Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjenguk Ibu
Mobil hitam berhenti di depan Rumah Sakit Permata Sejahtera. Sopir membukakan pintu belakang untuk Aluna. Marko duduk di kursi lain, menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
Begitu Aluna hendak turun, suara Marko menahan langkahnya.
“Kamu punya waktu sampai makan siang.” katanya pelan tetapi tegas. “Nanti sopir akan menjemputmu dan mengantar ke kantorku.”
Aluna mengangguk. “Baik, Pak.”
Marko menatapnya sekilas, sorot matanya sulit dibaca. “Jaga dirimu. Jangan buat masalah.”
Setelah itu Marko menutup pintu pelan. Mobil yang sama langsung membawa Marko menuju kantornya, meninggalkan Aluna di depan rumah sakit dengan perasaan campur aduk.
**
Lorong rumah sakit itu sunyi, tetapi bagi Aluna setiap langkah terasa berat. Ia menahan napas saat membuka pintu ruang rawat ibunya.
Di dalam, ada tiga orang:
Annisa, kakak iparnya. Alika, adik kandung Aluna yang selama ini kuliahnya dibayari oleh Aluna tanpa ia pernah minta balasan apa pun. Dan Friska, satu-satunya yang selalu berdiri di pihak Aluna. Alika langsung menatap kakaknya dengan mata penuh kebencian. “Akhirnya nongol juga. Tadi ngapain? Sibuk manja-manja sama suami kaya baru?”
Annisa tertawa kecil, mengejek. “Oh jelas. Perempuan kayak gini kan nggak punya apa-apa selain tubuhnya.”
Friska berdiri cepat, wajahnya memanas. “Mbak, Alika, kalian ini kenapa sih? Baru pagi mulut kalian sudah seperti sampah.”
Alika mencibir. “Diam kamu mbak. . Ini urusan keluarga kami. Kamu itu hanya orang lain disini.”
“Orang lain? Yah memang aku orang lain, tapi aku yang paling tau bagaimana penderitaan Aluna selama ini.” Friska mendengus. “Aluna yang bayar kuliah kamu selama ini, Alika. Bukan orang tua kamu, bukan pacar kamu, bukan Kak Sultan atau Ipar kamu ini, Annisa. Tapi kamu malah membenci kakak yang sudah mati-matian perjuangin kamu dan ibu. ”
Wajah Alika memerah, tapi bukan karena malu karena marah.
“Terus? Emangnya aku harus sembah dia? Dia membiayai kami selama ini kan dari uang haram. Jadi apa yang perlu dibanggakan? Cuma numpang hidup dari laki-laki kaya. Itu fakta kan?”
Aluna menutup mata sebentar, menstabilkan napasnya.
Annisa menimpali, suara sinisnya menusuk. “Tidak usah mengungkit hal yang tidak penting. Kalau bukan gara-gara pekerjaan kotor itu, ibu tidak akan jatuh sakit. Lihat sekarang. Kamu selalu jadi biang masalah.”
Itu kalimat yang sama yang sudah ia dengar berulangkali.
Friska melangkah maju lagi, suaranya tajam seperti kaca retak.
“Kalau mau nyalahin orang, lihat diri kalian dulu. Ibu sakit itu bukan salah Aluna. Kalian bahkan nggak pernah hadir sebelum kondisinya separah ini.”
Alika menghentakkan kaki. “Mbak. Kamu pikir kamu siapa berani-beraninya ngomong begitu?”
“Seseorang yang punya hati.” jawab Friska dingin. “Sesuatu yang jelas kalian berdua nggak punya.”
Aluna meraih tangan Friska…” Sudahlah Fris. Nggak usah ribut dengan mereka.”
Friska menggeleng ke Aluna.” nggak bisa Lun. Mereka berdua ini memang harus dikasi sadar bagaimana perjuangan kamu selama ini. Biar mereka punya malu sedikit. Selama ini bukannya membantu malah menambah beban kamu.”
Alika menunduk sepertinya ia sedikit tersentil dengan perkataan Friska. Sedangkan Annisa. Wajahnya sudah merah padam. Annisa mengepalkan tangannya.
“ Ayo temani aku liat ibu.” ajak Aluna. Friska ikut saja. Dia juga sudah malas berhadapan dengan mereka berdua.
Aluna masuk ke ruangan ibunya denga memakai pakaian steril. Dia menatap tubuh ibunya yang lemah. Bu Sasmi masih tertidur karena minum obat subuh tadi.
Aluna terisak. Ia sadar, ia yang menyebabkan ibunya sakit seperti ini. Pekerjaannya memang kotor.
Aluna memegang tangan ibunya dengan pelan “ Maafin Aluna Bu. Hiks….Hiks….Aluna sangat takut kehilangan ibu. Tolong sembuhlah Bu. Hiks…Hiks…Aku nggak bisa tanpa ibu.” kata Aluna. Friska mengusap punggung Aluna dengan lembut.
Annisa mengintip dibalik pintu.
Annisa mendengus. “Ih, drama banget. Kayak lagi syuting sinetron.”
**
Mobil berhenti di depan gedung kantor Marko. Ia turun tanpa menunggu sopir membuka pintu. Langkahnya cepat, aura gelapnya mengikuti seperti bayangan panjang.
Begitu ia masuk ruang kerja, Renaldi sudah ada di sana. Wajahnya tegang.
“Bos. ” katanya pelan tapi tajam. “Markas pelabuhan kita diserang.”
Marko berhenti.
Seluruh ruangan ikut membeku.
“Siapa?” tanya Marko, suaranya rendah sekali.
“Anak-anak Vargo. Dua orang kita terluka. Mereka kabur setelah meninggalkan pesan.”
