NovelToon NovelToon
Papa Tiri Anti Bakteri

Papa Tiri Anti Bakteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Romansa
Popularitas:512.4k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.

"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.

"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.

"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.

Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.

Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?

"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Mau, Bunda!

Namun kesunyian di mansion itu tidak bertahan lama. Dari arah pintu belakang yang menuju ke area taman, terdengar suara langkah gaduh dan seruan riang yang sangat tidak asing.

"Mamiii!"

Jingga membelalakkan matanya saat berbalik. Ia melihat ke arah seorang pemuda tampan yang masuk dengan gaya yang sangat "berantakan". Kulitnya tampak lebih gelap dari biasanya akibat sengatan matahari yang terik, bajunya kumuh penuh noda lumpur cokelat kering, dan ada sebuah ember plastik di tangannya serta alat pancing yang masih basah.

"Darling ... oh no ... KAMU MANCING LAGIII?!" teriak Jingga histeris melihat lantai marmernya mulai ternoda tetesan air keruh. Hanya Albirru yang memanggilnya dengan sebutan Mami di rumah itu.

Albirru Asga Callisto, putra Jingga bersama Angkasa, adalah pemuda berusia 20 tahun yang memiliki obsesi luar biasa pada memancing. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk duduk memancing. Bahkan, ia sering diam-diam bersembunyi di belakang Jingga hanya untuk menyelinap keluar lewat pintu belakang untuk pergi memancing. Sampai-sampai, kulitnya menggelap akibat hobi itu.

"Waktu adalah secret, haha! Mamiku sayang, coba lihat hasil jerih payahku. Aku baru saja mendapatkan ikan Lele yang sangat besar! Lihat ini, nanti gorengkan untukku ya," ucap Biru dengan cengiran lebar tanpa dosa, mengangkat embernya tinggi-tinggi.

"Kamu makan saja sendiri! Berharap saja sehabis makan itu pencernaanmu lancar tanpa hambatan!" celetuk seorang gadis cantik yang baru saja masuk dari pintu depan.

Gadis itu adalah Liora Asga Callista, saudara kembar Biru. Berbeda dengan kembarannya, kulit Liora bersinar putih bersih, rambutnya yang sedikit pirang menambah kecantikannya yang luar biasa. Perkataan Liora yang sarkastik itu membuat Biru cemberut seketika.

"Sudah! Bunda sudah pusing, jangan lagi kalian ribut di sini. Bunda sedang sakit kepala dan butuh obat, bukan ikan lele!" ucap Jingga sambil melangkah pergi meninggalkan dua saudara kembar itu yang kini saling melirik tajam satu sama lain.

"Kuadukan pada Ayah kalau kamu lagi dekat sama berondong SMA!" ancam Albirru sambil menjulurkan lidahnya dan lekas berlari pergi sebelum Liora sempat meledak.

Liora membulatkan matanya, syok dengan tuduhan tak berdasar kembarannya. "BIRUUUU! AKU AKAN MEM4TIKAN SEMUA KOLEKSI IKANMUUU!" teriaknya yang hanya dibalas dengan tawa kencang dari kejauhan.

"AWWW TAKOOOTNYAAA! HAHAHA!" suara Biru menggema, sejenak mengalihkan ketegangan yang tadi sempat tercipta antara Angkasa dan Nara.

.

.

.

.

Di sisi lain kota, di sebuah mansion yang didominasi warna putih bersih tanpa noda sedikit pun, Xavier baru saja pulang dari kantornya. Ekspresi wajahnya datar, cenderung dingin. Ia melepaskan sarung tangan yang terasa gerah di kulitnya dan memberikannya pada pelayan yang sudah sigap menanti. Baginya, menyentuh benda-benda di luar rumah tanpa pelindung adalah sebuah mimpi bvruk biologis.

Ia berniat langsung naik ke kamarnya untuk melakukan ritual pembersihan diri, tetapi Raisa mencegahnya di ambang tangga. Wanita paruh baya itu berdiri di hadapannya dengan tatapan yang sangat tidak biasa, penuh selidik dan keseriusan yang jarang diperlihatkan.

Xavier, yang meskipun dingin namun sangat menyayangi ibunya, mencoba tersenyum tipis. "Bunda belum tidur?"

"Bunda mau bicara," ucap Raisa pendek dan langsung melangkah menuju ruang keluarga. Xavier mengangkat bahunya acuh, ia mengikuti langkah Raisa. Seperti biasa, ia mendapati ruang keluarga sedikit berantakan akibat ulah adik-adik kembarannya. Masih ada bekas bungkus makanan ringan dan toples yang terbuka sedikit. Pemandangan itu membuat dahi Xavier berkerut j1jik.

"Duduk di kursi sana, tadi sudah dibersihkan oleh bibi khusus untukmu," ucap Raisa seolah tahu apa yang ada di pikiran putranya.

Xavier pun mendudukkan dirinya di sofa dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada debu yang menempel di jas mahalnya. Raisa berdehem pelan dan meminta pelayan menyiapkan jahe hangat untuk mereka. Xavier menarik dasinya yang mulai terasa mencekik leher setelah seharian bekerja.

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Raisa membuka pembicaraan formal.

