"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Chef Juri Galak
"Ini teksturnya gagal total. Keras seperti batu bata."
Cayvion mengetuk-ngetuk gumpalan lilin berwarna cokelat di piring plastik kecil itu dengan ujung jari telunjuknya. Wajahnya serius, keningnya berkerut dalam, persis seperti saat dia sedang mengaudit laporan keuangan perusahaan yang merugi.
Dia masih terjebak di kursi plastik pink ukuran balita itu. Lututnya yang menekuk tajam ke atas membuatnya merasa aliran darah ke kakinya mulai terhambat.
Pinggangnya menjerit minta tolong. Tapi, Cayvion Alger tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan pekerjaan. Kalau dia harus jadi pelanggan restoran mainan, dia akan menjadi pelanggan paling kritis di dunia.
"Chef Elia," panggil Cayvion dengan nada berat dan berwibawa.
Elia yang memakai celemek masak-masakan (yang sebenarnya cuma kain lap dapur yang diikat Hara) berdiri tegak di depan meja. "Ya, Tuan Pelanggan?"
"Kamu sebut ini Burger Spesial?" Cayvion mengangkat 'burger' lilin itu dengan dua jari, menatapnya jijik. "Lihat susunannya. Rotinya tebal sebelah. Dagingnya gepeng tidak simetris. Dan kenapa sayurnya warna biru? Kamu pakai selada alien?"
"Itu keju biru, Pa! Blue cheese! Katanya orang kaya suka keju jamuran!" bela Elia polos.
"Oke, Blue Cheese," Cayvion mengangguk, menerima argumen itu. "Tapi presentasinya? Nol besar. Plating-nya berantakan. Kamu melempar burger ini dari jarak jauh ke piring? Di mana sentuhan estetikanya? Di mana saus garnish-nya?"
Cayvion meletakkan kembali burger itu dengan bunyi tuk yang keras.
"Kalau ini restoran sungguhan, saya sudah panggil manajer kamu. Kamu mau meracuni pelanggan dengan adonan sekeras beton ini?" kritik Cayvion pedas, lupa kalau lawannya cuma anak umur lima tahun.
Alih-alih menangis atau tersinggung, Elia justru tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Papa lucu banget!" Elia memegangi perutnya. "Mukanya Papa kayak ikan kembung lagi marah! Matanya melotot-melotot gitu!"
Cayvion tertegun. "Papa tidak melucu. Papa sedang memberikan kritik konstruktif supaya bisnismu maju."
"Lucu! Lucu!" Elia tepuk tangan girang. "Papa ngomelnya persis Om Juno di TV! Marah-marah terus tapi makanannya dimakan juga!"
Di sofa belakang, Elio mengangkat ponsel bekas milik Hara tinggi-tinggi. Lensa kameranya fokus merekam penderitaan ayahnya. Sudut bibir Elio terangkat membentuk seringai tipis.
"Konten emas," gumam Elio pelan. "Judulnya: 'CEO Kaya Di-bully Anak Sendiri'. Kalau di-upload, saham perusahaan pasti anjlok karena investor sadar bosnya gila."
Hara yang duduk di sebelah Elio hanya menggelengkan kepala sambil memakan camilan. "Biarin aja, Elio. Kapan lagi liat Papa kamu kayak kepiting rebus kejepit kursi begitu."
Cayvion mendengar bisik-bisik itu, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk berhenti. Dia harus menuntaskan perannya.
"Menu selanjutnya!" perintah Cayvion sambil memukul meja plastik pelan. "Saya mau steak. Dan pastikan kali ini tingkat kematangannya medium rare. Jangan gosong seperti bubur buatan saya kemarin."
"Siap, Bos!" Elia dengan sigap mengambil gumpalan lilin merah, memenyekkannya dengan Black Card milik Cayvion (yang masih dia pakai sebagai pisau), lalu menyajikannya di piring baru.
"Silakan! Steak Dinosaurus saus Stroberi!" seru Elia bangga.
Cayvion menatap gumpalan merah itu. Dia mengambil sendok plastik kecil berwarna kuning—satu-satunya alat makan yang tersedia di meja itu.
