Lin Xuan, seorang pemuda dari keluarga cabang Klan Lin di Benua Azure yang memiliki "Akar Spiritual Cacat", selalu dihina dan ditindas. Saat sekarat karena dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merebut harta peninggalan orang tuanya, darahnya tanpa sengaja membangkitkan Mutiara Kekacauan Primordial yang bersemayam di kalung usangnya. Mutiara ini tidak hanya memperbaiki akar spiritualnya, tetapi juga memberinya warisan teknik terlarang dari era sebelum alam semesta terbentuk. Inilah awal perjalanannya menentang Surga, membelah galaksi, dan menapaki jalan menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Runtuhnya Makam Kaisar dan Penyergapan di Lautan Pasir
KRAAAAAKKK!
Suara robekan yang memekakkan telinga bergema di seluruh penjuru Istana Inti. Langit kosmos ilusi di atas mereka terbelah, memperlihatkan kehampaan hitam pekat yang dipenuhi badai spasial (ruang). Gravitasi di dalam ruangan itu menjadi kacau balau; pecahan lantai marmer dan puing-puing altar kristal melayang ke udara sebelum hancur menjadi debu kosmik.
"Cepat! Dimensi ini akan meledak dari dalam!" teriak Lin Xuan melampaui suara gemuruh runtuhan. Ia menggenggam erat pergelangan tangan Mu Qingxue, menarik gadis itu melesat menuju gerbang pualam putih yang kini dipenuhi retakan.
Begitu mereka melewati gerbang, Jembatan Karma di depan mereka berayun hebat bagaikan seutas benang di tengah badai topan. Papan-papan kayu kunonya mulai rontok satu per satu, jatuh ke dasar jurang yang kini menyedot segala sesuatu di atasnya layaknya lubang hitam.
"Lin Xuan, jembatannya terputus di tengah!" Mu Qingxue menunjuk ke depan dengan panik. Jarak ke seberang masih tersisa seratus meter, namun separuh jembatan telah lenyap ditelan kehampaan.
"Pegang pinggangku erat-erat!" perintah Lin Xuan tanpa ragu.
Mu Qingxue tidak punya waktu untuk merasa malu. Ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping namun sekeras baja milik Lin Xuan, menyembunyikan wajahnya di dada pemuda itu saat angin spasial yang tajam mengiris udara di sekitar mereka.
Mata Lin Xuan memancarkan cahaya abu-abu keemasan. Ia mengaktifkan Tulang Besi Kulit Giok-nya hingga batas maksimal. Urat-urat di kakinya menonjol, menyalurkan dua puluh ribu kati tenaga ledakan murni ke lantai jembatan yang tersisa.
BBOOOM!
Pijakan terakhir mereka hancur berkeping-keping akibat tolakan kaki Lin Xuan. Pemuda itu melompat jauh melintasi jurang kehampaan, membawa Mu Qingxue melayang di udara sejauh seratus meter layaknya komet abu-abu, menabrak pintu keluar lapisan kedua dengan keras!
Mereka berguling di atas lantai aula perunggu yang kini juga sedang runtuh. Ratusan Boneka Perunggu yang sebelumnya tidak aktif kini tertimpa pilar-pilar raksasa yang berjatuhan dari langit-langit.
"Terus berlari! Jangan berhenti!" Lin Xuan bangkit seketika, menarik Mu Qingxue menembus hujan puing logam.
Tepat di atas mereka, sebuah balok langit-langit perunggu seberat puluhan ton jatuh menukik, membidik langsung ke arah kepala mereka.
Tanpa menghentikan langkahnya, Lin Xuan menarik Pedang Pembelah Kekacauan dengan tangan kanannya.
"Pecah!" raung Lin Xuan. Ayunan besi hitam raksasa itu menghantam balok yang jatuh, membelahnya menjadi dua bagian yang terhempas ke sisi kiri dan kanan mereka dengan suara dentuman memekakkan telinga.
Mereka melesat melewati Lorong Boneka Perunggu, menerobos Labirin Pasir Besi yang kini dinding-dindingnya berhimpitan seperti alat pres raksasa. Badai ruang dan waktu terus mengejar tepat di tumit mereka, melahap lorong yang baru saja mereka lewati menjadi ketiadaan hitam.