Tepat saat itu, Xander datang sambil mengupas sebuah pisang di tangannya. Pria paruh baya itu tersenyum lebar dan langsung duduk di samping istrinya. Dengan santai, ia menyandarkan kepalanya di bahu Raisa, pemandangan yang membuat Xavier memutar bola matanya malas. Ayahnya itu memang tidak pernah bisa lepas dari ibunya.

"Lancar seperti biasa," balas Xavier pendek.

"Apa kamu sudah mencintai seorang wanita dalam waktu dekat ini?" tanya Raisa telak tanpa basa-basi. Xavier diam sejenak, memikirkan kuman dan bakteri yang ada pada tubuh manusia lain, lalu menggelengkan kepalanya mantap. Baginya, cinta terasa seperti komplikasi kuman yang tidak perlu.

Raisa mengangguk pelan. "Baiklah, Bunda mengajakmu bicara karena ingin membahas hal yang sangat penting. Bunda kembali menawarkanmu sebuah pernikahan. Tapi kali ini, bukan dengan anak teman Bunda, melainkan putri dari teman Ayahmu."

Hal itu membuat Xavier menghela napas kasar secara spontan. "Kenapa Bunda terus-terusan membahas soal ini? Om Kay saja belum menikah padahal usianya sudah kepala tiga. Kenapa kalian meributkan pernikahanku seolah dunia akan kiamat jika aku tetap melajang?"

"Kayden itu berbeda, Xavier! Kamu mau menunggu sampai usia berapa? Tiga puluh tahun? Itu pun kalau kamu berhasil sembuh dari kondisimu. Kalau tidak? Bunda hanya khawatir padamu. Bunda takut umur Bunda tidak akan panjang dan kamu akan hidup sendirian di dunia ini tanpa ada yang mengerti dirimu," ucap Raisa dengan nada yang mulai emosional.

"Kenapa jadi bahas umur sih? Tadi katanya mau bicara soal pernikahan Xavier!" tegur Xander yang tidak suka mendengar istrinya bicara soal hal yang tidak menyenangkan. Namun, Raisa mengabaikan suaminya dan tetap menatap putranya dengan tatapan lekat yang menuntut jawaban.

"Ini terakhir kalinya Bunda menawarkanmu pernikahan, Xavier. Setelah ini, Bunda bebaskan kamu melakukan apa pun. Bunda tak akan lagi menyuruhmu ini dan itu. Sembuhkan sendiri penyakit mysophobia-mu itu kalau kamu memang mau hidup sendirian selamanya," ucap Raisa dan beranjak pergi dengan wajah kecewa.

Baru saja melangkah beberapa langkah, suara berat putranya membuat langkah Raisa terhenti seketika.

"Aku mau, Bunda."

Raisa terdiam di tempatnya. Xavier sendiri tampak mel0ng0, seolah tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut putranya sendiri. Perlahan, Raisa berbalik dan menatap putranya dengan wajah penuh antusias yang meledak-ledak.

"Benaran kamu mau, Xavier?" seru Raisa girang.

Xavier memutar bola matanya malas, menutupi kegugupannya. "Iya, tapi dia harus tahu tentang keadaanku secara detail. Aku punya syarat, boleh?"

"Ya, katakan saja semua syaratnya! Bunda pasti setuju!" seru Raisa semangat.

1
Diah205L
habis ini minta dibelikan cireng sama papa anti bakteri
Esther Lestari
Xavier sesayang itu sama Raya, makanan ringan pun benar2 diperhatikan demi kesehatan Raya.
Yakin kamu akan bertahan hanya 3 bulan Vier??
Diah205L
papa anti bakteri hajar tuh zenong
Shee_👚
yang dolal nya banyak ya laya🤭
haechanoona
ini nanti masih ada tambahan part update-an kan ya?
ririen handayani
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
awesome moment
utk urusan kelg, vier bisa menahan smua hal. dia menyontoh xander. yg syg nya ke zira, sm.spt syg.nya ke vier, vina dan vira. raya mendapatkan cinta tulus ayah dri vier. zeno makin menghilang
ririen handayani
goodddd job Nara 👍👍👍👍👍😄😄😄😄😄
Rahmat
wow keren langsung skakmat tuh zeno raya udah dpt papa bakteri hebat lg pelakor noh gak ada sejarahx mampus semua
vivinika ivanayanti
anaknya kemarin cewek kayaknya kak Ra ....🤭🤭🤭
Call Me_Rara: eh iya, aku lupaaaa😭
total 1 replies
AFPA
kirain anaknya bunga jg perempuan
Neng Duwi
bukan nya anak si zeno sama si bunga bangke itu cewek ya? kok tiba-tiba cowok
Windi Windiawati
yang simpel yang waras kacamata boby mana mah mamah udalah🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani
terhura aku vierrr 😭😭
dyah EkaPratiwi
nah sukurin kamu zeno kehilangan raya
mksh kak ditunggu lagi up nya, udah nungguin dr tadi😍
Yulia
wkwkwkk...aku puas banget,,mantap Thor,,zeno ..bye🤣🤣
Nining Wia
iya ih ... koq KD berubah JD laki anak si zenzen dan bunga
Esther Lestari
Cireng dimakan masih hangat gitu enak Raya, tapi papa bakterimu gak ngerti cireng😂
AriNovani
dalam hati Xavier: Sabar, Sabar 😂
AriNovani
satu kata syukurin 🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!