Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Kolam Hitam dan Keberuntungan Terkutuk
Napas Li Yuan memburu, paru-parunya terasa seperti terbakar. Di belakangnya, suara gesekan sisik ular raksasa itu pada daun-daun kering terdengar seperti suara kematian yang mendekat.
"Berhenti memukuli kepalaku, Dong Dong! Kau membuatku tidak bisa melihat jalan!" teriak Li Yuan di tengah kepanikan.
Dong Dong tidak peduli; ia justru menarik telinga kiri Li Yuan seolah-olah sedang mengendalikan kemudi kuda. Di depan mereka, semak-semak berakhir secara tiba-tiba, menampakkan sebuah jurang kecil yang di dasarnya terdapat sebuah kolam berwarna hitam pekat. Permukaannya tenang, tidak memantulkan cahaya matahari sedikit pun, seolah-olah air itu menelan cahaya.
"Tidak ada pilihan! Lompat!"
Li Yuan melontarkan tubuhnya ke udara tepat saat rahang ular itu mengatup di posisi tempat ia berdiri satu detik sebelumnya.
BYUURRR!
Mereka tenggelam ke dalam cairan hitam yang kental dan dingin. Anehnya, alih-alih merasa sesak karena air, Li Yuan justru merasa tubuhnya seperti disengat oleh ribuan jarum kecil yang membawa kehangatan asing. Cairan hitam itu meresap ke dalam pori-pori kulitnya, membasuh luka lebam dan rasa lelahnya dengan seketika.
Li Yuan berusaha menggapai permukaan, terbatuk-batuk kecil saat ia berhasil mendarat di tepian kolam yang berbatu.
"Uhuk! Uhuk! Benar-benar sial... hampir saja aku jadi kotoran ular." umpat Li Yuan sambil memeras bajunya yang basah kuyup.
"Kau yang bodoh! Siapa suruh menarik ekor ular sebesar itu? Kau pikir itu akar pohon?"
Li Yuan membeku. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. "Siapa? Siapa yang bicara?"
"Di sini, di pundakmu, Manusia Bodoh!"
Li Yuan perlahan memutar kepalanya. Dong Dong duduk di sana, sedang memeras bulu ekornya dengan wajah sangat kesal. Monyet itu menatap Li Yuan dengan mata yang kini berkilat cerdas.
"Kau... Kau bicara?!" Li Yuan melompat mundur hingga terjatuh kembali ke dalam kolam hitam. "Monyet siluman! Kau kerasukan setan kolam ya?!"
Dong Dong memutar bola matanya, sebuah ekspresi yang sangat manusiawi. "Jaga bicaramu. Aku juga terkejut suara ini keluar dari mulutku. Sepertinya air hitam ini bukan air biasa. Ini adalah Cairan Spiritual Intisari Bumi. Kau sendiri, apa tidak merasakannya? Otakmu yang tumpul itu seharusnya sedikit lebih encer sekarang."
Li Yuan terdiam. Benar saja, saat ia menutup mata, kegelapan di dalam benaknya tidak lagi kosong. Sebuah pusaran cahaya keemasan muncul, diikuti oleh barisan huruf-huruf kuno yang menari-nari dan masuk ke dalam kesadarannya.
“Jalan Pedang Langit: Membelah Angkasa Melampaui Takdir.”
Kepalanya terasa berdenyut hebat. Pengetahuan tentang cara menyerap energi alam, teknik pernapasan, hingga gerakan pedang yang belum pernah ia lihat seumur hidup, terpatri kuat di dalam ingatannya.
"Kultivasi..." bisik Li Yuan tak percaya. "Aku mendapatkan pengetahuan tentang cara menjadi kuat."
Dong Dong melompat ke sebuah batu besar, melipat tangannya di dada. "Baguslah kalau begitu. Jadi, mulai sekarang aku tidak perlu repot-repot memukuli kepalamu agar kau sadar ada bahaya. Tapi ingat, Li Yuan, teknik sehebat apa pun tidak berguna jika mentalmu masih mental peminta-minta."
Li Yuan berdiri perlahan, merasakan energi baru mengalir di pembuluh darahnya. Ia menatap telapak tangannya, lalu menatap Dong Dong dengan seringai kecil.
"Tunggu dulu," ujar Li Yuan teringat sesuatu. "Jika kau sekarang bisa bicara, berarti kau bisa membantuku mencari makanan yang benar, kan? Jangan tunjukkan ekor ular lagi padaku."
Dong Dong mendengus sombong. "Tentu saja. Dengan indraku yang sekarang meningkat, aku bisa mencium bau buah spiritual dari jarak satu mil. Tapi sebagai imbalannya, kau harus belajar mengayunkan pedang dengan benar. Aku tidak mau punya tuan yang mati hanya karena terpeleset saat dikejar ular."
Li Yuan tertawa, kali ini suaranya terdengar lebih mantap. "Sepakat, Monyet Cerewet. Mari kita lihat seberapa jauh teknik pedang ini bisa membawaku."
Ia memungut sebuah ranting kayu panjang yang jatuh di dekat kolam, mencoba meniru satu gerakan dari ingatannya. Saat ia mengayunkan kayu itu, terdengar suara siulan angin yang tajam—sebuah tanda bahwa kekuatan yang ia dapatkan bukanlah sekadar halusinasi.
"Hei, Li Yuan!" panggil Dong Dong.
"Apa?"
"Celanamu robek di bagian belakang karena tendangan kemarin yang kau ceritakan. Pemandangannya sungguh tidak spiritual." ejek si monyet sambil menutupi matanya.
Li Yuan memerah padam. "Diam kau, Dong Dong!"