Di depan mereka, pilar cahaya keemasan yang merupakan portal keluar menuju Lautan Pasir Kematian mulai meredup dan berkedip tak stabil.
"Portalnya menutup!" seru Mu Qingxue.
"Kita akan berhasil!" Lin Xuan mendorong sisa Qi Kekacauannya ke kakinya. Ia meraih pinggang Mu Qingxue, memeluknya erat, dan melemparkan diri mereka berdua menembus pilar cahaya keemasan itu tepat pada detik terakhir!
WUUUSSSSHHH... PRANGGG!
Suara kaca pecah bergema keras. Portal Makam Kaisar Kuno hancur berkeping-keping menjadi partikel cahaya keemasan yang menyebar ke seluruh padang pasir. Dimensi saku itu telah tertutup selamanya.
Lin Xuan dan Mu Qingxue terlempar keluar, mendarat dengan keras di atas pasir panas Lautan Pasir Kematian. Keduanya terguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.
Napas mereka memburu. Lin Xuan terbaring terlentang menatap langit malam gurun yang dipenuhi bintang, sementara Mu Qingxue terengah-engah di sampingnya, jubah sutranya dipenuhi debu dan sedikit robek.
Mereka selamat.
Mu Qingxue menoleh, menatap Lin Xuan yang dadanya naik turun dengan cepat. Sebuah senyum tipis yang sangat langka dan indah mekar di wajah gadis itu. Tawa pelan, lega, dan nyaris seperti anak kecil meluncur dari bibirnya.
Lin Xuan menoleh dan ikut tertawa pelan. "Sepertinya ini pertama kalinya aku melihat Nona Suci Istana Es Surgawi terlihat seberantakan ini."
Mu Qingxue mendengus pura-pura kesal, membersihkan pasir dari rambutnya. "Dan ini pertama kalinya aku merasa jantungku nyaris copot ratusan kali dalam sehari. Kau benar-benar pembawa kekacauan, Lin—"
Namun, sebelum kalimat Mu Qingxue selesai, hawa dingin yang jauh lebih mengerikan dari es abadi mana pun tiba-tiba menyelimuti mereka. Itu bukan hawa dingin elemen, melainkan niat membunuh absolut dari ribuan orang.
TAK! TAK! TAK!
Suara derap langkah sepatu bot besi dan gesekan senjata terdengar serempak, mengepung mereka dari segala arah.
Lin Xuan perlahan bangkit berdiri, membersihkan pasir dari jubahnya, dan menarik Mu Qingxue untuk berdiri di belakangnya. Senyum di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh keheningan predator yang bersiaga.
Di sekeliling mereka, oase Lautan Pasir Kematian telah berubah menjadi lautan obor. Puluhan ribu prajurit lapis baja dari Kekaisaran Naga Azure telah membentuk formasi kepungan berlapis-lapis. Di udara, belasan kapal roh mengarahkan meriam Qi mereka tepat ke titik pendaratan Lin Xuan.
Dan yang terburuk, berdiri sejauh tiga puluh langkah di depan mereka, adalah lima sosok pria tua berjubah naga hitam. Kelimanya memancarkan aura mengerikan... semuanya berada di Tahap Inti Emas!
Di tengah kelima monster tua itu, berdirilah Utusan Zhao—pria yang tempo hari diusir dari Sekte Pedang Bintang setelah Huangfu Yun dilumpuhkan. Mata Utusan Zhao kini merah menyala, memancarkan kebencian yang begitu pekat hingga nyaris berwujud.
Di tangannya, Utusan Zhao menggenggam sebuah plakat giok kehidupan yang telah retak dan terbelah dua. Itu adalah Plakat Jiwa milik Pangeran Kedua, Huangfu Lei.
"Kau..." Utusan Zhao menunjuk Lin Xuan dengan jari gemetar, suaranya serak dipenuhi amarah yang menggelegak. "Hanya kalian berdua yang keluar hidup-hidup dari makam itu saat portalnya hancur. Di mana Pangeran Kedua kami?!"
Pasukan elit Kekaisaran Naga Azure serentak menghunus pedang mereka, menciptakan suara dentingan baja yang memekakkan telinga.