Marko menarik napas panjang, rahangnya mengeras. “Keparat.”
Renaldi memberi map laporan. “Ini hanya pengalihan. Mereka menunggu reaksi kita.”
Marko membuka map itu dengan tenang. Tenang yang sangat berbahaya.
“Kalau mereka menunggu aku marah.” katanya sambil menutup map itu kembali, “biarkan mereka menunggu.”
Renaldi menegakkan tubuh. “Perintah selanjutnya?”
“Kita serang balik.”
Marko menatap jendela, mata tajam seperti bilah.
“Nanti malam. Pastikan semua jalur aman. Dan pastikan tutup semua rute agar mereka tidak bisa kabur.”
Renaldi mengangguk. “Siap.”
Marko hanya berkata satu hal lagi.
“Setelah makan siang, suruh supir menjemput istri saya. Suruh dia tunggu di ruang tamu kantor.”
**
Menjelang jam makan siang, sopir kembali ke rumah sakit dan menghampiri Aluna yang duduk di ruang tunggu.
“Nyonya Aluna. ” katanya sopan, “Tuan Marko meminta saya menjemput Anda.”
Aluna berdiri dengan cepat. “Iya, Pak.”
Friska memeluk Aluna. “Hati-hati, Lun. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”
Aluna tersenyum lemah. “Terima kasih.”
Setelah itu ia masuk mobil.
Perjalanan menuju kantor Marko terasa panjang meski jalanan tidak macet. Aluna menggenggam tangan sendiri, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak tidak stabil.
Sesampainya di kantor Marko, resepsionis langsung memperlakukannya dengan hormat berlebihan.
“Silakan naik ke lantai paling atas, Bu.”
Renaldi sudah menunggu di depan lift. Tanpa banyak bicara, ia membawa Aluna menuju ruang kerja Marko.
Pintu terbuka.
Marko sedang berdiri membelakangi mereka, menatap Jakarta dari balik kaca tinggi. Tubuhnya tegap, bahunya tegang, seolah ia sedang menghalau badai.
Ketika ia menoleh dan melihat Aluna…
Sesuatu di wajahnya berubah.
Sedikit.
Samar.
Bahaya dalam bentuk yang berbeda.
“Masuk.” katanya pelan.
Pintu tertutup di belakang mereka.
Ruang kerja Marko terasa seperti kandang singa yang baru saja ditinggalkan pemiliknya. Hening, tegang dan membuat jantung Aluna berdetak terlalu keras. Setelah Renaldi keluar, Marko berdiri membelakanginya sambil menatap kota Jakarta dari balik kaca tinggi.
“Duduk.” katanya tanpa menoleh.
Aluna menurut, tangan di pangkuan saling meremas.
Marko akhirnya berbalik. Tatapannya tajam, namun tidak sekeras sebelumnya. Ada sesuatu yang disimpannya, sesuatu yang jelas berat bagi laki-laki seperti dia.
“Kau tahu kenapa aku menyuruhmu datang ke sini?” tanyanya pelan.
Aluna menggeleng. “Tidak, Pak…”
Marko menatapnya lama.
“Kita akan meresmikan pernikahan kita di KUA siang ini. Aku ingin sebelum meminta hakku, kita sudah resmi secara agama dan hukum.”
Wajah Aluna memucat.
Marko menarik napas, kemudian mendekat. Ia bersandar pada meja di hadapan Aluna, tinggi tubuhnya memberi tekanan yang membuat perempuan itu menunduk perlahan.
“Kita menikah tanpa peresmian secara agama. Itu masalah besar jika keluargaku tau.” Marko menatap lurus ke matanya. “Jadi sore ini, aku akan membawa kamu ke KUA. Kita akan meresmikan semuanya.”
Jantung Aluna memukul tulang rusuknya.
“Ke… KUA?” suaranya pecah.
“Ya.” Nada Marko tegas. “Pernikahan kita harus sah secara agama dan hukum.”
Ia berdiri tegak kembali, mengambil sebuah map dari laci meja.
“Semua berkas sudah aku siapkan. Setelah tanda tangan, kita sah sepenuhnya sebagai suami istri. Baru setelah itu… aku bisa menuntut apa yang menjadi hakku.”
Warna wajah Aluna hilang. Marko melihatnya, tapi tidak menghentikan kalimatnya.
“Resepsi akan diadakan dua minggu lagi, hanya keluarga inti dan beberapa orang kepercayaanku. Tidak ada publikasi media. Tidak ada undangan besar.” Marko menutup map itu perlahan. “Aku tidak akan membiarkan musuh-musuhku mengincarmu.”
Aluna terkejut. “Mengincar saya?”
Marko menatapnya dengan serius, untuk pertama kalinya sejak pagi tanpa topeng.
“Aku punya dunia lain, Aluna. Dunia yang tidak pernah aman. Dan perempuan yang bersamaku… bisa jadi sasaran.”
“Kenapa saya?” gumam Aluna lirih.
“Karena kamu istriku.” Marko mendekat, matanya gelap dan penuh kepastian.
Ia berjalan mengelilingi meja, mendekat cukup dekat hingga Aluna bisa mencium aroma maskulinnya yang dingin, menekan.
“Jadi mulai hari ini.” katanya rendah, “aku yang melindungimu. Caranya mungkin tidak kamu suka, tapi itu urusanku.”
Aluna menelan ludah. “Kalau… kalau saya menolak?”
Marko memiringkan kepala, tatapannya berubah menjadi bahaya yang halus.
“Kamu tidak akan menolak.” katanya tenang, “karena kamu tahu apa yang terjadi kalau aku kehilangan kesabaran.”
Hening beberapa detik. Hanya suara AC yang terdengar.