkan Dave sendirian di mobil.
Patricia melangkah masuk ke toilet, sementara Elia berlari kecil menuju area parkir.
“Kau ini lama sekali!” keluh Dave dengan nada kesal begitu Elia masuk ke dalam mobil.
“Maaf, tadi perutku sangat mulas,” jawab Elia singkat. Ia memilih tidak menceritakan pertemuannya dengan sang sahabat.
Elia kembali melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti. Tak lama kemudian, keduanya tiba di halaman rumah.
“Ingat. Jalankan peranmu sebagai istri. Jangan sampai Mom tahu fakta yang sebenarnya,” ujar Dave tegas.
Elia mengangguk pelan. “Tenang saja. Semuanya sudah tersusun rapi di kepalaku.”
“Dan satu lagi,” lanjut Dave dengan tatapan tajam. “Jangan sampai salah masuk kamar. Mom sangat peka, bahkan pada hal-hal kecil sekalipun. Kau mengerti?”
“Iya, Dave,” jawab Elia lirih.
Dave keluar dari mobil lebih dulu. Begitu pintu tertutup, tanpa bisa ia cegah, air mata Elia jatuh begitu saja. Sejak tadi ia menahannya, dan kini semuanya meluap.
“Kau tidak boleh lemah, Elia. Kau harus kuat,” gumamnya sambil menguatkan diri. “Ingat, Mom Sarah begitu baik padamu. Ia sudah menganggap mu seperti anaknya sendiri.”
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita