Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
USAHA
Hari-hari berlalu, Farhan makin sibuk. Pria itu sering keluar kota untuk perjalanan bisnis.
Seluruh urusan rumah ia serahkan pada Rani, istrinya.
"Mas berapa lama ke Malang?" tanya Rani sedih.
Farhan tersenyum, ia memeluk istrinya mesra.
"Ini demi semua orang sayang," jawabnya lembut. "Juga demi masa depan kita."
"Terus kebutuhan rumah?" tanya Rani.
"Bi Asih sudah aku beri uang untuk urusan dapur dan lainnya. Kamu nggak perlu repot. Aku juga hanya tiga hari," jawab Farhan.
Lalu ia mengambil kartu hitam lalu memberikannya pada Rani.
"Ini kartu debit seratus juta. Jika kamu mau beli mainan untuk Claudia atau untuk keperluanmu," ujarnya.
Rani mengambil kartu itu, selama ini Farhan yang memenuhi semua kebutuhannya.
"Ini buat aku?" tanya Rani menatap suaminya.
"Iya sayang, ini buat kamu. Maaf ya baru aku urus, jadi aku akan transfer setiap minggunya seratus juta. Jika kurang. Nanti aku tambah!" ujar Farhan lalu kembali menyusun semua bajunya ke koper.
Farhan mengecup dahi Rani untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke bandara.
"Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, hubungi aku atau Pak Supri, ya."
Rani mengangguk manis, melepaskan suaminya di depan gerbang dengan lambaian tangan layaknya istri salihah.
Namun, begitu mobil Farhan hilang di tikungan, senyumnya langsung luntur. Ia menggenggam kartu hitam itu dengan erat.
Seratus juta per minggu. Akhirnya, aku punya kendali, batinnya.
"Nyonya, Non Rafna sudah bangun dan waktunya minum susu," suara Bi Asih membuyarkan lamunannya dari arah ruang tengah.
Rani menoleh dengan tatapan dingin.
"Bi, kamu urus saja dia. Jangan ganggu saya dulu, saya mau ke kamar!"
Rani pun naik ke atas, pandangan Asih menatap punggung perempuan itu. Tangisan Rafna sama sekali tak menyentuh kalbu perempuan yang melahirkannya ke dunia.
Asih mendekat, ia mengambil susu dari storage dan menghangatkannya. Setelah itu baru ia berikan pada Rafna bayi.
Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari sana. Sinta menatap layar ponselnya.
Notifikasi pesan dari bank, Farhan baru saja memberinya uang untuk keperluan anak-anaknya, Leo dan Adrian. Pria itu memang tak pernah lalai dalam tugasnya menafkahi anak.
Leo sudah kuliah, Adrian sudah masuk asrama pendidikan militernya. Sinta tak pernah pusing dengan semua pengeluaran itu karena Farhan yang mengurus semua.
"Mas ... Kamu mau kasih liat ya. Walau kamu sibuk. Tapi kamu tak pernah lalai dengan tanggung jawabmu," gumamnya lirih.
Sinta menghela nafas masghul. Toko kuenya masih berjalan, tapi tidak seramai dulu. Kini ia makin banyak di rumah, sementara anak-anak sudah dewasa.
"Bu, ada paket!" ujar Dodo tukang kebunnya tiba-tiba.
"Oh ... Iya!" sahut Sinta kaget.
Pria itu meletakkan amplop coklat yang tebal di meja dan berlalu dari sana. Sinta menatap amplop dengan logo rumah sakit. Keningnya berkerut.
"Apa ini, siapa yang sakit?" gumamnya bertanya.
Ia membawa amplop itu ke kamar, membukanya pelan. Tetapi belum ia baca isinya. Ponselnya berdering. Sinta menoleh ke arah ponsel dan meletakkan amplop coklat di atas nakas.
"Halo, iya Nin?" sahut Sinta setelah menerima telepon.
"Bu, ada pesanan untuk tiga hari ke depan. Dua ratus slice bolu macha!" sahut Ninda sang manager toko.
"Baik, saya akan ke toko. Bahan-bahan masih lengkap kan?" tanya Sinta.
"Stok hanya untuk dua hari, Bu!" jawab Ninda. "Tapi Riani sudah belanja beberapa!"
"Baik, saya akan ke sana!" Sinta mematikan sambungan telepon.
Wajahnya cerah, sudah lama ia tak ke toko. Setelah waktu itu pesanannya menurun, kini ia kembali dapat pesanan lagi.
"Nggak perlu jemput anak. Leo udah punya mobil sendiri, Adrian di asrama!" ujarnya senang. Lalu ia memantaskan diri dan pergi ke toko kebanggaannya.
Kembali ke kediaman Rani, hunian bertingkat itu tak banyak kegiatan. Rani turun dengan dandanan segar. Ia akan menjemput putrinya sekolah.
Ketika melewati kamar Rafna, ia hanya melirik dan berlalu begitu saja.
Menaiki mobil dan mengeluarkannya dari halaman rumah. Lalu kendaraan itu pun melaju ke sekolah Claudia.
Ketika sampai, Rani memarkirkan kendaraannya di halaman parkir sebuah mini market. Membeli beberapa camilan untuk putrinya.
"Rani!"
Deg! Suara yang sangat ia kenali. Rani menoleh, Iqbal berpakaian rapi dan segar. Wajahnya tak sekuyu pertama kali bertemu.
"Mas Iqbal?"
"Hai Ran ... We meet again!" sapa Iqbal ramah.
Jantung Rani berdebar kencang. Ia takut sekali, tapi tatapan pria di depannya begitu lembut. Hati Rani yang takut berangsur-angsur melunak.
"Kita bisa bicara?" pinta Iqbal lembut.
Rani mengangguk, kini keduanya duduk di sebuah kafe depan sekolah Claudia.
Suasana sedikit ramai karena waktunya makan siang. Rani duduk di sebuah taman bunga yang disediakan kafe. Iqbal sangat tau berapa Rani suka suasana romantis seperti itu.
"Coklat hangat dan pancake Fla durian untuk Ibu Rani?" suara pelayan membawakan hidangan yang dimaksud.
Rani membola, itu adalah hidangan favorit yang selalu ia pesan jika ke kafe. Iqbal tersenyum, ia sendiri hanya minum kopi hitam.
"Aku masih ingat apa yang kamu suka, Ran," sahutnya lalu mengedipkan matanya sebelah.
Blush, entah setan apa yang merasuki Rani sampai ia tersipu dipuji laki-laki lain.
"Mas ...," tegurnya malu.
"Hahaha ... Aku suka jika kau malu-malu seperti itu. Kamu makin cantik," sahut Iqbal lagi memuji.
Rani hanya diam, ia menikmati hidangannya. Sepanjang menikmati pancake durian, Iqbal hanya memandangi wanita yang masih sah jadi istrinya.
"Aku benar-benar menyesal telah menyakitimu, Rani," ujarnya lirih.
Rani menatap mata pria di depannya. Iqbal begitu sungguh-sungguh menyesal.
"Aku ingin memperbaiki semuanya, Ran ...."
"Mas ... Aku ...."
"Shhh ... jangan berkata apa-apa!" potong Iqbal cepat.
Mata keduanya saling tatap, Iqbal dengan berani membelai pipi Rani. Wanita itu memejamkan matanya.
Kepala Iqbal mendekat, entah keberanian dari mana. Tetapi bibirnya menyentuh lembut kening Rani.
"Mas ...," cicit wanita itu menahan laju Iqbal.
"Aku sangat mencintaimu, Rani. Aku tak bisa hidup tanpamu," ujar Iqbal lirih.
Rani menggeleng kuat, wajah Farhan tiba-tiba melintas.
"Aku sudah menikah ...."
"Tapi kamu masih istriku. .. Aku tak rela kehilanganmu!"
Iqbal menggenggam erat tangan Rani. Ia menyalurkan seluruh perasaanya.
"Mas ... aku mohon lepaskan aku!" Rani berdiri dan pergi meninggalkannya.
Iqbal menatap punggung wanita yang masih sah istrinya. Telapak tangannya mengepal kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kau pasti akan kembali jadi milikku, Rani. Aku yakin itu!" gumamnya penuh tekad.
Sementara itu Rani sudah duduk di mobil, Claudia juga sudah duduk manis di kursi sebelahnya.
Pikiran Rani melayang pada laki-laki yang tadi ia temui. Bahkan bekas kecupan Iqbal di keningnya masih terasa hangat.
"Tidak ... Ini nggak boleh!" gelengnya kuat.
"Apanya yang nggak boleh, Ma?" tanya Claudia.
"Ah ... Tidak apa-apa, sayang!" jawab Rani berbohong.
Bersambung.
wah ... Wah .. Wah ...
Next?