"Baik. Mari kita coba teksturnya," gumam Cayvion.
Dia menekan sendok plastik itu ke atas lilin mainan. Lilin itu sudah agak lama terkena udara AC, jadi teksturnya mengeras. Cayvion menekan lebih kuat.
"Keras sekali," keluh Cayvion. Jiwa kompetitifnya muncul. Dia tidak mau kalah dari seonggok lilin mainan. Dia mengerahkan tenaga otot lengannya yang biasa dipakai angkat beban di gym.
"Harus... bisa... dipotong!" geram Cayvion sambil menekan sekuat tenaga.
Elia menonton dengan mata berbinar, menunggu penilaian Papanya.
Tekanan di tangan Cayvion makin kuat. Urat tangannya menonjol. Sendok plastik kecil itu melengkung... melengkung... dan...
KRAK!
Bunyi patahan itu terdengar nyaring dan menyedihkan di ruang tengah yang hening.
Tangan Cayvion tergelincir. Sendok plastik kuning itu patah jadi dua bagian tajam. Gagangnya masih di tangan Cayvion, sementara kepala sendoknya terpelanting jatuh ke lantai marmer.
Hening.
Cayvion membeku. Dia menatap gagang sendok buntung di tangannya dengan horor.
Perlahan, dia mendongak menatap Elia.
Senyum ceria di wajah Elia lenyap seketika. Matanya yang bulat menatap bangkai sendok di lantai, lalu beralih menatap wajah ayahnya.
Bibir mungil Elia mulai bergetar. Melengkung ke bawah. Matanya mulai berkaca-kaca, digenangi air mata yang siap tumpah.
Itu bukan sembarang sendok. Itu sendok dari set mainan limited edition kado dari Hara tahun lalu. Sendok favorit Elia.
"Pa... Papa..." suara Elia bergetar, pecah. "Sendok Elia... patah..."
Jantung Cayvion berhenti berdetak. Keringat dingin sebesar biji jagung muncul di pelipisnya. Ini lebih menakutkan daripada saat sahamnya anjlok 50 persen.
"Elia, tunggu! Dengar Papa dulu!" Cayvion panik, dia mencoba berdiri tapi lupa kalau dia masih terjebak di kursi sempit. Akibatnya, dia malah oleng dan hampir jatuh bersama kursinya.
"HUWAAAAAA!"
Tangis Elia pecah. Menggelegar. Membahana.
"PAPA JAHAT! PAPA RUSAKIN SENDOK ELIAAA! HUWAAA!"
"Nggak! Papa nggak sengaja!" Cayvion melempar patahan sendok itu asal, lalu berusaha meraih tangan putrinya. "Sayang, jangan nangis! Papa ganti! Papa ganti sepuluh! Seratus!"
"Nggak mauuu! Itu sendok kesayangan Eliaaa!" Elia menangis makin kencang, air matanya membanjiri pipi gembilnya.
Cayvion menoleh ke arah Hara dan Elio dengan wajah pucat pasi meminta bantuan. Tapi Hara malah mengangkat bahu, dan Elio... bocah itu malah men-zoom kameranya ke wajah panik ayahnya.
Cayvion kembali menatap Elia. Otaknya buntu. Dia harus melakukan negosiasi krisis sekarang juga.
"Elia, dengar! Papa janji!" teriak Cayvion putus asa, suaranya naik satu oktaf saking paniknya. "Papa akan telepon pabriknya sekarang! Papa beli pabrik sendoknya! Papa suruh mereka bikin satu juta sendok warna kuning buat kamu! Papa kirim satu kontainer besok pagi! Berhenti nangis, tolong!"
Elia tidak peduli soal pabrik atau kontainer. Bagi anak lima tahun, sendok patah adalah tragedi akhir zaman.
"PAPA NGERUSAK SEMUANYAAA!"
Cayvion terduduk lemas di kursi pink yang menjepit pinggulnya, dikelilingi suara tangisan yang memekakkan telinga. Dia baru sadar, menjadi juri MasterChef di dunia anak-anak memiliki risiko kerja yang sangat tinggi.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri