NovelToon NovelToon
Dua Hati Mencintai

Dua Hati Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agustin Hariyani

Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 15

Sejak pengumuman heboh kemarin, gedung Maheswara belum benar-benar tenang.

Tapi yang paling tidak tenang justru dua orang ini.

Zara dan Kenzy.

Di ruang kerja.

Berhadap-hadapan.

Sunyi.

“Kita harus klarifikasi,” Zara akhirnya buka suara.

“Kalau klarifikasi sekarang, gosipnya makin liar,” jawab Kenzy tenang.

“Terus?”

Kenzy menarik napas panjang.

“Kita ikuti saja dulu.”

Zara melotot.

“MAKSUDNYA pura-pura tunangan?!”

Kenzy menatapnya.

“Untuk sementara.”

Zara berdiri.

“Pak, itu bukan pura-pura kerja lembur. Itu pura-pura nikah tahap awal!”

Kenzy hampir tersenyum.

“Kita hanya perlu bersikap profesional… dengan status baru.”

Zara menutup wajahnya.

“Kenapa hidup saya berubah drastis cuma gara-gara lempar botol dan anjing…”

Dan seperti belum cukup,

Kenzy menambahkan kalimat yang bikin jantungnya salto.

“Sebelum itu, kita harus ke rumah kamu.”

Zara pelan-pelan menurunkan tangannya.

“Untuk apa…”

“Kakek ingin menyampaikan langsung ke wali kamu.”

“BIBI SAYA?!”

 Sore harinya…

Mobil hitam mewah berhenti di depan rumah kecil milik Zara dan bibinya.

Tetangga langsung keluar rumah.

“Siapa tuh?”

“Mobil pejabat kayaknya!”

Zara turun duluan.

Mukanya tegang.

“Pak… kalau Bibi saya pingsan, Bapak tanggung jawab ya.”

“Baik.” jawab Kenzy datar.

Kakek Jo malah senyum lebar.

“Wah suasana kampung. Kakek suka!”

Zara mengetuk pintu.

“Assalamu’alaikum…Bi, aku pulang!”

Bibi keluar sambil lap tangan pakai celemek.

“Wa’alaikumsalam…Eh sudah pulang”

Lalu melihat dua pria berdiri di belakang Zara.

Satu tampan, tinggi, aura mahal.

Satu lagi berwibawa, elegan, rambut memutih rapi.

Bibi membeku.

“Zara..., bibi benar-benar sudah melunasi hutang kita, bibi sudah nggak punya hutang lagi.”

“Bapak-bapak ini mungkin salah Alamat.”

Zara langsung cengar-cengir kaku.

“Bi… ini bos aku, bukan penagih hutang.”

"Muka kita kayak penagih hutang ya kek?"

"Mungkin..." jawab kakek Jo sambil tertawa

Bibi masih diam.

Kenzy menunduk sopan.

“Selamat Sore, Bu.”

Bibi tiba-tiba menepuk pipinya sendiri.

“Ahh…ya selamat sore?”

“Silakan masuk …”

“Ada keperluan apa ya? Atau zara buat kesalahan fatal? Saya minta maaf ya..”sambil menyatukan tangan

Kakek Jo maju dengan santai.

“Tidak bibi yang cantik…Zara tidak melakukan kesalahan apapun.”

“sebelumnya, saya meminta maaf karena datang mendadak tanpa mengabari.”

“Niat kami kemari ingin melamar Zara untuk menjadi tunangan cucu saya yang tampan dan jomblo ini.”

“HAH?!”

Suara Bibi menggema sampai tetangga depan.

Bibi langsung menarik Zara ke samping.

“ZARA INI APA?”

“KAMU HAMIL?!”

“BI!!!”

Kenzy batuk kecil menahan tawa.

Kakek Jo hampir gagal menjaga wibawa.

Zara memijat pelipis.

“Bi nggak ada yang hamil. Ini cuma… situasi kantor.”

Bibi melotot.

“Situasi kantor kok sampai lamaran?! Itu kantor apa sinetron!”

Zara tidak bisa membantah.

Kenzy dan Kakek Jo duduk dengan rapi.

Bibi duduk tegak seperti sedang wawancara calon presiden.

“Jadi maksudnya… anak saya ini mau ditunangkan?”

Kenzy menjawab tenang.

“Secara formal, iya. Untuk sementara.”

Bibi mengernyit.

“Untuk sementara itu maksudnya bisa dibalikin lagi?”

Zara menutup wajahnya lagi.

Kakek Jo tersenyum lembut.

“Kami hanya ingin menjaga nama baik Zara. Dia difitnah di kantor.”

Wajah Bibi langsung berubah.

“Difitnah?”

Zara menunduk.

Bibi menatap Kenzy.

“Jadi selama ini anak saya kerja baik-baik, terus digosipin?”

Kenzy mengangguk.

“Karena itu saya bertanggung jawab.”

Bibi terdiam beberapa detik.

Lalu tiba-tiba,

“Ya sudah kalau begitu tunangan saja sekalian! Daripada cuma gosip!”

Zara tersedak.

“BI?!”

Bibi berdiri.

“Tapi saya mau tanya dulu.”

Ia menunjuk Kenzy.

“Kamu bisa makan sambal nggak?”

“… Bisa.”

“Bangun pagi?”

“Bisa.”

“Kalau Zara ngomel bisa tahan?”

Kenzy melirik Zara.

“Sudah terbiasa.”

Zara memukul lengannya pelan.

“Pak!”

Bibi menyilangkan tangan.

“Kamu sayang nggak sama Zara?”

Sunyi.

Zara langsung panik.

“Bi...ini cuma pura-pura.!”

Kenzy terdiam.

Menatap Zara.

Lama.

Lalu menjawab pelan.

“Saya menghargainya.”

Jawaban aman.

Tapi tatapannya tidak aman.

Bibi mengangguk puas.

“Ya sudah. Saya setuju.”

Zara membeku.

“SECEPAT ITU BI?!”

Bibi tersenyum polos.

“Ya masa presdir sama bos kamu datang jauh-jauh cuma buat bercanda.”

Kakek Jo tertawa puas.

“Terima kasih, Bu.”

Bibi malah jadi salah tingkah.

“Aduh saya belum masak apa-apa! Mau teh manis? Kopi? Rujak?”

Zara berbisik ke Kenzy.

“Ini masih bisa dibatalkan nggak ya…”

Kenzy membalas pelan.

“Sekarang sudah terlalu jauh.”

Zara menatapnya.

“Pak… ini cuma pura-pura kan?”

Kenzy diam sebentar.

Lalu menjawab,

“Untuk sekarang...iya.”

Dan entah kenapa,

Jawaban itu bikin jantung Zara tidak tenang.

Saat mereka pamit pulang, tetangga sudah berjejer pura-pura siram tanaman.

Bibi melambaikan tangan heboh.

“ZARA MAU TUNANGAN SAMA BOSNYA!” ucap bibi ke para tetangga yang kepo itu.

Zara hampir jatuh di tempat.

Kenzy dan kakek menahan tawanya.

Zara memegang kepalanya.

“Hidupku kenapa berubah jadi drama 7 season…”

Kenzy menatapnya.

“Kalau kamu keberatan, kita bisa hentikan.”

Zara menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Hening.

Zara menarik napas.

“Sudah terlanjur, Pak.”

Kenzy tersenyum tipis.

“Kalau begitu… kita jalani.”

Dan di kursi depan,

Kakek Jo tersenyum penuh kemenangan.

Misinya berhasil.

1
Azahra Wicaksono
🤣🤣😄
Retno Isusiloningtyas
jodoh Ken ore nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!