"Di mana Huangfu Lei?!" raung Utusan Zhao sekali lagi, tekanan aura Inti Emas-nya menekan udara di sekitar Lin Xuan hingga terasa seberat merkuri.
Mu Qingxue mengerutkan kening. Ia melangkah maju, bersiap mengeluarkan Token Istana Es Surgawi-nya untuk menggunakan pengaruh sektenya.
Namun, lengan Lin Xuan menghalanginya dengan lembut. Pemuda itu melangkah maju dengan tangan bersedekap, sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan kelima kultivator Inti Emas di hadapannya.
"Utusan Zhao, kan?" Lin Xuan memiringkan kepalanya, menatap pria tua itu dengan tatapan datar yang luar biasa merendahkan.
Lin Xuan perlahan merogoh lengan jubahnya. Ia mengeluarkan sesuatu yang terbuat dari logam yang telah penyok dan terbakar parah. Dengan lambaian tangan yang santai, Lin Xuan melemparkan benda itu ke arah Utusan Zhao.
Clang.
Benda itu mendarat tepat di ujung sepatu Utusan Zhao.
Semua mata tertuju pada benda itu. Itu adalah sisa-sisa gagang dari Palu Petir Menangis—senjata pusaka dan lambang identitas tak terbantahkan dari Pangeran Kedua Kekaisaran Naga Azure.
Napas Utusan Zhao tercekat. Matanya melebar, urat-urat di wajahnya bermunculan seolah akan meledak.
"Jika kau mencari anjing gila peliharaan kekaisaranmu," suara Lin Xuan bergema membelah keheningan malam gurun, sedingin es abadi. "Kau mungkin harus menyaring abu dan serpihan tulang di bawah reruntuhan makam itu. Tapi saranku... bawa sekop yang sangat, sangat besar. Karena aku meratakannya cukup dalam."
Keheningan absolut membekukan waktu di oase itu. Puluhan ribu prajurit menahan napas. Pemuda ini... baru saja mengakui bahwa ia membantai Pangeran Kedua, tepat di hadapan lima tetua Inti Emas dan puluhan ribu pasukan kekaisaran!
"I-IBLIIIS!" raung Utusan Zhao histeris, air mata kemarahan mengalir di pipi keriputnya. "KAU MELUMPUHKAN PUTRA MAHKOTA, DAN KINI KAU MEMBANTAI PANGERAN KEDUA KAMI! KEKAISARAN NAGA AZURE TIDAK AKAN BERBAGI LANGIT DENGANMU!"
"BUNUH DIA! CINCANG DIA MENJADI DEBU!" teriak tetua Inti Emas lainnya, mencabut pedang pusakanya yang memancarkan cahaya naga.
Mu Qingxue tidak bisa tinggal diam lagi. "Istana Es Surgawi ada di pihak Lin Xuan! Siapa pun yang maju, akan berhadapan denganku!"
Ia mengangkat pedang esnya, bersiap memanggil tetua pelindungnya yang bersembunyi di Paviliun Es.
Namun Lin Xuan tersenyum tipis. Ia menoleh ke belakang, menatap gadis cantik yang bersedia berperang melawan seluruh kekaisaran demi dirinya itu.
"Nona Mu, mundurlah," ucap Lin Xuan lembut, namun nadanya tidak menerima bantahan. Ia menarik Pedang Pembelah Kekacauan dari punggungnya, dan menancapkannya ke pasir di depannya dengan satu tangan.
"Mereka datang mencariku," mata Lin Xuan perlahan berubah menjadi abu-abu keemasan. Api Kekacauan mulai berkobar di bawah kulitnya, merespons rasa lapar Mutiara Kekacauan akan pertarungan hidup dan mati. "Biar aku yang membersihkan sampah-sampah ini."
Lin Xuan menoleh kembali ke arah lima tetua Inti Emas yang sedang menerjang ke arahnya dengan niat membunuh absolut. Ia menarik napas panjang, tersenyum menyeringai, dan mencengkeram gagang pedang raksasanya.
"Maju. Biar kulihat seberapa keras tulang Inti Emas kalian."
dan kalau bisa update nya jangan lama lama