NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Suara mesin pemantau jantung yang berbunyi teratur menjadi satu-satunya melodi di dalam kamar VVIP Rumah Sakit Medika Jakarta. Ruangan itu lebih mirip kamar hotel bintang lima daripada bangsal rumah sakit; sofa kulit yang mewah, pencahayaan temaram yang menenangkan, dan buket bunga lili putih segar yang aromanya memenuhi setiap sudut—semuanya disiapkan atas instruksi ketat Rangga.

​Di tengah ranjang besar itu, Alya mulai menggerakkan kelopak matanya. Efek anestesi perlahan menghilang, meninggalkan rasa pening yang hebat dan nyeri yang berdenyut di area perutnya. Namun, hal pertama yang bereaksi bukanlah logikanya, melainkan insting ibunya.

​"Bayiku... bayi-bayiku..." rintih Alya, suaranya parau dan hampir tidak terdengar.

​Rangga, yang duduk di kursi tepat di samping bantal Alya, langsung menegakkan punggungnya. Ia menggenggam tangan Alya yang masih terpasang infus, mencium jemari istrinya dengan penuh pengabdian.

​"Aku di sini, Sayang. Aku di sini," bisik Rangga, matanya yang merah karena kurang tidur menatap Alya dengan kelegaan yang luar biasa.

​Alya mencoba duduk, namun rasa sakit di jahitan operasinya membuatnya meringis. "Mas... di mana mereka? Kenapa mereka tidak ada di sampingku? Apakah mereka selamat? Katakan padaku, Rangga!"

​Nada bicara Alya yang panik membuat Rangga segera bangkit dan mengusap kening istrinya. "Tenang, Alya. Napasmu harus teratur. Mereka selamat. Kedua putri kita selamat, mereka sangat cantik, persis sepertimu."

​"Lalu kenapa mereka tidak di sini?" air mata mulai mengalir di sudut mata Alya.

​Rangga menarik napas panjang, mencoba memberikan penjelasan dengan cara yang paling lembut.

"Mereka lahir prematur, Sayang. Paru-paru mereka butuh sedikit bantuan untuk beradaptasi dengan udara dunia. Saat ini mereka berada di dalam inkubator di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Dokter harus memantau mereka setiap detik."

​"Aku ingin melihat mereka, Mas... bawa aku ke sana," pinta Alya sambil terisak.

​Rangga menggeleng pelan, sifat posesifnya muncul kembali, namun kali ini demi pemulihan Alya. "Tidak sekarang. Kau baru saja kehilangan banyak darah dan menjalani operasi besar. Kau harus pulih dulu agar bisa memberikan ASI untuk mereka nanti."

​Melihat kekecewaan di wajah Alya, Rangga mengusap pipi istrinya. "Tapi dengarkan aku. Kau tahu siapa suamimu, kan? Aku tidak akan membiarkan putri-putriku berada di ruangan biasa bersama bayi-bayi lain."

​Rangga tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kuasa. "Aku sudah memerintahkan Yudha untuk menyewa satu area khusus. Aku telah menyiapkan Kamar VVIP Khusus tepat di sebelah ruang NICU, hanya untuk si kembar. Tidak ada bayi lain di sana. Peralatan medis paling canggih di dunia sudah kupesan dan dipasang di sana dalam waktu dua jam tadi."

​Alya tertegun. "Mas, kau menyewa satu ruangan khusus hanya untuk bayi?"

​"Bukan hanya ruangan, Alya. Aku menyewa tim perawat khusus yang hanya bertugas menjaga putri-putri kita. Mereka tidak boleh menyentuh pasien lain. Kebersihan dan keamanan mereka adalah harga mati bagiku," ucap Rangga dengan nada yang mutlak. "Bahkan udara di ruangan mereka disaring dengan sistem filtrasi ganda. Tidak akan ada kuman yang berani mendekati mereka."

​Alya sedikit tenang mendengar proteksi gila suaminya. Itulah Rangga Dirgantara; pria yang akan membangun benteng baja bahkan untuk bayi yang baru lahir beberapa jam.

​Alya menatap langit-langit kamar, merasa rindu yang amat sangat. "Kapan mereka bisa bersamaku, Mas? Aku merasa kosong jika mereka jauh."

​Rangga mengecup kening Alya, memberikan kenyamanan yang hanya bisa diberikan olehnya. "Besok. Aku sudah bicara dengan dr. Handoko. Jika kondisi mereka stabil malam ini, besok pagi aku akan meminta tim medis untuk memindahkan seluruh peralatan inkubator mereka ke kamar VVIP ini. Aku ingin mereka dirawat di sini, di sampingmu."

​"Apa itu mungkin?" tanya Alya sangsi.

​"Di dunia Dirgantara, semuanya mungkin," jawab Rangga tegas. "Aku akan mengubah kamar ini menjadi ruang perawatan intensif privat. Dengan begitu, kau bisa melihat mereka setiap kali kau membuka mata, dan mereka bisa mencium aroma ibunya. Itu akan membuat kalian semua pulih lebih cepat."

​Rangga kemudian mengambil ponselnya, menunjukkan foto kedua bayi perempuan itu kepada Alya. "Lihatlah. Mereka sangat cantik. Yang satu memiliki hidung sepertiku, dan yang satunya lagi memiliki bibir persis sepertimu."

​Alya menyentuh layar ponsel itu dengan tangan gemetar. Rasa haru membuncah di dadanya. "Mereka mungil sekali, Mas..."

​"Mereka kecil, tapi mereka pejuang. Seperti ibunya," bisik Rangga.

​Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan. Yudha masuk dengan sikap hormat yang sempurna. "Tuan Rangga, semua instruksi sudah dijalankan. Kamar VVIP untuk si kembar sudah siap dan tim medis khusus sudah mulai bertugas. Keamanan di seluruh lantai ini sudah dikunci."

​"Bagus, Yudha. Bagaimana dengan Arkan?" tanya Rangga.

​"Tuan Muda Arkan sedang dalam perjalanan ke sini bersama tim pengawal. Dia terus menangis ingin melihat ibunya dan adik-adiknya," lapor Yudha.

​Rangga menoleh pada Alya. "Arkan akan segera sampai. Dia akan menjadi kakak laki-laki yang hebat untuk dua putri kita."

​Alya tersenyum lemah. "Arkan pasti akan sangat posesif juga, seperti Ayahnya."

​Rangga tidak membantah, ia justru terlihat bangga. "Memang harus begitu. Di keluarga ini, kita menjaga apa yang menjadi milik kita dengan nyawa."

​Malam itu, di bawah penjagaan ketat Yudha dan tim keamanannya, serta di tengah kemewahan kamar VVIP yang disiapkan Rangga, Alya mulai memejamkan mata untuk beristirahat. Ia tahu bahwa meskipun ia lelah, ia berada di tempat paling aman di dunia.

​Besok, untuk pertama kalinya, keluarga Dirgantara akan berkumpul secara utuh di ruangan itu. Rangga tetap duduk di samping Alya, menggenggam tangannya, tidak tidur sedetik pun. Baginya, tugas menjaga harta karunnya belum selesai, dan ia tidak akan pernah membiarkan penjagaannya kendur, bahkan untuk sekejap mata.

Bersambung......

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!