Sisi Caldwell dipaksa keluarganya mengikuti pesta kencan buta demi menyelamatkan perusahaan, hingga terpilih menjadi istri keenam Lucien Alastor, miliarder dingin yang tak percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Sisi bangun pagi dan segera bersiap. Hari ini mereka akan mengunjungi keluarganya. Namun, di benaknya muncul pertanyaan pahit, haruskah ia masih menganggap mereka keluarga, sementara kenyataannya mereka tidak pernah memperlakukannya sebagai bagian dari keluarga?
Sisi menatap pantulan dirinya di cermin setinggi tubuh. Ia mengenakan atasan cami bergaris dengan tali yang diikat sendiri dan celana panjang model wide-leg. Rambut panjang lurusnya ia sisir rapi, sederhana tapi anggun.
Sebelum keluar dari kamar...
Lucien sudah menunggunya.
Sisi langsung melangkah mendekatinya dengan cepat karena ekspresi pria itu gelap, seperti langit malam tanpa bintang.
Menakutkan.
Sepanjang perjalanan, mereka memilih diam. Namun saat mobil berhenti di depan rumah, Sisi akhirnya memecah keheningan.
“Ingat, kita harus terlihat seperti pasangan yang saling mencintai,” ucap Sisi mengingatkan.
“Akan kucoba semampuku,” jawab Lucien acuh.
Sisi menghela napas saat melihat Elowen berdiri bersama ayahnya dan putri kesayangan mereka, menunggu di depan pintu dengan barisan pelayan di belakang.
Angkuh sekali. Rasanya seperti memasuki istana para penyihir.
Lucien turun lebih dulu dan berputar untuk membukakan pintu. Begitu Sisi turun, ia langsung mengaitkan lengannya ke lengan Lucien, membuat pria itu sedikit terkejut. Namun karena ini bagian dari sandiwara, Lucien tidak menunjukkan penolakan.
“Ya ampun! Aku sudah menunggu momen ini! Akhirnya, putriku pulang!” seru Elowen berlebihan.
Sisi menahan rasa muaknya. Wanita itu segera menariknya ke dalam pelukan.
Sialan. Jijik.
Sisi merasa ingin mandi berulang kali setelah pelukan itu, takut ada sesuatu yang menular. Namun ia tetap menampilkan senyum palsu yang nyaris sempurna.
“Oh, Tuan Lucien, selamat datang,” ujar ayahnya sambil mengulurkan tangan.
Tentu saja Elowen tidak mau kalah. Ia ikut berdiri paling depan, seolah ingin menjadi pusat perhatian.
Mereka tak henti memuji Lucien, ketampanannya, kesuksesannya, dan betapa beruntungnya Sisi bisa menikah dengan pria luar biasa seperti itu.
Di dalam hati, Sisi tertawa sarkastis. Beruntung? Ia tahu betul kenyataannya.
Lucien menanggapi ayahnya sekadarnya.
Syukurlah, dia tidak terlalu kasar hari ini.
Sisi tersentak ketika lengan Lucien melingkar di pinggangnya.
“Ayo masuk,” ujar Lucien dengan suara lembut.
“Baik,” jawab Sisi refleks.
Sial.
Kenapa suara lembut Lucien membuat pikirannya kosong sejenak? Seperti suara malaikat yang ingin didengar berulang kali.
Astaga.
Sisi diam-diam mencubit pinggangnya sendiri untuk kembali sadar.
Saat mereka tiba di ruang tamu, Lucien menggenggam tangannya, jari-jari mereka saling bertaut.
Sial. Jantungku mulai berdebar…
Sisi sempat mengira Lucien tidak akan total dalam sandiwara ini. Ternyata ia salah.
Sisi, ingat. Ini hanya sandiwara.
Ia mengamati Lucien yang sedang berbincang dengan ayahnya. Nada bicaranya lembut, tatapannya hangat, dan senyum samar di wajahnya sukses membuat keluarganya terkesan, keluarga katanya.
Lucien yang duduk di sampingnya tampak sangat berbeda. Tidak ada jejak iblis dalam dirinya.
Aktor yang hebat. Beri dia piala nanti.
Mereka berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan. Saat Lucien melonggarkan genggamannya, Sisi tersadar, telapak tangannya basah oleh keringat.
Memalukan.
Sisi menyeringai ketika menangkap tatapan tajam Selvara ke arah mereka. Jelas sekali adik tirinya menyesal, yang dinikahkan adalah Sisi, bukan dirinya.
Setelah makan siang...
“Minumlah teh, Menantuku,” ujar ayahnya.
Sisi meninggalkan Lucien bersama ayahnya. Ia sudah muak mendengar tuntutan-tuntutan itu. Ia memilih pergi ke taman, rindu pada bunga-bunga yang dulu ia rawat.
“Selamat datang pulang, kakakku tersayang… bersama kakak iparku.”
Sisi menoleh ke arah suara itu dan terkejut melihat Selvara. Sangat jarang gadis itu memanggilnya ‘kakak’.
Rasanya ingin muntah.
Namun Sisi tetap menguasai diri dan tersenyum.
“Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?” tanyanya santai.
“Tidak baik. Sejak kau menikah, aku bosan,” jawab Selvara.
Sisi mengangkat alis dan menyeringai.
“Hentikan aktingmu. Kita sendirian,” ujarnya ringan.
Selvara langsung kembali pada sikap kasarnya.
“Ilmu hitam apa yang kau pakai sampai Lucien sedekat itu denganmu?” sindirnya.
Sisi tidak tersinggung, justru senang melihat kecemburuan itu kembali muncul.
“Aku tidak melakukan apa-apa. Rumor tentang dirinya tidak sepenuhnya benar. Dia memperlakukanku dengan baik,” ujar Sisi.
Sedikit kebohongan.
Tentu saja ia tidak akan mengaku bahwa Lucien sering menyusahkannya. Aku tidak akan memberi kepuasan padanya.
Selvara terdiam, meski sorot matanya penuh kecurigaan.
Sisi tertawa kecil dalam hati. Sepertinya Selvara mempercayainya.
“Kenapa?” tanya Sisi lembut. “Kau menyesal kehilangan kesempatan besar ini?”
“Pembohong!” bentak Selvara. “Kalau dia pria baik, kenapa dia sering bercerai?”
Sisi menghela napas.
“Hanya karena dia sering bercerai bukan berarti dia penyebabnya. Dengan keluarga seperti miliknya, wajar jika banyak wanita mendekat demi harta dan ketenaran. Saat dia menyadarinya, perceraian jadi pilihan. Siapa yang mau bertahan dalam pernikahan seperti itu?”
Apa aku membelanya? Tidak. Aku hanya berakting.
“Kalau begitu, saat dia tahu kau sama seperti mantan istrinya, dia juga akan menceraikanmu,” ujar Selvara tajam.
Sisi mengerutkan kening.
“Kau ingin melihatku ditinggalkan suamiku, atau berharap jadi istri ketujuhnya?” balas Sisi dingin.
Ia tidak berteriak. Namun setiap katanya tajam, cukup untuk melukai ego Selvara.
Selvara tertawa palsu.
“Tidak satu pun.”
Sisi hanya menyeringai. Ia tahu Selvara berbohong.
“Bagus,” ucap Sisi pelan. “Karena wanita sepertimu tidak akan pernah bisa membuat Lucien Alastor jatuh cinta.”
Setelah itu, Sisi meninggalkan Selvara yang diliputi amarah.
Ia tidak peduli.
Rasakan.