"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Hujan dan Demam Tinggi
"Elio! Jangan lari! Hujan!"
Teriakan Hara kalah cepat dengan kaki kecil Elio yang melesat menembus gerimis. Bocah itu nekat menerobos halaman depan mansion demi mengejar seekor anak kucing liar yang basah kuyup di dekat pos satpam.
"Dapat!" seru Elio bangga, mengangkat anak kucing yang mengeong lemah itu. Seragam sekolahnya basah di bagian bahu dan punggung. Rambutnya lepek meneteskan air.
Cayvion yang baru turun dari mobil langsung menyambar payung dari tangan Pak Ujang dan berlari memayungi putranya.
"Elio! Kamu cari penyakit ya?!" omel Cayvion sambil menggiring anaknya masuk. "Kalau mau kucing, Papa bisa beli satu toko pet shop. Nggak perlu hujan-hujanan begini!"
"Kucing ini kedinginan, Pa. Dia nggak punya rumah," jawab Elio santai, seolah dia sendiri tidak sedang menggigil.
Sore itu berlalu biasa saja. Elio mandi air hangat, minum susu, dan bermain game sebentar. Tidak ada tanda bahaya.
Namun, saat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, suasana berubah drastis.
"Dingin... Mi... dingin..."
Suara rintihan pelan dari kamar sebelah membuat Hara yang sedang melipat baju langsung waspada. Dia melempar keranjang baju dan berlari masuk ke kamar anak-anak.
Pemandangannya membuat jantung Hara berhenti sejenak.
Elio meringkuk di balik selimut tebal. Tubuhnya bergetar hebat. Giginya bergemeretuk menahan dingin, padahal AC kamar sudah dimatikan. Wajahnya yang biasanya datar dan tenang, kini merah padam.
Hara langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Elio.
Panas. Sangat panas. Seperti menyentuh ketel air yang baru mendidih.
"Ya Tuhan," desis Hara panik. "Elia, panggil Papa! Cepat!"
Elia yang terbangun karena suara kakaknya langsung melompat dari kasur dan lari keluar kamar sambil menangis. "Papaaa! Kakak Elio sakiiit!"
Detik berikutnya, pintu kamar terbanting terbuka. Cayvion muncul dengan wajah tegang, masih memegang berkas kontrak di satu tangan.
"Ada apa? Siapa yang sakit?"
"Elio demam tinggi, Pak. Tolong ambilkan air hangat di baskom dan handuk kecil di laci dapur. Sekarang!" perintah Hara tanpa menoleh. Dia sibuk mencari termometer di kotak obat.
Cayvion mendekat, melihat putranya yang menggigil. Rasionalitasnya sebagai CEO langsung hilang. Otaknya korslet.
"Demam? Kenapa dia gemetaran begitu? Itu kejang namanya!" seru Cayvion histeris. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel. "Saya telepon Dokter Robert. Tidak, saya telepon Direktur Rumah Sakit Pusat. Kalau perlu, Menteri Kesehatan. Kita butuh ambulans. Ambulans VVIP yang ada ventilatornya!"
Hara menepis tangan Cayvion yang sedang menekan nomor darurat.
"Jangan gila, Pak! Ini demam karena kehujanan tadi sore, bukan serangan jantung!" bentak Hara. "Dia menggigil karena suhu tubuhnya naik drastis. Jangan bikin panik! Cepat ambil air hangat!"
"Tapi Hara... mukanya merah sekali... kita harus..."
"AIR HANGAT, CAYVION!"
Teriakan Hara yang menyebut nama depannya tanpa embel-embel 'Pak' membuat Cayvion sadar situasi. Dia langsung berbalik, lari ke dapur secepat kilat, menabrak pinggiran meja, tapi tidak peduli.
Sesaat kemudian dia kembali dengan baskom berisi air hangat. Airnya sedikit tumpah ke lantai karena tangannya gemetar.
Hara dengan cekatan memeras handuk, lalu meletakkannya di dahi Elio.
"Sshhh... tenang ya, Sayang. Mami di sini," bisik Hara lembut, mengusap pipi Elio yang membara.
Elio tidak menjawab. Matanya terpejam rapat. Napasnya pendek-pendek dan memburu.
Cayvion berdiri kaku di samping tempat tidur. Dia merasa tidak berguna. Dia punya uang triliunan, dia bisa membeli perusahaan farmasi, tapi dia tidak bisa menurunkan suhu tubuh anaknya sendiri barang satu derajat pun.
"Berapa suhunya?" tanya Cayvion, suaranya serak.
Hara mengangkat termometer digital itu. Angkanya membuat nyali Hara menciut.
39,2°C.
"Tiga sembilan koma dua," lapor Hara pelan. "Kita tunggu satu jam setelah minum obat penurun panas. Kalau tidak turun, baru kita ke rumah sakit."
Satu jam berlalu. Rasanya seperti satu tahun bagi Cayvion. Dia tidak beranjak dari sisi kasur, terus memandangi dada Elio yang naik turun.
Tiba-tiba, Elio mengerang. Tubuhnya melengkung, gelisah. Kakinya menendang selimut.
"Panas... panas..." igau Elio.
Hara cekatan mengganti kompres. Dia mengecek suhu lagi.
Tit. Tit. Tit.
Mata Hara terbelalak melihat layar kecil itu.
"Empat puluh," bisik Hara, suaranya bergetar ketakutan. "Pak, suhunya naik jadi empat puluh derajat. Ini bahaya."
Cayvion langsung pucat pasi. "Empat puluh?! Itu titik didih air mandi! Ayo angkat dia! Kita ke rumah sakit sekarang! Persetan dengan ambulans, saya nyetir sendiri!"
Cayvion membungkuk, hendak menggendong Elio.
Namun, sebelum tangan Cayvion menyentuh tubuh anaknya, Elio tiba-tiba membuka matanya sedikit. Tatapannya kabur, tidak fokus. Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Bibir bocah itu bergerak-gerak lemah.
Biasanya, kalau sakit atau sedih, Elio hanya akan memanggil 'Mami'. Elio selalu bersikap dingin pada ayahnya. Elio adalah anak yang logis, yang menganggap ayahnya hanya penyedia fasilitas.
Tapi di tengah demam yang membakar kesadarannya, pertahanan logikanya runtuh. Insting dasarnya keluar.
Tangan kecil Elio terangkat gemetar ke udara, seolah ingin meraih sesuatu yang tak terlihat.
"Papa..."
Suara itu lirih, serak, dan pecah.
Cayvion membeku. Gerakannya terhenti di udara. Jantungnya seolah diremas tangan tak kasat mata.
"Papa..." panggil Elio lagi, kali ini air mata menetes dari sudut matanya yang panas. "Sakit... Papa... jangan pergi..."
Hati Cayvion mencelos jatuh ke dasar perut. Rasa sakit yang menghantam dadanya jauh lebih hebat daripada saat dia kehilangan tender triliunan. Anaknya memanggilnya. Bukan untuk minta mainan, bukan untuk minta saham. Tapi karena dia butuh ayahnya.
"Papa di sini, Nak," jawab Cayvion, suaranya tercekat. Dia langsung menangkap tangan kecil yang melayang di udara itu, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya yang besar.
"Papa di sini. Papa nggak ke mana-mana."